CERITA LEGENDA RAKYAT REJANG LEBONG
“MUNING RAIB”
Oleh
JUMIRAWARLIZASUSI, M.Pd
Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama
Malim Bagus berasal dari Dusun Curup yang terkenal pendiam tapi
ceroboh, dilahirkan seorang ibu yang penyayang dan sabar terhadap
anaknya dengan seorang suami yang temperamental.
Di Balai Desa, pertunjukan tari Kejei sedang berlangsung.
Para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan menari dengan
gerakan yang lambat namun khidmad, diiringi irama musik kelintang yang
mengalun dengan indah. Pesta Kedurai Agung pada malam itu
benar-benar meriah, banyak masyarakat berkumpul di Balai Desa Dusun
Curup, merayakan acara syukuran desa. Tak ketinggalan pula keluarga
Labar dan Sauna, dengan anaknya yang sudah menjadi bujang yaitu Malim
Bagus dan Malim Jayo.
Malim Bagus asyik memperhatikan meja penei yang
berada di tengah-tengah penari. Para penari mengelilingi meja tersebut
sambil menari dengan lemah gemulai. Di atas meja itu terdapat pisang
mas, buah pinang, daun sirih, daun sitawar sidingin, daun beringin, tebu
hitam dan parang. Semua atribut itu digantung di atas meja dan di
atasnya berdiri payung kuning.
Kemudian pandangan matanya beralih pada anak sangei yang cantik-cantik. Tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya.
“Malim, kau dipanggil ayahmu dan ditunggu di sana !”
laki-laki tersebut menunjuk ke arah tempat duduk yang cantik-cantik.
Tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya.
“Malim, kau dipanggil ayahmu dan ditunggu di sana !”
laki-laki tersebut menunjuk ke arah tempat duduk ayah Malim berada. Dari
kejauhan dilihatnya ayahnya sedang berbincang-bincang dengan keempat
pamannya yang bernama Latar, Sitar, Ali Jayo, dan Ali Menang.
Malim Bagus mendekati ayahnya dan ikut duduk bersila
dengan paman-pamannya. Ia menyalaminya satu persatu, lalu menanyakan
perihal panggilan ayahnya.
“Malim, malam ini kau bertugas sebagai jenang,
nanti setelah pertunjukan tari Kejei selesai, kau bantulah jenang yang
lain untuk menghidangkan makanan” perintah ayahnya yang sangat berwibawa
itu.
“Baik, Ayah. “ jawab Malim Bagus patuh. Lalu ia kembali
ke tempat duduknya semula dan bergabung dengan kawan-kawannya.
Tak lama musik kelintang pengiring tari Kejei pun
berhenti, pertanda tarian itu sudah berakhir. Malim Bagus beranjak dari
tempat duduknya, dan bergabung dengan jenang yang lain. Ia mengambil sebuah talam, ikut menyusun hidangan ke atas talam,
menatingnya ke hadapan tamu-tamu yang duduk bersila dan membuat
kelompok-kelompok. Setelah beberapa kali meletakkan hidangan di depan
tamu, ia dapat mengerjakannnya dengan baik. Namun setelah menyajikan di
depan ayahnya, kakinya tersandung sesuatu, sehingga ia jatuh tersungkur
mengakibatkan talam yang berisi air cuci tangan itu tumpah ruah. Hal ini
membuat ayahnya marah besar karena dipermalukan anaknya yang ceroboh.
Ayahnya menyuruh Malim Bagus pulang ke rumah, tanpa diizinkan lagi
menyaksikan acara itu.
Semenjak kejadian malam itu Malim Bagus selalu dimarahi
ayahnya, semua yang dilakukan Malim Bagus serba salah. Tidak tahan
menghadapi ayahnya, Malim Bagus memutuskan untuk pergi dari rumahnya.
Saat pamit ia sebenarnya sedih meninggalkan orang-orang
yang dicintainya yaitu ayah, ibu dan adiknya Malim Jayo, namun demi
ketenangan di rumahnya maka ia mengalah, menghindari keributan.
Sebelum berangkat ia berpesan pada adiknya : “Malim Jayo,
kalau kau kelak mencariku, telusurilah pohon dan ranting yang sudah
kutebang sepanjang perjalananku dan bunyikanlah lagu kesayangan kita
dengan ginggongmu.”
“Baiklah, Kak. Akan kuikuti perkataanmu. Hati-hatilah di
jalan.” Pesan adiknya. Ibunya tidak tahan membendung air matanya. Isak
tangispun melepas kepergian Malim Bagus. Tak ada bekal lain yang
dibawanya selain parang, ginggong dan baju sehelai di badan. Malim Bagus
pamit pada salah satu pamannya Adi Jayo, ia mohon doa restu.
