![]() |
| Lubang kacamata, bekas tambang emas di Lebong. (Dok. SyamAR) |
Bisa dibilang, sumber emas — di belantara Bengkulu, kaki cincin api
gugusan Kerinci-Seblat— itu sudah di depan hidung William Marsden dan
Thomas Stamfort Raffles. Tapi luput dari pengamatan dua pencatat hebat
yang lama bermukim di Bencoolen (sekarang Bengkulu). Mereka lebih banyak
membahas dataran tinggi minangkabau sebagai sumber emas Sumatra.
Raffles bahkan mblusuk ke tambang-tambang emas di wilayah yang saat itu
dikuasai kerajaan Pagaruyung.
Marsden si Irlandia, 8 tahun bermukim di Bengkulu (1771 – 1779).
Kesukaannya mencatat kelak menjadi buku terpuji sebagai catatan mendalam
pertama tentang Sumatra; History of Sumatra. Raffles sedikitnya 6 tahun
menjabat sebagai orang pertama di Bengkulu. Antara 1818 hingga 1824.
Selain mewariskan karya tulisnya yang gemilang, History of Java, Raffles
banyak menuliskan catatan perjalanannya di Sumatra. Keduanya luput soal
emas Lebong.
Memang emas di pedalaman Bengkulu itu baru dieksploitasi secara
besar-besaran jauh setelah Raffles meninggalkan Bengkulu. Hampir
tigaperempat abad sejak Bengkulu diberikan ke Belanda oleh Inggris,
ditukar Singapura. Tapi hikayat penambangan emas di Lebong sebenarnya
berkait dengan upaya kerajaan Pagaruyung —yang disambangi Raffles—
mencari tambang emas baru.
Dikisahkan, sekitar abad ke-13, raja Pagaruyung Sultan Daulat Mahkota
Alamsyah memerintahkan Tuanku Imbang Jaya untuk mencari daerah baru yang
tanahnya mengandung emas di daerah Kerinci, Jambi. Setelah menemukan
tambang emas di Kerinci, perburuan bijih emas pun dilanjutkan ke daerah
lain. Hingga mencapai pedalaman Lebong, Bengkulu.
Tambang-tambang emas kuno itu kemudian berangsur sepi penambang. Gempa
bumi yang meruntuhkan lubang-lubang tambang menjadi momok selain
harimau. Kedua momok ini masih kerap muncul hingga kini. Beberapa tahun
lalu, seorang kawan penggiat lingkungan di Bengkulu mengaku suatu kali
tak berani membuat peta kawasan hutan dekat kawasan tambang itu. Musim
harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) masuk kampung, katanya.
Kawasan tambang kuno itu makin ditinggalkan setelah Inggris menguasai
Bengkulu, pada abad ke-17. Penduduk Lebong lebih suka berkebun atau
mengumpulkan hasil hutan yang banyak dicari Inggris, damar, rotan, pala,
dll. Tapi kegiatan penambangan emas tetap dilakukan oleh sejumlah kecil
penambang, yang kelak merangsang para pengusaha tambang Belanda
mengejar urat emas di tambang-tambang kuno dan yang disebut-sebut dalam
cerita-cerita rakyat.
Muara Aman
Singkat cerita, singgahlah saya ke Lebong diantar beberapa karib. Di
kota Muara Aman. Tak jauh dari kawasan Taman Nasional Kerinci – Seblat.
Kota ini kecil saja. Tak memberi kesan ia pernah menjadi kota terbesar
kedua se-wilayah Bengkulu, sebagai pusat ekonomi penting pada awal abad
ke-20.
Keramaian terpusat di pasar berpampilan sederhana. Tak beda dengan
pasar-pasar lain di kawasan ulu sungai di Sumatra. Bangunan pertokoan
masih sederhana, tak penuh ruko “kotak sabun” macam di kota-kota ilir
sungai. Di ibukota kabupaten Lebong ini, pasar masih didominasi bangunan
kayu satu lantai. Beratap seng yang sebagian besar dihitamkan karat.
