WISATA Suban Air Panas yang berada di kabupaten Rejang Lebong propinsi Bengkulu tak hanya memancarkan aura keindahan dan kesejukan. Namun lokasi ini juga menyimpan cerita batu peninggalan yang banyak diyakini mengandung nilai mistis.

Suban Air Panas berada di jalan lintas Curup-Lubuk Linggau dengan jarak tempuh sekitar 6 Km dari Kota Curup (Ibu kota kabupaten Rejang Lebong) atau sekitar 90 Km dari Provinsi Bengkulu. Obyek wisata ini memiliki luas sekitar 30 Ha dan dibuka untuk umum sejak tanggal 1 Nopember 1967.
Di sini, terdapat dua buah peningalan Suku Rejang yaitu Batu Megalitikum dengan lokasi berbeda. Batu pertama terdapat di bagian bawah. Batu megalitikum di lokasi pertama ini juga sering disebut dengan “Tri Sakti”. Seratus meter dari lokasi pertama, terdapat pula satu lagi batu megalitikum yang dikenal dengan nama “batu menangis” atau “Putri Selangkah”
Pada dokumentasi yang dibuat kolonial Belanda (Tropen Museum) tahun 1931 terdapat keterangan bahwa batu tersebut merupakan peninggalan Pasemah. Namun menurut pengelola Suban Air Panas,Surya Johan ST keterangan itu tidaklah benar. Sebab batu megalitikum ini terdapat di daerah sukuRejang berada. Adalah hal aneh bila orang (suku Pasemah) yang tak ada di daerah tersebut dikatakan membuat batu tersebut. Menurutnya, batu Tri Sakti memiliki cerita tentang tiga orang hebat yakni Sebei Teret, Sebei Tikis dan sebei Bitan yang hinga kini dipercayai dapat memberikan pertolongan kepada pengunjung. Bahkan hingga saat ini, masih ada beberapa warga yang meminta pertolongan denagan membawa beberapa sesajian ke tempat keramat itu.
Sedangkan Batu Menangis atau sekarang disebut “Putri Selangkah”, konon katanya dulu batu tersebut dijadikan tempat merenung dan menangis sang putri yang bernama Gemercik Emas yang tidak mau dijodohkan dengan Putra Gambir Melang yang merupakan putra Suku Rejang. “Kenapa dikatakansekarang ia Putri Selangkah, karena dahulu setiap putri tersebut hendak pergi ke arah empat penjuru mata angin baru selangkah putri itu berjalan, kemudian langsung menghilang dan telah sampai di tempat tujuan,” kata Johan saat ditemui minggu (16/10) kemarin
Diakui Johan, dulu batu itu memang sering mengeluarkan air. Sebagian warga mempercayai, batu itu merupakan air mata Putri Selangkah. Hanya saja, saat ini batu itu sudah jarang mengeluarkan air. “Air Putri Selangkah ini juga diyakini bisa melancarkan urusan jodoh. Pengunjung biasa mengusapkan air dari batu itu ke alis mata,” kata Johan.
Selain tempat sejarah, lokasi wisata Suban Air Panas juga memiliki fasilitas seperti tersedianya sumber air panas yang dipercayai dapat menyembuhkan berbagai penyakut kulit dan penyakit lainnya. Selain itu, di obyek wisata ini juga terdapat sebuah kolam renang yang cukup luas. Pengunjung di wisata ini juga dapat menikmati air terjun bercabang dua dengan ketinggian kurang lebih 90 meter.

Makam Kembar Raden Ali Basah Sentot Prawirodirdjo

Keramat Sewuni

Wiryodihardjo karena kalah judi tidak berani pulang ke rumah. Dia memilih tidur di bawah pohon beringin besar di luar dusun. Dalam mimpinya ia bertemu seseorang yang ternyata sudah meningga dunial. Makamnya berada di tempat yang saat itu ia tiduri. Bahkan pada saat lain ia kerasukan roh Mbah Basah dan memainkan jurus silat andalan yang dimiliki oleh Raden Sentot Ali Basah Prawirodirdjo.

