Di sebuah daerah di Bengkulu, Indonesia, berdiri sebuah kerajaan
bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Raja Bikau Bermano
mempunyai delapan orang putra. Pada suatu waktu, Raja Bikau Bermano
melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan
seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jinggai. Mulanya,
pelaksanaan upacara tersebut berjalan lancar. Namun, ketika Gajah Meram bersama
calon istrinya sedang melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat
pemandian Aket yang berada di tepi Danau Tes, tiba-tiba keduanya menghilang.
Tidak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya pasangan itu. Sementara itu di
istana, Raja Bikau Bermano dan permaisurinya mulai cemas, karena Gajah Meram
dan calon istrinya belum juga kembali ke istana. Oleh karena khawatir terjadi
sesuatu terhadap putra dan calon menantunya, sang Raja segera mengutus beberapa
orang hulubalang untuk menyusul mereka. Alangkah terkejutnya para hulubalang
ketika sampai di tepi danau itu tidak mendapati Gajah Meram dan calon istrinya.
Setelah mencari di sekitar danau dan tidak juga menemukan mereka berdua, para
hulubalang pun kembali ke istana. “Ampun, Baginda! Kami tidak menemukan putra
mahkota dan Putri Jinggai,” lapor seorang hulubalang. “Apa katamu?” tanya sang
Raja panik. “Benar, Baginda! Kami sudah berusaha mencari di sekitar danau, tapi
kami tidak menemukan mereka,” tambah seorang hulubalang lainnya sambil memberi
hormat. “Ke mana perginya mereka?” tanya sang Raja tambah panik. “Ampun,
Baginda! Kami juga tidak tahu,” jawab para utusan hulubalang serentak.
Mendengar jawaban itu, Raja Bikau Bermano terdiam. Ia tampak gelisah dan cemas
terhadap keadaan putra dan calon menantunya. Ia pun berdiri, lalu berjalan
mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih. “Bendahara!
Kumpulkan seluruh hulubalang dan keluarga istana sekarang juga!” titah sang
Raja kepada bendahara. “Baik, Baginda!” jawab bendahara sambil memberi hormat.
Beberapa saat kemudian, seluruh hulubalang dan keluarga istana berkumpul di
ruang sidang istana. “Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang
mengetahui keberadaan putra dan calon menantuku?” tanya Raja Bikau Bermano.
Tidak seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Suasana sidang
menjadi hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang tun tuai (orang tua)
kerabat Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri yang juga hadir angkat bicara.
“Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.”
“Apakah itu, Tun Tuai! Apakah kamu mengetahui keberadaan putraku dan Putri
Jinggai?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, putra
mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular yang bertahta di bawah Danau
Tes,” jawab tun tuai itu sambil memberi hormat. “Raja Ular itu sangat sakti,
tapi licik, kejam dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes,”
tambahnya. “Benarkah yang kamu katakan itu, Tun Tuai?” tanya sang Raja. “Benar,
Baginda!” jawab tun tuai itu. “Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan
putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,”
ujar sang Raja. “Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang.
Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan
putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes.
“Ampun, Ayahanda!” sahut Gajah Merik, putra bungsu raja. “Ada apa, Putraku!” jawab sang Raja sambil
melayangkan pandangannya ke arah putranya. “Izinkanlah Ananda pergi membebaskan
abang dan istrinya!” pinta Gaja Merik kepada ayahandanya. Semua peserta sidang
terkejut, terutama sang Raja. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putranya
yang baru berumur 13 tahun itu memiliki keberanian yang cukup besar. “Apakah
Ananda sanggup melawan Raja Ular itu?” tanya sang Raja. “Sanggup, Ayahanda!”
jawab Gajah Merik. “Apa yang akan kamu lakukan, Putraku? Abangmu saja yang
sudah dewasa tidak mampu melawan Raja Ular itu,” ujar sang Raja meragukan
kemampuan putra bungsunya. “Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada
Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10
tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang
mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik. Mendengar cerita Gajah
Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh
rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah
memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Tapi, benarkah
yang kamu katakan itu, Putraku?” tanya sang Raja. “Benar, Ayahanda!” jawab
Gajah Merik. “Baiklah! Besok kamu boleh pergi membebaskan abangmu dan istrinya.
Tapi, dengan syarat, kamu harus pergi bertapa di Tepat Topes untuk memperoleh
senjata pusaka,” ujar sang Raja. “Baik, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. Keesokan
harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Tepat Topes yang terletak di antara ibu
kota Kerajaan Suka Negeri dan sebuah kampung baru untuk bertapa. Selama tujuh
hari tujuh malam, Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan
tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka
berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat
jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara
selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang. Setelah itu, Gajah Merik
kembali ke istana dengan membawa kedua pusaka itu. Namun, ketika sampai di
kampung Telang Macang, ia melihat beberapa prajurit istana sedang menjaga
perbatasan Kerajaan Kutei Rukam dan Suka Negeri. Oleh karena tidak mau terlihat
oleh prajurit, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju
Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Ia heran karena seakan-seakan
berjalan di daratan dan sedikit pun tidak tersentuh air. Semula Gajah Merik
berniat kembali ke istana, namun ketika sampai di Danau Tes, ia berubah pikiran
untuk segera mencari si Raja Ular. Gajah Merik pun menyelam hingga ke dasar
danau. Tidak berapa lama, ia pun menemukan tempat persembunyian Raja Ular itu.
Ia melihat sebuah gapura di depan mulut gua yang paling besar. Tanpa berpikir
panjang, ia menuju ke mulut gua itu. Namun, baru akan memasuki mulut gua,
tiba-tiba ia dihadang oleh dua ekor ular besar. “Hai, manusia! Kamu siapa?
Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu. “Saya adalah
Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gaja Merik dengan nada
menantang. “Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu. Oleh karena Gajah Merik
tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak
dapat dihindari. Pada awalnya, kedua ular itu mampu melakukan perlawanan, namun
beberapa saat kemudian mereka dapat dikalahkan oleh Gajah Merik. Setelah itu,
Gajah Merik terus menyusuri lorong gua hingga masuk ke dalam. Setiap melewati
pintu, ia selalu dihadang oleh dua ekor ular besar. Namun, Gajah Merik selalu
menang dalam perkelahian. Ketika akan melewati pintu ketujuh, tiba-tiba Gajah
Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak. “Ha... ha... ha..., anak manusia,
anak manusia!” “Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik
sambil mundur beberapa langkah. Merasa ditantang, sang Raja Ular pun mendesis.
Desisannya mengeluarkan kepulan asap. Beberapa saat kemudian, kepulan asap itu
menjelma menjadi seekor ular raksasa. “Hebat sekali kau anak kecil! Tidak
seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud
kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu. “Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano
dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik. “Lepaskan abangku dan istrinya,
atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam. “Ha... ha....
ha...., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus
penuhi syaratku,” ujar Raja Ular. “Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik.
“Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu
harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak.
“Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang. Dengan
kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera
mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca
mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular
terkejut melihat kesaktian anak kecil itu. “Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau
telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular. “Tapi, kamu
tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha... ha...
ha....!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak. “Tunjukkanlah
kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik. Tanpa berpikir panjang,
Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik
yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari
kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih
berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing.
Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang. Sudah lima hari
lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan.
Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kelelahan dan hampir kehabisan
tenaga. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Merik. Ia terus menyerang
hingga akhirnya Raja Ular itu terdesak. Pada saat yang tepat, Gajah Merik
segera menusukkan selendangnya yang telah menjelma menjadi pedang ke arah perut
Raja Ular. “Aduuuhh... sakiiit!” jerit Raja Ular menahan rasa sakit. Melihat
Raja Ular sudah tidak berdaya, Gajah Merik mundur beberapa langkah untuk
berjaga-jaga siapa tahu raja ular itu tiba-tiba kembali menyerangnya. “Kamu
memang hebat, anak kecil! Saya mengaku kalah,” kata Raja Ular. Mendengar pengakuan
itu, Gajah Merik pun segera membebaskan abangnya dan Putri Jinggai yang
dikurung dalam sebuah ruangan. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano
beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik
belum juga kembali dari pertapaannya. Oleh karena itu, sang Raja memerintahkan
beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Tepat Topes. Namun, sebelum
para hulubalang itu berangkat, tiba-tiba salah seorang hulubalang yang
ditugaskan menjaga tempat pemandian di tepi Danau Tes datang dengan
tergesa-gesa. “Ampun, Baginda! Gajah Merik telah kembali bersama Gajah Meram
dan Putri Jinggai,” lapor hulubalang. “Ah, bagaimana mungkin? Bukankah Gajah
Merik sedang bertapa di Tepat Topes?” tanya baginda heran. “Ampun, Baginda!
Kami yang sedang berjaga-jaga di danau itu juga terkejut, tiba-tiba Gajah Merik
muncul dari dalam danau bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai. Rupanya, seusai
bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik langsung menuju ke istana
Raja Ular dan berhasil membebaskan Gajah Meram dan Putri Jinggai,” jelas
hulubalang itu. “Ooo, begitu!” jawab sang Raja sambil tersenyum. Tidak berapa
lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan
dikawal oleh beberapa hulubalang yang bertugas menjaga tempat pemandian itu.
Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga
istana. Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke
seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang
Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja
menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak
penyerahan kekuasaan itu. “Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta
kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini,
dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah
Meram. “Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja,
Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik. “Ampun, Ayahanda!
Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab
Gajah Merik memberi syarat. “Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja
penasaran. “Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan
pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik. Permintaan
Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah
ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam. Kisah
petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala
Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau
Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena
itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak
berani berkata sembrono. Demikian cerita Ular Kepala Tujuh dari Kabupaten
Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita rakyat di atas termasuk kategori
cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan
moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat rendah hati dan tahu
diri. Pertama, sifat rendah hati. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah
Merik. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah pamer dan
menyombongkan diri. Sifat ini dapat memupuk ikatan tali persaudaraan.
Sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini: wahai ananda kekasih
bunda, janganlah engkau besar kepala rendahkan hati kepada manusia supaya kekal
tali saudara Kedua, sifat tahu diri. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah
Meram. Semestinya dialah yang berhak dinobatkan menjadi raja, namun karena
menyadari bahwa adiknya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada dirinya,
maka ia pun menyerahkan tampuk kekuasaan Kerajaan Kutei Rukam kepada adiknya,
Gajah Merik. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa dengan memahami
kekurangan dan kelebihan dirinya, seseorang akan tahu menempatkan diri dalam
pergaulan kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam ungkapan Melayu: apa tanda
tahu dirinya: hamba tahu akan Tuhannya anak tahukan orang tuanya raja tahukan
daulatnya alim tahukan kitabnya hulubalang tahukan kuatnya cerdik tahukan
bijaknya guru tahukan ilmunya tua tahukan amanahnya muda tahukan kurangnya
lebih tahukan kurangnya (SM/sas/77/05-08) Sumber: * Isi cerita diadaptasi dari
Prahana, Naim Emel. 1998. Cerita Rakyat Dari Bengkulu 2. Jakarta: Grasindo
Home
All posts
Bukan antara benar dan salah
MASALAHNYA BUKAN ANTARA BENAR DAN SALAH, MELAINKAN BAGAIMANA ANDA BISA MEMPERBAIKI KESALAHAN
(BY G. WILWATIKA)
Jangan berdalih dan bersilat lidah hanya untuk menutupi kesalahan anda. Bukan antara benar dan salah, melainkan bagaimana anda bisa memperbaiki kesalahan anda.
Jangan menutup diri dan bersedia dengan lapang dada untuk dikritik.
Siapapun pernah melakukan kesalahan, bahkan para Nabi-pun sebagai
manusia yang diagungkan dan dimuliakan pernah melakukan kesalahan,
karena perbuatan salah telah menjadi kodrat manusia.
Memperbaiki dan menyadariyana adalah mutlak dilakukan oleh kita. Sikap
mau meyadari atas kesalahan merupakan sikap keberanian. Sikap yang
demikian tumbuh seiring denagn berkembangnya potensi terbaik dalam diri
yakni pikiran positif dan kehendak untuk berubah menjadi baik. Pada
dasarnya orang lain akan menilai anda bijak, jika anda menampakkan sikap
yang terbuka dan mau berbagi dan mengoreksi setiap kesalahan anda dan
membenahinya.
Namun ironis jika anda berusaha menutupi kesalahan dengan dalih
dan alasan agar anda tampak sebagai orang yang tidak bersalah, malah hal
yang demikian membuat anda terkesan seperti orang yang kalah yakni
kalah atas diri sendiri karena tidak mau mengakui dan memperbaiki
kekurangan diri sendiri. Bersikaplah berani terbuka atas sesuatu yang
bisa membuat anda lebih baik dan maju sehingga orang lain tidak
menganggap anda sebagai pengecut atau pecundang atas diri sendiri.
Tips Cara Agar Cepat Hamil
Tips Agar Cepat Hamil.
Kehamilan dan mendapatkan keturunan merupakan sebuah harapan yang besar
bagai pasangan suami isteri, khususnya bagi mereka yang baru saja
melangsungkan pernikahan. Hadirnya buah hati dalam kehidupan keluarga
menambah lengkap suasana. Momen tatkala hasil test kehamilan menunjukkan
postif, adalah sebuah moment yang sangat dinanti oleh pasangan suami
isteri bagi mereka yang mendambakan hadirnya generasi penerus keluarga.
Namun ada kalanya, harapan akan
mendapatkan kehamilan dan keturunan terasa mulai sirna tatkala kehamilan
yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Stress dan putus asa banyak
menghinggapi pasangan suami isteri yang telah lama menanti. Kadang
kondisi ini banyak membuat sebuah keluarga menjadi tidak harmonis dan
akhirnya terjadi perceraian gara-gara kasus ini. Sebetulnya banyak kasus
yang menyebabkan sulitnya sebuah pasangan suami isteri untuk
mendapatkan keturunan, di mulai dari adanya penyakit, gangguan hormonal,
gangguan sistem reproduksi dan berbagai macam hal lainnya yang tentunya
hal ini perlu dilakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut untuk
mengatasinya. Namun ada kalanya juga seorang pasangan suami isteri sulit
untuk cepat hamil dikarenakan kurangnya pengetahuan dasar mengenai
kehamilan, sehingga kehamilan yang di nanti belum datang juga.
Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan bagi pasangan suami isteri agar cepat mendapatkan kehamilan:
Berdoa Kepada Yang Maha Kuasa
Manusia hanyalah bisa merencanakan dan berusaha,
sedangkan yang menentukan semuanya tentulah Tuhan. Oleh karena itu
lengkapi usaha anda dengan berdoa kepada-Nya, agar diberkahi secepatnya
karunia kehamilan. Doa begitu kuat, yang mampu mewujudkan sesuatu yang
tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi, berdoalah!
Periksakan Kondisi Kesehatan Anda
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan
pemeriksaan kesehatan yang mencakup kesehatan tubuh anda sendiri,
mengenai sistem reproduksi anda, tingkat kesuburan dan hal lainnya
kepada ahlinya. Periksakan hal ini baik suami maupun isteri. Hal ini
merupakan modal penting untuk terjadinya kehamilan dan untuk diketahui
oleh pasangan suami isteri, karena jika terjadi kendala pada hal
tersebut, tentunya diperlukan perawatan dan pengobatan lebih lanjut dan
bukan hanya sekedar tips. Jika setelah diperiksakan dan dinyatakan
kondisi anda dan pasangan anda sehat, maka mungkin tips selanjutnya bisa
bermanfaat dan dapat anda lakukan.
Menerapkan Pola Hidup Sehat
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menerapkan pola hidup sehat. Inilah yang harus anda perhatikan :
Jika kebetulan anda atau suami perokok, sebaiknya menghentikan merokok. demikian juga dengan kebiasaan meminum alkhohol.
meminum alkohol sedikit pun mengurangi peluang kehamilan hingga 50 %
Pastikan Berat Badan Anda Tidak Kurang/Tidak Lebih
(ideal) karena berat badan yang kurang/lebih selain bisa mempersulit
pembuahan, juga menjadi masalah saat anda hamil. Sedangkan bagi pria,
kekurangan berat badan bisa mengurangi pembentukan sperma.
Rajin Olahraga, dengan demikian kondisi badan anda selalu fit dan dalam proses pembuahan pun akan lebih besar terjadi.
Pola Makan Bergizi Seimbang dalam mengkonsumsi makanan sarat gizi yang diperlukan untuk mendapatkan kehamilan sehat kelak.
Ketahui Masa Subur Anda
Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone
secara signifikan sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel
telur dari ovarium). Kenaikan LH akan mendorong sel telur keluar dari
ovarium menuju tuba falopii. Didalam tuba falopii ini bisa terjadi
pembuahan oleh sperma. Masa-masa inilah yang disebut masa subur, yaitu
bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur berada dalam tuba
falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa
yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati.
Untuk mengetahui cara menghitung masa subur anda
Ketahui dan Hindari Masalah-Masalah Kesuburan (Infertilitas)
Masalah kesuburan terjadi akibat terganggunya sistem
reproduksi pada wanita dan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas
sperma pada pria. Sebuah penelitian menyatakan bahwa masalah kesuburan
terjadi pada 40% akibat perempuan, 40% akibat laki-laki dan 30% akibat
keduanya.
Gunakan Posisi Berhubungan Badan Yang Tepat
Banyak pakar kesuburan yang berpendapat bahwa posisi
pria di atas saat berhubungan badan memberikan peluang terbaik bagi
terjadinya kehamilan. Agar lebih efektif, wanita bisa mengganjal
pinggulnya dengan bantal sehingga serviks-nya bisa menampung banyak
sperma. Usahakan setelah ejakulasi antar pasangan terjadi, selama 10-20
menit agar wanita tetap dalam posisi berbaring. Janganlah beranjak dulu
dari sikap tiduran ini karena dalam menit waktu ini cairan semen akan
mencair, dan jika wanita bangkit cairan semen akan mengalir kembali ke
vagina dan suasana asam membuat sperma melemah dan mati. Hal ini juga
merupakan suatu supaya agar kesuburan seorang wanita dapat terjaga
dengan baik.
Hadirkan suasana Santai Saat Berhubungan
Kegiatan berhubungan suami isteri ini selayaknya
dilakukan dalam suasana yang santai dan juga romantis. Saat masa subur
tiba dan direncanakan untuk berhubungan intim, sediakanlah waktu yang
cukup. Jika selesai aktifitas dari suatu pekerjaan, istirahatlah
terlebih dahulu untuk memberi waktu menyegarkan tubuh. Mandi bisa jadi
suatu cara agar tubuh menjadi segar kembali. Jagalah mood dan
bersikaplah santai, jangan terlalu stres dalam melakukan hubungan
seksual, misalnya memikirkan apakah”kegiatan” kali ini akan membuahkan
suatu kehamilan.
Ketahui Mengenai Pengetahuan Dasar Terjadinya Kehamilan
Hal ini juga penting diketahui oleh pasangan suami
isteri agar dapat dijadikan sebagai gambaran untuk mendapatkan
kehamilan. Mengetahui seberapa banyak jumlah sperma normal, kondisi
serviks saat masa subur, berapa lama sperma mencapai sel telur dsb.
Minum Vitamin
Untuk cepat hamil, konsumsi vitamin maupun jenis
makanan mengandung zat-zat dibutuhkan untuk kesuburan sangatlah penting
untuk Anda dan pasangan. Vitamin C, salah satunya, dapat meningkatkan
kualitas sperma. Mengkonsumsi 1000 mg dan 10 mcg vitamin D atau Vitamin E
dapat meningkatkan kesuburan pria dan wanita. Dan wanita yang
mengkonsumsi asam folat memiliki kesempatan hamil yang lebih baik
dibanding mereka yang tidak mengkonsumsinya. Asam folat juga berperan
penting dalam pembentukan tabung otak sang janin kelak.
Tips Cepat Hamil oleh dr. Rosdiana Ramli, SpOG
Jika selama ini anda telah melakukan tips-tips hamil
seperti yang disebutkan di atas, namun belum jua dikaruniai kehamilan,
ada baiknya anda mengikuti program kehamilan yang dibawakan oleh dr.
