Sejarah Serunting sakti atau Sipahit lidah versi pasemah

SERUNTING SAKTI ALIAS SI PAHIT LIDAH

Sejarah Puyang Serunting Sakti
Serunting, itu nama aslinya., ada juga yg menyebutnya serunting sakti.
Cerita kesaktiannya telah dibicarakan sejak dulu di daerah sumatera bagian selatan., tak hanya provinsi sumsel, daerah kekuasaannya sampai jambi, bengkulu dan lampung., menurut legendanya dia pendekar yg baik hati dan bijaksana.,
Berbagai versi asal muasal puyang serunting Sakti.
1. Versi dari Suku Serawai ( Semidang Alas Bengkulu Selatan )
Berdasarkan cerira tutur, Suku Serawai berasal dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap. Sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab yang datang ke Bengkulu melalui Kerajaan Majapahit.
Asal-usul suku Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya. Asal-usul suku Serawai hanya diperoleh dari uraian atau cerita dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga sulit untuk membedakan dengan yang bernilai sejarah. Ada satu tulisan yang ditemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun yang terletak di Maras, Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan huruf yang menyerupai huruf Arab kuno. Namun sayang sekali sampai saat ini belum ada di antara para ahli yang dapat membacanya.
Berdasarkan cerita para orang tua, suku bangsa Serawai berasal dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit. Di Majapahit, Serunting Sakti meminta sebuah daerah untuk didiaminya, dan oleh Raja Majapahit dia diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan. Ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti berasal dari langit, ia turun ke bumi tanpa melalui rahim seorang ibu. Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Puyang Kepala Jurai dengan Puteri Tenggang.
Di dalam Tembo Lebong terdapat cerita singkat mengenai seorang puteri yang bernama Puteri Senggang. Puteri Senggang adalah anak dari Rajo Megat, yang memiliki dua orang anak yakni Rajo Mawang dan Puteri Senggang. Dalam tembo tersebut kisah mengenai Rajo Mawang terus berlanjut, sedangkan kisah Puteri Senggang terputus begitu saja. Hanya saja ada disebutkan bahwa Puteri Senggang terbuang dari keluarga Rajo Mawang.
Apabila kita simak cerita tentang kelahiran Serunting Sakti, diduga ada hubungannya dengan kisah Puteri Senggang ini dan ada kemungkinan bahwa Puteri Senggang inilah yang disebut oleh orang Serawai dengan nama Puteri Tenggang. Dikisahkan bahwa Puyang Kepala Jurai yang sangat sakti jatuh cinta kepada Puteri Tenggang, tapi cintanya ditolak. Namun berkat kesaktiannya, Puyang Kepala Jurai dapat melakukan hubungan seksual dengan puteri Tenggang, tanpa disadari oleh puteri itu sendiri. Akibat dari perbuatan ini Puteri Tenggang menjadi hamil. Setelah Puteri Tenggang melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Tolak Merindu barulah terjadi pernikahan antara Putri Tenggang dengan Puyang Kepala Jurai, itupun dilakukan setelah Puteri Tolak Merindu dapat berjalan dan bertutur kata.
Setelah pernikahan tersebut, keluarga Puyang Kepala Jurai belum lagi memperoleh anak untuk jangka waktu yang lama. Kemudian Puyang Kepala Jurai mengangkat tujuh orang anak, yaitu: Semidang Tungau, Semidang Merigo, Semidang Resam, Semidang Pangi, Semidang Babat, Semidang Gumay, dan Semidang Semitul. Setelah itu barulah Puyang Kepala Jurai memperoleh seorang putera yang diberi nama Serunting. Serunting inilah yang kemudian menjadi Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Serunting Sakti berputera tujuh orang, yaitu :
Serampu Sakti, yang menetap di Rantau Panjang (sekarang termasuk marga Semidang Alas), Bengkulu Selatan;
Gumatan, yang menetap di Pasemah Padang Langgar, Lahat;
Serampu Raye, yang menetap di Tanjung Karang Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT);
Sati Betimpang, yang menetap di Ulak Mengkudu, Ogan;
Si Betulah, yang menetap di Saleman Lintang, Lahat;
Si Betulai, yang menetap di Niur Lintang, Lahat;
Bujang Gunung, yang menetap di Ulak Mengkudu Lintang, Lahat.
Putera Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai 13 orang putera yang tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan anak-anaknya ini dianggap sebagai cikal-bakal suku Serawai. Putera ke 13 Serampu Sakti yang bernama Rio Icin bergelar Puyang Kelura mempunyai keturunan sampai ke Lematang Ulu dan Lintang.
2. Versi Suku Gumay Besemah.
Diantara beragam versi tentang Legenda Puyang Si Pahit Lidah, maka kami ber inisiatif untuk membuka sedikit wacana ini menurut catatan / tambo sejarah yang ada pada silsilah keluarga kami.
Maka Beliau yang namanya kami ambil sebagai Nickname di KWA ini ( Pangeran Sukemilung ) menurut tambo / sejarah GUMAY adalah keturunan dari seseorang yang bernama DIWE GUMAY.Kisah itu sebagai berikut….
Bahwa GUMAY adalah nama seorang DIWE yang turun kedunia dan mulai betapak di Padang Selase ( Bukit Siguntang ) di palembang. Ngawak Diwe mule-mule :
Diwe Gumay beristrikan anak Ratu Bengkulu. Waktu tersebut hampir bersamaan dengan terjadinya perang antara Bengkulu dan Aceh.Menurut ceritanya, Diwe Gumaylah yang dipanggil oleh bakal istrinya untuk menyudahi perang tersebut. Sehingga membuat perang tersebut berakhir dengan istilah : Atjeh kalah-Bengkulu Silah.
Dari pernikahan itu, Diwe Gumay mempunyai dua anak :
Ratu Iskandar Alam
Ratu Selibar Alam.
( Ratu Selibar Alam pergi ke Pagaruyung-Minangkabau dan keturunannya ada dipagaruyung )
Ratu Iskandar Alam, berputra :
Ratu Djemenang Sakti, berputra :
Ratu Gandjaran, berputra :
Ratu Menggale ( Semenggale ), berputra :
Ratu Semenggali, berputra :
Ratu Berdjunjang Sakti, berputra :
Ratu Radje Kuase ( Meradje Mengkuse ), berputra :
Ratu Radje Mude ( Ratu Kebuyutan ), yaitu Ratu terakhir.
Ke sembilan Ratu ini disebut “ RATU SEMBILAN DJUNDJANG “ ( Gilir ). Dari keturunan yang kesembilan ini, Ratu Radje Mude ( Ratu Kebuyutan ) mempunyai dua orang anak.
Raden Simbang Gumay ( Pangeran Sukemilung ) disebut juga Puyang Sukemilung
Putri Renik Debung. Beliau menjadi istri Puyang Saing Nage didalam laut.
Pangeran Sukemilung sendiri mempunyai 9 orang anak dari 2 istri. Anak-anak beliau ini disebut PUYANG SEMBILAN BERADEK. Nama anak-anak beliau adalah :
Puyang Remandjang Sakti, napak BALAI BUNTAR-Lubuk sepang, Lahat.
Puyang Intan permata Djagat,ngadekan ds.Prabu menang. Puntang Suku Merapi.
Puyang Pandjang,di Panda Enim.
Puyang Endang, di Lintang Kanan.
Puyang Remindang, ditangga Rase ( Manna )
Puyang Limpak, di Air Balui ( Musi Ulu )
Puyang Limparan, di Lubuk – Kayu Are
Puyang Untu, di Niru / Rambang Prabumulih
Puyang Remuntu, di Tjinte Mandi ( Redjang Bengkulu )
Dan keturunan selanjutnya sampai sekarang adalah anak cucu dari Puyang Remandjang Sakti. Kembali pada Kisah Puyang Si Pahit Lidah ( Pangeran Sukemilung ), beliau mempunyai nama dan gelar yang banyak. Masyarakat Palembang dan sekitarnya mengenal beliau dengan nama-nama- antara lain dibawah ini :
Diwe Sekilung / Sukemilung / Semidang : Nama Saat Sedang Musafir
Diwe Serunting : Nama Asli
Diwe Rakuan : Nama Saat Berperang
Diwe Lenggang Pati : Nama Keramat Bisa Mendatangkan Ribuan Angin Berdengung
Diwe Lian Pati : Nama Budi Pekerti Lemah Lembut Dan Shabar
Diwe Malin Pati : Nama Kebesaran Pemimpin
Ini sekilas sejarah dan silsila dari Serunting Sakti dari berbagai versi daerah.
Artikel ini hanya sekedar sharing saja, bukan untuk di perdebatkan. Jika ada pembaca yang lebih paham tentang Legenda ini, kami persilahkan untuk mengkoreksinya dan meluruskan. Sepanjang hal itu dapat menambah nilai-nilai kebersamaan, serumpun dan seketurunan guna menjaga nasab dari pelaku sejarah yang menjadi Legenda Sumatera Selatan ini.
Jika merujuk dari kisah-kisah yang dituturkan masyarakat, menggambarkan bahwa si Serunting Sakti ini memiliki jiwa satria dan ilmu yang sangat sakti mandraguna.
Jejak – Jejak Si Serunting Sakti / Si Lidah Pahit.
Berikut beberapa tempat yang menjadi lokasi yang diduga pernah disinggahi oleh Serunting Sakti alias silidah pahit.
1. Gua Putri dan Batu Putri
Bila Anda sudah mencapai Baturaja, sempatkanlah untuk mengunjungi Wisata Goa Putri yang terkenal dengan cerita mengenai seorang putri dengan perangkat istananya yang sudah menjadi stalagtit dan stalagmit ini. Goa Putri terletak di Desa Padang Bindu, Kecamatan Pengandonan, sekitar 35 km dari kota Baturaja.
 
Goa Putri
Konon menurut legenda, Dahulu disini pernah hidup seorang putri bernama Puteri Dayang Merindu bersama keluarganya. Pada suatu hari Sang Puteri sedang mandi di muara sungai Semuhun, sungai OKU.  Jaraknya kurang lebih 1 km dari Gua ini.  Lewatlah seorang pengembara ditempat itu. Tatkala melihat Sang Puteri timbul perasaan ingin menyapa, namun saat itu tidak mendapat perhatian sama sekali sehingga dia merasa gusar. “Sombong sekali puteri ini, diam seperti batu” ujarnya. Tiba-tiba saja tubuh Puteri Dayang Merindu berubah menjadi batu.
 
Inilah Batu yang disebut –sebut sebagai Batu Putri
“Pada saat banjir melanda daerah ini tahun 1982, jembatan penghubung desa ke seberang hancur dihantam air. Air sudah sangat tinggi, tapi anehnya Batu Putri ini tidak tenggelam ataupun roboh. Percaya atau tidak, kalau batu putri sampai tenggelam atau roboh maka dunia kiamat”.
Itu hanya sedikit dari banyak komentar masyarakat pribumi tentang batu putri yang dinilai mengandung hal yang mistis bagi penduduk sekitarnya.
Batu ini berdiri anggun ditengah air, bagian atasnya diselimuti oleh tumbuh-tumbuhan dan rumput. Dipercaya sebagai penjelmaan Putri Dayang Merindu, Puyang terdahulu bagi masyarakat ogan ulu yang menurut legenda dikutuk oleh Pendekar Serunting Sakti (Puyang Pahit Lidah) menjadi batu saat tengah mandi.
Kemudian Sang Pengembara memasuki desa, ketika tampak desa yang sepi karena penduduk sedang bekerja disawah dia kembali berkata “Katanya desa tetapi sepi seperti goa batu”. Dan seperti tadi desa tersebut berubah menjadi goa batu. Ternyata Pengembara tersebut adalah Si Serunting Sakti yang dijuluki Si Pahit Lidah, yang bila menyumpah semua yang terkena akan menjadi batu. Ternyata si Pahit Lidah tidak hanya menyumpah sang Putri saja. Ia juga mendatangi Gua kediaman sang Putri beserta keluarganya. Konon kabarnya semua yang berada di dalam Gua ikut disumpahnya menjadi batu. Dan kini beberapa bentuk batu gua yang ada didalam bisa diceritakan oleh Guide.
Dayang Merindu yang dikutuk Serunting Sakti atau Sipahit Lidah, diyakini warga sekitar berasal dari Sunda. Keyakinan mereka berdasarkan penerawangan dari sejumlah paranormal yang pernah melakukan penerawangan di gua Putri, di Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji Kabupaten OKU. Keyakinan bahwa Putri Dayang Merindu berasal dari pulau Jawa dikuatkan dengan pernah datangnya salah seorang keturunan sunan yang mengaku, bahwa sang putri masih memiliki keturunan dengan salah satu sunan. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, mereka memperkirakan bahwa Putri Dayang Merindu merupakan istri dari salah satu raja yang ada di pulau Jawa pada saat itu.
Saat anda akan memasuki Goa Putri anda akan menemukan sebuah suguhan menarik yang dapat membuat anda meresapi nilai Historis Goa Putri. Didalam Gua terdapat ruang tamu, pemandian putri, pembaringan putri, pendapuran ( dapur ), balai pertemuan, lumbung padi, singgasana sang Raja dan dua ekor sang penjaga Gua yaitu patung Harimau. Nah, biar gak makin penasaran, ayo mulai menelusuri Gua yang terlihat dari luar sangat besar dan indah. Untuk memasuki Gua, Kita harus naiki puluhan anak tangga yang diapit oleh dua batu besar. Mendekati Gua terdapat Stalaktit ukuran sedang menjulang dari atas sampai pinggang orang dewasa di tengah jalan setapak yang dilewati.
Saat melewati stalaktit itu pak Jafri  ( Guide ) memukul satu kali batu itu.  kenapa harus memukul batu yang menghasilkan suara berdengung. Menurutnya, itu adalah salah satu tanda sebagai salam untuk masuk ke dalam gua. Kita pun mengikuti memukul batu itu sebagai salam untuk masuk ke dalam gua. Sesampainya di mulut Gua, pemandangan sangatlah menakjubkan. Beberapa batu ukuran raksasa menyambut kedatangan kita. Memasuki dalam Gua, suasana sejuk tapi lembab mulai terasa dengan aroma tanah khas sebuah Gua pada umumnya.
Gua  ini memiliki panjang kurang lebih 180 meter yang bisa ditelusuri. Tapi menurut sang Guide masih panjang lagi namun belum terbuka untuk umum. Lokasi ini juga sudah ada jalan setapak yang terbuat dari semen yang di cor dan pagar sebagai pengaman. Untuk penerangan Gua telah dipasangi lampu di beberapa titik oleh pengelola, jadi buat para pengunjung tidak usah khawatir gelap-gelapan.
Setelah memasuki Gua, pada bagian tengah terdapat kumpulan stalaktit yang patah didasar Gua. Konon batu ini adalah Kembang dadar hiasan sebagai pintu masuk rumah sang Putri. Masuk kedalam lagi terdapat ruang tamu yang cukup luas berada diatas batu ukuran raksasa yang sangat lebar. Disamping ruangan itu terdapat  kolam nya sang putri. Kolam ini berfungsi sebagai taman air yang kalau ini seperti kolam ikan. Nah tepat di tengah kolam itu terdapat pendapuran ( dapur ) yang pada ujung dalamnya terdapat bak penampungan air dari batu alami yang berbentuk cekungan dan airnya tidak pernah kering.
Dari tempat ini  menuruni anak tangga dan menemukan balai pertemuan yang terbuat dari batu lempengan ukuran raksasa juga. Menurut cerita, dahulu kala berfungsi sebagai panggung atau balai pertemuan. Dari tempat ini ada juga anak tangga yang menuju ke lantai dua yang berfungsi sebagai ruangan istrihat. Namun sayang tangga untuk naiknya sudah keropos. Menuju lokasi lain, berikutnya adalah pembaringan sang Putri yang berada diatas batu yang lumayan agak tinggi.
Nah, dibawahnya terdapat kolam pemandian sang Putri yang terkenal menurut mitos masyarakat disini, jika mandi atau mencucui muka di pemandian ini maka akan terlihat awet muda.  Air yang melintasi gua ini adalah muara air dari perbukitan yang di sebut aliran air Sumuhun ( permohonan ). Ternyata airnya sangat dingin dan segar sekali sewaktu membasuh muka.