Ketika Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830 di Magelang, para manggala prajurit P. Diponegoro banyak yang tidak mau takluk dan pasrah bongkokan kepada serdadu penjajah Belanda. Mereka lebih baik mundur dan menyingkir dari tempat perdamaian daripada mati konyol melawan serdadu Belanda. Ada yang menyingkir ke timur menyeberang sungai Elo, seperti Kyai Candrabumi dan perajuritnya. Di daerah Magelang juga banyak peninggalan dan petilasan terkait dengan Perang Diponegoro. Ada Langgar Agung Pangeran Diponegoro di desa Menoreh, Salaman, Gardu Benteng Stelsel di desa Ringinputih, Watu Gudig di desa Sambeng, Sendang Suruh di Giritengah, Bedug Pangeran Diponegoro di Wanurejo di wilayah Borobudur.
Banyak juga mantan manggala yudha lasykar Pangeran Diponegoro itu berada di daerah ini sampai wafatnya. Makam Kyai Candrabumi ada di dusun Gupitan desa Podosoko Kecamatan Candimulyo, makam Danurejo di desa Danurejo Mertoyudan. Sedangkan sebuah “makam” yang dipercaya sebagian warga setempat sebagai makam Raden Ali Basah Senthot Prawirodirdjo berada di Sewuni dusun Kayuares Desa Banyuwangi Kecamatan Bandongan. Kalau makam Kyai Candrabumi sudah banyak yang tahu dan ramai peziarah pada bulan Ruwah dengan ‘nyadran’, tetapi untuk “makam” R. Ali Basah Senthot Prawirodirdjo belum banyak yang tahu. Makam ini tidak jauh dari gedung eks karesidenan Kedu di Magelang di mana dulu Pangeran Diponegoro ditangkap serdadu Penjajah Belanda. Dari gedung bersejarah tersebut “makam” ini kira-kira hanya 3 kilometer ke arah barat.
“Makam” R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo terletak di bawah kerindangan sebuah pohon beringin besar dan merupakan makam tunggal. Di cungkupnya tertulis “Makam Keramat Raden Basah”, dan di nisan makam ada tulisan aksara Jawa nama “Ali Basah Senthot Prawirodirdjo”. Di tembok cungkup sisi utara dipajang gambar almarhum. Cungkup ini dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter. Suasana di sekitar makam keramat ini terasa ‘angker’ dan ‘berwibawa’. Di dekat makam ada sebuah pohon kamboja tua yang dianggap wingit. Tidak jauh dari makam ini ada sebuah mata air yang dianggap wingit oleh masyarakat setempat. Oleh warga setempat makam Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo lebih dikenal dengan sebutan “Makam mBah Basah”.
Asal Mula ditemukannya “makam”,
Menurut Supana, 59 tahun, warga dusun Kayuares, makam R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo “ditemukan” pada tahun 1968. Kisah penemuannya, ada seorang warga desa setempat bernama pak Wiryodihardjo. Karena dia kalah judi tidak berani pulang ke rumahnya di dusun Kayuares. Dia memilih tidur di bawah pohon beringin besar di pinggir dusun yang ketika itu keadaan tempat ini sangat sepi dan jauh dari rumah penduduk. Karena sangat lelahnya, di tempat ini dia bisa terlelap tidur dan bermimpi. Dalam mimpinya dia mendengar suara gaib, “Kowe aja susah. Balia menyang omahmu lan mertobata, kowe bakal luwih apik panguripane.” (Kamu jangan bersedih. Pulanglah ke rumahmu dan betobatlah, kamu akan menjadi lebih baik). Mengindahkan pesan suara gaib dalam mimpinya itu, dia berani pulang ke rumahnya. Dan sejak saat itu dia bisa menghilangkan kesukaan berjudi.