Rosdiana Ramli, SpOg.
Dalam program ini beliau akan memberikan informasi
mengenai masalah infertilitas-faktor penyebab beserta solusinya, cara
terapi penggunaan obat-obatan yang dapat mempercepat kehamilan anda,
panduan jenis makanan yang dihindari bila anda ingin segera hamil, tips
dan trik agar cepat hamil termasuk di dalamnya bagaimana posisi yang
bercinta yang baik guna memperbesar kemungkinan anda hamil dan masih
banyak info yang bisa anda dapatkan dari beliau.
Yang lebih penting lagi, anda akan diberikan program
konsultasi gratis langsung dengan beliau via email. Sehingga dengan
demikian akan makin melengkapi program kehamilan yang akan anda
jalankan. Dengan konsultasi gratis dengan beliau, anda bisa menanyakan
berbagai hal seputar permasalahan anda dan bagaimana mengatasinya,
karena tentu saja permasalahan infertilitas tiap individu berbeda-beda,
sehingga dengan demikian program yang anda ikuti akan lebih personal
dan terarah.
Selain itu, program tips agar cepat hamil ini sudah
melalui penelitian medis dan telah menunjukan hasil yang diharapkan. Dan
program kehamilan ini telah di dukung dan direkomendasikan oleh Dr.
Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS ahli ginekolog dan konsultan seks yang
telah kita kenal selama ini.
Dan tidak sampai disitu saja, ketika anda berhasil
mendapatkan kehamilan, anda pun akan diberi panduan lengkap untuk ibu
hamil dan panduan nutrisi untuk ibu hamil, sehingga kehamilan yang
sedang anda jalani akan berjalan dengan baik hinga saatnya persalinan
nanti.
Cukup lengkap bukan, jadi tunggu apa lagi, silahkan
bergabung di program ini dan untuk bergabung dan mendapatkan informasi
lebih lanjut, silahkan klik link di bawah ini
BAHASA REJANG
Bahasa Rejang adalah bahasa yang digunakan di kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Lebong, dan kabupaten Kepahiang; semuanya termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu, Indonesia. Bahasa Rejang pernah memiliki aksara tersendiri yang dikenal sebagai aksara Kaganga. Aksara Kaganga menyerupai aksara yang ada pada aksara Batak dan aksara Lampung.
Bahasa Rejang terbagi dari tiga kelompok dialek, yakni dialek Rejang Curup, Rejang Kepahiang, dan Rejang Lebong. Dialek yang dituturkan di kabupaten Bengkulu Utara termasuk dialek Rejang Curup.
Kini bahasa Rejang dianggap satu bahasa yang membentuk kelompok tersendiri dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.
Bahasa Rejang terbagi dari tiga kelompok dialek, yakni dialek Rejang Curup, Rejang Kepahiang, dan Rejang Lebong. Dialek yang dituturkan di kabupaten Bengkulu Utara termasuk dialek Rejang Curup.
Kini bahasa Rejang dianggap satu bahasa yang membentuk kelompok tersendiri dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.
Kosakata
Bahasa Rejang memiliki variasi ataupun perbedaan menurut dialek yang dimiliki berdasarkan tiga kelompok dialek Rejang. Di bawah ini adalah beberapa kosakata dalam bahasa Rejang yang memiliki perbedaan antar kelompok dialek Rejang.| Bahasa Indonesia | Dialek Lebong | Dialek Curup | Dialek Kepahiang |
|---|---|---|---|
| mau | lok | lak | lak |
| nasi | mei | mie | mea |
| menikah | betunok | betunak | betunak |
| jangan | jibeak | ji’beak | jikba |
| darat | da'et | da'et | dahet |
| banyak | dau | deu | deu |
| cucu | kepau | peu | kepeu |
| pergi | alau | aleu | aleu |
| lema | lemea | lema | lema |
| dusun | sadei | sadie | sadea |
| marah | mengiak | mengeak | mengeah |
| ada | ade | ade | ade |
| sendiri | su'ang | su'ang | suhang |
| sarung | so'ong | so'ong | sohong |
| tahi | taktoi | taktei | taktea |
| kepala | ulau | uleu | uleu |
| badan | awok | awak | awak |
| jari | ji’ai | ji’ei | jihei |
| mata | matai | matei | matei |
| telinga | ti'uk | ti'uk | tihuk |
| leher | ka’gen | ka’gen | kahgen |
| lidah | dileak | dileak | dileah |
| testis | labau | labeu | labeu |
| ketiak | bea' gelpeak | bea' gelpeak | beah gelpeah |
| bahu | ba’au | ba’eu | baheu |
| bibir | bibia | bebea | bibih |
| selangkang | kerapang | cakak | cakak |
| perut | tenai | tenei | tenea |
| tempoyak | puyok | asem | tepuyak |
| apa | jane | jano | ine |
| ular | tedung | edung | nopoe |
| dodol | pujuak | pojoak | glamai |
| topi | tudung | tudung | tuguk |
| lauk | lapen | lapen | gulea |
| laki-laki | semanai | semanei | sebong |
| perempuan | selawie | selawei | bea |
Perbedaan dialek bahasa Rejang
- Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan ai; Rejang Curup membunyikan ei; Rejang Kepahiang membunyikan hei. Contoh: Lebong mengucapkan ji’ai – Curup mengucapkan ji’ei – Kepahiang mengucapkan jihei.
- Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan eak; Rejang Curup membunyikan eak (sama dengan dialek Lebong); Rejang Kepahiang membunyikan eah. Contoh: Lebong mengucapkan seak – Curup mengucapkan seak – Kepahiang mengucapkan seah.
- Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan au; Rejang Curup membunyikan eu; Rejang Kepahiang membunyikan eu (sama dengan dialek Curup). Contoh: Lebong mengucapkan dau – Curup mengucapkan deu – Kepahiang mengucapkan deu.
- Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan ok; Rejang Curup membunyikan ak; Rejang Kepahiang membunyikan ak (sama dengan dialek Curup). Contoh: Lebong mengucapkan betunok – Curup mengucapkan betunak – Kepahiang mengucapkan betunak.
Asal-usul Suku-suku Bangsa di Provinsi Bengkulu
Di Propinsi Bengkulu terdapat cukup banyak suku bangsa yang memiliki ciri-ciri budaya sendiri. Setiap suku bangsa tersebut memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Suku-suku bangsa yang telah hidup secara turun temurun di Propinsi Bengkulu antara lain adalah : suku bangsa Rejang; suku bangsa Serawai, suku bangsa Melayu Bengkulu, suku bangsa Pasemah, suku bangsa Lembak, suku bangsa Muko-Muko, Suku bangsa Enggano, suku bangsa Kaur dan sebagainya.
Dari berbagai suku bangsa yang hidup di Bengkulu tersebut, mayoritas
penduduk asli berasal dari suku bangsa Rejang (yang tersebar di
Kabupaten Rejang Lebong dan Bengkulu Utara) dan Serawai --- yang
sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan. Oleh sebab
itu, dalam tulisan ini fokus utama yang menjadi sorotan adalah kehidupan
dan adat istiadat suku bangsa Rejang dan Serawai, tanpa bermaksud untuk
mengabaikan keberadaan suku-suku bangsa lainnya.
1. Suku Bangsa Rejang.
Asal usul suku Rejang hingga saat ini masih belum diketahui secara
jelas. Kisah-kisah mengenai suku Rejang sampai saat ini hanya didasarkan
pada keterangan-keterangan ahli Tembo dan Adat Rejang. Menurut Tembo
dan Adat Rejang, suku Rejang berasal dari Bedaracina yang datang ke
Daerah Bengkulu melalui Pagarruyung dan menetap di suatu lembah subur,
yang kemudian mereka sebut Renah Sekalawi. Orang pertama yang memimpin
suku bangsa Rejang adalah Sutan Sriduni.
Setelah berkembang, keturunan rombongan pertama yang dipimpin oleh Sutan
Sriduni menganggap bahwa Renah Sekalawi merupakan tanah asal-usul
mereka. Dalam perkembangan selanjutnya suku Rejang terbagi dalam empat
kelompok besar yang disebut Petulai. Keempat Petulai tersebut
masing-masing dipimpin oleh seorang pimpinan yang disebut Ajai. Keempat
Ajai tersebut adalah :
a. Ajai Bintang, memimpin di Sadei (desa) Pelabai Lebong yang terletak di Marga Suku IX Kecamatan Lebong Utara;
b. Ajai Siang, memimpin di Sadei Siang Lakat yang terletak di Marga Jurukalang Kecamatan Lebong Selatan;
c. Ajai Malang, memimpin di di Sadei Bandar Agung yang terletak di Marga Suku IX Kecamatan Lebong Utara; dan
d. Ajai Begelang Mato, memimpin di Sadei Kutai Belek Tebo, yang terletak di Marga Suku VIII Kecamatan Lebong Selatan.
Selanjutnya suku Rejang didatangi oleh empat orang bangsawan dari
Kerajaan Sriwijaya yang mampu menanamkan pengaruhnya kepada suku Rejang.
Keempat bangsawan ini kemudian kawin dengan puteri-puteri para Ajai dan
selanjutnya diangkat menjadi pimpinan ke empat Petulai. Keempat
bangsawan Sriwijaya tersebut diberi gelar Bikaw (berasal dari kata Biku
atau Biksu) dan masing-masing memimpin satu kesatuan kekeluargaan yang
diberi nama sesuai dengan identitas kelompok masing-masing. Para Bikaw
dan kelompok masyarakatnya tersebut adalah :
a. Bikaw Sepanjang Jiwo, memimpin Marga Tubai yang terletak di Pelabai;
b. Bikaw Bermano, memimpin Marga Bermani yang terletak di Kutei Rukam dekat dusun Tes sekarang;
c. Bikaw Bejenggo, memimpin marga Selupuak yang terletak di Batu Lebar dekat Anggung Rejang di Kesambe;
d. Bikaw Bembo, memimpin marga Jurukalang yang terletak di Suka Negeri dekat Tapus (hulu Sungai Ketahun).