Sepanjang perjalanan ia memotong pohon-pohon dan
ranting-ranting kayu yang mengganggu dengan parangnya yang telah diasah
terlebih dahulu.
Perjalanan yang tak tentu tujuan itu, ternyata melelahkan
Malim, hingga sampailah ia pada sebuah bukit, ia duduk di atas sebuah
anggung membunyikan ginggongnya sebagai pengobat lelahnya. Ia membawanya
ke sebuah istana dalam bukit tersebut. Iapun menikah dengan penghuni
bukit itu.
Sepeninggal Malim Bagus, ibunya jatuh sakit karena selalu
memikirkan anaknya. Matanya sulit terpejam dan tidak mau makan. Pada
suatu, kala ia bisa tidur nyenyak ia bermimpi bertemu dengan anaknya di
sebuah bukit di balik bukit.
Keesokan harinya, dipanggilnyalah anaknya Malim Jayo, diceritakannya mimpinya.
“Kakakmu masih hidup, dia sekarang berada di dataran arah
matahari hidup, di balik bukit ada bukit. Kau carilah dia di sana. Kau
katakan padanya bahwa dia harus pulang, kalau dia sudah kawin bawalah
sekalian istrinya. Kita akan mengadakan pesta perkawinannya.”
“Ibu, demi kesehatan ibu apapun akan aku lakukan. Aku
akan mencari kakak ke sana. Doakan agar aku berhasil membawa pulang
kakakku. Aku pergi bu, Assalammualaikum.” Malim Jayo pamit sembari
mencium tangan ibunya.
Parang dan ginggong menyertai kepergian malim Jayo sesuai
pesan kakaknya, ia telusuri dengan mudah jalan-jalan yang dilalui
kakaknya karena ditandai oleh ranting kayu dan pohon-pohon yang masih
berserakan di jalan.
Sampai pada tujuan seperti yang disebutkan ibunya, yaitu pada sebuah bukit di balik bukit, ia duduk di atas sebuah anggung, persis di tempat kakaknya duduk betarak. Malim Jayo memainkan ginggong miliknya dengan lagu kesayangan kakaknya
Sayup-sayup suara ginggong itu terdengar oleh Malim
Bagus. Ia kaget mendengar suara alunan ginggong adiknya. Ditemuinyalah
adiknya itu, dan dibawanya ke istana tempat ia tinggal. Heran Malim jayo
melihat keadaan kakaknya, seolah tidak percaya terhadap apa yang
dilihatnya.
Diutarakanlah maksud kedatangan Malim Jayo dan
diceritakan keadaan ibunya yang jatuh sakit karena memikirkan kakaknya.
Malim bagus semula tidak mau pulang, namun setelah dirundingkan dengan
istrinya, akhirnya disanggupinya keinginan ibunya.
“Baiklah, aku dan istriku akan pulang saat purnama akan
muncul. Persiapkanlah pesta pernikahan kami, dengan catatan jangan
sekali-kali memasak sayur pakis dan rebung, karena makanan itu merupakan
pantangan istriku.”
“Baiklah, Kak. Akan aku sampaikan semuanya pada ayah dan
ibu di rumah. Kami benar-benar sangat mengharapkan kepulangan kakak
bersama kakak ipar”. Malim Jayo akhirnya pamit pulang menemui orang
tuanya.
Sampai di rumah, didapatinya ibunya masih terbaring di
atas tempat tidur bambu, badannya semakin kurus saja. Ayahnya sedang
menunggui ibunya. Malim Jayo lalu menceritakan pertemuan dengan kakak
dan istrinya. Bukan main senang hati ibunya mendengar anaknya yang
sulung itu akan pulang dengan membawa istrinya. Malim Jayo juga
menceritakan menceritakan pantangan kakak iparnya itu agar tidak memasak
sayur pakis dan rebung selama berada di rumah orang tuanya ini. Serta
merta ibunya sembuh dari sakitnya dan memerintahkan ayahnya untuk
berunding dengan tuei dan kutei guna merencanakan pesta pernikahan anak pertamanya itu yang akan dilaksanakan secara adat saat bulan purnama akan muncul.
Setelah kata sepakat dicapai, maka diumumkanlah kepada
masyarakat bahwa Malim Bagus yang telah pergi akan pulang dengan membawa
calon istrinya. Namun perihal larangan yang diungkapkan Malim Bagus
dirahasiakan mereka kepada orang lain.
