Suku Rejang
adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku Bangsa
Melayu, argumen ini dikuatkan bahwa Suku Rejang ini telah memiliki
tulisan dan bahasa sendiri, ada perdebatan-perdebatan panjang mengenai
asal-usul Suku Rejang, ada yang menyakini bahwa suku ini bersasal dari
Sumatera Bagian Utara, ada juga sebagai yang menyakini bahwa Rejang
berasal dari Majapahit bahkan sebagai masyarakat meyakini bahwa sebagian
besar berasal dari jazirah Arab. Mengenai asal usul Rejang sangat
sedikit sekali literatur maupun hasil penelitian yang lebih lengkap
tentang asal usul bangsa Rejang, namun dalam menyusun sejarah Adat
Jurukalang yang merupakan kesatuan masyarakat komunal, AMARTA mencoba
menyusun serpihan-serpihan cerita turun temurun yang kemudian mencoba
untuk mengelaborasi dengan beberapa tulisan tentang Rejang.
Jurukalang
dalam bahasa lokal disebut dengan Jekalang yang pada awalnya hanya
terdiri dari 2 kutai atau dusun, dalam sejarah secara turun temurun
kutai tersebut adalah Kutai Topos dan Kutai Teluk Diyen, kutai-kutai ini
dikenal sejak zamannya pemerintahan Marga Jurukalang di bawah pimpinan
Bikau Bembo, namun sebelum zaman Bikau Bembo yang memerintah Marga
Jekalang ini diwilayah ini terdapat beberapa Kutai dibawah pimpinan Ajai
Siang antara lain Kutai Pukua, Kutai Mawua, Kutai Menai, Kutai Sebayem
dan Kutai Titik.
Jurukalang
adalah salah satu Petulai dalam sejarah suku bangsa Rejang, selain
sejarah turun temurun beberapa tulisan tentang rejang ini adalah tulisan
John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun 1775-1779), dalam
laporannya dia meceritakan tentang adanya empat petulai Rejang yaitu
Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (Selupu) dan Toobye
(Tubai).[1]
Catatn-catatan
lain tentang Kedudukan Jurukalang sebagai komunitas adat asli Rejang,
dalam laporannya mengenai ‘adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen
en Palembang Dr. JW. Van Royen menyebutkan bahwa kesatuan Rejang yang
paling murni dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya ole
orang-orang di satu bang, harus diakui Rejang Lebong.[2]
Selain
serpihan catatan, sejarah Jurukalang kebanyakan disampikan secara turun
temurun, hampir tidak ada catatan yang ditulis oleh masyarakat lokal
tentang Jurukalang, dari wawancara yang dilakukan kebanyakan
menceritakan bahwa di Jurukalang sebelum ditempati oleh masyarakat yang
mereka sebut ‘masyarakat beradat’ kebanyakan mereka mulai menceritakan
sistem lokal yang diyakini, bahwa sebelum kejadian asal warga komunitas
tersebut diwilayah ini terdapat beberapa manusia ‘dewa’ dan dalam bahasa
lokal di sebut diwo-diwo yang berada di Istana Ninik Mekedum
Rajo Diwo masing-masing mereka adalah Raden Serdang Lai, Raden Serdang
Titik, Cito Layang, Puteri Emban Bulan, Puteri Serasa Dewa, Puteri
Gading Cempaka dan Puteri Serindang Panan.[3]
Ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Perkembangan dari zamannya dewa-dewi ini kemudian banyak di ceritakan bahwa terdapat Manusia Setengah Dewa bagi masyarakat lokal Jurukalang di sebut dengan Diwo Tu’un Semidang, mereka yang lahir Tu’un Semidang umumnya tidak diketahui dari mana asal usul, di Jurukalang di yakini sebagai Diwo Tu’un Semidang adalah
Anok Mecer, Bujang Tungea, Anok Dalam, Lemang Batu, Batu Idak Cene,
Bujang Remalun, Semalim Angin atau Seliman Putih dan Burung Binang.[4]
Dari perkembangan Diwo Tu’un Semidang tidak diketahui secara pasti namun dari cerita-cerita rakyat (folklore) yang masih sangat dipercayai oleh warga komunitas Jurukalang bahwa pasca setelah Diwo Tu’un Semidang hidup masyarakat nomanden selama 5 tahap[5].