Banyak toko emas perhiasan, sembako, pakaian, dan barang kelontong. Di
satu toko kelontong tampak sebagian sisi luar penuh bergelantung sapu
ijuk bertangkai kayu. Pasar juga menjadi tempat tumbuh kios-kios penjual
keping CD film dan lagu. Mereka menambah perbendaharaan bunyi bagi para
pelintas. Dari beberapa arah terdengar lagu-lagu pop yang sedang
populer hingga irama “melayu kocok”, iramanya melayu musik penggiringnya
lebih mirip bunyi cengat-cenget mesin.
Di pasar Muara Aman kami mendapat petunjuk arah ke satu titik tambang
terdekat. Penanda tambang pun terlihat di sebuah toko di pinggir jalan
yang menjual gelundung, silinder besi yang banyak dipakai dalam proses
pengolahan bijih emas.
Sejurus kemudian tampak sebuah tugu berdiri di tengah jalan. Miniatur
Monumen Nasional (Monas). Saya bersorak dalam hati karena teringat satu
cerita. Emas yang di puncak Monas disebut-sebut berasal dari tanah
Lebong. Entah benar tidaknya. Tapi sejarah juga mencatat bahwa 38 kg
emas di puncak Monas adalah dari seorang Aceh kaya, Teuku Markam.
Tugu kecil penghadang jalan menjadi semacam penanda kawasan tambang,
saya kira. Tapi kami pikir lebih baik bertanya lagi. Hendri, satu kawan,
turun dari Mobil. Lalu, menyapa seorang ibu, “punteeen!”
Saya tergeli. Bisa-bisanya dia pakai bahasa Sunda di kawasan ulu sungai Musi ini. Kecil kemungkinan ada yang mengerti.
Si ibu paruh baya dengan riang menyambut. Pakai bahasa Indonesia. Tapi, logat Sunda kental, euy! Ia tampak gembira, mengira bertemu orang sedaerahnya. Untunglah Si Ibu pakai bahasa Indonesia. Kalau Sunda, kawan saya nyaho!
Hendri hanya bisa meniru logat Sunda. Mungkin ia dapat dari
pergaulannya, atau dari sinetron di tivi. Tapi, omong Sunda… Hendri teuk tiasa!
![]() |
| Di dalam lubang kacamata (dok. SyamAR) |
Inilah salah satu titik ziarah yang saya tuju!
Lubang kacamata berada di ketinggian 4 meter dari kaki bukit batu.
Lubang buatan pada pertambangan emas yang dibuka Belanda sekitar tahun
1905 – 1913. Mungkin bergungsi sebagai pintu masuk, mungkin sebagai
lubang udara (ventilasi). Di dalamnya berupa gua dengan bentuk tak
beraturan dan bercabang-cabang. Beberapa bagian gua cukup luas. Bahkan
ada ruangan selebar kurang lebih 4 meter dengan atap setinggi 2 – 3
meter. Ada beberapa cabang yang arahnya ke vertikal ke bawah. Menurut
masyarakat kedalamannya mencapai 50 meter. Tidak terlalu dalam jika
dibandingkan dengan lubang tambang di kawasan Lebong Tandai. Di sana,
Mijnbouw Maatschappij Simau, perusahaan tambang Belanda, mengejar urat
emas dengan menggali ke bawah hingga 16 level. Kedalaman 1 level kurang
lebih 40 meter.
Lubang (tambang) kacamata merupakan salah satu jejak kegiatan tambang
masa Hindia-Belanda. Pada masa kejayaan perusahaan tambang Belanda, dari
sana bisa diraup emas sekitar 10 kilogram per hari. Pada tahun 1942
kegiatan penambangan oleh Belanda berhenti. Belanda pergi terusir kalah
oleh Jepang. Selanjutnya penambangan dilakukan masyarakat. Hingga akhir
dekade 1950-an, usaha penambangan rakyat masih bisa menghasilkan pada
kisaran 2 – 10 gram bijih emas per hari.