Pada lain hari, ada salah seorang tetangganya yang masih keluarga pak Wiryo, -bernama pak Puri - kesurupan. Dalam kesurupannya itu dia berkata, “Aku gelem bali menyang papan dunungku angger ana sing ngetutake.” (Saya mau pulang ke tempatku,  asalkan ada yang mengikutiku). Kemudian para tetangga mengikuti perjalanan pak Puri yang kesurupan itu. Tingkah lakunya dalam perjalanan ke tempat asalnya tidaklah biasa. Karena pak Puri bisa berlari cepat dan melompat-lompat seperti layaknya orang menunggang kuda. Bahkan dia bisa melompati pagar tembok yang tinggi di pekarangan samping rumahnya. Ketika sampai di bawah pohon beringin besar di Sewuni dusun Kayuares, dia roboh dan berkata, “Ya ing kene iki papan panggonanku. Mangertia, yen jenengku Ali Basyah Sentot Prawirodirdjo.” (Ya di sinilah tempatku. Ketahuilah, kalau namaku Alibasyah Sentot Prawirodirdjo).  Tempat di mana dia roboh itu tidak lain adalah tempat di mana pak Wiryo pernah tidur dan menerima wangsit dalam mimpinya. Sejak saat itu pak Wiryo percaya kalau di tempat tersebut adalah makam seorang priyayi luhur, salah seorang manggala yudha prajurit Pangeran Diponegoro. Kemudian di tempat ini oleh pak Wiryo dibuat semacam tetenger berupa sebuah makam dengan cungkup kecil.
Oleh sementara orang, “makam” ini dianggap keramat dan menjadi tempat sesirih dengan tirakat atau memanjatkan doa-doa di sini. Bermacam-macam maksud dan tujuan orang berziarah dan melakukan sesirih di makam ini. Menurut juru kunci makam, Sunarko Hadiwardoyo, 60 tahun, yang lebih dikenal dengan sebutan Sunarko Birowo atau mBah Narko, kebanyakan orang-orang yang berziarah ke makam ini mempunyai masalah keluarga, terutama masalah ekonomi atau utang-piutang. Seperti halnya makam keramat lainnya, di makam R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo ini juga banyak peziarah yang datang dari luar daerah untuk nyekar dengan doa permohonan yang bermacam-macam. Tetapi bila ada peziarah yang permohonannya tidak baik, mesti akan celaka. Ketika ‘jaman judi buntutan’ dulu, pernah ada peziarah yang nyepi di sini untuk minta ‘nomer jitu’. Tetapi dia malah ‘dibuang’ atau dilemparkan ke luar cungkup oleh tenaga ghaib yang ada di makam ini.
Ada salah seorang peziarah dari kota Magelang yang sudah terkabul permohonannya kepada Allah SWT dengan berdoa di makam ini. Dia adalah R. Soemardiyanto, yang pada hari Rabu Kliwon tanggal 16 Maret 1977 melakukan pemugaran cungkup makam tersebut. Namun, karena dimakan usia, cungkup yang sudah dibangun puluhan tahun yang lalu itu bagian atapnya banyak yang rusak. Gentengnya ada yang runtuh dan dindingnya tampak kumuh. Kini, bagian atap cungkup ini sudah diperbaiki. Juru kunci pertama makam ini adalah pak Wiryodihardjo. Sepeninggal pak Wiryo tahun 1981, tugas juru kunci dilanjutkan pak Muh Miri, pak Wandi, dan sekarang dipercayakan kepada pak Sunarko Birowo.
Makam ‘imajiner’?
 “Makam” R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo yang berada di Sewuni ini sampai kini masih menyimpan misteri. Karena sebenarnya, makam ini hanyalah sebuah petilasan.  Sampai saat ini masih ada beberapa pertanyaan dari sementara orang yang belum ada jawabannya, terkait dengan keberadaan makam ini. Apakah benar makam ini adalah makam R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, manggala yudha lasykar Pangeran Diponegoro yang terkenal dalam sejarah itu? Mengapa beliau dimakamkan di sini? Kapan dan siapa yang memakamkannya? Wafatnya Raden Basah di sini dibunuh serdadu Belanda atau wafat karena usia tua? Dan masih banyak pertanyaan yang terkait dengan perjuangan Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo di daerah Magelang ketika itu.