Keempat kelompok masyarakat di bawah pimpinan para Bikaw kemudian
disebut Rejang Empat Petulai (Jang Pat Petulai), yang terdiri dari
Petulai Tubai (Tubai), Petulai Jurukalang, Petulai Selupuak dan Petulai
Bermani. Pada masa itu di setiap Petulai terdapat Kuteui (desa yang
berdiri sendiri) sebagai suatu kelompok masyarakat hukum adat di bawah
Petulai. Kepala Kuteui di sebut Tuai Kuteui dan dalam menjalankan
pemerintahannya dibantu oleh Kepala Sukau/Sadei.
Dari generasi ke generasi Petulai-Petulai tersebut tersebar ke
wilayah-wilayah sepanjang aliran sungai Musi, Sungai Ketahun, Sungai
Kelingi, pesisir pantai, dan tempat-tempat lainnya. Dalam tembo
tempat-tempat perpindahan ini disebut Sindang Empat Lawang, Sindang
Beliti, Ulu Musi, Renah Pesisir dan Renah Ketahun.
Di sekitar awal abad XVII Masehi, diadakan permufakatan besar suku
bangsa Rejang yang dipimpin oleh Petulai dan pecahan-pecahan Peulai dari
keempat wilayah Lebong. Permufakatan besar ini bertujuan untuk membina
persatuan dan kesatuan suku bangsa Rejang. Keputusan-keputusan penting
dari permufakatan besar tersebut antara lain :
a. Seluruh daerah yang didiami oleh suku bangsa Rejang dibagi dalam empat Luak, yaitu Luak Lebong, Luak Ulu Musi, Luak Lembak Beliti dan Luak Pesisir.
b. Pecahan-pecahan Petulai Tubai di luar wilayah Lebong diakui keberadaannya dan disebut Migai (Merigi), sedang pecahan di dalam wilayah Lebong disebut Sukau Delapeun (Suku VIII) dan Sukau Semilan (Suku IX).
c. Pemberian gelar Depati bagi para pemimpin Petulai, yaitu :
1) Depati Pasak Bumi bagi Sapau Lanang, pemimpin Petulai Bermani di Kuteui Rukam;
2) Depati Rajo Besar bagi Rio Tado, pemimpin Petulai Jurukalang di Tapus;
3) Depati Tiang Alam bagi Ajai Malang, pemimpin Petulai Selupuak di Atas Tebing;
4) Depati Kemala Ratu bagi Ki Pati, pemimpin pecahan-pecahan petulai Sukau Delapeun di Karang Anyar.
d. Dalam bidang pertahanan dan keamanan diadakan pembagian tugas sebagai berikut :
1) empat orang pemimpin Sindang Empat Lawang dan lima orang pemimpin Sindang Beliti menjaga ancaman musuh dari Timur;
2) sebelas orang pemimpin dari Renah Pesisir dan tujuh orang pemimpin Renah Ketahun menjaga ancaman musuh yang datang dari laut.
Pemerintahan kolektif di seluruh suku bangsa Rejang di mulai saat ini
dengan pimpinan keempat Depati tersebut bersama-sama. Oleh sebab itu,
pemerintahan kolektif empat Depati ini disebut dengan istilah
pemerintahan Depati Tiang Empat. Koordinator pemerintahan ini adalah Ki
Pandan, pimpinan pecahan petulai Sukau Semilan yang berkedudukan di
Bandar Agung dengan gelar Rajo Depati.
Selanjutnya suku bangsa Rejang memiliki satu kesatuan pimpinan adat yang
dipegang oleh Depati Tiang Empat. Segala perselisihan adat atau bila
ada kekacauan dilaporkan kepada Depati Tiang Empat yang memutuskan kata
akhir. Demikian pula apabila ada keturunan pecahan petulai Tubai di luar
Lebong mengalami kesulitan dan kekurangan akan hal adat.
Pemerintahan kolektif Depati Tiang Empat ini terus berjalan secara
turun-temurun hingga sampai pada awal penjajahan Belanda (1860/1860
Masehi). Namun setelah itu secara bertahap, pemerintah penjajah mulai
menghilangkan eksistensi pemerintahan Depati Tiang Empat ini.
Suku bangsa Rejang telah mengenal tulis baca karena mereka telah
memiliki huruf tersendiri yang disebut oleh sebahagian ahli sebagai
tulisan Rencong. Masyarakat Rejang sendiri menyebut tulisan mereka
sebagai huruf Ka Ga Nga. Huruf ini dahulu dapat digunakan oleh para
pemimpin suku bangsa Rejang, Palembang, Serawai, Komering dan Lampung.
Perbedaan huruf Rencong dari masing-masing suku bangsa tersebut memang
ada, tapi tidaklah banyak.
2. Suku Bangsa Serawai.
Suku bangsa Serawai merupakan suku bangsa kedua terbesar yang hidup di
daerah Bengkulu. Sebagian besar masyarakat suku Serawai berdiam di
Kabupaten Bengkulu Selatan yakni di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo
Pino, Kelutum, Manna dan Seginim. Suku bangsa Serawai mempunyai
mobilitas yang cukup tinggi, saat ini banyak dari mereka yang pindah ke
daerah-daerah lain untuk mencari penghidupan baru, seperti ke Rejang
Lebong, Bengkulu Utara dan sebagainya.
Secara tradisional, suku bangsa Serawai hidup dari kegiatan di sektor
pertanian, khususnya perkebunan. Banyak di antara mereka mengusahakan
tanaman perkebunan atau jenis tanaman keras, misalnya cengkeh, kopi,
kelapa dan karet. Meskipun demikian, mereka juga mengusahakan tanaman
pangan, palawija, hortikultura dan peternakan untuk kebutuhan hidup.
Asal-usul suku bangsa Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah,
baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya.
Asal-usul suku bangsa Serawai hanya diperoleh dari uraian atau ceritera
dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat
sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga
sulit untuk membedakan mana yang bernilai sejarah dan mana yang bukan.
Ada satu tulisan yang diketemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun
yang terletak di Maras, Kecamatan Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas
kulit kayu dengan menggunakan huruf yang menyerupai huruf Arab kuno.
Namun sayang sekali sampai saat ini belum ada di antara para ahli yang
dapat membacanya.
Berdasarkan ceritera para orang tua, suku bangsa Serawai berasal dari
leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul
Serunting Sakti sendiri masih gelap. Sebagian orang mengatakan bahwa
Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang
ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit. Di Majapahit, serunting Sakti
minta suatu daerah untuk didiaminya dan oleh Raja Majapahit dia
diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan. Ada pula yang
berpendapat bahwa Serunting Sakti berasal dari langit, ia turun ke bumi
tanpa melalui rahim seorang ibu. Selain itu, ada pula yang berpendapat
bahwa Serunting Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Puyang
Kepala Jurai dengan puteri Tenggang.
Di dalam Tembo Lebong terdapat ceritera singkat mengenai seorang puteri
yang bernama puteri Senggang. Puteri Senggang adalah anak dari Rajo
Megat, yang memiliki dua orang anak yakni Rajo Mawang dan Puteri
Senggang. Dalam tembo tersebut kisah mengenai Rajo Mawang terus
berlanjut sedangkan kisah puteri Senggang terputus begitu saja. Hanya
saja ada disebutkan bahwa puteri Senggang terbuang dari keluarga Rajo
Mawang.
Apabila kita simak ceritera tentang kelahiran Serunting Sakti, diduga
ada hubungannya dengan kisah puteri Senggang ini dan ada kemungkinan
bahwa puteri Senggang inilah yang disebut oleh orang Serawai dengan nama
puteri Tenggang. Diceriterakan bahwa Puyang Kepala Jurai yang sangat
sakti jatuh cinta pada Puteri Tenggang, tapi cintanya ditolak. Namun
berkat kesaktiannya, Puyang Kepala Jurai dapat melakukan hubungan dengan
puteri Tenggang, tanpa disadari oleh puteri itu sendiri. Akibat dari
perbuatan ini puteri Tenggang menjadi hamil. Setelah puteri Tenggang
melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Tolak Merindu
barulah terjadi perkawinan antara putri Tenggang dengan Puyang Kepala
Jurai, itupun dilakukan setelah puteri Tolak Merindu dapat berjalan dan
bertutur kata.
Setelah perkawinan tersebut, keluarga Puyang Kepala Jurai belum lagi
memperoleh anak untuk jangka waktu yang lama. Kemudian Puyang Kepala
Jurai mengangkat tujuh orang anak, yaitu : Semidang Tungau; Semidang
Merigo; Semidang Resam; Semidang Pangi; Semidang Babat; Semidang Gumay
dan Semidang Semitul. Setelah itu barulah Puyang Kepala Jurai memperoleh
seorang putera yang diberi nama Serunting. Serunting inilah yang
kemudian hari menjadi Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Serunting
Sakti berputera tujuh orang, yaitu :
a. Serampu Sakti, yang menetap di Rantau Panjang (sekarang termasuk marga Semidang Alas), Bengkulu Selatan;
b. Gumatan, yang menetap di Pasemah Padang Langgar, Lahat;
c. Serampu Rayo, yang menetap di Tanjung Karang Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT);
d. Sati Betimpang, yang menetap di Ulak Mengkudu, Ogan;
e. Si Betulah, yang menetap di Saleman Lintang, Lahat;
f. Si Betulai, yang menetap di Niur Lintang, Lahat; dan
g. Bujang Gunung, yang menetap di Ulak Mengkudu Lintang, Lahat.
Putera Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai 13 orang
putera yang tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan
anak-anaknya ini dianggap sebagai cikal bakal suku bangsa Serawai.
Putera ke 13 Serampu Sakti yang bernama Rio Icin bergelar Puyang Kelura
mempunyai keturunan sampai ke Lematang Ulu dan Lintang.
Dalam istilah daerah Rejang, suku bangsa Serawai sering disebut Jang
Sawei (Rejang Serawai). Dari sini kita dapat mengetahui bahwa suku
bangsa Rejang menganggap bahwa suku bangsa Serawai merupakan salah satu
pecahan dari Suku bangsa Rejang atau sejak dulu sudah berasimilasi
dengan suku bangsa Rejang. Hal ini mungkin ada benarnya, banyak tarian
adat suku bangsa Rejang yang memiliki banyak kesamaan dengan tarian adat
suku Serawai, terlebih lagi bila kita menyimak kisah tentang puteri
Senggang di atas.