Kini lubang kacamata lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata.
Kalau pun ditambang, hampir tidak ada hasilnya. Begitu kata warga
setempat. Kebetulan ada dua lelaki melintas di jalan kecil depan lubang
kacamata. Langkah mereka cepat, badan agak terbungkuk memanggul karung.
Noda tanah basah rembes mewarnai luar luar karung. Isinya pasti batu
galian emas.
Mereka memang baru pulang dari lubang tambang. Tempatnya jauh dari
lubang kacamata. “Di atas bukit sana!” kata mereka sambil berusaha
menoleh tak utuh ke arah berlawanan dengan langkah kaki.
Mengais kerak emas
![]() |
| Areal PT. Tansri Madjid Energi (dok. SyamAR) |
Areal itu dijaga Nurhasani, warga setempat. Umurnya 60-an. Nenek
moyangnya asli Lebong. Dari tangannya yang kulit lengan sudah
mengeriput, saya sambut 3 keping batu lempeng seukuran biskuit. Dikasih
lihat. Mengandung emas, katanya. Kadar rendah. Sudah dua tahun
eksplorasi dilakukan tapi belum ada kepastian bahwa perusahaan tempatnya
bekerja akan membuka tambang di sana.
“Masih terus diteliti,” katanya pelan sambil memandangi batu mirip
pualam putih susu dengan garis-garis halus warna gelap dan kehijauan.
Sinar matanya meragukan kemasyhuran tambang emas di tanah kelahirannya
itu akan kembali berkilau.
Sekitar tiga ratus meter dari lokasi yang dijaga Nurhasani, ada papan
lain yang menerangkan proyek penyelidikan pendahuluan PT. Palapa
Minerals. Ada logo hijau bertulis SCG berwarna emas dan tulisan Sumatra
Copper and Gold Limited.
Di belakang papan nama ada sebuah rumah. Ada pondok sederhana di
sebelahnya, tempat gelundung berputar pelan. Seorang lelaki usia 30-an
tahun sibuk menyorong batu untuk ditumbuk oleh alu yang bergerak
mekanis. Alu dan gelundung digerakkan turbin yang didorong air.
![]() |
| Iis dan gelundung (dok. Abz Achingae) |
Di dalam air biji emas punya bobot lebih berat ketimbang material batu,
apalagi dibanding material tanah. Langkah selanjutnya adalah memisahkan
material emas yang terikat merkuri dari ‘kotoran’ berupa material batuan
dan tanah. Caranya dengan terus mengalirkan air ke dalam baskom secara
perlahan hingga air meluap membawa hanyut material kotoran, dalam wujud
air keruh. Bila air baskom berubah jernih, air ditiriskan untuk didapat
larutan merkuri dan emas yang lalu ditampung di kain kemudian diperas.
Dapatlah emas yang masih terselubung merkuri. Penambang bisa langsung
menjualnya, bisa pula memurnikan emasnya terlebih dahulu. Lalu dijual ke
pembeli, umumnya toko emas.
Rata-rata tiap tiga hari —dua hari mencari batu di lubang tambang dan
satu hari mengolah batuan di gelundung— Iis dapat 3 gram emas. “Banyak
itu,’ cetus saya. Di kepala saya muncul perkiraan harga pasaran logam
mulia itu.
“Mutu emasnya rendah. Satu gram harganya tujuh puluh lima ribu,” sahut
Iis datar. Nadanya biasa. Sekonyong-konyong seolah hendak menggunting
kekaguman saya. “Kadang malah dapat (emas) kurang dari 3 gram.”