Banyak juga para wisatawan yang datang untuk mandi di lokasi ini setiap harinya. Airnya yang jernih dengan dasar batu kali kecil yang dangkal seukuran betis orang dewasa menjadikan tempat ini sangat diminati orang-orang. Masih menurut pak Jafri, pada tahun 1825 sampai 1835, Gua ini juga pernah menjadi persembuyian masyarakat desa dari penjajahan Belanda. Dan Gua ini juga dikenal dengan Shoman Dusun yang berarti Gua Desa.

Penelusuran kelokasi berikutnya. Untuk melihat patung sang Harimau ternyata kita harus menaiki tangga menuju tempat yang cukup luas dengan bebatuan besar dibagian belakangnya. Patung dua Harimau penjaga itu terdapat di mulut lubang yang tidak terlalu besar di seberang berjarak kurang lebih 40 meter, sekilas memang dua batu di mulut lubang itu seperti Harimau yang sedang duduk berjaga-jaga.  Dari tempat kita berdiri ternyata masih bisa menuju ke dalam Gua lebih dalam. Namun saat ini akses kedalam masih gelap dan tertutup batu besar. Asiknya, diatas batu besar itu terdapat juga lobang besar menuju ke atas bukit. Lubang ini juga menjadi salah satu penerangan Gua yang besar ini.
Usai melihat dua patung Harimau, kita bisa menuju pintu keluar yang dinamakan pintu Ajaib. Diberi nama Pintu Ajaib dikarenakan sebesar apapun orang yang akan keluar dari Gua ini pasti bisa melewati pintu ini. Padahal, celah batu sempit yang dinamakan pintu Ajaib ini tergolong lumayan kecil. Oh ya, untuk melewati pintu ini ternyata ada caranya. Saat melewati, bahu kiri harus berada di depan. Usai keluar dari pintu ajaib, terdapatkan pemandangan teras luar gua sangat luas. Di bagian ini juga terdapat lumbung padi dan singasana sang raja.
Berdampingan dengan Goa Putri terdapat Goa Harimau, tempat ditemukannya situs kerangka manusia yang berumur ± 3.000 tahun yang lalu oleh Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Goa ini terletak di desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji yang berjarak ± 500 meter dari Goa Putri. Dari hasil penelitian Tim Arkeologi, di Goa ini ditemukan dua kerangka manusia yang masih utuh dan beberapa kerangka yang tidak utuh lagi, serta serpihan-serpihan bebatuan yang diduga sebagai peralatan yang digunakan mereka. Selain itu pada dinding Goa Harimau terdapat beberapa gambar lukisan yang sampai sekarang masih diteliti.
2. Danau Ranau, OKU.
Danau Ranau berjarak kira2 342 km dari kota palembang, 130 km dari kota Baturaja
Keindahan Danau Ranau tak terbantahkan lagi. Namun, letaknya yang jauh dari pusat kota, Palembang, membuat objek wisata ini ibarat “misteri”. Keindahannya tersaput kabut. Oleh karena itu, meskipun indah, wisatawan yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari. Sama seperti awal terbentuknya danau itu yang dilingkungi misteri. Kendati secara ilmiah terbentuk melalui sebuah proses alam, masyarakat setempat percaya ada misteri yang melatarbelakangi terciptanya danau ini.
Mencapai lokasi ini, selain dari Palembang, juga bisa dijangkau dari Provinsi Lampung. Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 kilometer (km) dari Kota Palembang, 130 km dari Kota Baturaja, dan 50 km dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar tujuh jam dari Kota Palembang. Sementara itu, dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa.
Konon kabarnya hidup seorang yang sangat sakti yaitu Si Pahit Lidah, karena saking lidahnya pahit dapat mengkutuk orang, binatang, atau benda apapun menjadi batu. Hal ini dipercaya karena adanya situs peninggalan zaman dahulu kala yaitu BATU KEBAYAN (candi sepasang pengantin) yang puing-puingnya masih tersisa di dekat Desa Jepara, kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan. Dan konon dipercaya banyaknya situs (arca atau patung) di daerah Ranau seperti: Batu Lesung, di Subik dan sebagainya adalah akibat sumpah dari Si Pahit Lidah.
 Batu Kebayan ( Batu sepasang Pengantin ).
konon kabarnya pula, ada seorang yang sangat sakti dari daerah lain yaitu Si Mata Empat, yang ingin menguji kesaktian Si Pahit Lidah.
Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.
Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Dia mengetahui kelemahan dari si Serunting yaitu tidak kebal dengan batang Bambu Kuning yang telah jadi jemuran ( dalam bahasa daerah setempat disebut ” BembanAur Kuning” ). Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu.
Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.
Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Didalam tandan buah enau telah di pasangi bambu runcing dari batang Bambu Kuning ( Bemban Aur Kuning ) yang merupakan kelemahan dari ilmu kebalnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.
Lalu dengan sistem undian yang telah mereka sepakati si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.
Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.
Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.
Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.
Dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.
Mata Empat dengan sombongnya mempersilahkan Si Lidah Pahit untuk melakukan sekali lagi. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang ketiga. Tapi dengan kemempuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.
Dengan perasaan kecewa Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sudah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.
Mata empat pun dengan alat yang telah di siapkannya memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.
Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.
Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat serta bambu runcing dari Bemban Aur Kuning tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.
Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.
Namun rasa ingin tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dijilatnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.
Ternyata, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar empedu.
Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT.
Lokasi yang diyakini makam dari Si Lidah Pahit dan Si Mata Empat
Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup diyakini sebagai makam Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makam Si Mata Empat.
Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.
 Makam Puyang Serunting
 Batu Lesung Bintang
merupakan peninggalan sejarah dari Marga Bindung Langit Lawang Kulon sebagai asal mula Baturaja. Ada beberapa peninggalan sejarah sebagai bagian dari BatuLesung Bintang ini, antara lain batu berukir (berbentuk sandi & peta wilayah) dan batu berbentuk tapak kaki.
3. Batu Macan.
 Batu Macan
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sepertinya pribahasa ini cocok digunakan sebagai ungkapan bahwa di mana pun kita berada harus menaati peraturan-peraturan yang telah diterapkan masyarakat sekitar tempat kita tinggal. Begitu juga dengan Batu Macan. Objek wisata yang tak hanya bernilai seni tapi juga sarat makna dan pesan.
Batu Macan di Lahat yang konon katanya berasal dari kutukan Si Pahit Lidah.
Batu Macan tepatnya adalah simbol yang diyakini masyarakat sebagai wujud nyata paraturan adat (perdat) yang harus dipatuhi. Diperkirakan, Batu Macan yang terdapat di Desa Pagar Alam Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat ini, sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad 14 lalu. Sebagai simbol, Batu Macan ini merupakan bentuk penjagaan atau pagar terhadap perzinahan dan pertumpahan darah dari empat daerah, yakni Pagar Gunung, Gumay Ulu, Gumay Lembah, dan daerah Gumay Talang.
Ketika koran ini mengunjungi peninggalan bersejarah tersebut, diperoleh keterangan dari Jurai Tue Adat (Sesepuh. red) Idrus (62). Dituturkan Idrus, kisah adanya Batu Macan erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah yang beredar di masyarakat. Kisah berawal dari adanya seekor macan yang kerap kali mengganggu masyarakat desa di empat wilayah tersebut.
Keganasan macan yang semakin merajalela kepada penduduk, membuat Si Pahit Lidah memperingati macan untuk tidak meneruskan kelakuannya, namun sampai tiga kali teguran tidak pernah dipatuhinya dan macan terus saja mengganggu penduduk.
Ketika Si Pahit Lidah sedang bersantai dan berjemur di batu penarakan sumur tinggi, dari jauh dilihatnya seorang wanita sedang menjemur padi sambil menggendong anaknya, dan pada saat yang sama datang seekor macan dari arah belakang wanita secara mengendap-endap untuk menerkam wanita bersama anak yang ada di gendongannya.
Melihat itu, kembali Si Pahit Lidah memperingati macan, namun sayangnya teguran itu tidak juga membatalkan niatnya untuk menerkam wanita tersebut, sampai akhirnya Si Pahit Lidah berucap “Aii, dasar batu kau nii!” dan tiba-tiba macan tersebut berubah menjadi batu.
Anehnya, bukan hanya macan yang menerima kutukkan dari Si Pahit Lidah, wanita berserta anak yang sedang digendongnya turut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata wanita tersebut adalah wanita pezinah dan anak yang sedang digendongnya adalah anak hasil perzinahan.
Dari kisah itu, lanjut Idrus, apabila seseorang diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si pelaku yakni menyembelih kambing sebagai basoh rumeh (pembersih rumah. red), dan apabila si wanita mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau sebagai basoh marge (pembersih lingkungan. red). Hanya saja, sebelum kedua hewan tersebut disembelih maka pelaku harus dikucilkan dan tidak boleh bergaul seperti diungsikan di daerah lain atau di pegunungan, dan akan dapat diterima di masyarakat kembali setelah memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut.
4. Tari Kebagh.
Konon katanya, sejarah tarian ini berkaitan dengan Puyang Serunting Sakti.
Dikisahkan bahwa Serunting Sakti atau Si Lidah Pahit alias Puyang Semidang sedang melewati hutan lebat, dia mendengar suara ramai di suatu sungai yang ada air terjunnya. Ternyata ada ternyata ada tujuh orang perempuan cantik sedang mandi smbil bersenda-gurau. Dia yakin ini bukan perempuan biasa, karena tidak mungkin manusia berani mandi di tengah hutan yang lebat. Sebagai laki-laki ia jatuh cinta pada para perempuan itu, seperti kisah jaka tarub, dicurilah salah satu selendang para gadis itu.
benar dugaannya, selesai mandi para gadis tersebut mengambil selendang lalu terbang menghilang ke angkasa.
Sambil menyembunyikan selendang tsb, dia menghampiri gadis yg sedang menangis karena ditinggalkan teman-temannya.
Singkat cerita, sang gadi diajak kekampungnya, dan dipersuntingnya. Sementara itu selendang sang gadis ia sembunyikan di atas lumbung padi.
Setelah menikah, mereka dikaruniahi seorang putra yang di beri nama Dirut.
Pada suatu hari dikampung diadakan acara pesta panen yang sangat meriah dan turut dihardiri oleh Serunting Sakti dan istrinya.
Diadakanlah acara tari-tarian oleh muda-mudi kampung tersebut.
Istri Puyang Serunting Sakti yang konon adalah seorang bidadari ( Betari ) , diminta ikut turun menari. Permintaan ini disetujui istrinya dengan syarat hanya bisa menari bila menggunakan selendang miliknya. Dia tahu selendang tersebut  disembunyikan oleh Puyang Serunting Sakti.  Atas permintaan dari warga kampung agar selendang tersebut dikembalikan pada istrinya untuk dipakai menari.
Karena terus didesak banyak orang, akhirnya dengan berat hati, Puyang Serunting Sakti mengizinkan istrinya menari dengan selendang yang diambilnya dari atas lumbung padi. Selendang tersebut disembunyikan di dalam ruas bambu yang lazim disebut tepang.
Dengan beralaskan dampar (nampan) kayu maka menarilah istri Puyang Serunting Saksti dengan lemah gemulai. Kecantikan dan kemahirannya menari membuat semua mata terpana.Hingga tanpa disadari oleh semua orang, istri Puyang Serunting Sakti tak lagi menginjak bumi, melayang-layang, semakin tinggi. Tersadar istrinya mau terbang ke kayangan, Serunting Sakti mengejarnya, namun istrinya sudah terbang setinggi kepalanya, merasa tidak bisa menangkapp istrinya , Serunting mencabut golok dan membacok lutut istrinya.
Sambil menjerit kesakitan,  istrinya mendarat di pelepah pohon kelapa gading.
Sambil menangis sedih bercampur marah sang istri meneriakan kutukan :
- Bila ada anak cucuku yang makan nyiur ini tidak akan selamat hidupnya.
- Bila ada anak cucuku kencantikan dan rambutnya panjangnya melebihi aku akan celaka.
Serunting Sakti menyesali tindakanya, namun nasi sudah jadi bubur, sang istri menghilang kembali kekayangan.
untuk mengenang sang bidadari maka setiap acara diadakan tarian Kebagh yang berarti tarian terbang.
5. Batu Gajah
  Batu gajah yang di duga di sumpah Si Lidah Pahit
Si Pahit Lidah sungguh sakti kata-katanya. Setiap serapah sumpah yang keluar dari mulutnya yang berlidah pahit kontan akan membuat benda yang dikutuk menjadi batu. Begitu kira-kira dongeng lisan masyarakat Pasemah di kawasan Lahat dan Pagar Alam di Sumatera Selatan.
Lokasi situs megalitik itu letaknya di alam bumi Pasemah Lahat dan Pagar Alam, sekitar 500-an kilometer dari Palembang, di dataran tinggi antara 750 meter-1.000 meter di kaki Gunung Dempo dari Pegunungan Bukit Barisan dan daerah aliran hulu Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Batu ini berada di aliran sungai pengabuan tepatnya di wilayah Dusun Mudo, konon katanya batu tersebut berubah berbentuk seperti gajah karena di sumpah Pahit Lida. Batu itu di sumpah karena saat si Pahit Lidah mencuci beras tiba tiba air yang mengalir menjadi keruh yang sebabkan gajah menyebrangi sunagai pengabuan di hulunya.