Disamping itu, sampai sekarang juga belum pernah ada kerabat trah R. Ali Basah Sentot Prawirodirdjo yang nglarah ke sini. Menurut sejarahnya, Raden Ali Basah Sentot Prawirodirdjo adalah putra Bupati Madiun ke III, R. Prawirodirdjo, yang setia menjadi perajurit Pangeran Diponegoro. Sedangkan warga masyarakat di desa ini sepertinya kurang memberikan perhatian terhadap keberadaan makam ini. Bahkan dulu keberadaan makam ini ‘dimusuhi’ atau ditentang oleh sementara ulama di daerah ini. Karena dikhawatirkan menjadi tempat yang bisa menjurus ke kemusyrikan.  
Ketika pak Wiryo masih hidup pada setiap bulan Ruwah diadakan nyadran dengan nyekar bersama di makam ini. Kini, acara nyadran di makam ini sudah tidak pernah diselenggarakan lagi.  Sekarang, kadangkala ada peziarah dari lain kota yang nyekar ke sini. Hanya sayang, tidak ada catatan ‘buku tamu’, sehingga siapa dan dari mana peziarah itu tidak diketahui.
Makam Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo berada di Bengkulu,
Pangeran Diponegoro pada hari Minggu tanggal 25 Maret 1830, P. Diponegoro ditangkap dengan tipu muslihat yang licik oleh Jendral De Kock, yang semula mengajaknya berunding. Setelah ditangkap, P. Diponegoro beserta isteri dan putra-putranya dibawa ke Batavia pada tanggal 8 April 1830. Penjajah Belanda pada tanggal 30 April 1830 memutuskan untuk membuangnya ke Manado. Pada tanggal 4 Mei 1830 mereka diberangkatkan ke sana dan ditempatkan di Benteng Amsterdam. Dari Manado pada tanggal 12 Juni 1830 P. Diponegoro dipindahkan ke Makassar dan ditempatkan di Benteng Rotterdam, Ujung Pandang. P. Diponegoro berada dalam pengasingan selama 25 tahun. Tanggal 8 Januari 1855 P. Diponegoro wafat dan dimakamkan di luar benteng, di Kampung Melayu, bagian utara kota Ujung Pandang.
Menurut catatan sejarah, sebelum Pangeran Diponegoro ditangkap penjajah Belanda, ada dua peristiwa yang sangat mempengaruhi kekuatan lasykar dalam perjuangan melawan penjajah kala itu. Peristiwa pertama, adalah tertangkapnya Kyai Modjo pada tanggal 12 Nopember 1828. Penangkapan Kyai Mojo ini memberikan pukulan yang berat bagi Pangeran Diponegoro. Sebaliknya, bagi penjajah Belanda peristiwa ini membuat sangat bersuka cita. Karena dengan demikian penyangga utama perjuangan Pangeran Diponegoro sudah runtuh. Tinggal dua tokoh yang merupakan manggala yudha andalan Pangeran Diponegoro yang harus dilumpuhkan yaitu panglima pemberani Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo, yang kala itu berusia sekitar 20 tahun dan Pangeran Mangkubumi.
Pemerintah Penjajah Belanda berusaha menghubungi Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo dan membujuknya dengan memberikan janji-janji yang muluk-muluk agar dia mau menghentikan perlawanan terhadap serdadu penjajah Belanda. Raden Sentot terpengaruh oleh bujuk-rayu penjajah Belanda dan pada tanggal 17 Oktober 1829 dia menghentikan perlawanan. Barangkali karena umurnya yang masih belia dan dendamnya sudah tersalurkan, ia akhirnya tertarik dengan imbalan materi dari penjajah Belanda, dan bersedia meletakkan senjata. Ini merupakan peristiwa kedua yang sangat menampar Pangeran Diponegoro. Selanjutnya, Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo dikirim ke Sumatra Barat sebagai tentara bayaran penjajah Belanda, dengan tugas memerangi saudara muslimnya sendiri dalam Perang Padri. Permintaan Raden Sentot untuk kembali ke Tanah Jawa setelah usai Perang Padri tidak dikabulkan oleh penjajah Belanda. Di Bengkulu Raden Alibasyah Sentot Prawirodirdjo menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 17 April 1855 dalam usia 48 tahun, dan dimakamkan di sana.