Kata Serawai sendiri masih belum jelas artinya. Sebagian orang
mengatakan bahwa Serawai berarti "satu keluarga", hal ini tidak
mengherankan apabila dilihat rasa persaudaraan atau kekerabatan di
antara orang-orang Serawai sangat kuat. Selain itu ada pula tiga
pendapat lain mengenai asal kata Serawai, yaitu :
a. Serawai berasal dari kata Sawai yang berarti Cabang. Cabang di sini maksudnya adalah cabang dua buah sungai yakni Sungai Musi dan Sungai Seluma yang dibatasi oleh Bukit Campang;Suku bangsa Serawai juga telah memiliki tulisan sendiri. Tulisan itu, seperti halnya huruf Ka Ga Nga suku Rejang, disebut oleh para ahli dengan nama huruf Rencong. Suku bangsa Serawai sendiri menamakan tulisan itu sebagai Surat Ulu. Susunan bunyi huruf pada Surat Ulu sangat mirip dengan tulisan Ka Ga Nga pada huruf Rejang. Oleh sebab itu tidak aneh apabila pada masa lalu para pemimpin suku-suku bangsa Rejang dan Serawai dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan
b. Serawai berasal dari kata Seran. Kata Seran sendiri bernakna Celaka, hal ini dihubungkan dengan legenda anak raja dari hulu yang dibuang karena terkena penyakit menular. Anak raja ini dibuang ke sungai dan terdampar di muara dan disitulah anak raja tersebut membangun negeri.
c. Serawai berasal dari kata Selawai yang berarti Gadis atau Perawan. Pendapat ini mendasarkan diri pada ceritera yang mengatakan bahwa suku bangsa Serawai adalah keturunan sepasang suami-isteri. Sang Suami berasal dari Rejang Sabah (penduduk asli pesisir pantai Bengkulu) dan isterinya adalah seorang puteri atau gadis yang berasal dari Lebong. Dalam bahasa Lebong, puteri atau gadis disebut Selawai. Kedua suami-isteri ini kemudian beranak-pinak dan mendirikan kerajaan kecil yang oleh orang Lebong dinamakan Selawai.
Jurukalang dalam Serpihan Catatan
Suku Rejang
adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku Bangsa
Melayu, argumen ini dikuatkan bahwa Suku Rejang ini telah memiliki
tulisan dan bahasa sendiri, ada perdebatan-perdebatan panjang mengenai
asal-usul Suku Rejang, ada yang menyakini bahwa suku ini bersasal dari
Sumatera Bagian Utara, ada juga sebagai yang menyakini bahwa Rejang
berasal dari Majapahit bahkan sebagai masyarakat meyakini bahwa sebagian
besar berasal dari jazirah Arab. Mengenai asal usul Rejang sangat
sedikit sekali literatur maupun hasil penelitian yang lebih lengkap
tentang asal usul bangsa Rejang, namun dalam menyusun sejarah Adat
Jurukalang yang merupakan kesatuan masyarakat komunal, AMARTA mencoba
menyusun serpihan-serpihan cerita turun temurun yang kemudian mencoba
untuk mengelaborasi dengan beberapa tulisan tentang Rejang.
Jurukalang
dalam bahasa lokal disebut dengan Jekalang yang pada awalnya hanya
terdiri dari 2 kutai atau dusun, dalam sejarah secara turun temurun
kutai tersebut adalah Kutai Topos dan Kutai Teluk Diyen, kutai-kutai ini
dikenal sejak zamannya pemerintahan Marga Jurukalang di bawah pimpinan
Bikau Bembo, namun sebelum zaman Bikau Bembo yang memerintah Marga
Jekalang ini diwilayah ini terdapat beberapa Kutai dibawah pimpinan Ajai
Siang antara lain Kutai Pukua, Kutai Mawua, Kutai Menai, Kutai Sebayem
dan Kutai Titik.
Jurukalang
adalah salah satu Petulai dalam sejarah suku bangsa Rejang, selain
sejarah turun temurun beberapa tulisan tentang rejang ini adalah tulisan
John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun 1775-1779), dalam
laporannya dia meceritakan tentang adanya empat petulai Rejang yaitu
Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (Selupu) dan Toobye
(Tubai).[1]
Catatn-catatan
lain tentang Kedudukan Jurukalang sebagai komunitas adat asli Rejang,
dalam laporannya mengenai ‘adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen
en Palembang Dr. JW. Van Royen menyebutkan bahwa kesatuan Rejang yang
paling murni dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya ole
orang-orang di satu bang, harus diakui Rejang Lebong.[2]
Selain
serpihan catatan, sejarah Jurukalang kebanyakan disampikan secara turun
temurun, hampir tidak ada catatan yang ditulis oleh masyarakat lokal
tentang Jurukalang, dari wawancara yang dilakukan kebanyakan
menceritakan bahwa di Jurukalang sebelum ditempati oleh masyarakat yang
mereka sebut ‘masyarakat beradat’ kebanyakan mereka mulai menceritakan
sistem lokal yang diyakini, bahwa sebelum kejadian asal warga komunitas
tersebut diwilayah ini terdapat beberapa manusia ‘dewa’ dan dalam bahasa
lokal di sebut diwo-diwo yang berada di Istana Ninik Mekedum
Rajo Diwo masing-masing mereka adalah Raden Serdang Lai, Raden Serdang
Titik, Cito Layang, Puteri Emban Bulan, Puteri Serasa Dewa, Puteri
Gading Cempaka dan Puteri Serindang Panan.[3]
Ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Perkembangan dari zamannya dewa-dewi ini kemudian banyak di ceritakan bahwa terdapat Manusia Setengah Dewa bagi masyarakat lokal Jurukalang di sebut dengan Diwo Tu’un Semidang, mereka yang lahir Tu’un Semidang umumnya tidak diketahui dari mana asal usul, di Jurukalang di yakini sebagai Diwo Tu’un Semidang adalah
Anok Mecer, Bujang Tungea, Anok Dalam, Lemang Batu, Batu Idak Cene,
Bujang Remalun, Semalim Angin atau Seliman Putih dan Burung Binang.[4]
Dari perkembangan Diwo Tu’un Semidang tidak diketahui secara pasti namun dari cerita-cerita rakyat (folklore) yang masih sangat dipercayai oleh warga komunitas Jurukalang bahwa pasca setelah Diwo Tu’un Semidang hidup masyarakat nomanden selama 5 tahap[5].
Ada beberapa bagian cerita pada tahap atau generasi ini dimana hidup masyarakat komunal dengan sistem ’meduro kelam’[6], yang dibagi menurut perkembangan generasi, generasi pertama biasa disebut dengan Jang Bikoa
(Rejang Berekor) dari beberapa cerita yang coba disimpulkan oleh Team
AMARTA Rejang Bikoa bukalah Rejang yang sedang mengalami evolusi
biologis seperti teori Darwin bahwa manusia berasal dari kera atau perubahan
atas proses jangka waktu tertentu yang berarti perubahan sifat-sifat
yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke
generasi berikutnya, tetapi Zaman Rejang Bikoa adalah penjelasan dari
kondisi Evolusi Peradaban dan budaya masyarakat di masa tertentu,
evolusi peradaban yang dimaksud adalah proses peralihan pengenalan
sistem adat dari Meduro Kelam menjadi manusia yang mulai mengenal
kearifan-kearifan tertentu dalam mengatur proses persingungan antar
meraka, dengan alam maupun dengan kepercayaan tertentu, sedangkan
penyebutan budaya masyarakat adalah kebiasaan sebuah komunitas tertentu
dalam menyelesaikan sebuah perkara yang tak pernah berujung.
Zaman Segeak
yang merupakan perkembangan dan penyebutan zaman Bikoa, dalam istilah
lokal zaman ini hanya untuk menyebutkan pola-pola hidup mereka yang
nomaden dan food gatering, kecenderungan masyarakat Rejang yang hidup di
zaman ini adalah bermata
pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan, hidup berpindah-pindah,
tinggal di gua-gua, dalam sejarah Rejang menurut Bapak Kadirman SH[7]
ada kecenderungan yang besar masyarakat ini hidup dibawah permukaan
tanah dia menyebutkan bahwa Gua Kazam yang terletak di Lebong Atas
merupakan tempat hunian orang Rejang Zaman ini dan banyak ditemui
peralatan-peralatan masyarakat di wilayah ini, alat-alat yang digunakan
terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang-tulang dan tanduk rusa,
dari cici-ciri yang ada kemungkinan zaman Segeak ini adalah zaman batu
tua (Palaeolithikum) dan Zaman batu tengah (Mesolithikum). Belum
ada sistem budidaya kebutuhan makanan sehingga semuanya diambil dari
alam, atas kondisi ini kemudian banyak menyebutkan bahwa masyarakat yang
hidup pada zaman pola food gatering ini memakan semua yang di anggap
bukan makanan yang secara medis mengangu fisik mereka.