6. Batu Jung.
Picture
Pantai Wayhawang yang terletak di kecamatan Maje kabupaten Kaur sudah lama dijadikan tempat pariwisata. Wisata pantai Wayhawang yang terletak di desa Wayhawang, setiap tahunnya di saat hari-hari tertentu ramai dikunjungi orang untuk berlibur dan bersantai bersama keluarga, maupun orang terdekat di hati. Keindahan pantai ini sudah lama tersohor di Bengkulu, dengan keindahan alam yang dimilikinya. Berbagai cerita sejarah terdapat di pantai Wayhawang, di antaranya cerita Si Pahit Lidah. Keindahan Batu Jung, seperti halnya tanah lot di Bali, Batu Jung memiliki secarah tersendiri. Konon cerita asal mula terbentuknya Batu Jung dari sebuah kapal yang disumpah oleh si Pahit Lidah menjadi batu.Selain batu jung, ada lagi cerita menarik lainnya, sehingga pantai Wayhawang memiliki kenangan tersendiri di masa lampau. Namun, keindahan alam di Pantai Wayhawang sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya. Semoga pantai yang dahulu menjadi tujuan utama pariwisaata di kaur dapat kembali menjadi tujuan wisata di Bengkulu, khususnya di Kaur.

Menurut mitos batu ini berasal dari sebuah kapal, mengapa terjadinya kutukan si pahit lidah karena pada saat itu di sekitar kapal ada seseorang yang sedang mencari ikan, lalu datanglah seorang bapak-bapak( si pahit lidah ) yang sedang berjalan disekitar tepi pantai.
Dia meminta api pada sang pemilik kapal itu dia memanggil-mangil tapi seperti sama kali tak dihiraukan, sebenarnya bukan karena tak dihiraukan tetapi jarak kapal itu cukup jauh dari tepi pantai sehingga tidak terdengar oleh pemilik kapal itu. Sipahit lidah murka dan dikutuknya lah kapal itu menjadi batu, maka berubahlah kapal itu menjadi batu.
Pantai_Way_Hawang2
Kalau dilihat bentuk batu itu mirip sekali dengan sebuah kapal/perahu. Sangat pas buat berlibur bersama keluarga di akhir pekan sambil menghilangi penat setelah satu minggu menjalani aktifitas.
7. Batu Titian.
http://lh3.ggpht.com/7wpRkX15Xp7nc_qrzEQR9gGX_kRCC_YK81Ht_evYLMmqW1UOLLtlh3I_SwjhzKlWlrkDxdq04DPf952r6E43FNqV5A
Mendengar nama Sipahit Lidah, pikiran kita secara tidak langsung tertuju ke daerah Sumatera Selatan. Siapa sangka, legenda Sipahit Lidah juga ada di wilayah Merangin Propinsi Jambi. Salah satu daerah Merangin yang menurut cerita juga menjadi tempat petualangan Sipahit lidah adalah daerah Tabir Ulu. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, di Tabir Ulu Sipahit lidah mempunyai musuh bebuyutan seorang Raja yang bernama Rajo Banting. Salah satu bukti permusuhan tersebut ditandai dengan adanya sebuah batu titian Rajo Banting yang berasal dari kayu sungkai yang kini telah menjadi batu disumpah oleh Sipahit Lidah.. Batu titian tersebut saat ini berada di anjungan rumah adat Sarko di Taman Rimba Kota Jambi.
Jadi jangan salah, legenda Sipahit lidah tidak hanya ada di daerah Sumatera Selatan, tetapi juga berkembang di Merangin Propinsi Jambi. Di Jambi, legenda Sipahit lidah tersebar di beberapa daerah Kabupaten antara lain Kabupaten Merangin, Muara Bungo dan Kabupaten Sarolangun..
8. Asal mula danau Tes.
Alkisah, di Dusun Kutei Donok, Tanah Ranah Sekalawi (atau daerah Lebong sekarang ini), hidup seorang sakti bersama seorang anak laki-lakinya. Oleh masyarakat Kutei Donok, orang sakti itu dipanggil si Lidah Pahit. Ia dipanggil demikian, karena lidahnya memiliki kesaktian luar biasa. Apapun yang dikatakannya selalu menjadi kenyataan. Meski demikian, ia tidak asal mengucapkan sesuatu jika tidak ada alasan yang mendasarinya.
Pada suatu hari, si Lidah Pahit berniat untuk membuka lahan persawahan baru di daerah Baten Kawuk, yang terletak kurang lebih lima kilometer dari dusun tempat tinggalnya. Setelah menyampaikan niatnya kepada para tetangganya dan mendapat izin dari Tuai Adat Kutei Donok, ia pun segera menyiapkan segala peralatan yang akan dipergunakan untuk membuka lahan persawahan baru.“Anakku, kamu di rumah saja! Ayah hendak pergi ke daerah Baten Kawuk untuk membuka lahan persawahan baru,” ujar si Lidah Pahit kepada anaknya. “Baik, Ayah!” jawab anaknya.
Setelah berpamitan kepada anaknya, si Lidah Pahit pun berangkat dengan membawa kapak, parang, dan cangkul. Sesampainya di daerah Baten Kawuk, ia pun mulai menggarap sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari Sungai Air Ketahun. Si Lidah Pahit memulai pekerjaannya dengan menebangi pohon-pohon besar dengan kapak dan membabat semak belukar dengan parang. Setelah itu, ia pun segera mencangkul lahan kosong itu. Tanah-tanah cangkulannya ia buang ke Sungai Air Ketahun.
Setelah dua hari bekerja, si Lidah Pahit telah membuka lahan persawahan seluas kurang lebih setengah hektar. Bagi masyarakat Kutei Donok waktu itu, termasuk si Lidah Pahit, untuk membuka lahan persawahan seluas satu hektar dapat diselesaikan dalam waktu paling lama satu minggu, karena rata-rata mereka berbadan besar dan berotot. Alangkah senang hati si Lidah Pahit melihat hasil pekerjaannya itu.
Pada hari ketiga, si Lidah Pahit kembali ke Baten Kawuk untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan segera menanam padi di lahan persawahannya yang baru itu.Namun, tanpa disadari oleh si Lidah Pahit, para ketua adat dan pemuka masyarakat di kampungnya sedang membicarakan dirinya. Mereka membicarakan tentang pekerjaannya yang selalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun, sehingga menyebabkan aliran air sungai itu tidak lancar. Kekhawatiran masyarakat Kutei Donok yang paling besar adalah jika si Lidah Pahit terus membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun akan menyumbat air sungai dan mengakibatkan air meluap, sehingga desa Kutei Donok akan tenggelam.
Melihat kondisi itu, ketua adat bersama tokoh-tokoh masyarakat Kutei Donok lainnya segera bermusyawarah untuk mencari alasan agar pekerjaan si Lidah Pahit dapat dihentikan. Setelah beberapa jam bermusyawarah, mereka pun menemukan sebuah alasan yang dapat menghentikan pekerjaan si Lidah Pahit. Maka diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan alasan itu kepada si Lidah Pahit. Sesampainya di tempat si Lidah Pahit bekerja, mereka pun segera menghampiri si Lidah Pahit yang sedang asyik mencangkul.
“Maaf, Lidah Pahit! Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan berita duka,” kata seorang utusan. “Berita duka apa yang kalian bawa untukku?” tanya si Lidah Pahit. “Pulanglah, Lidah Pahit! Anakmu meninggal dunia. Kepalanya pecah terbentur di batu saat ia terjatuh dari atas pohon,” jelas seorang utusan lainnya. “Ah, saya tidak percaya. Tidak mungkin anakku mati,” jawab si Lidah Pahit dengan penuh keyakinan.
Beberapa kali para utusan tersebut berusaha untuk meyakinkannya, namun si Lidah Pahit tetap saja tidak percaya. Akhirnya, mereka pun kembali ke Dusun Kutei Donok tanpa membawa hasil. “Maaf, Tuan! Kami tidak berhasil membujuk si Lidah Pahit untuk kembali ke kampung ini,” lapor seorang utusan kepada ketua adat. “Iya, Tuan! Ia sama sekali tidak percaya dengan laporan kami,” tambah seorang utusan lainnya.
Mendengar keterangan itu, ketua adat segera menunjuk tokoh masyarakat lainnya untuk menyampaikan berita duka itu kepada si Lidah Pahit. Namun, lagi-lagi si Lidah Pahit tidak percaya jika anaknya telah mati. Ia terus saja mencangkul dan membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.Melihat keadaan itu, akhirnya ketua adat bersama beberapa pemuka adat lainnya memutuskan untuk menyampaikan langsung alasan itu kepada si Lidah Pahit. Maka berangkatlah mereka untuk menemui si Lidah Pahit di tempat kerjanya.
“Wahai si Lidah Pahit! Percayalah kepada kami! Anakmu benar-benar telah meninggal dunia,” kata ketua adat kepada si Lidah Pahit. Oleh karena sangat menghormati ketua adat dan pemuka adat lainnya, si Lidah Pahit pun percaya kepada mereka. “Baiklah! Karena Tuan-Tuan terhormat yang datang menyampaikan berita ini, maka saya sekarang percaya kalau anak saya telah meninggal dunia,” kata si Lidah Pahit dengan suara pelan.
“Kalau begitu, berhentilah bekerja dan kembalilah ke kampung melihat anakmu!” ujar ketua adat. “Iya, Tuan! Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal beberapa cangkul ini,” jawab si Lidah Pahit.
Mendengar jawaban itu, ketua adat beserta rombongannya berpamitan untuk kembali ke Dusun Kutei Donok. Setelah rombongan itu pergi, si Lidah Pahit baru menyadari akan ucapannya tadi. Dalam hati, ia yakin betul bahwa anaknya yang sebenarnya tidak meninggal kemudian menjadi meninggal akibat ucapannya sendiri. Maka dengan ucapan saktinya itu, anaknya pun benar-benar telah meninggal dunia.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan si Lidah Pahit tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dengan perasaan kesal, ia pun melampiaskan kemarahannya pada tanah garapannya. Berkali-kali ia menghentakkan cangkulnya ke tanah, lalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun. Setelah itu, ia pun bergegas kembali ke Dusun Kutei Donok hendak melihat anaknya yang telah meninggal dunia. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.
Konon, tanah-tanah yang dibuang si Lidah Pahit itu membendung aliran Sungai Air Ketahun dan akhirnya membentuk sebuah danau besar yang diberi nama Danau Tes.
9. Batu Badak.
Batu yang menyerupai Badak hasil kutukan Si Lidah Pahit
Dari kisah legenda cerita rakyat sumatra bagian selatan, inilah salah satu jejak kisah si Si pahit Lidah di tanah rejang. Jejak lain kisah ini ada di desa batu belarik, bagian tanah rejang di kabupaten kepahiang.
Bisa di capai dengan mudah dari jalan raya, situs megalith ini berada di pinggir jalan, di desa Lawang agung, kecamatan Sindang Beliti Ulu. Lokasinya dinamakan tebing batu badak. Batu batu ini berada tepat di samping rumah penduduk.
Batu batu dekat batu badak yang di percaya orang rejang lembak sebagai anak anak badak yang di kutuk oleh Si Pahit Lidah.
Dikisahkan bahwa si pahit lidah melewati kawasan ini dan bertemu dengan segerombolan badak sumatra, beserta anak anaknya. Si pahit lidah bertanya arah jalan ke gerombolan badak yang menghalanginya. Karena tidak di jawab oleh Badak, Si pahit lidah marah dan berkata, “Jadilah kalian semuanya batu”. Karena kesaktianya, badak badak sumatra itu berikut anak anaknya menjadi batu.
10. Batu Jantan.
Di Kabupaten Tebo Propinsi Jambi, tepatnya Desa Sungai Landai. Ceritanya sedikit sekali, biasanya orang kampung menyebut “Batu Jantan” dan batu lainnya adalah perempuan “Batu Betino” Batu Betino tidak dapat di photo karena jaraknya jauh (1km ke utara). Menurut masyarakat setempat ini terkait dengan kisah Si Lidah Pahit.
11. Batu Berputar.
Wisata batu berputar ini terletak diarel perkebunan karet rakyat tepatnya di daerah Desa Batu Raja Bungin Kec. Bunga Mayang 11 KM dari Martapura, menurut cerita rakyat setempat batu ini jatuh dari langit dan sewaktu – waktu memancarkan cahaya seperti percikan api yang disebabkan oleh perputaran dua buah batu yang berlawanan arah. Sedangkan Tala Batu yang terletak di Kec.Buay Madang Timur 40KM dari Martapura. Menurut cerita masyarakat setempat merupakan sumpahan sipahit lidah, karena pada saat itu masyarakat setempat mengadakan pesta menyambut musim tanam padi dengan membawa alat – alat kesenian, karena penduduk lagi bepesta dan kurang perhatian dengan si pahit lidah maka dia murka dan disumpahnya menjadi batu.
Masih banyak lagi peninggalan yang dianggap bekas atau singgahi oleh serunting Sakti atau Si Lidah Pahit, semua berdasarkan kisah yang dihimpun dari berbagai versi daerah masing-masing.
Menurut legenda Kesaktian beliau ada di lidahnya. Diantara berbagai macam keramatnya adalah beliau mempunyai Ucapan ( Kalimat Sakti ) yang bisa membuat apapun yang disumpahnya menjadi seperti yang di ucapkannya. Keluarga keturunanya mengenal kalimat itu dengan nama “ UCAP GUMAI .“ Sejauh yang di ketahui, ilmu ini menjadi semacam tradisi yang terus menyambung sampai ke anak cucu. Tanpa harus dipelajari pun, beberapa orang dikeluarga keturunanya mempunyai kemampuan Ucap Gumai tersebut. Apalagi jika terdesak kedalam suatu persoalan yang membahayakan, terkadang tanpa sengaja keluar ucapan sumpah tersebut. Saking berbahayanya ilmu itu, para Tetua  menyembunyikan ilmu itu rapat-rapat sampai sekarang. Yang masih menyimpannya kemungkinan besar hanyalah Para Jurai Kebale’an ( Tetua Adat suku Gumai, Keturunan dari Puyang Tuan Radje ). Kami mendapatkan sebuah SERAPAH / KALIMAT yang sumbernya disebutkan berasal dari Puyang Si Pahit Lidah. Kalimat ini di tulis oleh KH. Bahri bin Pandak, Tanjung Atap-Komering Ilir Palembang didalam kitabnya yang berjudul Aurodul Hakiim. Dan beliau menyebutkan, mendapatkan Kalimat ini dari Ujo’ Agus, Air Pedaro. Redaksi Kalimat itu begini :
Bismillahir rahmaanir rahiim…
Assalamu’alaikum kang malih jati
Wa’alaikum salam warohmatullahi wa barakaatuh
Ingkang pangeran akulah pangeran pati
Biso tedong biso si pahit lidah
Biso dibisakan kau oleh Allah ta’alaa
Aku dikuasakan aku waliyullah
Berkat laa ilaha ilallah muhammadur rasulullah…( sebut hajat kita )
Disebutkan bahwa kalimat itu berguna sebagai sambatan / wasilah tawasul atas sesuatu keperluan yang kita butuhkan. Selama kita meyakini dan tulus dalam ucapan, kalimat sederhanapun bisa menjadi mantra mujarab untuk jalan keluar yang kita butuhkan. Terlebih disaat kepepet.
Demikianlah Sepenggal kisah dari Serunting Sakti alias Si Pahit Lidah Alias Puyang Semidang, bila ada kekurangan harap di maklum karena penyusunan kisah ini di ambil dari berbagai sumber yang berbeda sesuai dari versi daerah yang bersangkutan.
Namun satu hal yang pasti, legenda Si Serunting atau Si Lidah Pahit menjadi salah satu legenda yang termasyur di belahan Sumatera bagian selatan, terutama di Bumi Besemah Libagh.