Ada beberapa bagian cerita pada tahap atau generasi ini dimana hidup masyarakat komunal dengan sistem ’meduro kelam’[6], yang dibagi menurut perkembangan generasi, generasi pertama biasa disebut dengan Jang Bikoa
(Rejang Berekor) dari beberapa cerita yang coba disimpulkan oleh Team
AMARTA Rejang Bikoa bukalah Rejang yang sedang mengalami evolusi
biologis seperti teori Darwin bahwa manusia berasal dari kera atau perubahan
atas proses jangka waktu tertentu yang berarti perubahan sifat-sifat
yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke
generasi berikutnya, tetapi Zaman Rejang Bikoa adalah penjelasan dari
kondisi Evolusi Peradaban dan budaya masyarakat di masa tertentu,
evolusi peradaban yang dimaksud adalah proses peralihan pengenalan
sistem adat dari Meduro Kelam menjadi manusia yang mulai mengenal
kearifan-kearifan tertentu dalam mengatur proses persingungan antar
meraka, dengan alam maupun dengan kepercayaan tertentu, sedangkan
penyebutan budaya masyarakat adalah kebiasaan sebuah komunitas tertentu
dalam menyelesaikan sebuah perkara yang tak pernah berujung.
Zaman Segeak
yang merupakan perkembangan dan penyebutan zaman Bikoa, dalam istilah
lokal zaman ini hanya untuk menyebutkan pola-pola hidup mereka yang
nomaden dan food gatering, kecenderungan masyarakat Rejang yang hidup di
zaman ini adalah bermata
pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan, hidup berpindah-pindah,
tinggal di gua-gua, dalam sejarah Rejang menurut Bapak Kadirman SH[7]
ada kecenderungan yang besar masyarakat ini hidup dibawah permukaan
tanah dia menyebutkan bahwa Gua Kazam yang terletak di Lebong Atas
merupakan tempat hunian orang Rejang Zaman ini dan banyak ditemui
peralatan-peralatan masyarakat di wilayah ini, alat-alat yang digunakan
terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang-tulang dan tanduk rusa,
dari cici-ciri yang ada kemungkinan zaman Segeak ini adalah zaman batu
tua (Palaeolithikum) dan Zaman batu tengah (Mesolithikum). Belum
ada sistem budidaya kebutuhan makanan sehingga semuanya diambil dari
alam, atas kondisi ini kemudian banyak menyebutkan bahwa masyarakat yang
hidup pada zaman pola food gatering ini memakan semua yang di anggap
bukan makanan yang secara medis mengangu fisik mereka.
Perkembangan
dari Zaman Segeak ini, masyarakat komunal mulai meninggalkan
tradisi-tradisi Zaman Segeak, hidup relatif menetap dan mulai melakukan budidaya-budidaya pertanian sehingga zaman ini disebut dengan Rejang Saweak, saweak
dalam bahasa Rejang adalah sawah (suatu tempat untuk bercocok tanam
jenis padi). Mereka umumnya menetap disepanjang hulu sungai yang banyak
terdapat di wilayah Jurukalang seperti Sungai Ketahun, Sungai Buah,
Sungai Baloi, dari beberapa bukti yang ditingalkan pola pertanian mereka
umumnya dengan membuat kolam-kolam besar di tengah-tengah hutan, mereka
tidak tinggal di dalam gua, seperti masyarakat primitif lainnya karena
diwilayah ini hampir tidak ditemukan gua-gua yang menunjukan sebagai
tempat tinggal, umumnya mereka membuat pondok yang dikenal sebagai serudung untuk tempat tinggal.[8]
Perkembangan yang penting adalah Zaman Ajai, Ajai itu sendiri berasal dari kata majai
yang berarti pimpinan suatu kumpulan komunitas tertentu, dalam sejarah
Rejang terdapat 4 Ajai yang memerintah di wilayah Kutai Belek Tebo
(wilayah Lebong Sekarang). Dari beberapa catatan WL De Sturler, pada
zaman Ajai ini Lebong masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis,
sekumpulan manusia pada zaman ini sudah hidup secara menetap merupakan
satuan masyarakat komunal, belum ada kepemilikan pribadi pada zaman ini,
semua yang ada merupakan hak bersama, pentinnya kepemimpinan Ajai ini
sangat dihormati oleh masyarakat komunal namun Ajai dianggap sebagai
anggota biasa dari masyarakat hanya saja diberi tugas dalam memimpin.[9]
Yang paling diketahui
oleh masyarakat Jurukalang adalah Ajai Siang, namun ada kepercayaan
bahwa bukan hanya Ajai Siang ini saja yang memimpin komunal yang
dimaksud tetapi masih ada Ajai-Ajai lain yang hilang dari sejarah
masyarakat Jurukalang. Namun yang terpenting ketika Ajai Siang ini
memimpin di wilayah Rejang di datangi 4 orang bikau yang kemudian
dipercayai memperbaharui peradaban di wilayah Rejang tentunya termasuk
wilayah Jurukalang, terjadi perdebatan panjang tentang asal usul para
bikau ini, sebagian menyakini bikau berasal dari majapahit dan sebagian
besar meyakini berasal dari jazirah arab, dan sebagian ada yang meyakini
dari China.
