PETULAI TUBEUI

Dengan kembalinya Biku Sepanjang Jiwo ke Mojopahit, sebenarnya ke Negara bahagian Mojopahit Melayu yang kemudian berpusat di Pagar Ruyung-maka Pagar Ruyung menunjuk penggantinya di Lebong, yang menurut riwayat Rejang seorang yang bernama RAJO MEGAT.

Ada juga yang meriwayatkan bahwa namanya adalah RAJO MUDO GUNUNG GEDANG.
Raja Megat ini kawin dengan Putri Gilang alias Putri Rambut Seguling, anak ajai Bitang dan tetap berkedudukan di Pelabai serta tetap pula berpegang teguh pada kesatuan Tubeui. Kedatangan rajo Megat dapatlah dikira-kirakan pada permulaan abad ke-15.
Alkisah Rajo Megat mempunyai dua orang anak, yaitu seorang putrai RAJA MAWANG dan seorang putrid bernama SENGGANG. Setelah Rajo Megat wafat, beliau digantikan oleh anaknya Rajo Mawang yang berkedudukan tidak lah lagi di Pelabai tetapi di Kuteui Belau Sateun, suatu tempat yang terletak di dalam marga Suku IX yang sekarang.

Rajo Mawang mempunyai tujuh orang anak, yakni :

1. Ki Geto
2. Ki Tago
3. Ki Ain
4. Ki Jenai
5. Ki Getting
6. Ki Karang Nio
7. Putri Serintang Bulan
Rajo Mawang digantikan oleh putranya bernama Ki Karang Nio dengan memakai gelar SULTAN ABDULLAH, sedangkan putra-putranya yang lain itu bertebaran mendirikan kuteui-ketuei baru.

Ki Geto umpanya pindah menetap di Kelobak di wilayah Rejang yang sekarang dan beliau pula yang mendirikan petulai baru MIGAI atau MERIGI sebagai pecahan dari petulai asal Tubeui.
Menurut Riwayat terjadinya pecahan petulai di atas adalah sebagai berikut :
PUTRI SERINDANG BULAN
Putri Serindang Bulan terkenal sebagai seorang putri yang sangat cantik parasnya pada masa itu. Waktu putri itu telah dewasa, sembilan kali berturut-turut ia mengalami putus tuning, karena apabial ia telah bertunang, maka tumbuhlah satu penyakit di badanya, yaitu penyakit kusta, yang menyebabkan tunangannya akhrinya menjadi kecewa, sehingga memutuskan pertunangannya.

Anehnya bila pertunangan putus, maka penyakitna itu sembuh sendiri. Demikianlah keadaan putri Serindang Bulan sampai mengalami sembilan kali putus bertunangan.

Semua peristiwa itu menyebabkan saudara-saudaranya menjadi murka dan sangat kecewa karena tidak akan menerima jujur putrid Serindang Bulan.

Maka semua saudara putri bermusyawarah dan mengambil keputusan bahwa Putri Serindang Bulan harus dibunuh, agar ia jangan membuat malu lagi. Dalam mufakat itu hanya Ki Karang Nio yang tidak menyetujui keputusan di atas, tetapi ia kalah suara, apalagi ia adalah anak yang bungsu pula.

Dan dalam musyawarah itu juga diputuskan Ki Karang Nio yang akan melaksanakan membunuh adiknya yang disayanginya itu didalam hutan. Sebagai bukti, bahwa ia telah melaksanakan tugsanya itu, ia nanti harus membawa kembali setabung darah Putri yang dibunuhnya itu.

Di waktu putrid itu akan berangkat menuju ke hutan untuk dijalani keputusan tersebut, ia membawa sebuah tempat sirih “Bokoa Ibeun” dan seekor ayam biring.

Sesampainya di hutan Ki Karang Nio tidak sampai hati membunuh Putri Serindang Bulan, maka dicarikannya akal untuk dapat menyelamatkan Putri Serindang Bulan dengan mengelabui kakak-kakaknya yang tidak berprikemanusian.

Putri adiknya itu tidak jadi dibunuhnya, tetapi dihanyutkannya dalam sebuah rakit di sungai ketahun. Hanya daun telinga adiknay itu disayatnya sedikit unuk menjadi tanda baginya di kemudian hari, jika mereka dapat bertemu kembali. Sambil membekali adiknya sedikit makanan dan dengan hati yang sangat pilu, ia melepaskan adik yang disayanginya itu disertai permohonan sungguh-sungguh kepada Yang Maha Kuasa,semoga adiknya itu mendapat pertolongan, agar tidak jadi mati dan dapat juga kelak pada suatu hari bertemu kembali dengan dia.

Kemudian Ki Karang Nio kembali ke Kuteui Belau Sateun dan melaporkan kepada kakak-kakaknya, bahwa putri telah mati dibunuhnya, sebagai bukti ia membawa setabung darah anjing kumbang dan ia menunjukkan pula mata pedang yang berlumuran darah.