PANGERAN DJAYA SAMPOERNA (PANGERAN PANJANG)

TEMBO PASIRAH SELUPU REJANG










H.Abdoel hamid adalah putra pertama dari istri pertama Aliadin bin Nazarudin, yaitu Mesipa binti Merausman.
Mengenal Isteri Aliadin Bin Nazarudin
Semasa hidupnya Aliadin bin Nazarudin mempunyai dua orang isteri :
  1. Mesipa binti Mera usman ( berasal dari pulo geto )
Mesipa adalah putri dari buah perkawinan Mera usman dengan Siti Rogayah yang bergelar Brunge. Siti rogayah merupakan putri dari Muning Labar, Muning labar memiliki 3 orang anak yaitu :
Ø Sipar
Ø Gopar
Ø Siti Rogayah
Pada saat dusun curup dilanda musibah Bumei panes ,dimana masyarakat banyak yang terserang wabah penyakit yang mematikan. Muning labar bersama dua saudaranya “Satar & latar “ mengungsi ke arah bukit hitar.Mereka bertiga bersama pengikutnya membuka hutan ,menebang kayu , mendirikan pondok di talang tersebut lalu mereka dipercaya menjadi pemimpin kelompok – kelompok tersebut.
Kemudian hari mereka mendengar kabar bahwa keadaan Dusun Curup sudah aman dari musibah Bumei panes , maka berdasarkan hasil musyawarah serta mufakat bersama memutuskan tiga bersaudara “ Satar, Latar & Labar “ bersama lebih kurang 70% masyarakatnya untuk kembali ke desa asal mereka di dusun Curup yang telah sekian lama mereka tinggalkan . Sedangkan 30 % masyarakatnya menetap di Talang tersebut (sekarang bernama Talang Rimbo ) yang di ketuai Ali jayo dan Ali menang.
  1. Jeniman binti laman ( berasal dari talang rimbo )
Jeniman adalah putri dari Laman. Laman adalah anak dari Alijayo berasal dari dusun Curup. Alijayo serta saudaranya Ali menang juga mengungsi ketika Dusun Curup dilanda musibah Bumei panes, mereka menyingkir ke arah kaki bukit hitar antara sungai merah dan sungai tikdatar. Alijayo dan Alimenang merupakan cikal bakal penduduk talang rimbo yang telah berkembang hingga saat ini.
Berikut Silsilah Keturunan Aliadin bin Nazarudin
Kesambe baru

Pasirah H. Abdoel Hamid bergelar Pangeran Djaya sampoerna (Pangeran panjang) memiliki empat istri semasa hidupnya.


Sumber :
Ø Zainal Djanib, Silsilah keluarga ( Tembo ) Keturunan Aliadin bin Nazarudin Kesambe baru disusun Desember 2000.
Ø Bakthiar Sama,Silsilah Muning Labar dan Muning Alijayo disusun tahun 1998.

Misteri Malim Bagus di Puncak Bukit Kaba

Sejumlah orang mengaku telah bertemu dengan Malim Bagus, raja jin muslim penguasa bukit ini. Benarkah?

KABUPATEN Rejang Lebong, menurut kepercayaan masyarakatnya, banyak terdapat tempat keramat yang angker. Namun, dari sekian banyak tempat, kabarnya hanya Bukit Kaba yang berpenghuni makhluk gaib paling banyak. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, syahdan ada sembilan raja makhluk halus yang bertahta di tempat ini. Adapun nama-nama yang cukup popular ditengah masyarakat di antaranya: Malim Bagus yang bertahta di puncak bukit, Elang Berantai yang juga berkuasa di puncak bukit, dan Putri Saudari Kandang yang memiliki kekuasaan di kaki bukit.
Sehingga tak diragukan lagi, kalau Bukit Kaba disebut-sebut sebagai tempat paling angker di kabupaten berudara sejuk ini.

Dengan bentuk alam yang begitu indah, suhu yang sejuk dan perjalanan yang tak begitu sulit, maka banyak sekali orang berkunjung ke tempat ini. Tujuan pengunjung pun bermacam-macam, mulai dari penelitian, wisata, bahkan semedi atau ritual tertentu yang berhubungan dengan hal gaib.
Untuk yang terakhir ini biasanya ada beberapa larangan yang harus ditaati para pengunjung. Biasanya bagi mereka yang sudah ‘mengerti’ saat menginjakkan kaki di daerah ini selalu menyampaikan salam ke penguasa gaib Bukit Kaba. Selanjutnya, mereka tidak dibenarkan berkata sombong apalagi melakukan perbuatan tidak senonoh. Menurut masayarakat setempat, hal ini tidak lain agar terhindar dari mara bahaya.
Konon, Malim Bagus adalah raja jin muslim yang mempunyai perkampungan yang masyarakatnya memakai jubah putih kekuningan layaknya seperti seorang kyai.
Cerita tentang keberadaan Malim Bagus ini ternyata bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Beberapa orang dikabarkan pernah bertemu bahkan bertatap muka secara langsung dengan penguasa Bukit Kaba itu.
Syafewi, misalnya. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru SMA di Curup ini, ketika tengah berwisata ke Bukit Kaba, mengaku pernah bertemu dengan Malim Bagus. Bahkan saat itu dia merasa tengah bercakap-cakap langsung dengan sosok legendaries Bukit Kaba itu.
“Saat saya sedang ngobrol, saya tidak menyangka kalau ternyata teman saya tidak melihat lawan bicara saya tadi. Dia hanya bengong,” cerita guru biologi ini.
Cerita serupa juga dialami Siregar. Lelaki asal Medan ini juga mengaku pernah bertemu langsung dengan Malim Bagus. Dia juga sempat berbincang-bincang seperti dialami Syafewi.
“Tetapi, tidak lama kemudia, sosok misterius itu raib dari hadapan saya,” kata Siregar.

Ngalab Berkah
Melihat banyaknya cerita mistis yang berkembang di masyarakat, akhirnya tempat ini kerap disambangi orang. Bahkan, mereka tidak segan-segan ngalab berkah alias mengadu peruntungan dengan melakukan semacam ritual di tempat itu. Mulai dari minta nomor togel sampai ke hal lainnya.
Pernah, beberapa tahun silam, tiga orang warga lereng bukit mendatangi tempat tersebut untuk melakukan ritual. Tujuannya agar diberi nomor jitu. Saat itu sedang marak-maraknya SDSB. Singkat cerita Toyib, bukan nama sebenarnya, bersama kedua temannya itu memulai ritual. Mereka membakar kemenyan dan mempersiapkan sesaji untuk persembahan. Tidak lama kemudian mereka pun tertidur dan bermimpi. Di dalam mimpinya, mereka didatangi Malim Bagus. Tetapi, alih-alih mendapat nomor jitu malah mereka dimarahi dan disuruh meninggalkan tempat itu secepatnya. Intinya, mereka tidak diperkenankan untuk meminta hal-hal yang dilarang agama Islam di tempat itu.
“Sang Kyai menyarankan kami agar segera pulang. Sebab, kata Kyai itu, Bukit Kaba bukannya tempay untuk minta kekayaan. Kalau tidak bahaya akan menjemput,” kata Toyib menirukan ucapan sang kyai.
Selain cerita Malim Bagus, ada juga cerita menarik lainnya yakni Putri Saudari Kandang. Menurut cerita, ratusan tahun silam, putri dari bangsa siluman ini pernah mau menikah dengan seorang pemuda dari Curup. Tapi, di saat akan naik pelaminan, ternyata yang nampak hanya pengantin lelakinya saja. Mempelai wanitanya tak nampak sama sekali. Padahal, menurut sang pemuda, mempelai wanitanya justru berada tepat disampingnya. Hal ini jelas membuat para pengunjung dan keluarga pengantin menjadi bertanya-tanya dengan kondisi sang pengantin lelaki. Bahkan ada yang beranggapan si pengantin sudah tidak waras lagi.
Akhirnya, batallah pernikahan tersebut. Melihat kejadian itu, pemuda Curup itu merasa malu dan jengkel. Sebab, tperistiwa itu telah menjadi buah bibir masyarakat.
Karena tidak tahan terus-menerus diejek, konon, akhirnya Putri Saudari Kandang mengutuk orang Curup. Dalam ucapannya dikatakan jika masayarakat Dusun Curup berkunjung ke Bukit Kaba, maka akan celaka.
Hingga saat ini kepercayaan itu tumbuh dan mengakar di benak masayarakat Dusun Curup. Mereka memang merasa cukup takut dengan cerita itu. Hal ini terlihat dari mereka yang merasa asli penduduk Dusun Curup tidak berani berkunjung ke Bukit Kaba. Mereka takut terkena kutukan. FRANKY

ASAL USUL SUKUBANGSA REJANG


Menurut cerita orang-orang tua Rejang maupun dari karangan tertulis mengenai rejang yang dijumpai, asal usul bangsa rejang adalah LEBONG, dengan fakta sebagai berikut :
  1. JOHN MARSDEN, residen inggris di LAIS (1775-1779), memberitakan adanya EMPAT PETULAI yaitu : Juru Kalang, Bermani, Selupu, dan TUBEI, karena Tubai terletak di wilayang Lebong dan pecahannya hanya terdapat diluar wilayah Lebong, hal ini memperkuat bahwa asal usul Sukubangsa Rejang adalag LEBONG.
  2. J.L.M. SWABB, Kontrolir Belanda di LAIS (1910-1915), Menerangkan bahwa Marga Merigi yang terdapat diwilayah Rejang tetapi tidak wilayah di Lebong, karena Marga Merigi berasal dari wilayah TUBAI, juga adanya larangan menari antara bujang/gadis TUBAI dengan Gadis/Bujang Merigi di waktu Kejai, karena mereka berasal dari satu keturunan, yaitu petulai TUBAI.
  3. Dr.J.W. Van ROYEN, Pasal bangsa Rejang berkata, bahwa sebagai satu kesatuan Rejang yang paling murni, di mana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu bang, harus diakui Rejang Lebong….”
Pada Zaman penjajahan Belanda Sukubangsa Rejang dinamai :
REJANG LEBONG : yang mendiamai daerah rejang
Rejang MUSI dan REJANG LEMBAK : mendiami daerah Lais dan Bengkulu
REJANG PESISIR : yang mendiami Tebing Tinggi dan Rawas dinamai REJANG EMPAT LAWANG dan REJANG RAWAS.