PETULAI TUBEUI

Dengan kembalinya Biku Sepanjang Jiwo ke Mojopahit, sebenarnya ke Negara bahagian Mojopahit Melayu yang kemudian berpusat di Pagar Ruyung-maka Pagar Ruyung menunjuk penggantinya di Lebong, yang menurut riwayat Rejang seorang yang bernama RAJO MEGAT.

Ada juga yang meriwayatkan bahwa namanya adalah RAJO MUDO GUNUNG GEDANG.
Raja Megat ini kawin dengan Putri Gilang alias Putri Rambut Seguling, anak ajai Bitang dan tetap berkedudukan di Pelabai serta tetap pula berpegang teguh pada kesatuan Tubeui. Kedatangan rajo Megat dapatlah dikira-kirakan pada permulaan abad ke-15.
Alkisah Rajo Megat mempunyai dua orang anak, yaitu seorang putrai RAJA MAWANG dan seorang putrid bernama SENGGANG. Setelah Rajo Megat wafat, beliau digantikan oleh anaknya Rajo Mawang yang berkedudukan tidak lah lagi di Pelabai tetapi di Kuteui Belau Sateun, suatu tempat yang terletak di dalam marga Suku IX yang sekarang.

Rajo Mawang mempunyai tujuh orang anak, yakni :

1. Ki Geto
2. Ki Tago
3. Ki Ain
4. Ki Jenai
5. Ki Getting
6. Ki Karang Nio
7. Putri Serintang Bulan
Rajo Mawang digantikan oleh putranya bernama Ki Karang Nio dengan memakai gelar SULTAN ABDULLAH, sedangkan putra-putranya yang lain itu bertebaran mendirikan kuteui-ketuei baru.

Ki Geto umpanya pindah menetap di Kelobak di wilayah Rejang yang sekarang dan beliau pula yang mendirikan petulai baru MIGAI atau MERIGI sebagai pecahan dari petulai asal Tubeui.
Menurut Riwayat terjadinya pecahan petulai di atas adalah sebagai berikut :
PUTRI SERINDANG BULAN
Putri Serindang Bulan terkenal sebagai seorang putri yang sangat cantik parasnya pada masa itu. Waktu putri itu telah dewasa, sembilan kali berturut-turut ia mengalami putus tuning, karena apabial ia telah bertunang, maka tumbuhlah satu penyakit di badanya, yaitu penyakit kusta, yang menyebabkan tunangannya akhrinya menjadi kecewa, sehingga memutuskan pertunangannya.

Anehnya bila pertunangan putus, maka penyakitna itu sembuh sendiri. Demikianlah keadaan putri Serindang Bulan sampai mengalami sembilan kali putus bertunangan.

Semua peristiwa itu menyebabkan saudara-saudaranya menjadi murka dan sangat kecewa karena tidak akan menerima jujur putrid Serindang Bulan.

Maka semua saudara putri bermusyawarah dan mengambil keputusan bahwa Putri Serindang Bulan harus dibunuh, agar ia jangan membuat malu lagi. Dalam mufakat itu hanya Ki Karang Nio yang tidak menyetujui keputusan di atas, tetapi ia kalah suara, apalagi ia adalah anak yang bungsu pula.

Dan dalam musyawarah itu juga diputuskan Ki Karang Nio yang akan melaksanakan membunuh adiknya yang disayanginya itu didalam hutan. Sebagai bukti, bahwa ia telah melaksanakan tugsanya itu, ia nanti harus membawa kembali setabung darah Putri yang dibunuhnya itu.

Di waktu putrid itu akan berangkat menuju ke hutan untuk dijalani keputusan tersebut, ia membawa sebuah tempat sirih “Bokoa Ibeun” dan seekor ayam biring.

Sesampainya di hutan Ki Karang Nio tidak sampai hati membunuh Putri Serindang Bulan, maka dicarikannya akal untuk dapat menyelamatkan Putri Serindang Bulan dengan mengelabui kakak-kakaknya yang tidak berprikemanusian.

Putri adiknya itu tidak jadi dibunuhnya, tetapi dihanyutkannya dalam sebuah rakit di sungai ketahun. Hanya daun telinga adiknay itu disayatnya sedikit unuk menjadi tanda baginya di kemudian hari, jika mereka dapat bertemu kembali. Sambil membekali adiknya sedikit makanan dan dengan hati yang sangat pilu, ia melepaskan adik yang disayanginya itu disertai permohonan sungguh-sungguh kepada Yang Maha Kuasa,semoga adiknya itu mendapat pertolongan, agar tidak jadi mati dan dapat juga kelak pada suatu hari bertemu kembali dengan dia.

Kemudian Ki Karang Nio kembali ke Kuteui Belau Sateun dan melaporkan kepada kakak-kakaknya, bahwa putri telah mati dibunuhnya, sebagai bukti ia membawa setabung darah anjing kumbang dan ia menunjukkan pula mata pedang yang berlumuran darah.