Perkembangan
dari Zaman Segeak ini, masyarakat komunal mulai meninggalkan
tradisi-tradisi Zaman Segeak, hidup relatif menetap dan mulai melakukan budidaya-budidaya pertanian sehingga zaman ini disebut dengan Rejang Saweak, saweak
dalam bahasa Rejang adalah sawah (suatu tempat untuk bercocok tanam
jenis padi). Mereka umumnya menetap disepanjang hulu sungai yang banyak
terdapat di wilayah Jurukalang seperti Sungai Ketahun, Sungai Buah,
Sungai Baloi, dari beberapa bukti yang ditingalkan pola pertanian mereka
umumnya dengan membuat kolam-kolam besar di tengah-tengah hutan, mereka
tidak tinggal di dalam gua, seperti masyarakat primitif lainnya karena
diwilayah ini hampir tidak ditemukan gua-gua yang menunjukan sebagai
tempat tinggal, umumnya mereka membuat pondok yang dikenal sebagai serudung untuk tempat tinggal.[8]
Perkembangan yang penting adalah Zaman Ajai, Ajai itu sendiri berasal dari kata majai
yang berarti pimpinan suatu kumpulan komunitas tertentu, dalam sejarah
Rejang terdapat 4 Ajai yang memerintah di wilayah Kutai Belek Tebo
(wilayah Lebong Sekarang). Dari beberapa catatan WL De Sturler, pada
zaman Ajai ini Lebong masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis,
sekumpulan manusia pada zaman ini sudah hidup secara menetap merupakan
satuan masyarakat komunal, belum ada kepemilikan pribadi pada zaman ini,
semua yang ada merupakan hak bersama, pentinnya kepemimpinan Ajai ini
sangat dihormati oleh masyarakat komunal namun Ajai dianggap sebagai
anggota biasa dari masyarakat hanya saja diberi tugas dalam memimpin.[9]
Yang paling diketahui
oleh masyarakat Jurukalang adalah Ajai Siang, namun ada kepercayaan
bahwa bukan hanya Ajai Siang ini saja yang memimpin komunal yang
dimaksud tetapi masih ada Ajai-Ajai lain yang hilang dari sejarah
masyarakat Jurukalang. Namun yang terpenting ketika Ajai Siang ini
memimpin di wilayah Rejang di datangi 4 orang bikau yang kemudian
dipercayai memperbaharui peradaban di wilayah Rejang tentunya termasuk
wilayah Jurukalang, terjadi perdebatan panjang tentang asal usul para
bikau ini, sebagian menyakini bikau berasal dari majapahit dan sebagian
besar meyakini berasal dari jazirah arab, dan sebagian ada yang meyakini
dari China.
Argumen
menyebutkan bahwa Rejang secara umum berasal dari china dibuktikan
dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa bangsa China telah datang ke
wilayah ini sejak tahun 225-216 SM atau 147–138 tahun saka, mereka
umumnya berasal dari negeri Hyunan (China daratan), dengan bahasa Mon.
Bahasa inilah yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma,
Kamboya dan sebagian Korea, dan pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan/harapan atau sungai emas, yang penduduknya disebut dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang, sebuah
tempat yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera, pembuktian ini
kemudian diperkuat Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang
China (Numismatic) yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421
Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang Sama juga
ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di
Tarumanagara (Baca: Jakarta). Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata
Cha-Chien (Caci=uang dalam bahasa Rejang).[10]
Sementara
dari sejarah yang coba disusun oleh penulis yang disadur dari cerita
secara turun temurun bahwa komunitas Jurukalang khususnya Bikau Bembo
dan keturunanya berasal dari Jasirah Arab, salah satu bukti yang sampai
saat ini masih terjaga dengan baik di Jurukalang adalah Pedang yang
bertulisan arab, pedang ini dipercayai milik dan peningalan oleh Bikau
Bembo yang di pelihara oleh keluarga ahli waris yang tinggal di Desa
Talang Baru. Dari sejarah yang didapati dari ninik mamak bahwa Bikau
Bembo berasal dari Istambul dan merupakan anak dari Zulkarnaene, apakah
ada hubungan dengan Alexander Agung (Alexander the Great) yang merupakan
anak kepada Maharaja Philip II dari Macedonia yang ibunya berasal dari
surga yang boleh jadi adalah Puteri Olympias dari Epirus, akan sangat
dini jika disebut ada hubungan dengan Alexander the Great dan Puteri
Olympias dari Epirus, biasanya sejarah yang diturunkan secara turun
temurun dalam prosesnya ada bagian yang tidak boleh di publish
tanpa alasan yang jelas dan ada transfer pengetahuan yang tidak sempurna
maupun dipengaruhi oleh pola pikir dan pengaruh eksternal bagi orang
yang menerima cerita tersebut.
Dalam
cerita yang percayai di Jurukalang Bukau Bembo yang menikah dengan
salah satu Puteri Ajai Siang yang bergelar Ajai Bijar Sakti yang bernama
Dayang Regiak, dari perkawinan ini melahirkan 7 orang putra yang
semuanya lahir di Jurukalang masing-masing putra tersebut adalah;
- Rio Menaen
- Rio Taen
- Rio Tebuen
- Rio Apai
- Rio Mangok
- Rio Penitis
- Tuan Diwo Rio Setangai Panjang
Yang
terakhir dipercayai sebagai jelmaan dari kedua orang tuanya, dalam
proses kelahiranya diceritakan bahwa kedua orang tuanya berkeinginan
untuk mencukupi anaknya menjadi 7 orang sehingga kedua orang tuanya
(Bikau Bembo dan Dayang Regiak) melakukan pertapaan dan meminta kekuatan
para dewa, pada hari ke 7 ritual tersebut Bikau Bembo dan isterinya
Dayang Regiak hilang, Raib dalam bahasa lokal tempat
Raib/hilangnya Bikau Bembo ini saat dikenal dengan Keramat Topos, namun
tiba-tiba di lokasi ritual tersebut ada seorang bayi yang kuku tangannya
panjang sampai ke siku sehingga di sebut Rio Satangai Panjang.
Ke
tujuh anak Bikau Bembo ini kemudian menyebar di wilayah Rejang yang
sekarang, Rio Menaen membentuk Kutai di Teluk Diyen, Rio Taen
berkedudukan di Kutai Donok (Kota Donok sekarang), Rio Tebuen kemudian
membentuk di Komunitas Jurukalang di Lubuk Puding di perbatasan Bengkulu
dengan Sumatera Selatan, Rio Apai di Talang Useu Lais kemudian disebut
Rejang Pesisir begitu juga dengan Rion Mangok membentuk komunitas
Jurukalang di Gading Pagar Jati, sedangkan Rio Penitis membentuk
Komunitas Jurukalang di Musi, hanya Rio Setangai Panjang yang
berkedudukan dan meneruskan kepemimpinan di Tapus Jurukalang.
Sampai
saat ini dokumentasi yang masih di ingat oleh tua-tua di Jurukalang,
dari generasi Bikau memimpin kelembagaan Petulai Jurukalang sampai
dibubarkannya marga akibat kebijakan sentralis negara melalui UU No 5
Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Petulai Jurukalang dipimpin 19
Generasi Kepala Persekutuan, ke 17 orang yang dimaksud adalah;[11]
1. Bikau Bembo
2. Rio Taen
3. Tuan Diwo Rio Setangai Panjang
4. Rio Tado
5. Depati Singo
6. Depati Sugon
7. Depati Kulon
8. Sipan
9. Rajo Sediwo
10. Djike
11. Salam
12. Terusan
13. Ratu Salam
14. Sijar
15. Ali Asar
16. Ali Kera
17. Abdul Muin
18. Gulam Ahmad
19. Sabirin Wahid
Rio
Setangai Panjang hanya mempunyai 6 orang putra putra yang ke semuanya
berkedudukan di Tapus sebagai pusat kedudukan Marga Jurukalang,
masing-masing putra putri tersebut adalah Mangkau Bumai, Temengung,
Dayang Regini, Dayang Reginang, Malim Rajo dan Pedito Rajo. Kebiasaan di
Jurukalang yang meneruskan kepemimpinan Marga adalah Putra tertua dari
generasi sebelumnya dan kemudian diberi gelar Depati atau Pesirah,
ketika pemerintahan Belanda baru kemudian ada proses demokratisasi dalam
pemilihan kepemimpinan.
[1] W. Marsden, The History of Sumatera, London MDCCLXXXIII, hal 178
[2] Dr. JW. Van Royen, adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Bab de Redjang. Hal 18
[3] Cerita ini kebanyakan di ceritakan di Desa Tapus oleh Bapak Salim Senawar
[4] Diwo Tu’un Semidang
atau tun semidang adalah penyebutan dalam bahasa rejang Jurukalang
dimana ada kesulitan untuk menyebukan asal-usul seseorang secara pasti
[5]
Tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai 5 tahap ini, namun gambaran
yang coba ditangkap oleh penulis adalah 5 generasi/keturunan satu klan,
jika di asumsi 1 tahap/generasi adalah 100 tahun maka lamanya generasi
ini adalah 500 tahun
[6] Meduro Kelam, adalah istilah lokal untuk menyebutkan Priode tanpa peradaban atau sering di sinonim dengan Jahilliah.
[7] Kadirman SH adalah ketua Badan Musyawarah Adat Kabupaten Rejang Lebong dan penyusun buku Rejang Ireak Cao
[8]
Ada banyak pendapat mereka juga tinggal di dataran-dataran landai di
sepanjang Danau Tes dan berpendapat sebagain besar masyarakat primitif
Rejang hidup dan menetap di dalam gua-gua di wilayah Lebong yang
sekarang seperti di Gua Kasam di Lebong Atas, dan sepertinya masyarakat
komunanal yang berada di Jurukalang sampai saat tidak ada bukti-bukti
yang menunjukan gua-gua di Jurukalang yang digunakan sebagai tempat
tingal atau menetap. Serudung adalah sejenis pondok sederhana sampai
saat ini masih banyak ditemui di wilayah Jurukalang biasanya ketidak
akan membuka lahan perkebunan masyarakat membuat bangun ini.
[9] W.L. de Sturler, Proeve eener bechrijving van het gebied van Palembang. Groningen 1843 hal 6
[10] Hakim Benardie Sabri, www.metrobengkulu.com
[11] Nama-Nama ini diambil dari dokumentasi catatan Wak Usman Desa Talang Baru
Patang setumang adalah Filosofi dalam sistem peradaban Rejang
Patang setumang adalah pilosofi dalam sistem peradaban Rejang dalam
mengaplikasi sistem komunal yang lebih besar atau sistem pertemanan yang
lebih kecil, Patang dalam bahasan Rejang adalah larangan dengan beberapa konsekwensi ketika dilanggar, Setumang adalah berpisah, berpisah ini diterjemahkan secara holistik yang mencakup beberapa dimensi kehdupan dengan berbagai tahapan generasi.
Dalam sehari-hari pepatah ‘pet samo nuwang, mis samo muk’ adalah bagian turunan dari aplikasi Patang Setumang. Jika dilihat lebih jauh dalam sejarah Rejang Patang Setumang ini hampir sama tuanya dengan peradaban Rejang itu sendiri, Dari sistem komunal yang paternalistik, genelogis dan kepercayaan-kepercayaan lokal di Rejang banyak yang mengajari dan menjelaskan kesepakatan adat mengacu pada Patang Setumang, Kesepakatan adat antar 4 Ajai di Lebong Atas adalah awal yang mengclearkan sistem ini dalam bentuk kesepakatan tertulis dalam sejarah turun temurun dikenal dengan prosesi pemotongan Kerbau yang tanduknya diukir, jantung dan hatinya dimakan sebagai simbol kesepakatan tersebut jadi darah dan daging yang akan diturunkan ke generasi berikutnya tentunya melalui perkawinan yang eksogami, tujuannya adalah untuk menyebarkan ajaran Patang Setumang ini lebih luas.