Pada mulanya sukubangsa Rejang, hidup mengembara di daerah LEBONG, baru pada Zaman AJAI (Pemimpin suatu kumpulan manusia) menetap disuatu tempat.. Menurut riwayat sukubangsa Rejang berasal dari EMPAT PETULAI yang tiap petulai dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut dengan istilah Rejang AJAI.
Dalam zaman Ajai inilah daerah lebong masih bernama RENAH SEKALAWI atau PINANG BELAPIS, Palembang bernama SELEBAR DAUN dan Bengkulu masih bernama LIMAU NIPIS atau SUNGAI SERUT.
Dalam riwayat disebutkan bahwa :
  1. AJAI BITANG memimpin dan menetap di PELABAI tempat yang berada di Marga Suku IX, daerah Lebong Sekarang.
  2. AJAI BEGELAN MATO memimpin dan menetap di KUTEUI BOLEK TEBO, tempat yang berada di Marga Suku VIII, didaerah Lebong sekarang
  3. AJAI SIANG memimpin dan menetap di SIANG LAKAT, suatu tempat yang berada di MArga Jurukalang, daerang Lebong sekarang.
  4. AJAI TIEA KETEKO memimpin dan menetap di BANDAR AGUNG, yang berada di MArga Suku IX yang sekarang.
Pada masa pimpina AJAI inilah dating ke Renah Sekalawi empat orang abang beradik dari majapahit, putra dari Ratu Kencana Unggut yang melarikan diri ke Palembang dan terus ke Renah Sekalawi, mereka adalah : Biku SEPANJANG JIWO, Biku BEMBO, Biku BEJENGGO dan Biku BERMANO, dalam kisah perjalanan mereka disebutkan bahwa keempat Biku itu adalah menteri utusan kerajaan bahagian Mojopahit(Melayu), Yang diperkuat dengan sebutan nama yang menggunakan BIKU terang sekali yang berasal dari kata BIKSU yang berarti Pendeta atau paderi Budhha.
Yang tujuan mereka bukanlah untuk mencari emas atau hendak menjadi raja, tetapi hanya untuk memperkenalkan kerajaan Mojopahit yang agung itu……….(bersambung).
Diambil dari Buku Hukum Adat Rejang Karangan Prof. Dr. H. Abdullah Siddik.
Perjalanan Biku ke RENAH SEKALAWI (DAERAH LEBONG)……..
 Saat ke empat biku sampai di Renah Sekalawi (Daerah Lebong), masyarakat pimpinan para Ajai itu telah bertebaran dan mulai menjadi besar, sehingga tidak dapat diberi bantuan yang sama kepada semua anggotanya, yang mana anggotanya bukan saja tersebar ke Ulu sungai ketahun, juga telah meluaskan sampai ke ulu sungai musi di daerah rejang yang sekarang, ke empat Ajai itu meminta nasehat kepada keempat biku dalam melaksanakan tugas mereka sebagai pimpinan.
 Atas musyawarah seluruh masyakarat, maka tak lama kemudian para Biku  dipilih oleh keempat petulai yang ada disitu sebagai pimpinan mereka.
 Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang di Pelabai, Biku Bembo menggantikan Ajai Siang di Sukanegeri dekat TAPUS (Ulu Sungai Ketahun), Biku Bejenggo berkedudukan di Batu Lebar dekat ANGGUNG Rejang di Kesambe dan Biku Bermano berkedudukan di Kuteui Rukam dekat TES sekarang.
 Dibawah kepemimpinan ke empat Biku tersebut secara berangsur-angsur masyarakatnya mulai bercocok tanam, berladang dan bersawah dan mempunyai kebudayaan dan tulisan sendiri. Dimana tulisan bahasa Rejang ini dikenal dengan sebutan TULISAN RENCONG.
 Dalam pimpinan keempat biku ini adat istiadat diperbaiki, seperti adat gawah mati, yaitu tiap-tiap orang yang melakukan kejahatan yang dilarang keras oleh adapt dihukum mati, diperlunak, hokum mati bagi orang yangmembunuh orang diperlunak dengan diwajibkan sipembunuh membayar bangun kepada keluarga si mati sebagai pengganti nyawa yang disebut GENTI NYAWO.
 ASAL USUL BAYAR BANGUN
BATARA GURU  Tuo Sakti mempunyai tujuh orang anak, salah satu seorang dari mereka bernama SINATUNG NATAK. Tersiarlah berita pada waktu itu, bahwa didusun Serik Seri Nato dekat dusun Sayak Mudo Belingai, kiri Bukit Kanan Laut, berdiam seorang putri yang sangat cantik molek bernama Putri Cerlik Cerilang Mato. Yang mana kecantikkan putri ini sampai kepada Bujang Sinatung Natak sehingga timbul hasratnya untuk bertemu dengan putri tersebut. Maka berangkatlah ia menuju dusun tempat putri itu, dan sesampai disana ia benar-benar melihat seorang gadis yang cantik molek berada dibalai dusun.
 Dengan tidak memikirkan bahaya yang mengancam dirinya dan terpesona oleh kecantikan putrid yang ia lihat, ia segera mendekatinya dan bercakap-cakap serta bersenda gurau dengan putri cantik itu.
 Hal ini disampaikan oleh orang kepada tunangan putri itu, bernama Sinatung Bakas, yang segera menuju balai dusun, dibalai didusun dia melihat seorang anak muda yang tampan sedang memainkan serulingnya di depan tunangannya.
Dengan hati marah, anak muda itu dibunuhnya kemudian mayatnya dikuburkan dibawah balai dan di atasnya ditimbun dengan bangkai-bangkai binatang.
Pembunuhan tersebut diketahui oleh Batara Guru, karena saktinya, maka berangkatlah beliau beserta beberapa anaknya menuju tempat kejadian guna menuntut balas, sampai disana rakyat dan rajanya mengingkari tuduhan pembunuhan yang diceritakan oleh Batara Guru.
Mendengar hal ini maka salah seorang anak Batara Guru menyumpit dan sumpitnya itu jatuh ke tanah di bawah balai tempat kuburan saudaranya itu berada. Kuburan itu segera digali dan mayat Sinatung Natak ditemui masih dalam keadaan utuh yang dalam bahasa daerahnya dengan kata : rupo idak berubah, panau-panau masih ado.
Setelah ada bukti maka rakyat dan raja mengakui kesalahan mereka dan bersedia mengganti kerugian berapa saja yang diminta, setelah mereka menceritakan dudukperkara yang sebenarnya mengapa sampai terjadi peristiwa pembunuhan tersebut.
Batara Guru sebagai orang yang arif dan bijaksana dapat menerima peristiwa itu, belaiu tidak menuntut balas ganti nyawa, tetapi menetapkan ganti rugi sesuai dengan permintaan si pembunuh. Maka ditetapkan tiap-tiap panau yang ada ditubuh mendiang anaknya itu dengan satu mata uang yang diletakkan ditalam.
Dengan kehendak Yang Maha Kuasa, panau habis diselidiki, simayat hidup kembali dan sesaat sesudah itu mati lagi. Uang yang ditalam dihitung ternyata berjumlah delapan puluh real.
Dengan adanya peristiwa tersebut maka adat bayar bangun bagi si pembunuh sebagai pengganti adat Gawah Mati atau dengan perkataan lain, nyawa dibayar nyawa tidak ada lagi, tetapi cukup dengan pengganti delapan puluh Real.
Bahwa adapt bayar bangun ini masih merupaknan hokum Adat pada masyarakat suku bangsa rejang dalam abad ke 18, dewasa ini adapt bayar bangun tidak dipakai lagi.
Di bawah pimpinan keempat biku itu juga, orang-orang yang berada dalam lingkungan pimpinan masing-masing disatukan. Semua rakyat dibawah pimpinan biku Sepanjang Jiwo dimana saja berada disatukan dibawah kesatuan TUBAI atau TUBEUI dan berpusat di PELABAI.
Rakyat di bahwa pimpinan Biku Bembo di mana saa meraka berada, disatukan di bawah kesatuan JURUKALANG dan berpusat di SUKANEGERI.
Rakyat dibawah pimpinan Biku Bejenggo  dimana saja mereka berada, disatukan dibawah kepemimpinan kesatuan SELUPU dan berpusat di BATU LEBAR dekat Anggung Kesambe wilayah rejang sekarang.
Rakyat dibawah pimpinan biku Bermani di mana saja berada, disatukan bi bawah pimpinan kesatuan BERMANI dan berpusat di KUTEUI RUKAM.