Alkisah putri Serindang Bulan yang dihanyutkan itu, dengan takdir Tuhan dalam keadaan tiada kurang suatu apapun, terdampar di pulau PAGAI di muara Aer Ketahun. Kebetulan pada waktu itu SETIO BARAT, Tuanku INDRAPURA pergi berburu ke pulau Pagai. Tiba-tiba Tuanku terpandang kepada seorang perempuan bangsa asing yang sangat cantik rupanya. Segera putrid itu didekatinya dan ditanyainya bagaimana kisahnya maka ia sampai kepualau tersebut.

Setelah Tuanku mendengarkan riwayatnya, maka dibawanyalah Putri itu ke Indrapura dan dijadikan istrinya. Kemudian dikirimlah utusan ke Lebong untuk membawa kabar baik itu kepada saudara-saudaranya, sambil mengundang mereka untuk dating ke Indrapura.
Maka Ki Geto dan adik-adiknya berangkat menuju Indrapura dan kedatangan mereka disambut oleh Tuanku dengan gembira.

Tidak lama kemudian Ki Geto dan saudara-saudaranya bermohon pulang dan oleh tuanku diberikan kepada mereka masing-masing persalin, dan juga seundang emas perak sebagai uang jujur Putri Serindang Bulan. Tetapi malang bagi mereka, dalam pelayaran pulang itu mereka diserang oleh badai, sehingga perahu mereka pecah dan terdampar di sebuah teluk di antara IPUH dengan KETAUN.

Waktu mereka sadar akan dirinya, maka ternyata bahwa segala emas dan perak dan barang-barang yang mereka bawa itu, habis semuanya kecuali barang-barang kepunyaan Ki Karang Nio yang masih utuh.
Sehingga timbul rasa iri hati mereka untuk merampas harta benda Ki Karang Nio, tetapi Ki Karang Nio bertindak dengan bijaksana, sehingga dapat menggagalkan niat jahat saudara-saudaranya.

Ki Karang Nio berkata dalam bahasa Rejang kepada saudara2nya itu,”Harto ku harto udi, harto udi hartoku, barang udi cigai, uku magiae”, yang artinya, “Hartaku harta kalian, harta kalian hartaku, barang kalian sudah tidak ada lagi, maka aku bagikan hartaku kepada kalian”.

Maka Ki Karang Nio membagikan hartanya kepada saudara-saudaranya, melihat tindakkan adiknya itu maka mereka menjadi malu dan terharu, lebih bila mereka teringat tindakan mereka untuk memerintahkan Ki Karang Nio untuk membunuh Putri Serindang Bulan.

Perasaan malu ini menyebabkan mereka memisahkan diri dari adik mereka yang bungsu dan mengambil keputusan untuk tidak akan kembali lagi ke tanah asal Lebong. Maka berkatalah mereka dalam bahasa rejang “Uyo ote sao keme migai belek”, yang artinya “sekarang kita bercerai dan kami tidak akan kembali lagi”.
Teluk tempat mereka menyatakan perkataan-perkataan di atas sampai sekarang bernama TELUK SARAK ( Teluk tempat berpisah).

Maka pulanglah Ki Karang Nio sendiri ke Lebong dan kemudian menggantikan ayahandanya, sedang Ki Geto dan saudara-saudaranya yang lain bertebaran di luar wilayah lebong, membuat sosokan atau mendirikan kuteui. Petulainya tidak dinamai Tubeui lagi melainkan MIGAI, sebagai peringatan bagi keturunan mereka dikemudian hari.

Kata Migai ini dimalayukan menjadi MERIGI, demikianlah asal usul Petulai Merigi, yang hanya terdapat di luar Lebong, sebagai pecahan dari petulai Tubeui yang berada di Lebong.

Ki Karang Nio yang menggantikan ayahnya di Kuteui Belau Sateun, meneruskan petulai Tubei di wilayah Lebong dengan memakai gelar Sultan Abdullah.

Beliau mempunyai empat orang anak, yaitu : Ki Pati Alias Rio Patai,Ki Pandang Alias Tuan Rajo, Putri Jinar Anum dan Putri Batang Hari.