Argumen
menyebutkan bahwa Rejang secara umum berasal dari china dibuktikan
dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa bangsa China telah datang ke
wilayah ini sejak tahun 225-216 SM atau 147–138 tahun saka, mereka
umumnya berasal dari negeri Hyunan (China daratan), dengan bahasa Mon.
Bahasa inilah yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma,
Kamboya dan sebagian Korea, dan pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan/harapan atau sungai emas, yang penduduknya disebut dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang, sebuah
tempat yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera, pembuktian ini
kemudian diperkuat Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang
China (Numismatic) yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421
Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang Sama juga
ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di
Tarumanagara (Baca: Jakarta). Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata
Cha-Chien (Caci=uang dalam bahasa Rejang).[10]
Sementara
dari sejarah yang coba disusun oleh penulis yang disadur dari cerita
secara turun temurun bahwa komunitas Jurukalang khususnya Bikau Bembo
dan keturunanya berasal dari Jasirah Arab, salah satu bukti yang sampai
saat ini masih terjaga dengan baik di Jurukalang adalah Pedang yang
bertulisan arab, pedang ini dipercayai milik dan peningalan oleh Bikau
Bembo yang di pelihara oleh keluarga ahli waris yang tinggal di Desa
Talang Baru. Dari sejarah yang didapati dari ninik mamak bahwa Bikau
Bembo berasal dari Istambul dan merupakan anak dari Zulkarnaene, apakah
ada hubungan dengan Alexander Agung (Alexander the Great) yang merupakan
anak kepada Maharaja Philip II dari Macedonia yang ibunya berasal dari
surga yang boleh jadi adalah Puteri Olympias dari Epirus, akan sangat
dini jika disebut ada hubungan dengan Alexander the Great dan Puteri
Olympias dari Epirus, biasanya sejarah yang diturunkan secara turun
temurun dalam prosesnya ada bagian yang tidak boleh di publish
tanpa alasan yang jelas dan ada transfer pengetahuan yang tidak sempurna
maupun dipengaruhi oleh pola pikir dan pengaruh eksternal bagi orang
yang menerima cerita tersebut.
Dalam
cerita yang percayai di Jurukalang Bukau Bembo yang menikah dengan
salah satu Puteri Ajai Siang yang bergelar Ajai Bijar Sakti yang bernama
Dayang Regiak, dari perkawinan ini melahirkan 7 orang putra yang
semuanya lahir di Jurukalang masing-masing putra tersebut adalah;
- Rio Menaen
- Rio Taen
- Rio Tebuen
- Rio Apai
- Rio Mangok
- Rio Penitis
- Tuan Diwo Rio Setangai Panjang
Yang
terakhir dipercayai sebagai jelmaan dari kedua orang tuanya, dalam
proses kelahiranya diceritakan bahwa kedua orang tuanya berkeinginan
untuk mencukupi anaknya menjadi 7 orang sehingga kedua orang tuanya
(Bikau Bembo dan Dayang Regiak) melakukan pertapaan dan meminta kekuatan
para dewa, pada hari ke 7 ritual tersebut Bikau Bembo dan isterinya
Dayang Regiak hilang, Raib dalam bahasa lokal tempat
Raib/hilangnya Bikau Bembo ini saat dikenal dengan Keramat Topos, namun
tiba-tiba di lokasi ritual tersebut ada seorang bayi yang kuku tangannya
panjang sampai ke siku sehingga di sebut Rio Satangai Panjang.