Alkisah putri Serindang Bulan yang dihanyutkan itu, dengan takdir Tuhan dalam keadaan tiada kurang suatu apapun, terdampar di pulau PAGAI di muara Aer Ketahun. Kebetulan pada waktu itu SETIO BARAT, Tuanku INDRAPURA pergi berburu ke pulau Pagai. Tiba-tiba Tuanku terpandang kepada seorang perempuan bangsa asing yang sangat cantik rupanya. Segera putrid itu didekatinya dan ditanyainya bagaimana kisahnya maka ia sampai kepualau tersebut.

Setelah Tuanku mendengarkan riwayatnya, maka dibawanyalah Putri itu ke Indrapura dan dijadikan istrinya. Kemudian dikirimlah utusan ke Lebong untuk membawa kabar baik itu kepada saudara-saudaranya, sambil mengundang mereka untuk dating ke Indrapura.
Maka Ki Geto dan adik-adiknya berangkat menuju Indrapura dan kedatangan mereka disambut oleh Tuanku dengan gembira.

Tidak lama kemudian Ki Geto dan saudara-saudaranya bermohon pulang dan oleh tuanku diberikan kepada mereka masing-masing persalin, dan juga seundang emas perak sebagai uang jujur Putri Serindang Bulan. Tetapi malang bagi mereka, dalam pelayaran pulang itu mereka diserang oleh badai, sehingga perahu mereka pecah dan terdampar di sebuah teluk di antara IPUH dengan KETAUN.

Waktu mereka sadar akan dirinya, maka ternyata bahwa segala emas dan perak dan barang-barang yang mereka bawa itu, habis semuanya kecuali barang-barang kepunyaan Ki Karang Nio yang masih utuh.
Sehingga timbul rasa iri hati mereka untuk merampas harta benda Ki Karang Nio, tetapi Ki Karang Nio bertindak dengan bijaksana, sehingga dapat menggagalkan niat jahat saudara-saudaranya.

Ki Karang Nio berkata dalam bahasa Rejang kepada saudara2nya itu,”Harto ku harto udi, harto udi hartoku, barang udi cigai, uku magiae”, yang artinya, “Hartaku harta kalian, harta kalian hartaku, barang kalian sudah tidak ada lagi, maka aku bagikan hartaku kepada kalian”.

Maka Ki Karang Nio membagikan hartanya kepada saudara-saudaranya, melihat tindakkan adiknya itu maka mereka menjadi malu dan terharu, lebih bila mereka teringat tindakan mereka untuk memerintahkan Ki Karang Nio untuk membunuh Putri Serindang Bulan.

Perasaan malu ini menyebabkan mereka memisahkan diri dari adik mereka yang bungsu dan mengambil keputusan untuk tidak akan kembali lagi ke tanah asal Lebong. Maka berkatalah mereka dalam bahasa rejang “Uyo ote sao keme migai belek”, yang artinya “sekarang kita bercerai dan kami tidak akan kembali lagi”.
Teluk tempat mereka menyatakan perkataan-perkataan di atas sampai sekarang bernama TELUK SARAK ( Teluk tempat berpisah).

Maka pulanglah Ki Karang Nio sendiri ke Lebong dan kemudian menggantikan ayahandanya, sedang Ki Geto dan saudara-saudaranya yang lain bertebaran di luar wilayah lebong, membuat sosokan atau mendirikan kuteui. Petulainya tidak dinamai Tubeui lagi melainkan MIGAI, sebagai peringatan bagi keturunan mereka dikemudian hari.

Kata Migai ini dimalayukan menjadi MERIGI, demikianlah asal usul Petulai Merigi, yang hanya terdapat di luar Lebong, sebagai pecahan dari petulai Tubeui yang berada di Lebong.

Ki Karang Nio yang menggantikan ayahnya di Kuteui Belau Sateun, meneruskan petulai Tubei di wilayah Lebong dengan memakai gelar Sultan Abdullah.

Beliau mempunyai empat orang anak, yaitu : Ki Pati Alias Rio Patai,Ki Pandang Alias Tuan Rajo, Putri Jinar Anum dan Putri Batang Hari.

Alkisah pada suatu ketika, Putri Serindang Bulan mengirim suatu bingkisan dari Indrapura kepada anak-anak Ki Karang Nio yang laki-laki, berupa tempat sirih (Bakoa Ibeun) yang dibawa pada waktu ia meninggalkan saudaranya tempohari dan isinya dengan dua selendang (sabok). Satu sabok sutera sudah buruk birisi buah aman (buah kecil tetapi manis) dan satu sabok sutera masih baru berisi buah abo (buah besar tetapi masam).

Waktu kiriman itu sampai Ki Pati dan Ki Pandan berebut. Ki Pati anak yang tertua mengambil sabok sutera yang baru serta tutu[ tempat sirih yang berambai-ambaikan perak dan Ki Pandan mengambil yang selainnya, yaiatu bakul sirih rotan yang berisi sabok sutera lama, dengan buah aman di dalamnya.