Periode berikutnya dari Aplikasi Patang Setumang adalah kesepakatan yang dilakukan di Gua Kazam Lebong Atas yang lebih rigit menjelaskan bentuk-bentuk kesepakatan-kesepakatan yang akan di sepakati oleh masinh-masinh komunitas Rejang di manapun berada, kesepakatan yang dilakukan ini antara lain disepakati So Samo Kamo Bamo…… sebuah bahasa penyederhanaan dari Patang Setumang, turunan-turunan bahasa Patang Setumang ini kemudian dalam komunitas yang lebih kecil seperti topos tunun puweng kutai donok tunun pelbeak adalah bentuk bahasa dan kesepakatan yang sampai saat ini masih dipercayai oleh warga komunitasnya terutama di kampung-kampung.
Apakah kemudian Patang Setumang ini dalam kontek lebih besar berdampak pada sistem pembangunan komunitas maupun pada pembangunan nurani .? Lebong yang dikenal sebagai pusat dan tempat asal usul suku Rejang dalam sistem Administrasi pemerintahan mengunakan simbol Patang Setumang, tentunya ini membawa konsekwensi yang sangat besar bagi generasi yang saat ini mengunakan paslsafah ini maupun bagi generasi berikutnya , apakah Patang Setumang ini bisa diterjemahkan dalam sistem berkehidupan maupun relasi antar mereka dalam mengkonsolidasi kembagi komunitas-komunitas yang semakin tersebar dan mulai dirasuki globalisasi yang mendistori arti sistem lokal ini.
Dalam perjalanannya Patang Setumang ini hanya sebatas Slogan, namun nilai-nilai yang ada dalam Patang Setumang di tinggalkan dan ini pasti akan berdampak pada komunitas dan generasi berikutnya. Pengingkaran Sistem Patang Setumang ini karena deklarasinya ada tahapan yang terlupakan, misalnya apakah ini lahir dari kesepakatan adat atau memang lahir atas kepentingan politik yang jauh sekali dari nilai-nilai lokal yang mistik. Di Lebong saja sudah mulai mengakumulasi kekuasaan, modal dan penguasaan terhadap tanah-tanah sebagai alat produksi warga komunitas dan ini berakibat adanya ketimpangan sosial, budaya dan modal sehinga yang tampak adalah penguasa di satu sisi dan rakyat yang di tindas di sisi lain dan proses ini jauh sekali dari nilai-nilai Patang Setumang.
Akibat dari distosi pemahaman Patang Setumang dan Aplikasinya akan ada konsewensi secara psikologis misalnya masyarakat Rejang ‘patang merajuk, amen merajuk patang belek, patang mengiak amen mengiak munuak tun’ ini adalah ungkapan ketika terakumulasinya dari akibat pengingkaran terhadap nilai-nilai Patang Setumang, ada banyak pelajaran sebagai gejalah akan terjadinya dampak psikologis tersebut tanda-tanda alam dengan gagalnya panen, munculnya binatang liar di tengah-tengah pemukiman penduduk, dan stigma terhadap kelompok dan perorangan.
Tentunya bagi pegiat dan warga komunitas yang masih memegang teguh sistem lokal yang ada mari Patang Setumang ini kita jadikan sebagai proses konsolidasi ditengah merosotnya eksistensi komunitas Rejang dalam berbagai struktur kemasyarakatan, sistem budaya, sosial dan relasi dengan komunitas yang lebih besar.
Dalam sehari-hari pepatah ‘pet samo nuwang, mis samo muk’ adalah bagian turunan dari aplikasi Patang Setumang. Jika dilihat lebih jauh dalam sejarah Rejang Patang Setumang ini hampir sama tuanya dengan peradaban Rejang itu sendiri, Dari sistem komunal yang paternalistik, genelogis dan kepercayaan-kepercayaan lokal di Rejang banyak yang mengajari dan menjelaskan kesepakatan adat mengacu pada Patang Setumang, Kesepakatan adat antar 4 Ajai di Lebong Atas adalah awal yang mengclearkan sistem ini dalam bentuk kesepakatan tertulis dalam sejarah turun temurun dikenal dengan prosesi pemotongan Kerbau yang tanduknya diukir, jantung dan hatinya dimakan sebagai simbol kesepakatan tersebut jadi darah dan daging yang akan diturunkan ke generasi berikutnya tentunya melalui perkawinan yang eksogami, tujuannya adalah untuk menyebarkan ajaran Patang Setumang ini lebih luas.
Periode berikutnya dari Aplikasi Patang Setumang adalah kesepakatan yang dilakukan di Gua Kazam Lebong Atas yang lebih rigit menjelaskan bentuk-bentuk kesepakatan-kesepakatan yang akan di sepakati oleh masinh-masinh komunitas Rejang di manapun berada, kesepakatan yang dilakukan ini antara lain disepakati So Samo Kamo Bamo…… sebuah bahasa penyederhanaan dari Patang Setumang, turunan-turunan bahasa Patang Setumang ini kemudian dalam komunitas yang lebih kecil seperti topos tunun puweng kutai donok tunun pelbeak adalah bentuk bahasa dan kesepakatan yang sampai saat ini masih dipercayai oleh warga komunitasnya terutama di kampung-kampung.
Apakah kemudian Patang Setumang ini dalam kontek lebih besar berdampak pada sistem pembangunan komunitas maupun pada pembangunan nurani .? Lebong yang dikenal sebagai pusat dan tempat asal usul suku Rejang dalam sistem Administrasi pemerintahan mengunakan simbol Patang Setumang, tentunya ini membawa konsekwensi yang sangat besar bagi generasi yang saat ini mengunakan paslsafah ini maupun bagi generasi berikutnya , apakah Patang Setumang ini bisa diterjemahkan dalam sistem berkehidupan maupun relasi antar mereka dalam mengkonsolidasi kembagi komunitas-komunitas yang semakin tersebar dan mulai dirasuki globalisasi yang mendistori arti sistem lokal ini.
Dalam perjalanannya Patang Setumang ini hanya sebatas Slogan, namun nilai-nilai yang ada dalam Patang Setumang di tinggalkan dan ini pasti akan berdampak pada komunitas dan generasi berikutnya. Pengingkaran Sistem Patang Setumang ini karena deklarasinya ada tahapan yang terlupakan, misalnya apakah ini lahir dari kesepakatan adat atau memang lahir atas kepentingan politik yang jauh sekali dari nilai-nilai lokal yang mistik. Di Lebong saja sudah mulai mengakumulasi kekuasaan, modal dan penguasaan terhadap tanah-tanah sebagai alat produksi warga komunitas dan ini berakibat adanya ketimpangan sosial, budaya dan modal sehinga yang tampak adalah penguasa di satu sisi dan rakyat yang di tindas di sisi lain dan proses ini jauh sekali dari nilai-nilai Patang Setumang.
Akibat dari distosi pemahaman Patang Setumang dan Aplikasinya akan ada konsewensi secara psikologis misalnya masyarakat Rejang ‘patang merajuk, amen merajuk patang belek, patang mengiak amen mengiak munuak tun’ ini adalah ungkapan ketika terakumulasinya dari akibat pengingkaran terhadap nilai-nilai Patang Setumang, ada banyak pelajaran sebagai gejalah akan terjadinya dampak psikologis tersebut tanda-tanda alam dengan gagalnya panen, munculnya binatang liar di tengah-tengah pemukiman penduduk, dan stigma terhadap kelompok dan perorangan.
Tentunya bagi pegiat dan warga komunitas yang masih memegang teguh sistem lokal yang ada mari Patang Setumang ini kita jadikan sebagai proses konsolidasi ditengah merosotnya eksistensi komunitas Rejang dalam berbagai struktur kemasyarakatan, sistem budaya, sosial dan relasi dengan komunitas yang lebih besar.
SEJARAH SUKU PEKAL BENGKULU UTARA
Sukubangsa Pekal sebagai salah satu dari 8 Sukubangsa yang terdapat di wilayah Propinsi Bengkulu, Sukubangsa ini berada diantara dua sukubangsa dominan berada diperbatasan mereka yakni Sukubangsa Minangkabau dan sukubangsa Rejang. Wilayah kebudayaan Pekal secara langsung berbatasan dengan daerah kebudayaan lainnya. Diutara wilayahkebudayaan Pekal berbatasan dengan daerah budaya sukubangsa Muko-muko, di Timur berbatasan langsung dengan daerah budaya sukubangsa Rejang, di Selatan berbatasan dengan wilayah suku Rejaang yaitu urai Bengkulu Utara dan di Barat berbatasan langsung dengan lautan Indonesia.
Suku pekal itu sendiri berada bermungkim didaerah Ketahun dan sebagian di Ipuh Kecamatan Bengkulu Utara. Mulai dari Muara Ketahun sampai dengan Muara Santan. Namun di daerah ketahun itu juga ada daerah trans yang berasal dari Jawa terletak dj Dusun Bukit Durian,Karang pulau,Tanjung Dalam dll. Masyarakat suku pekal itu keadaan alam masih banyak hutan-hutan belantara dan juga dekat dengan laut.
Dasar Mula Suku Pekal
Sukubangsa Pekal berkaitan dengan mitologi Sukubangsa lainnya yang dominan terdapat diperbatasan Sukubangsa Pekal. Mitologi ini berkaitan dengan mitologi SukuBangsa Rejang dan hikayat Raja Indropuro dari Minang. Mitologi sukubangsa Rejang sendiri memiliki pertalian erat dengan hikayat-hikayat kerajaan Pagaruyung di Minang.