Alkisah pada suatu ketika, Putri Serindang Bulan mengirim suatu bingkisan dari Indrapura kepada anak-anak Ki Karang Nio yang laki-laki, berupa tempat sirih (Bakoa Ibeun) yang dibawa pada waktu ia meninggalkan saudaranya tempohari dan isinya dengan dua selendang (sabok). Satu sabok sutera sudah buruk birisi buah aman (buah kecil tetapi manis) dan satu sabok sutera masih baru berisi buah abo (buah besar tetapi masam).

Waktu kiriman itu sampai Ki Pati dan Ki Pandan berebut. Ki Pati anak yang tertua mengambil sabok sutera yang baru serta tutu[ tempat sirih yang berambai-ambaikan perak dan Ki Pandan mengambil yang selainnya, yaiatu bakul sirih rotan yang berisi sabok sutera lama, dengan buah aman di dalamnya.

Tak lama kemudian Putri Serindang Bulan kembali ke Kuteui Belau Sateun dan karena aarif bijaksananya, beliau terkenal di Lebong ini dengan sebutan SEBEI LEBONG.

Pada suatu hari, sedang Ki Karang Nio menghadapi orang tua-tua, Sebei Lebong menuruh panggil Ki Pati dan Ki Pandan supaya turut hadir.

Di hadapan khalayak yang hadir, Sebei menanyakan kepada Karang Nio, siapakah diantara dua anak lelakinya yang mengambil sabok buruk yang berisi buah aman dan siapa yang mengambil sabok baru yang berisi buah abo.

Dijawab oleh Ki Karang Nio bahwa sabok sutera yang baru serta isinya buah abo di ambil anaknya yang tertua, sabuk sutera yang lama serta isinya buah aman diambil oleh anaknya Ki Pandan.

Lalu Sebei Lebong berkata kepada orang tua-tua yang hadir,

“Hai anakku KI Pati, tabiatmu bukan seperti tabiat orang tua dan berpaham, Engkau meilih yang lauarnya saja, tidak menilik yang batin: Engkau mau yang kelihatanya bagus, mau yang enaknya saja seperti tabiat paman-pamanmu yang berlima itu. Camkanlah dihati sanubarimu, hai anakku Ki Pati, bahwasanya orang bertabiat demkian tidak patut menjadi Raja”.

“Engkau, hai anakku Ki Pandan, sungguhnya engkau masih kecil, tetapi engkau bijaksana dan budiman. Dengan tabiat yang demikian itu, sudah selayaknya engkau akan menggantikan ayahmu di Lebong ini”.

Peristiwa ini menjadi benih keretakan dua abang beradik ini dikemudian hari, hal ini nampak setelah Ki Pati dewasa, karena ia meninggalkan Kutei Belau Sateun, pergi ke Pagar Bulan, mendirikan Kutei Karang Anyar dan tinggal menetap disana.

Barang-barang yang ditinggalkan Ki Pati untuk Jurainya terdiri dari sebuah gading gajah, sebuah cikuk dari gading dan dua bilah keris,yaiatu keris sepejam dan keris semayang mekar, semuanya berada di dusun Semelako yang sekarang.

Makam Ki Pati di Beringin Kuning dihormati oleh petulainya dan dewasa ini terkenal sebagai KERAMAT SEMELAKO.

Belaiu diganati oleh anaknya Kutei Teras Mambang ini hilang lenyap disebabkan oleh suatu bencana alam, yaitu air bah yang meluap dari sungai ketahun.
Rio Cende dan lima orang saudaranya turut tenggelam, sedangkan dua saudaranya yang lain terhindar dari bahaya maut, karena pada waktu itu mereka sedang berada diluar daerah bencana.

Rio Bas meninggalkan wilayah Lebong menuju wilayah Lais dan mendirikan Kuteui Pagar Banyu di ulu Palik, sedangkan Rio Pijar tetap tinggal di wilayah Lebong dan mendirikan Kuteui Usang dekan dusun Semelako yang sekarang serta melanjutkan petulai SUKU VIII.

Ki Pati menggantikan ayahandanya, Ki Karang Nio, yang menurut riwayat raib(menghilang), di ulu Deus, dekat dusun Tunggang sekarang.