Tak lama kemudian Putri Serindang Bulan kembali ke Kuteui Belau Sateun dan karena aarif bijaksananya, beliau terkenal di Lebong ini dengan sebutan SEBEI LEBONG.

Pada suatu hari, sedang Ki Karang Nio menghadapi orang tua-tua, Sebei Lebong menuruh panggil Ki Pati dan Ki Pandan supaya turut hadir.

Di hadapan khalayak yang hadir, Sebei menanyakan kepada Karang Nio, siapakah diantara dua anak lelakinya yang mengambil sabok buruk yang berisi buah aman dan siapa yang mengambil sabok baru yang berisi buah abo.

Dijawab oleh Ki Karang Nio bahwa sabok sutera yang baru serta isinya buah abo di ambil anaknya yang tertua, sabuk sutera yang lama serta isinya buah aman diambil oleh anaknya Ki Pandan.

Lalu Sebei Lebong berkata kepada orang tua-tua yang hadir,

“Hai anakku KI Pati, tabiatmu bukan seperti tabiat orang tua dan berpaham, Engkau meilih yang lauarnya saja, tidak menilik yang batin: Engkau mau yang kelihatanya bagus, mau yang enaknya saja seperti tabiat paman-pamanmu yang berlima itu. Camkanlah dihati sanubarimu, hai anakku Ki Pati, bahwasanya orang bertabiat demkian tidak patut menjadi Raja”.

“Engkau, hai anakku Ki Pandan, sungguhnya engkau masih kecil, tetapi engkau bijaksana dan budiman. Dengan tabiat yang demikian itu, sudah selayaknya engkau akan menggantikan ayahmu di Lebong ini”.

Peristiwa ini menjadi benih keretakan dua abang beradik ini dikemudian hari, hal ini nampak setelah Ki Pati dewasa, karena ia meninggalkan Kutei Belau Sateun, pergi ke Pagar Bulan, mendirikan Kutei Karang Anyar dan tinggal menetap disana.

Barang-barang yang ditinggalkan Ki Pati untuk Jurainya terdiri dari sebuah gading gajah, sebuah cikuk dari gading dan dua bilah keris,yaiatu keris sepejam dan keris semayang mekar, semuanya berada di dusun Semelako yang sekarang.

Makam Ki Pati di Beringin Kuning dihormati oleh petulainya dan dewasa ini terkenal sebagai KERAMAT SEMELAKO.

Belaiu diganati oleh anaknya Kutei Teras Mambang ini hilang lenyap disebabkan oleh suatu bencana alam, yaitu air bah yang meluap dari sungai ketahun.
Rio Cende dan lima orang saudaranya turut tenggelam, sedangkan dua saudaranya yang lain terhindar dari bahaya maut, karena pada waktu itu mereka sedang berada diluar daerah bencana.

Rio Bas meninggalkan wilayah Lebong menuju wilayah Lais dan mendirikan Kuteui Pagar Banyu di ulu Palik, sedangkan Rio Pijar tetap tinggal di wilayah Lebong dan mendirikan Kuteui Usang dekan dusun Semelako yang sekarang serta melanjutkan petulai SUKU VIII.

Ki Pati menggantikan ayahandanya, Ki Karang Nio, yang menurut riwayat raib(menghilang), di ulu Deus, dekat dusun Tunggang sekarang.

Sebagai kenangan pada peristiwa Raib fi atas, terkenallah KERAMAT ULU DEUS. Barang-barang pusaka yang ditinggalkan oleh beliau untuk jurainya, terdiri dari menteko tiga puluh, sebilah pedang dan tiga bilah keris di dusun Lebong Donok, tumpuk igis, sebuah kendi dan sehelai baju di dusun Tunggang dan sepucuk senapang di dusun Sekandan.

Juga Ki Pandan meninggalkan Kuetui Belaun Sateun dan mendirikan kuteui baru, yaitu Bandar Agung. Disini pulalah beliau meninggal dunia dan dikuburkan dekat Kantor Maskapai Tmabnag Emas Rejang Lebong yang dahulu tempat itu terkenal sebagai KERAMAT LEBONG. Makam ini dihormati oleh petulainya.

Kesatuan Tubei lebong ini, sesudah Sultan Abdullah meninggal, tidak dapat lamio lagi dipertahankan. Keretakan yang timbul seperti yang diterangkan di atas, membawa pula perpecahan dalam tubuh petulai Tubeui, yang berada di wilayah lebong.

Ki Pati menamakan pecahan petulainya SUKU VIII, mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah delapan orang, sedangkan Ki Pandan menamakan pecahan petulainya SUKU IX mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah sembilan orang.

Seterusnya menurut riwayat, putrid Jinar Anum bersuamikan Rio Taun, anak Bikau Bembo dari petulai Jurukarang, sedangkan putrid Batang Hari bersuamikan Rio Tebun di Lubuk Puding Rawas, adik Rio Taun tersebut.


EmoticonEmoticon