CERITA LEGENDA RAKYAT REJANG LEBONG

CERITA LEGENDA RAKYAT REJANG LEBONG
“MUNING RAIB”
Oleh 
JUMIRAWARLIZASUSI, M.Pd

            Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Malim Bagus berasal dari Dusun Curup yang terkenal pendiam tapi  ceroboh,  dilahirkan seorang ibu yang penyayang dan sabar terhadap anaknya dengan seorang suami yang temperamental.
            Di Balai Desa, pertunjukan tari Kejei sedang berlangsung. Para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan menari dengan gerakan yang lambat namun khidmad, diiringi irama musik kelintang yang mengalun dengan indah. Pesta Kedurai Agung pada malam itu benar-benar meriah, banyak masyarakat berkumpul di Balai Desa Dusun Curup, merayakan acara syukuran desa. Tak ketinggalan pula keluarga Labar dan Sauna, dengan anaknya yang sudah menjadi bujang yaitu Malim Bagus dan Malim Jayo.
            Malim Bagus asyik memperhatikan meja penei  yang berada di tengah-tengah penari. Para penari mengelilingi meja tersebut sambil menari dengan lemah gemulai. Di atas meja itu terdapat pisang mas, buah pinang, daun sirih, daun sitawar sidingin, daun beringin, tebu hitam dan parang. Semua atribut itu digantung di atas meja dan di atasnya berdiri payung kuning.
            Kemudian pandangan matanya beralih pada anak sangei yang cantik-cantik. Tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya.
            “Malim, kau dipanggil ayahmu dan ditunggu di sana !” laki-laki tersebut menunjuk ke arah tempat duduk yang cantik-cantik. Tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya.
            “Malim, kau dipanggil ayahmu dan ditunggu di sana !” laki-laki tersebut menunjuk ke arah tempat duduk ayah Malim berada. Dari kejauhan dilihatnya ayahnya sedang berbincang-bincang dengan keempat pamannya yang bernama Latar, Sitar, Ali Jayo, dan Ali Menang.
            Malim Bagus mendekati ayahnya dan ikut duduk bersila dengan paman-pamannya. Ia menyalaminya satu persatu, lalu menanyakan perihal panggilan ayahnya.
            “Malim, malam ini kau bertugas sebagai jenang, nanti setelah pertunjukan tari Kejei selesai, kau bantulah jenang yang lain untuk menghidangkan makanan” perintah ayahnya yang sangat berwibawa itu.
            “Baik, Ayah. “ jawab Malim Bagus patuh. Lalu ia kembali ke tempat duduknya semula dan bergabung dengan kawan-kawannya.
            Tak lama musik kelintang pengiring tari Kejei pun berhenti, pertanda tarian itu sudah berakhir. Malim Bagus beranjak dari tempat duduknya, dan bergabung dengan jenang yang lain. Ia mengambil sebuah talam, ikut menyusun hidangan ke atas talam, menatingnya ke hadapan tamu-tamu yang duduk bersila dan membuat kelompok-kelompok. Setelah beberapa kali meletakkan hidangan di depan tamu, ia dapat mengerjakannnya dengan baik. Namun setelah menyajikan di depan ayahnya, kakinya tersandung sesuatu, sehingga ia jatuh tersungkur mengakibatkan talam yang berisi air cuci tangan itu tumpah ruah. Hal ini membuat ayahnya marah besar karena dipermalukan anaknya yang ceroboh. Ayahnya menyuruh Malim Bagus pulang ke rumah, tanpa diizinkan lagi menyaksikan acara itu.
            Semenjak kejadian malam itu Malim Bagus selalu dimarahi ayahnya, semua yang dilakukan Malim Bagus serba salah. Tidak tahan menghadapi ayahnya, Malim Bagus memutuskan untuk pergi dari rumahnya.
            Saat pamit ia sebenarnya sedih meninggalkan orang-orang yang dicintainya yaitu ayah, ibu dan adiknya Malim Jayo, namun demi ketenangan di rumahnya maka ia mengalah, menghindari keributan.
            Sebelum berangkat ia berpesan pada adiknya : “Malim Jayo, kalau kau kelak mencariku, telusurilah pohon dan ranting yang sudah kutebang sepanjang perjalananku dan bunyikanlah lagu kesayangan kita dengan ginggongmu.”
            “Baiklah, Kak. Akan kuikuti perkataanmu. Hati-hatilah di jalan.” Pesan adiknya. Ibunya tidak tahan membendung air matanya. Isak tangispun melepas kepergian Malim Bagus. Tak ada bekal lain yang dibawanya selain parang, ginggong dan baju sehelai di badan. Malim Bagus pamit pada salah satu pamannya Adi Jayo, ia mohon doa restu.
            Sepanjang perjalanan ia memotong pohon-pohon dan ranting-ranting kayu yang mengganggu dengan parangnya yang telah diasah terlebih dahulu.
            Perjalanan yang tak tentu tujuan itu, ternyata melelahkan Malim, hingga sampailah ia pada sebuah bukit, ia duduk di atas sebuah anggung membunyikan ginggongnya sebagai pengobat lelahnya. Ia membawanya ke sebuah istana dalam bukit tersebut. Iapun menikah dengan penghuni bukit itu.
            Sepeninggal Malim Bagus, ibunya jatuh sakit karena selalu memikirkan anaknya. Matanya sulit terpejam dan tidak mau makan. Pada suatu, kala ia bisa tidur nyenyak ia bermimpi bertemu dengan anaknya di sebuah bukit di balik bukit.
            Keesokan harinya, dipanggilnyalah anaknya Malim Jayo, diceritakannya mimpinya.
            “Kakakmu masih hidup, dia sekarang berada di dataran arah matahari hidup, di balik bukit ada bukit. Kau carilah dia di sana. Kau katakan padanya bahwa dia harus pulang, kalau dia sudah kawin bawalah sekalian istrinya. Kita akan mengadakan pesta perkawinannya.”
            “Ibu, demi kesehatan ibu apapun akan aku lakukan. Aku akan mencari kakak ke sana. Doakan agar aku berhasil membawa pulang kakakku. Aku pergi bu, Assalammualaikum.” Malim Jayo pamit sembari mencium tangan ibunya.
            Parang dan ginggong menyertai kepergian malim Jayo sesuai pesan kakaknya, ia telusuri dengan mudah jalan-jalan yang dilalui kakaknya karena ditandai oleh ranting kayu dan pohon-pohon yang masih berserakan di jalan.
            Sampai pada tujuan seperti yang disebutkan ibunya, yaitu pada sebuah bukit  di balik bukit, ia duduk di atas sebuah anggung, persis di tempat kakaknya duduk betarak. Malim Jayo memainkan ginggong miliknya dengan lagu kesayangan kakaknya
            Sayup-sayup suara ginggong itu terdengar oleh Malim Bagus. Ia kaget mendengar suara alunan ginggong adiknya. Ditemuinyalah adiknya itu, dan dibawanya ke istana tempat ia tinggal. Heran Malim jayo melihat keadaan kakaknya, seolah tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.
            Diutarakanlah maksud kedatangan Malim Jayo dan diceritakan keadaan ibunya yang jatuh sakit karena memikirkan kakaknya. Malim bagus semula tidak mau pulang, namun setelah dirundingkan dengan istrinya, akhirnya disanggupinya keinginan ibunya.
            “Baiklah, aku dan istriku akan pulang saat purnama akan muncul. Persiapkanlah pesta pernikahan kami, dengan catatan jangan sekali-kali memasak sayur pakis dan rebung, karena makanan itu merupakan pantangan istriku.”
            “Baiklah, Kak. Akan aku sampaikan semuanya pada ayah dan ibu di rumah. Kami benar-benar sangat mengharapkan kepulangan kakak bersama kakak ipar”. Malim Jayo akhirnya pamit pulang menemui orang tuanya.
            Sampai di rumah, didapatinya ibunya masih terbaring di atas tempat tidur bambu, badannya semakin kurus saja. Ayahnya sedang menunggui ibunya. Malim Jayo lalu menceritakan pertemuan dengan kakak dan istrinya. Bukan main senang hati ibunya mendengar anaknya yang sulung itu akan pulang dengan membawa istrinya. Malim Jayo juga menceritakan menceritakan pantangan kakak iparnya itu agar tidak memasak sayur pakis dan rebung selama berada di rumah orang tuanya ini. Serta merta ibunya sembuh dari sakitnya dan memerintahkan ayahnya untuk berunding dengan tuei dan kutei guna merencanakan pesta pernikahan anak pertamanya itu yang akan dilaksanakan secara adat saat bulan purnama akan muncul.
            Setelah kata sepakat dicapai, maka diumumkanlah kepada masyarakat bahwa Malim Bagus yang telah pergi akan pulang dengan membawa calon istrinya. Namun perihal larangan yang diungkapkan Malim Bagus dirahasiakan mereka kepada orang lain.
            Ketika bulan purnama akan muncul, masyarakat sibuk bergotong royong mempersiapkan acara pernikahan keluarga  Labar itu. Kaum lelaki mencari kayu dan membuat tarub sedangkan kaum wanita mencari bahan-bahan masakan di hutan. Karena ketidaktahuannya, mereka juga mengambil sayur pakis dan rebung yang mereka dapati di hutan dan kemudian memasaknya.
            Akhirnya saat yang dinanti-nantikan tiba, Malim Bagus muncul ke rumahnya yang sudah dipenuhi banyak orang. Namun saat ia sampai di pintu pagar semua orang merasa heran, karena belum juga melihat istri Malim Bagus.
            “Malim, mana istrimu?” tanya ibunya setelah disalami anaknya.
            “Ini istriku yang sedang menggamit lenganku.” Jawab Malim Bagus.
            Ibunya dan orang-orang keheranan karena melihat Malim Bagus muncul tidak didampingi istrinya, yang bisa melihat itu hanyalah Malim Bagus, karena istrinya adalah makhluk halus berupa dewa.
            Akan tetapi setelah sampai di pintu rumah, istrinya menjelma menjadi makhluk kasar berupa manusia yang berwajah cantik, berkulit putih mulus dan tinggi semampai. Penganten wanita itu menggamit lengan malim Bagus dengan mesra dan tersenyum ramah pada semua orang yang hadir di situ.
            “Malim, cantik sekali istrimu!” kata ibunya. Orang-orang saling berebut ingin menyaksikan istri Malim yang cantik dan berdecak kagum seolah tidak percaya terhadap apa yang mereka lihat.
            Upacara perkawinan secara adatpun dilaksanakan dengan baik. Penganten wanita diminta harus melangkahi sarung mertua laki-laki yang diberikan padanya sebanyak tiga kali, dan itu bisa dilaksanakannya dengan baik. Setelah mengikuti serangkaian upacara sakral itu, kedua penganten dipersilahkan untuk makan.
            Hidangan diletakkan di depan penganten. Penganten wanita menuangkan nasi ke piring yang tersedia, kemudian membuka tutup tempat sayur yang terbuat dari kayu dan bermaksud untuk mengambilnya. Alangkah kagetnya ia melihat ada sayur pakis dan rebung. Ia langsung menutup kembali sayur itu.
            “Kak, berarti kau dan  keluargamu tidak sayang padaku. Sudah kukatakan padamu apa yang menjadi pantanganku, namun diindahkan. Untuk itu kuucapkan selamat tinggal”.
            Setelah itu istrinya terbang ke angkasa dan menghilang meninggalkan suaminya. Semua mata tertuju pada istrinya sampai tidak tampak lagi wujudnya.
            “Tunggu aku istriku. Aku akan ikut kemanapun kau pergi” Malim Bagus berteriak memanggil istrinya, kemudian Malim sambil berlari melambaikan tangannya kepada keluarganya dan semua orang  yang hadir di situ. Ia tidak lagi memperdulikan orang tua dan adiknya yang berteriak menahannya pergi. Ia menyusul istrinya ke bukit tempat istana dimana istrinya berada. Bukit itu sekarang dikenal dengan Bukit Kaba.
            Setelah Malim Bagus pergi meninggalkan hajatan pernikahannya, masyarakat menertawakan Labar dengan sinis, karena kedua penganten tidak lagi berada di tengah-tengah mereka, telah melarikan diri. Lebih sakitnya lagi, Labar  diolok-olok mempunyai menantu orang bunian atau makhluk halus. Tamu-tamupun satu persatu meninggalkan rumahnya dengan perasaan kecewa.
            Merasa sudah dua kali dipermalukan anaknya itu, Labar marah sekali. Lalu ia mengajak saudara-saudaranya Latar, Sitar, Ali Jayo dan Ali Menang ke sebuah sungai di Air Duku dengan membawa sesajian. Di sana mereka membakar kemenyan di atas dupa dan mengucapkan sumpah serapah itu, sesajian dihanyutkan ke sungai Air Duku. Hingga sekarang masih diperhatikan mitos larangan bagi bujang gadis yang berasal dari Dusun Curup dilarang menaiki Bukit Kaba karena ketakutan mereka akan kehilangan putra-putrinya seperti raibnya Muning (paman) mereka.
            Demikianlah kisah legenda Muning Raib artinya hilangnya seorang paman di Bukit Kaba.