Kisah perjalanan Empat Pitulai dari Pagaruyung menjadi bagian dari mitologi sukubangsa Rejang. Dalam mitologi tersebut terlampir mitologi keberadaan sukubangsa Pekal. Dalam satu sisi terlihat bahwa secara langsung SukubangsaRejang mengakui orang-orang dari Sukubangsa Pekal merupakan bagian dari Sukubangsa Rejang dibawah Bangmego Tubui. Dari sisi lain pada dasarnya orang Sukubangsa Pekal tidaklah dapat disebutkan sebagai bagian dari Sukubangsa Rejang. Hal ini tercermin dari penggunaan bahasa, aturan dan nilai budaya serta struktur sosial lainnya yang sebagian mengambil tata aturan nilai budaya Minangkabau.
Menurut cerita dari narasumber bahwa bangsa pekal itu senderi berasal dari kata “ Mengkal” yang berarti kalau ibaratkan pisang yang mengkal itu dibilang masak itu belum sedangkan mentah itu sudah tidak lagi. Jadi disini dapat juga kita simpulkan bahwa Suku Pekal itu sendiri berarti antara Suku Rejang dan Suku minangkabau.
Juga tidak terlepas dari asal mula Ketahun. Menurut cerita,dahulu kala ada seorang raja asal Rejang Lebong mempunyai 7 orang anak. Cerita ini bermula dari anak terakhir dan satu-satunya anak perempuan yang bernama putri Rindu Bulan. Namun karena putrinya ini main mata dengan pemuda biasa di kerajaannya,sehingga membuat raja Rejang Lebong marah. Raja memerintahkan keenam putranya untuk membunuh putrinya tersebut.
Atas perintah dari ayahnya berangkatlah enam anaknya itu, namun ke enam kakaknya ini tak tegah membunuh adiknya. Malah mereka membawa adik bungsunya ke pinggir sungai besar dan membuatkan sebuah rakit dari bambu aur dengan dibekali beras dan ayam. Maka berakitlah sang putri menyelusuri sungai. Sungai ini berasal dari 2 bukit yang satu itu bukit tapus yang sungai bermuara di muara ketahun dan yang satunya lagi bermuara ke Jambi. Hari demi hari,minggu demi minggu bahkan berbulan-bulan hingga setahun putri Rindu Bulan menyelusuri sungai hingga rakitnya rusak di muara. Kemudian ayam yang dibawah berubah menjadi seekor elang sedangkan beras yang dibawah tertumpah dan berubah menjadi senggugu.
Setelah rakitnya diperbaiki,putri Rindu Bulan kembali berakit hingga akhirnya sampai di pulau Pagai di daerah Padang. Kemudian ia di selamatkan oleh orang-orang di sana. Putri Rindu Bulan di berikan baju yang bagus. Karena kecantikanya,sang Putri Rindu Bulananak raja dari kerajaan pagai pun jatuh cintah. Kemudian itu dipinangla putri Rindu Bulan dan menikahlah mereka.
Di daerah asal putri Rindu Bulan,ayahnya bertanya kepada ke-enam anaknya. Apakah putri Rindu Bulan telah dibunuh. Tentunya ke-enam kakaknya menjawab tidak,kami tidak tega membunuh adik kandung kami sendiri,kami terlalu menyayanginya kata ke-enam kakaknya itu.
Putri Rindu Bulan kemudian mengakatan pada suaminya bahwa daerah asalnyadi daerah Rejang Lebong. Putri Rindu Bulan pun dan suaminya mengutuskan untuk kembali ke Rejang Lebong. Itulah awal cerita sungai ketahun yaitu berasal dari sungai yang dilewati oleh Putri Rindu Bulan selama setahun,maka sungai itu diberi nama Sungai Ketahun dan juga daerahnya yang bernama Ketahun.
Adakah juga cerita lain dari asal ketahun, pada dahulu orang belanda yang masuk kedaerah itu mengambil sumber alam yang ada disana. Karena disana banyak sekali harimau. Maka orang belanda tersebut menyebut daerah itu”Cat Town” jadi terpelesetlah dan daerah tersebut menjadi ketahun.
Bahasa
Bahasa suku Pekal jelas memperlihatkan campur bahasa antara bahasa Minangkabau dan bahasa Rejang. Pada saat sekarang, campur bahasa tersebut tidak hanya terbatas pada bahasa Minangkabau dan Rejang, namun juga mengambil bahasa-bahasa lainnya seperti Batak, Jawa dan Bugis. Perbedaan varian bahasa menjadi ciri khas lainnya dari campur bahasa pada sukubangsa Pekal. Varian tersebut berkaitan dengan intensitas hubungan dengan sukubangsa Minangkabau dan Rejang. Jika daerah tersebut lebih dekat dengan daerah Budaya Rejang, varian bahasa yang terlihat dari dialek akan mengarah pada bahasa Rejang, jika mendekati wilayah budaya Minangkabau akan mengarah pada bahasa Minangkabau.
Sistem Teknologi
Rumah adat masyarakat suku Pekal itu sendiri tidak berbeda dengan rumah adat dengan suku lainnya yang ada di Bengkulu yaitu rumah panggung. Sedangkan untuk senjata suku pekal yaitu keris,tombang dan parang. Baik yang dianggap sebagai benda keramat dan juga digunkan sebagai senjata untuk berburu hewan serta di gunakan dalam kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Makanan khas dari Suku Pekal itu sambal unjang. Sambal unjang adalah makanan yang dimasak dalam bambu dan isinya ikan dicampur dengan rempah-rempah. Ikan itu di hancurkan bersamaan dengan bumbu-bumbu. Dan di letakan diatas api dan diatas nya di tutup oleh daun pisang. Hampir sama dengan caramemasak lemang dan juga masak ikan pais namun yang bedanya kalau ikan pais menggunkan daun pisang kalau sambal unjang itu menggunakan bambu.
Sistem Mata Pencarian
Sukubangsa Pekal 80% mata pencariannya merupakan petani yaitu mayoritas berkebun karet dan sawit. Hal ini berkaitan dengan lingkungan alamiahnya yang berupahutan dan lahan perladangan. Dari mata pencaharian ini terlihat bahwa sukubangsa Pekal pada saat sekarang berada pada tingkatan peradapan pertanian. Teknik ini merupakan ciri-ciri dari tingkatan peradapan pertanian menetap. Namun ada dari masyarakat Suku bangsa pekal yang berada di pesisir pantai yang memanfaatkan hasil laut sebagai nelayan. Juga sebagian dari masyarakat Suku bangsa Pekal juga bekerja di tambang batu bara milik PT Bijaksana dan di tambang emas yang kita kenal dengan tambang emas Lebong Tandai.
Sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan suku pekal itu sangat erat sesama masyarakat pekal. Tapi beda dengan orang yang baru mereka kenal mereka akan melihat apakah orang tersebut baik atau tidak. Jika orang tersebut baik maka mereka akan menganggap orang tersebut seperti saudaranya sendiri namun jika kelakuan orang buruk maka mereka akan menjauhinya.
Dalam adat suku pekal jika wanita itu di “jujur” atau di beli oleh laki-laki,kebalikan dari adat suku minang. Jika seorang wanita itu sebelum menikah akan dimandikan dengan uang logam dan disumpah bahwa wanita itu telah dijual oleh calon suaminya dan wanita itu telah menjadi hak dari suaminya. Uang yang berasal dari pembelian adiknya tadi juga di pakai oleh kakaknya untuk membeli wanita yang akan jadi calon istrinya. Namun adat ini mulai hilang dan jarang lagi ditemui karena perubahan zaman.
Prosespernikahan suku pekal
1. Melamar atau berasan
2. Biaya adat
3. Menikah
4. Arak ( supaya orang-orang tahu bahwa akan ada yang menikah dan acara arak ini wajib tidak boleh ditinggalkan)
5. Duduk dikursi ditengah laman dikelilingi oleh orang banyak dan diiringi dengan tarian pencak silat
6. Balik kepelaminan
7. Minum punai untuk orang yang nolong dalam menyiapkan pernikahan yaitu pada pagi hari
8. Makan besak maksudnya hari puncak dengan makan-makan bersam yaitu pada sorenya.
9. Setelah selesai acarah pernikahan besok hariny diadakan ngubak basung atau doa( balik bahasa)
Sistem Pengetahuan
Sistem Religi
Masyarakat suku pekal itu mayoritas beragama islam. Namun masyarakat suku pekal masih percaya terhadap roh-roh nenek moyang atau memelihara mahluk gaib seperti yaitu harimau. Menurut mereka seorang warga pekal yang sudah meninggal nantinya dia akan berubah menjadi seekor harimau. Jadi ada sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku pekal jika sawah atau ladang mereka dirusak oleh babi. Dalam ritual tersebut masyarakat pekal memberikan sesajen di daerah sawah atau ladang merekayang di rusak oleh babi tersebut. Sesajen itu burapa 7 telur ayam kampung yang diletakan bidai(anyaman bambu) dan diiringi oleh mantra-mantra. Mereka percaya bahwa sesajen yang mereka berikan akan di makan oleh roh-roh nenek moyang mereka. Menurut kepercayaan bahwa roh-roh nenek moyang mereka akan berubah menjadi harimau untuk mengusir babi. Setelah mereka melakukan ritual itu maka biasanya pada malamnya memang terdengar suara harimau dan itu sangat di percayai oleh suku pekal. Jadi sawah atau ladang mereka tidak perlu dijaga lagi karena sudah di jaga oleh harimau.
Acara keagamaan Suku Pekal yaitu sama seperti acara keagamaan suku-suku lainnya yang ada di Bengkulu yaitu zikir dan bedendang.
Kesenian
Ada tari gandai yaitu tarian bartautan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari suku pekal asli dan jika dilakukan oleh laki-laki dan perempuan atau berpasangan yang berasal dari suku pekal asli itu disebut tari gandai ambat. Tarian yang dilakungan secara bergantian menunjukan aksi dan kehebatan mereka dan biasanya tari ini di iringi oleh redap,serunai,gong yang merupakan alat musik tradisional dari suku pekal. Ada tiga jenis tarian gandai yaitu leluen,nenet,sementaro Tarian gandai ini wajib ditampilkan saat pesta pernikahan,namun bisa juga di tampilkan pada saat upacarapenyambutan tamu dari pejabat-pejabat atau orang penting yang datang. Lagu daerahnya yaitu Berpantun ( Gamat)
Subscribe to:
Posts (Atom)