Ke
tujuh anak Bikau Bembo ini kemudian menyebar di wilayah Rejang yang
sekarang, Rio Menaen membentuk Kutai di Teluk Diyen, Rio Taen
berkedudukan di Kutai Donok (Kota Donok sekarang), Rio Tebuen kemudian
membentuk di Komunitas Jurukalang di Lubuk Puding di perbatasan Bengkulu
dengan Sumatera Selatan, Rio Apai di Talang Useu Lais kemudian disebut
Rejang Pesisir begitu juga dengan Rion Mangok membentuk komunitas
Jurukalang di Gading Pagar Jati, sedangkan Rio Penitis membentuk
Komunitas Jurukalang di Musi, hanya Rio Setangai Panjang yang
berkedudukan dan meneruskan kepemimpinan di Tapus Jurukalang.
Sampai
saat ini dokumentasi yang masih di ingat oleh tua-tua di Jurukalang,
dari generasi Bikau memimpin kelembagaan Petulai Jurukalang sampai
dibubarkannya marga akibat kebijakan sentralis negara melalui UU No 5
Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Petulai Jurukalang dipimpin 19
Generasi Kepala Persekutuan, ke 17 orang yang dimaksud adalah;[11]
1. Bikau Bembo
2. Rio Taen
3. Tuan Diwo Rio Setangai Panjang
4. Rio Tado
5. Depati Singo
6. Depati Sugon
7. Depati Kulon
8. Sipan
9. Rajo Sediwo
10. Djike
11. Salam
12. Terusan
13. Ratu Salam
14. Sijar
15. Ali Asar
16. Ali Kera
17. Abdul Muin
18. Gulam Ahmad
19. Sabirin Wahid
Rio
Setangai Panjang hanya mempunyai 6 orang putra putra yang ke semuanya
berkedudukan di Tapus sebagai pusat kedudukan Marga Jurukalang,
masing-masing putra putri tersebut adalah Mangkau Bumai, Temengung,
Dayang Regini, Dayang Reginang, Malim Rajo dan Pedito Rajo. Kebiasaan di
Jurukalang yang meneruskan kepemimpinan Marga adalah Putra tertua dari
generasi sebelumnya dan kemudian diberi gelar Depati atau Pesirah,
ketika pemerintahan Belanda baru kemudian ada proses demokratisasi dalam
pemilihan kepemimpinan.
[1] W. Marsden, The History of Sumatera, London MDCCLXXXIII, hal 178
[2] Dr. JW. Van Royen, adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Bab de Redjang. Hal 18
[3] Cerita ini kebanyakan di ceritakan di Desa Tapus oleh Bapak Salim Senawar
[4] Diwo Tu’un Semidang
atau tun semidang adalah penyebutan dalam bahasa rejang Jurukalang
dimana ada kesulitan untuk menyebukan asal-usul seseorang secara pasti
[5]
Tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai 5 tahap ini, namun gambaran
yang coba ditangkap oleh penulis adalah 5 generasi/keturunan satu klan,
jika di asumsi 1 tahap/generasi adalah 100 tahun maka lamanya generasi
ini adalah 500 tahun
[6] Meduro Kelam, adalah istilah lokal untuk menyebutkan Priode tanpa peradaban atau sering di sinonim dengan Jahilliah.
[7] Kadirman SH adalah ketua Badan Musyawarah Adat Kabupaten Rejang Lebong dan penyusun buku Rejang Ireak Cao
[8]
Ada banyak pendapat mereka juga tinggal di dataran-dataran landai di
sepanjang Danau Tes dan berpendapat sebagain besar masyarakat primitif
Rejang hidup dan menetap di dalam gua-gua di wilayah Lebong yang
sekarang seperti di Gua Kasam di Lebong Atas, dan sepertinya masyarakat
komunanal yang berada di Jurukalang sampai saat tidak ada bukti-bukti
yang menunjukan gua-gua di Jurukalang yang digunakan sebagai tempat
tingal atau menetap. Serudung adalah sejenis pondok sederhana sampai
saat ini masih banyak ditemui di wilayah Jurukalang biasanya ketidak
akan membuka lahan perkebunan masyarakat membuat bangun ini.
[9] W.L. de Sturler, Proeve eener bechrijving van het gebied van Palembang. Groningen 1843 hal 6
[10] Hakim Benardie Sabri, www.metrobengkulu.com
[11] Nama-Nama ini diambil dari dokumentasi catatan Wak Usman Desa Talang Baru
EmoticonEmoticon