Kerak Emas Cincin Api

Lubang kacamata, bekas tambang emas di Lebong. (Dok. SyamAR)
Bisa dibilang, sumber emas — di belantara Bengkulu, kaki cincin api gugusan Kerinci-Seblat— itu sudah di depan hidung William Marsden dan Thomas Stamfort Raffles. Tapi luput dari pengamatan dua pencatat hebat yang lama bermukim di Bencoolen (sekarang Bengkulu). Mereka lebih banyak membahas dataran tinggi minangkabau sebagai sumber emas Sumatra. Raffles bahkan mblusuk ke tambang-tambang emas di wilayah yang saat itu dikuasai kerajaan Pagaruyung.
Marsden si Irlandia, 8 tahun bermukim di Bengkulu (1771 – 1779). Kesukaannya mencatat kelak menjadi buku terpuji sebagai catatan mendalam pertama tentang Sumatra; History of Sumatra. Raffles sedikitnya 6 tahun menjabat sebagai orang pertama di Bengkulu. Antara 1818 hingga 1824. Selain mewariskan karya tulisnya yang gemilang, History of Java, Raffles banyak menuliskan catatan perjalanannya di Sumatra. Keduanya luput soal emas Lebong.
Memang emas di pedalaman Bengkulu itu baru dieksploitasi secara besar-besaran jauh setelah Raffles meninggalkan Bengkulu. Hampir tigaperempat abad sejak Bengkulu diberikan ke Belanda oleh Inggris, ditukar Singapura. Tapi hikayat penambangan emas di Lebong sebenarnya berkait dengan upaya kerajaan Pagaruyung —yang disambangi Raffles— mencari tambang emas baru.
Dikisahkan, sekitar abad ke-13, raja Pagaruyung Sultan Daulat Mahkota Alamsyah memerintahkan Tuanku Imbang Jaya untuk mencari daerah baru yang tanahnya mengandung emas di daerah Kerinci, Jambi. Setelah menemukan tambang emas di Kerinci, perburuan bijih emas pun dilanjutkan ke daerah lain. Hingga mencapai pedalaman Lebong, Bengkulu.
Tambang-tambang emas kuno itu kemudian berangsur sepi penambang. Gempa bumi yang meruntuhkan lubang-lubang tambang menjadi momok selain harimau. Kedua momok ini masih kerap muncul hingga kini. Beberapa tahun lalu, seorang kawan penggiat lingkungan di Bengkulu mengaku suatu kali tak berani membuat peta kawasan hutan dekat kawasan tambang itu. Musim harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) masuk kampung, katanya.
Kawasan tambang kuno itu makin ditinggalkan setelah Inggris menguasai Bengkulu, pada abad ke-17. Penduduk Lebong lebih suka berkebun atau mengumpulkan hasil hutan yang banyak dicari Inggris, damar, rotan, pala, dll. Tapi kegiatan penambangan emas tetap dilakukan oleh sejumlah kecil penambang, yang kelak merangsang para pengusaha tambang Belanda mengejar urat emas di tambang-tambang kuno dan yang disebut-sebut dalam cerita-cerita rakyat.
Muara Aman
Singkat cerita, singgahlah saya ke Lebong diantar beberapa karib. Di kota Muara Aman. Tak jauh dari kawasan Taman Nasional Kerinci – Seblat. Kota ini kecil saja. Tak memberi kesan ia pernah menjadi kota terbesar kedua se-wilayah Bengkulu, sebagai pusat ekonomi penting pada awal abad ke-20.
Keramaian terpusat di pasar berpampilan sederhana. Tak beda dengan pasar-pasar lain di kawasan ulu sungai di Sumatra. Bangunan pertokoan masih sederhana, tak penuh ruko “kotak sabun” macam di kota-kota ilir sungai. Di ibukota kabupaten Lebong ini, pasar masih didominasi bangunan kayu satu lantai. Beratap seng yang sebagian besar dihitamkan karat.
Banyak toko emas perhiasan, sembako, pakaian, dan barang kelontong. Di satu toko kelontong tampak sebagian sisi luar penuh bergelantung sapu ijuk bertangkai kayu. Pasar juga menjadi tempat tumbuh kios-kios penjual keping CD film dan lagu. Mereka menambah perbendaharaan bunyi bagi para pelintas. Dari beberapa arah terdengar lagu-lagu pop yang sedang populer hingga irama “melayu kocok”, iramanya melayu musik penggiringnya lebih mirip bunyi cengat-cenget mesin.
Di pasar Muara Aman kami mendapat petunjuk arah ke satu titik tambang terdekat. Penanda tambang pun terlihat di sebuah toko di pinggir jalan yang menjual gelundung, silinder besi yang banyak dipakai dalam proses pengolahan bijih emas.
Sejurus kemudian tampak sebuah tugu berdiri di tengah jalan. Miniatur Monumen Nasional (Monas). Saya bersorak dalam hati karena teringat satu cerita. Emas yang di puncak Monas disebut-sebut berasal dari tanah Lebong. Entah benar tidaknya. Tapi sejarah juga mencatat bahwa 38 kg emas di puncak Monas adalah dari seorang Aceh kaya, Teuku Markam.
Tugu kecil penghadang jalan menjadi semacam penanda kawasan tambang, saya kira. Tapi kami pikir lebih baik bertanya lagi. Hendri, satu kawan, turun dari Mobil. Lalu, menyapa seorang ibu, “punteeen!”
Saya tergeli. Bisa-bisanya dia pakai bahasa Sunda di kawasan ulu sungai Musi ini. Kecil kemungkinan ada yang mengerti.
Si ibu paruh baya dengan riang menyambut. Pakai bahasa Indonesia. Tapi, logat Sunda kental, euy! Ia tampak gembira, mengira bertemu orang sedaerahnya. Untunglah Si Ibu pakai bahasa Indonesia. Kalau Sunda, kawan saya nyaho! Hendri hanya bisa meniru logat Sunda. Mungkin ia dapat dari pergaulannya, atau dari sinetron di tivi. Tapi, omong Sunda… Hendri teuk tiasa!
Di dalam lubang kacamata (dok. SyamAR)
Akhirnya, tiba di desa Lebong Tambang atau juga disebut Lebong Donok. Dua kilometer saja dari kota Muara Aman. Di kiri jalan tampak dinding batu berwarna abu-abu kekuningan dengan gurat merah karat di sana-sini dipadu rona warna lumut. Dari kejauhan tampak sepasang lubang raksasa di sisi tebing. Sekilas mirip kacamata. Warga setempat menyebutnya lubang kacamata.
Inilah salah satu titik ziarah yang saya tuju!
Lubang kacamata berada di ketinggian 4 meter dari kaki bukit batu. Lubang buatan pada pertambangan emas yang dibuka Belanda sekitar tahun 1905 – 1913. Mungkin bergungsi sebagai pintu masuk, mungkin sebagai lubang udara (ventilasi). Di dalamnya berupa gua dengan bentuk tak beraturan dan bercabang-cabang. Beberapa bagian gua cukup luas. Bahkan ada ruangan selebar kurang lebih 4 meter dengan atap setinggi 2 – 3 meter. Ada beberapa cabang yang arahnya ke vertikal ke bawah. Menurut masyarakat kedalamannya mencapai 50 meter. Tidak terlalu dalam jika dibandingkan dengan lubang tambang di kawasan Lebong Tandai. Di sana, Mijnbouw Maatschappij Simau, perusahaan tambang Belanda, mengejar urat emas dengan menggali ke bawah hingga 16 level. Kedalaman 1 level kurang lebih 40 meter.
Lubang (tambang) kacamata merupakan salah satu jejak kegiatan tambang masa Hindia-Belanda. Pada masa kejayaan perusahaan tambang Belanda, dari sana bisa diraup emas sekitar 10 kilogram per hari. Pada tahun 1942 kegiatan penambangan oleh Belanda berhenti. Belanda pergi terusir kalah oleh Jepang. Selanjutnya penambangan dilakukan masyarakat. Hingga akhir dekade 1950-an, usaha penambangan rakyat masih bisa menghasilkan pada kisaran 2 – 10 gram bijih emas per hari.
Kini lubang kacamata lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Kalau pun ditambang, hampir tidak ada hasilnya. Begitu kata warga setempat. Kebetulan ada dua lelaki melintas di jalan kecil depan lubang kacamata. Langkah mereka cepat, badan agak terbungkuk memanggul karung. Noda tanah basah rembes mewarnai luar luar karung. Isinya pasti batu galian emas.
Mereka memang baru pulang dari lubang tambang. Tempatnya jauh dari lubang kacamata. “Di atas bukit sana!” kata mereka sambil berusaha menoleh tak utuh ke arah berlawanan dengan langkah kaki.
Mengais kerak emas
Areal PT. Tansri Madjid Energi (dok. SyamAR)
Meski masyarakat tak lagi mengejar urat emas di kawasan dekat lubang kacamata, beberapa perusahaan tambang agaknya berpikir lain. Selang beberapa meter dari lubang kacamata, ada areal yang dipagari seng bercat biru. Portal besi dan pos penjaga diam di sana. Ada sebuah papan nama bertulis “Wilayah Kuasa Pertambangan Eksploitasi Bahan Galian Emas — PT. Tansri Madjid Energi”. Areal berpagar seng tidak terlalu luas. Tak genap 1 hektar. Di dalamnya ada satu lubang pintu masuk ke gua tambang tua. Masih tebal kah ‘kerak‘ emas di sana?
Areal itu dijaga Nurhasani, warga setempat. Umurnya 60-an. Nenek moyangnya asli Lebong. Dari tangannya yang kulit lengan sudah mengeriput, saya sambut 3 keping batu lempeng seukuran biskuit. Dikasih lihat. Mengandung emas, katanya. Kadar rendah. Sudah dua tahun eksplorasi dilakukan tapi belum ada kepastian bahwa perusahaan tempatnya bekerja akan membuka tambang di sana.
“Masih terus diteliti,” katanya pelan sambil memandangi batu mirip pualam putih susu dengan garis-garis halus warna gelap dan kehijauan. Sinar matanya meragukan kemasyhuran tambang emas di tanah kelahirannya itu akan kembali berkilau.
Sekitar tiga ratus meter dari lokasi yang dijaga Nurhasani, ada papan lain yang menerangkan proyek penyelidikan pendahuluan PT. Palapa Minerals. Ada logo hijau bertulis SCG berwarna emas dan tulisan Sumatra Copper and Gold Limited.
Di belakang papan nama ada sebuah rumah. Ada pondok sederhana di sebelahnya, tempat gelundung berputar pelan. Seorang lelaki usia 30-an tahun sibuk menyorong batu untuk ditumbuk oleh alu yang bergerak mekanis. Alu dan gelundung digerakkan turbin yang didorong air.
Iis dan gelundung (dok. Abz Achingae)
Lelaki itu bernama Iis. Sekali dalam tiga hari dia mengolah batu-batu yang mengandung emas. Batu ditumbuk hingga halus menyerupai butir pasir bercampur tepung batu. Material itu kemudian dimasukkan ke dalam gelundung melalui lubang yang dapat dikunci. Dimasukkan pula air kurang lebih setengah volume gelundung. Gelundung sebenarnya sebuah tabung ber-as sehingga dapat di putar. Pada bagian dalam tabung terdapat beberapa batangan besi, biasanya terbuat dari as mobil bekas. Para penambang menyebut batang-batang besi itu sebagai ‘pelor’. Fungsinya untuk menggerus material batu halus, hingga bijih emas mudah terpisah dari material batuan dan tanah. Kurang lebih tiga jam kemudian, air ditambah hingga tiga per empat volume gelundung. Dicampurkan pula merkuri untuk mengikat material emas dalam proses ekstraksi logam mulia ini. Sekitar tiga atau empat jam kemudian air berikut batuan yang sudah halus dikeluarkan dari gelundung dan ditampung dalam wadah yang biasanya berupa baskom.
Di dalam air biji emas punya bobot lebih berat ketimbang material batu, apalagi dibanding material tanah. Langkah selanjutnya adalah memisahkan material emas yang terikat merkuri dari ‘kotoran’ berupa material batuan dan tanah. Caranya dengan terus mengalirkan air ke dalam baskom secara perlahan hingga air meluap membawa hanyut material kotoran, dalam wujud air keruh. Bila air baskom berubah jernih, air ditiriskan untuk didapat larutan merkuri dan emas yang lalu ditampung di kain kemudian diperas. Dapatlah emas yang masih terselubung merkuri. Penambang bisa langsung menjualnya, bisa pula memurnikan emasnya terlebih dahulu. Lalu dijual ke pembeli, umumnya toko emas.
Rata-rata tiap tiga hari —dua hari mencari batu di lubang tambang dan satu hari mengolah batuan di gelundung— Iis dapat 3 gram emas. “Banyak itu,’ cetus saya. Di kepala saya muncul perkiraan harga pasaran logam mulia itu.
“Mutu emasnya rendah. Satu gram harganya tujuh puluh lima ribu,” sahut Iis datar. Nadanya biasa. Sekonyong-konyong seolah hendak menggunting kekaguman saya. “Kadang malah dapat (emas) kurang dari 3 gram.”
Saya pikir masih untung Iis tak keluar biaya untuk kebutuhan energi gelundung. Di beberapa lokasi tambang, beberapa kawan menggunakan tenaga listrik untuk memutar gelundung. Seribu Watt. Sekitar 30 % biaya operasional bisa habis cuma untuk listrik. Iis juga tak capek menumbuk batuan mengandung emas dengan palu seperti penambang yang saya temui di kawasan dalam Sukabumi, atau Purwokerto. Jika pun Iis memakai palu, pastinya sangat berat. Sebab, emas di kawasan Lebong macam yang diolah lelaki itu, lekat di batuan keras. Sedang pada beberapa lokasi tambang emas rakyat yang saya tahu, batuannya boleh dibilang lunak. Kadang didominasi tanah.
Iis juga punya sawah. Sepetak kecil. Persis di sebelah pondok tempat gelundung emas miliknya. Hasilnya kata Iis tak banyak. Saat saya bertandang ke sana, sawah itu sedang tidak digarap. Rumpun padi sisa disabit tampak coklat lapuk di antara rumput. Di satu sudut sawah ada lubang agak lebar, tapi dangkal. Semula saya pikir sumur air. Ternyata bukan! Tanah galian di sawah itu juga diproses di gelundung. Ada emasnya tapi kadarnya rendah sekali. “Lumayan untuk tambahan, terutama saat tak bisa mengambil batuan emas di lubang tambang yang letaknya jauh,” tutur Iis.
Iis juga berdarah Sunda. Keturunan penambang emas pula. Kata Iis, hampir semua penambang emas rakyat di desa Lebong Tambang berdarah Sunda. Saya teringat ibu penunjuk jalan di dekat miniatur tugu Monas yang juga berbicara dengan logat Sunda. Teringat pula pada kawan-kawan pemburu urat emas dari kampung-kampung dekat Cijapun —kebun kecil yang saya kelola— di pedalaman Selatan Sukabumi. Mereka sanggup menyeberang pulau bila dapat kabar tentang tempat penambangan baru. Ke Bombana Sulawesi Tenggara hingga beberapa tempat di Nusa Tenggara. Salah satu kawan yang ketika terakhir bertemu sedang sibuk membangun rumah dari hasil mengejar urat emas di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatra Utara… mengabarkan ia bersiap mengejar urat emas di satu pelosok Atjeh.
Anak-anak Lebong (dok. SyamAR)
Ternyata banyak penduduk Lebong yang berasal dari suku Sunda. Kedatangan mereka berhubungan erat dengan sejarah eksploitasi emas pada zaman kolonial Belanda. Dimulai sejak beroperasinya Perusahaan Tambang Redjang Lebong (Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong) setelah satu tahun melakukan eksplorasi. Perusahaan milik pengusaha Belanda ini mendatangkan orang Sunda dari Jawa Barat dan orang Cina Singapura untuk dijadikan kuli tambang. Tahun-tahun berikutnya bermunculan pula perusahaan tambang Belanda, baik milik pemerintah maupun swasta. Salah satunya Mijnbouw Maatschappij Simau atau Perusahaan Tambang Simau. Geliat tambang mendatangkan lebih banyak penduduk dari Pulau Jawa, baik suku Sunda maupun Jawa. Ditambah dengan program transmigrasi untuk kuli perkebunan di sekitar sana, makin banyaklah kampung orang Sunda dan Jawa tumbuh.
Tidak sukar menerka bagaimana keadaan di kawasan ini sebelum era pertambangan skala besar. Pastilah sepi. Kebanyakan kota di Sumatra tumbuh pada dua tempat saja. Di sisi laut atau dibelah sungai yang mudah untuk moda transportasi sungai. Selebihnya, kota-kota tumbuh karena aktifitas perkebunan atau pertambangan di era kolonialisasi. Muara Aman dan sekitarnya, tumbuh karena tambang. Lalu seperti kota tambang lainnya, macam Sawahlunto, ‘batavia kecil’ Tandai, dan beberapa titik lain di sepanjang cincin api. Bahan tambang habis kota (pelan-pelan) binasa.
Dari pedalaman Bengkulu ini memang tak semua perusahaan tambang Belanda beroleh untung. Tapi setidaknya dua perusahaan, Redjang Lebong dan Simau, berhasil meraup 130 ton emas selama berproduksi kurang dari setengah abad (1896-1941). Perusahaan pergi membawa hasil, penduduk mengais-ngais kerak emas tersisa.
Nasib kota-kota tambang, tak ubahnya kisah-kisah dalam roman percintaan yang berakhir tak bahagia pada banyak buku. Lebih dari cukup untuk pembelajaran bagi bangsa ini untuk menata-ulang pemahaman tentang pengelolaan hasil tambang. Sementara catatan ini saya rampungkan, beberapa kawan penggiat lingkungan di Bengkulu setengah menyesalkan kenapa saya tak sampai ke kawasan Lebong Tandai. Tempat paling monumental dan massif dalam sejarah pengerukan emas di belantara Bengkulu. Padahal, kata mereka, Lebong Tandai sudah tak jauh dari depan hidung saya saat itu. Aduh!