Ketika bulan purnama akan muncul, masyarakat sibuk
bergotong royong mempersiapkan acara pernikahan keluarga Labar itu.
Kaum lelaki mencari kayu dan membuat tarub sedangkan kaum
wanita mencari bahan-bahan masakan di hutan. Karena ketidaktahuannya,
mereka juga mengambil sayur pakis dan rebung yang mereka dapati di hutan
dan kemudian memasaknya.
Akhirnya saat yang dinanti-nantikan tiba, Malim Bagus
muncul ke rumahnya yang sudah dipenuhi banyak orang. Namun saat ia
sampai di pintu pagar semua orang merasa heran, karena belum juga
melihat istri Malim Bagus.
“Malim, mana istrimu?” tanya ibunya setelah disalami anaknya.
“Ini istriku yang sedang menggamit lenganku.” Jawab Malim Bagus.
Ibunya dan orang-orang keheranan karena melihat Malim
Bagus muncul tidak didampingi istrinya, yang bisa melihat itu hanyalah
Malim Bagus, karena istrinya adalah makhluk halus berupa dewa.
Akan tetapi setelah sampai di pintu rumah, istrinya
menjelma menjadi makhluk kasar berupa manusia yang berwajah cantik,
berkulit putih mulus dan tinggi semampai. Penganten wanita itu menggamit
lengan malim Bagus dengan mesra dan tersenyum ramah pada semua orang
yang hadir di situ.
“Malim, cantik sekali istrimu!” kata ibunya. Orang-orang
saling berebut ingin menyaksikan istri Malim yang cantik dan berdecak
kagum seolah tidak percaya terhadap apa yang mereka lihat.
Upacara perkawinan secara adatpun dilaksanakan dengan
baik. Penganten wanita diminta harus melangkahi sarung mertua laki-laki
yang diberikan padanya sebanyak tiga kali, dan itu bisa dilaksanakannya
dengan baik. Setelah mengikuti serangkaian upacara sakral itu, kedua
penganten dipersilahkan untuk makan.
Hidangan diletakkan di depan penganten. Penganten wanita
menuangkan nasi ke piring yang tersedia, kemudian membuka tutup tempat
sayur yang terbuat dari kayu dan bermaksud untuk mengambilnya. Alangkah
kagetnya ia melihat ada sayur pakis dan rebung. Ia langsung menutup
kembali sayur itu.
“Kak, berarti kau dan keluargamu tidak sayang padaku.
Sudah kukatakan padamu apa yang menjadi pantanganku, namun diindahkan.
Untuk itu kuucapkan selamat tinggal”.
Setelah itu istrinya terbang ke angkasa dan menghilang
meninggalkan suaminya. Semua mata tertuju pada istrinya sampai tidak
tampak lagi wujudnya.
“Tunggu aku istriku. Aku akan ikut kemanapun kau pergi”
Malim Bagus berteriak memanggil istrinya, kemudian Malim sambil berlari
melambaikan tangannya kepada keluarganya dan semua orang yang hadir di
situ. Ia tidak lagi memperdulikan orang tua dan adiknya yang berteriak
menahannya pergi. Ia menyusul istrinya ke bukit tempat istana dimana
istrinya berada. Bukit itu sekarang dikenal dengan Bukit Kaba.
Setelah Malim Bagus pergi meninggalkan hajatan
pernikahannya, masyarakat menertawakan Labar dengan sinis, karena kedua
penganten tidak lagi berada di tengah-tengah mereka, telah melarikan
diri. Lebih sakitnya lagi, Labar diolok-olok mempunyai menantu orang
bunian atau makhluk halus. Tamu-tamupun satu persatu meninggalkan
rumahnya dengan perasaan kecewa.
Merasa sudah dua kali dipermalukan anaknya itu, Labar
marah sekali. Lalu ia mengajak saudara-saudaranya Latar, Sitar, Ali Jayo
dan Ali Menang ke sebuah sungai di Air Duku dengan membawa sesajian. Di
sana mereka membakar kemenyan di atas dupa dan mengucapkan sumpah
serapah itu, sesajian dihanyutkan ke sungai Air Duku. Hingga sekarang
masih diperhatikan mitos larangan bagi bujang gadis yang berasal dari
Dusun Curup dilarang menaiki Bukit Kaba karena ketakutan mereka akan
kehilangan putra-putrinya seperti raibnya Muning (paman) mereka.
Demikianlah kisah legenda Muning Raib artinya hilangnya seorang paman di Bukit Kaba.
EmoticonEmoticon