Saya pikir masih untung Iis tak keluar biaya untuk kebutuhan energi
gelundung. Di beberapa lokasi tambang, beberapa kawan menggunakan tenaga
listrik untuk memutar gelundung. Seribu Watt. Sekitar 30 % biaya
operasional bisa habis cuma untuk listrik. Iis juga tak capek menumbuk
batuan mengandung emas dengan palu seperti penambang yang saya temui di
kawasan dalam Sukabumi, atau Purwokerto. Jika pun Iis memakai palu,
pastinya sangat berat. Sebab, emas di kawasan Lebong macam yang diolah
lelaki itu, lekat di batuan keras. Sedang pada beberapa lokasi tambang
emas rakyat yang saya tahu, batuannya boleh dibilang lunak. Kadang
didominasi tanah.
Iis juga punya sawah. Sepetak kecil. Persis di sebelah pondok tempat
gelundung emas miliknya. Hasilnya kata Iis tak banyak. Saat saya
bertandang ke sana, sawah itu sedang tidak digarap. Rumpun padi sisa
disabit tampak coklat lapuk di antara rumput. Di satu sudut sawah ada
lubang agak lebar, tapi dangkal. Semula saya pikir sumur air. Ternyata
bukan! Tanah galian di sawah itu juga diproses di gelundung. Ada emasnya
tapi kadarnya rendah sekali. “Lumayan untuk tambahan, terutama saat tak
bisa mengambil batuan emas di lubang tambang yang letaknya jauh,” tutur
Iis.
Iis juga berdarah Sunda. Keturunan penambang emas pula. Kata Iis, hampir
semua penambang emas rakyat di desa Lebong Tambang berdarah Sunda. Saya
teringat ibu penunjuk jalan di dekat miniatur tugu Monas yang juga
berbicara dengan logat Sunda. Teringat pula pada kawan-kawan pemburu
urat emas dari kampung-kampung dekat Cijapun —kebun kecil yang saya
kelola— di pedalaman Selatan Sukabumi. Mereka sanggup menyeberang pulau
bila dapat kabar tentang tempat penambangan baru. Ke Bombana Sulawesi
Tenggara hingga beberapa tempat di Nusa Tenggara. Salah satu kawan yang
ketika terakhir bertemu sedang sibuk membangun rumah dari hasil mengejar
urat emas di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatra Utara… mengabarkan
ia bersiap mengejar urat emas di satu pelosok Atjeh.
![]() |
| Anak-anak Lebong (dok. SyamAR) |
Tidak sukar menerka bagaimana keadaan di kawasan ini sebelum era
pertambangan skala besar. Pastilah sepi. Kebanyakan kota di Sumatra
tumbuh pada dua tempat saja. Di sisi laut atau dibelah sungai yang mudah
untuk moda transportasi sungai. Selebihnya, kota-kota tumbuh karena
aktifitas perkebunan atau pertambangan di era kolonialisasi. Muara Aman
dan sekitarnya, tumbuh karena tambang. Lalu seperti kota tambang
lainnya, macam Sawahlunto, ‘batavia kecil’ Tandai, dan beberapa titik
lain di sepanjang cincin api. Bahan tambang habis kota (pelan-pelan)
binasa.
Dari pedalaman Bengkulu ini memang tak semua perusahaan tambang Belanda
beroleh untung. Tapi setidaknya dua perusahaan, Redjang Lebong dan
Simau, berhasil meraup 130 ton emas selama berproduksi kurang dari
setengah abad (1896-1941). Perusahaan pergi membawa hasil, penduduk
mengais-ngais kerak emas tersisa.
Nasib kota-kota tambang, tak ubahnya kisah-kisah dalam roman percintaan
yang berakhir tak bahagia pada banyak buku. Lebih dari cukup untuk
pembelajaran bagi bangsa ini untuk menata-ulang pemahaman tentang
pengelolaan hasil tambang. Sementara catatan ini saya rampungkan,
beberapa kawan penggiat lingkungan di Bengkulu setengah menyesalkan
kenapa saya tak sampai ke kawasan Lebong Tandai. Tempat paling
monumental dan massif dalam sejarah pengerukan emas di belantara
Bengkulu. Padahal, kata mereka, Lebong Tandai sudah tak jauh dari depan
hidung saya saat itu. Aduh!





EmoticonEmoticon