SEJARAH LEBONG

Suku bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa karangan-karangan tertulis mengenai Rejang dapatlah dipastikan bahwa asal usul suku bangsa Rejang adalah di Lebong yang sekarang dan ini terbukti dari hal-hal berikut :

* John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779), memberikan keterangan tentang adanya empat Petulai Rejang, yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (selupu) dan Toobye (Tubay).
* J.L.M Swaab, Kontrolir Belanda di Lais (1910-1915) mengatakan bahwa jika Lebong di angap sebagai tempat asal usul bangsa Rejang, maka Merigi harus berasal dari Lebong. Karena orang-orang merigi memang berasal dari wilayah Lebong, karena orang-orang Merigi di wilayah Rejang (Marga Merigi di Rejang) sebagai penghuni berasal dari Lebong, juga adanya larangan menari antara Bujang dan Gadis di waktu Kejai karena mereka berasal dari satu keturunan yaitu Petulai Tubei.
* Dr. J.W Van Royen dalam laporannya mengenai “Adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” pada pasal bengsa Rejang mengatakan bahwa sebagai kesatuan Rejang yang paling murni, dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu Bang dan harus diakui yaitu Rejang Lebong.

Pada mulanya suku bangsa Rejang dalam kelompok-kelompok kecil hidup mengembara di daerah Lebong yang luas, mereka hidup dari hasil-hasil Hutan dan sungai, pada masa ini suku bangsa Rejang hidup Nomaden (berpindah-pindah) dalam tatanan sejarah juga pada masa ini disebut dengan Meduro Kelam (Jahiliyah), dimana masyarakatnya sangat mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam dan lingkungan yang tersedia.

Barulah pada zaman Ajai mereka mulai hidup menetap terutama di Lembah-lembah di sepanjang sungai Ketahun, pada zaman ini suku bangsa Rejang sudah mengenai budi daya pertanian sederhadan serta pranata sosial dalam mengatur proses ruang pemerintahan adat bagi warga komunitasnya. Menurut riwayat yang tidak tertulis suku bangsa Rejang bersal dari Empat Petulai dan tiap-tiap Petulai di Pimpin oleh seorang Ajai. Ajai ini berasal dari Kata Majai yang mempunyai arti pemimpin suatu kumpulan manusia.

Dalam zaman Ajai ini daerah Lebong yang sekarang masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis atau sering juga di sebut sebagai Kutai Belek Tebo. Pada masa Ajai masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan merupakan suatu masyarakat yang komunal didalam sisi sosial dan kehidupannya sistem Pemerinatahan komunial ini di sebut dengan Kutai. Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai. Walaupun sebenarnya dalam penerapan di masyarakat seorang Ajai dan masyarakat lainnya kedudukannya tidak dibedakan atau dipisahkan berdasarkan ukuran derajad atau strata.

Sungguhpun demikian pentingnya kedudukan Ajai tersebut dan di hormati oleh masyarakatnya, tetapi masih dianggap sebagai orang biasa dari masyarakat yang diberi tugas memimpin, ke empat Ajai tersebut adalah:

* Ajai Bintang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Pelabai suatu tempat yang berada di Marga Suku IX Lebong
* Ajai Begelan Mato memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Kutai Belek Tebo suatu tempat yang berada di Marga Suku VIII, Lebong
* Ajai Siang memimpin sekumpulan manusai yang menetap di Siang Lekat suatu tempat yang berada di Jurukalang yang sekarang.
* Ajai Malang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Bandar Agung/Atas Tebing yang termasuk kedalam wilayah Marga Suku IX sekarang.

Pada masa pimpinan Ajai inilah datang ke Renah Sekalawi empat orang Biku/Biksu masyarakat adat Rejang menyebutnya Bikau yaitu Bikau Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano. Dari beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan Majapahit namun beberapa tokoh yang ada di Lebong berpendapat tidak semua Bikau ini bersal dari Majapahit. Dari perjalan proses Bikau ini merupakan utusan dari golongan paderi Budha untuk mengembangkan pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal.

Melalui strategi para utusan Menteri Kerajaan seharusnya tidak lagi berusaha untuk menyebarkan kebudayaan serta bahasa Jawa. Oleh karena itu golongan paderi Budha yang memiliki tindakan yang tenang dan ramah tamah, dengan mudah dapat diterima dan masyarakat Rejang. Terbukti bahwa keempat Biku tersebut bukanlah mempunyai maksud merampas harta atau menerapkan upeti dan pajak terhadap Raja Majapahit, namun mereka hanya memperkenalkan kerajaan Majapahit yang tersohor itu dengan raja mudanya yang bernama Adityawarman. Sewaktu mereka sampai di Renah Sekalawi keempat Biku tersebut karena arif dan bijaksana, sakti, serta pengasih dan penyayang, maka mereka berempat tidak lama kemudian dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai) dengan persetujuan penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.

* Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang
* Biku Bembo menggantikan Ajai Siang
* Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato
* Biku Bermano menggantikan Ajai Malang

Setelah dipimpin oleh empat Biku, Renah Sekalawi berkembang menjadi daerah yang makmur dan mulai produktif pertaniannya sudah mulai bercocok tanam, berkebun dan berladang. Sehingga pada saat itulah kebudayaan mereka semakin jelas dan terkenal dengan adanya tulisan sendiri dengan abjad Ka-Ga-Nga (sampai sekarang masih lestari dan di klaim menjadi tulisan asli Bengkulu).

Setelah keempat Biku terpilih untuk memimpin kelompok masyarakat mendapat sebuah tantangan dalam bentuk bencana wabah penyakit yang menyerang masyarakat. Bencana itu terjadi kira-kira akhir abad ke XIII, wabah penyakit yang banyak merenggut jiwa masyarakat tanpa memandang umur dan jenis kelamin. Menurut ramalan para ahli nujum setempat yang menyebabkan datangnya musibah itu adalah seekor beruk putih yang bernama Benuang Sakti dan berdiam di atas sebuah pohon yang besar di tengah hutan.

Untuk mencari jalan keluar atas bencana yang terjadi, keempat Biku itu bersepakatlah untuk mencari pohon besar tersebut dan segera menebangnya dengan sebuah harapan setelah ditebang dapat mengakhiri wabah yang terjadi. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar ke segala penjuru hutan dan akhirnya rombongan Biku Bermano sampai dan menemukan pohon besar yang mereka cari, mereka kemudian segera untuk menebang pohon besar itu, namun usaha mereka tidak berhasil menebang pohon tersebut karena semakin ditebang oleh kapak, pohon tersebut semakin bertambah besar, kejadian yang sama terjadi, setelah rombongan dari Biku Sepanjang Jiwo sampai di tempat yang sama dan mencoba untuk menebang pohon besar itu, disusul rombongan dari Biku Bejenggo tetapi pohon itu pun tidak juga roboh. Pada saat itu munculah rombongan terakhir yaitu Biku Bembo dan kepada mereka diceritakan kejadian aneh yang mereka alami dalam menebang pohon besar yang tidak mau roboh setelah ditebang bahkan pohon itu bertamah besar.

“Riwayat saat bertemu rombongan pimpinan Biku Bembo bertemu dengan ketiga rombongan di tempat ditemukannya pohon besar yang di atasnya ada beruk putih bernama Benuang Sakti berada terlontarlah kata-kata dalam bahasa Rejang: pro pah kumu telebong yang berarti di sini kiranya saudara-saudar berada. Sejak peristiwa itu Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong”.

Setelah diceritakan kejadian yang terjadi kepada rombongan Biku Bembo, mereka bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang terjadi itu dan bersepakat meminta petunjuk kepada Sang Hiang (Yang Maha Kuasa) supaya dapat mencari cara bagaimana menebang pohon besar itu supaya dapat ditebang. Cara yang dilakukan oleh keempat Biku itu adalah dengan betarak (bertapa), setelah betarak dilakukan mereka mendapat petunjuk pohon itu dapat ditebang kalau dibawahnya digalang/ditopang oleh tujuh orang gadis muda/remaja.

Setelah itu mereka bergegas menyiapkan segala sesuatu petunjuk yang didapat oleh Sang Hiyang termasuk bagaimana caranya mereka mencari akal supaya ketujuh gadis itu supaya tidak menjadi korban atau mati tertimpa oleh pohon besar yang akan dirobohkan. Selanjutnya mereka menggali parit untuk menyelamatkan ketujuh gadis penggalang itu. Setelah pekerjaan membuat parit dan ketujuh gadis siap untuk menggalang pohon yang akan dirobohkan, maka mulailah pohon besar itu ditebang dan sesungguhnya pohon itu roboh di atas tempat ketujuh gadis penggalang. Parit yang dibuat tepat di tempat rebahnya pohon besar yang telah ditebang telah menyelamatkan ke tujuh gadis dari maut dan terlindungi di dalam parit yang dibuat.

* “Peristiwa yang diriwayatkan di atas dijadikan awal dari pemberian nama bagi petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan rombongan pemimpin masing-masing dalam usaha menebang pohon besar dimana tempat bersemayam beruk putih Benuang Sakti”.
* Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.
* Petulai Biku Bermano diberi nama Bermani, asal kata ini dari bahasa Rejang “beram manis” yang berarti tapai manis.
* Petulai Biku Bembo diberi nama jurukalang, asal kata dari bahasa Rejang “kalang” yang berarti galang.
* Petulai Biku Bejenggo diberi nama Selupuei asal kata dari bahasa Rejang “berupeui-uoeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk.

Maka sejak saat itulah Renah Sekalawi bernama Lebong dan tercipta Rejang Empat petulai yang menjadi Intisari dan asal mula suku bangsa Rejang.

Kesepakatan yang di bangun setalah prosesi penebangan kayu Benuang Sakti ini semua rakyat di bawah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo di mana saja mereka berada di satukan di bawah kesatuan Tubey dan berpusat di Pelabai. Dengan kembalinya Bikau Sepanjang Jiwo ke Majapahit atau ada yang berpendapat ke bagian Majapahit Melayu yang berfusat di Pagar Ruyung, kepemimpinan Bikau ini kemudian di gantikan oleh Rajo Mengat atau Rajo Mudo Gunung Gedang yang kedatangannya dapat diperkirakan sekitar abad ke-15.

Baru setelah kepemimpinan Rajo Mengat ini yang digantikan oleh anaknya bernama Ki Karang Nio yang memakai gelar Sultan Abdullah akibat pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan untuk invansi wilayah, maka anak komunitas ini bertebaran dan membentuk komunitas-komunitas baru atas kesepakatan besar yang dilakukan di Lebong kemudian Petulai Tubey ini dipecahkan menjadi Marga Suku IX yang berkedudukan di Kutai Belau Saten, Marga Suku VIII di Muara Aman dan Merigi untuk pecahan Petulai Tubey di Luar wilayah Lebong.

Petulai Selupu tidak pecah dan tetap utuh walaupun anggota-anggotanya bertebaran ke mana-mana. Menurut riwayat Bikau Pejenggo yang mengantikan Ajai Malang ini berkedudukan di Batu Lebar di Kesambe yang merupakan wilayah Rejang, sedangkan Desa Administratif Atas Tebing include ke dalam wilayah adat Selupu Lebong yang merupakan wilayah desa yang berbatasan dengan wilayah adat Rejang Pesisir dan Desa Suka Datang berada dalam wilayah Marga Suku IX secara fisik berbatasan dengan wilayah Adat Bintunan Rejang Pesisir.

Sistem Kelembagaan Komunal/Adat

Dari resume yang ditulis di atas dapat diketahui bahwa asal usul suku bangsa Rejang dari Lebong dan berasal dari empat Petulai yaitu Jurukalang, Bermani, Selupu dan Tubey. Dari Tulisan Dr Hazairin dalam bukunya De Redjang yang mengutip tulisan dari Muhammad Husein Petulai di sebut juga dengan sebutan Mego.

Hal ini di perkuat juga dengan tulisan orang-orang inggris yang pernah di Bengkulu Marsden dan Raffles demikian juga dengan orang Belanda Ress dan Swaab menyebut juga perkataan Mego.

Petulai atau Mego ini adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilinial dan perkawinan yang eksogami, sekalipun mereka terpencar dimana-mana. Sistem eksogami ini merupakan syarat mutlah timbulya Petulai/clan sedangkan sistem kekeluargaan yang patrilineal sangat mempengaruhi sistem kemasyarakatan dan akhirnya mempengaruhi bentuk kesatuan dan kekuasaan dalam masyarakat.

Pada zaman Bikau masyarakat di atur atas dasar sistem hukum yang di buat berdasarkan azas mufakat/musyawarah, keadaan ini melahirkan kesatuan masyarakat hukum adat yang disebut dengan Kutai yang dikepalai oleh Ketuai Kutai. Kutai ini bersal dari Bahasa dan perkataan Hindu Kuta yang difinisikan sebagai Dusun yang berdiri sendiri, sehingga pengertian Kutai ini adalah kesatuan masyarakat hukum adat tunggal yang geneologis dengan pemerintahan yang berdiri sendiri dan bersifat kekeluargaan.

Pada Zaman kolonial kemudian sistem kelembagaan dan pemerintahan adat ini oleh Assisten Residen Belanda J. Walland (1861-1865) kemudian mengadopsi sistem pemerintahan lokal yang ada di wilayah Palembang dengan menyebut Kutai atau Petulai ini dengan sebutan Marga yang dikepalai oleh Pesirah. Dengan bergantinya sistem pemerintahan ini Kutai di ganti dengan sebutan Dusun sebagai kesatuan masyarakat hukum adat secara teroterial di bawah kekuasaan seorang Kepala Marga yang bergelar Pesirah. (team AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin, Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)