Sebagai kenangan pada peristiwa Raib fi atas, terkenallah KERAMAT ULU DEUS. Barang-barang pusaka yang ditinggalkan oleh beliau untuk jurainya, terdiri dari menteko tiga puluh, sebilah pedang dan tiga bilah keris di dusun Lebong Donok, tumpuk igis, sebuah kendi dan sehelai baju di dusun Tunggang dan sepucuk senapang di dusun Sekandan.

Juga Ki Pandan meninggalkan Kuetui Belaun Sateun dan mendirikan kuteui baru, yaitu Bandar Agung. Disini pulalah beliau meninggal dunia dan dikuburkan dekat Kantor Maskapai Tmabnag Emas Rejang Lebong yang dahulu tempat itu terkenal sebagai KERAMAT LEBONG. Makam ini dihormati oleh petulainya.

Kesatuan Tubei lebong ini, sesudah Sultan Abdullah meninggal, tidak dapat lamio lagi dipertahankan. Keretakan yang timbul seperti yang diterangkan di atas, membawa pula perpecahan dalam tubuh petulai Tubeui, yang berada di wilayah lebong.

Ki Pati menamakan pecahan petulainya SUKU VIII, mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah delapan orang, sedangkan Ki Pandan menamakan pecahan petulainya SUKU IX mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah sembilan orang.

Seterusnya menurut riwayat, putrid Jinar Anum bersuamikan Rio Taun, anak Bikau Bembo dari petulai Jurukarang, sedangkan putrid Batang Hari bersuamikan Rio Tebun di Lubuk Puding Rawas, adik Rio Taun tersebut.

ASAL USUL SUKUBANGSA REJANG

Menurut cerita orang-orang tua Rejang maupun dari karangan tertulis mengenai rejang yang dijumpai, asal usul bangsa rejang adalah LEBONG, dengan fakta sebagai berikut :
1. JOHN MARSDEN, residen inggris di LAIS (1775-1779), memberitakan adanya EMPAT PETULAI yaitu : Juru Kalang, Bermani, Selupu, dan TUBEI, karena Tubai terletak di wilayang Lebong dan pecahannya hanya terdapat diluar wilayah Lebong, hal ini memperkuat bahwa asal usul Sukubangsa Rejang adalag LEBONG.
2. J.L.M. SWABB, Kontrolir Belanda di LAIS (1910-1915), Menerangkan bahwa Marga Merigi yang terdapat diwilayah Rejang tetapi tidak wilayah di Lebong, karena Marga Merigi berasal dari wilayah TUBAI, juga adanya larangan menari antara bujang/gadis TUBAI dengan Gadis/Bujang Merigi di waktu Kejai, karena mereka berasal dari satu keturunan, yaitu petulai TUBAI.
3. Dr.J.W. Van ROYEN, Pasal bangsa Rejang berkata, bahwa sebagai satu kesatuan Rejang yang paling murni, di mana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu bang, harus diakui Rejang Lebong….”Pada Zaman penjajahan Belanda Sukubangsa Rejang dinamai :REJANG LEBONG : yang mendiamai daerah rejangRejang MUSI dan REJANG LEMBAK : mendiami daerah Lais dan BengkuluREJANG PESISIR : yang mendiami Tebing Tinggi dan Rawas dinamai REJANG EMPAT LAWANG dan REJANG RAWAS.
Pada mulanya sukubangsa Rejang, hidup mengembara di daerah LEBONG, baru pada Zaman AJAI (Pemimpin suatu kumpulan manusia) menetap disuatu tempat.. Menurut riwayat sukubangsa Rejang berasal dari EMPAT PETULAI yang tiap petulai dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut dengan istilah Rejang AJAI.
Dalam zaman Ajai inilah daerah lebong masih bernama RENAH SEKALAWI atau PINANG BELAPIS, Palembang bernama SELEBAR DAUN dan Bengkulu masih bernama LIMAU NIPIS atau SUNGAI SERUT.Dalam riwayat disebutkan bahwa :
1. AJAI BITANG memimpin dan menetap di PELABAI tempat yang berada di Marga Suku IX, daerah Lebong Sekarang.
2. AJAI BEGELAN MATO memimpin dan menetap di KUTEUI BOLEK TEBO, tempat yang berada di Marga Suku VIII, didaerah Lebong sekarang
3. AJAI SIANG memimpin dan menetap di SIANG LAKAT, suatu tempat yang berada di MArga Jurukalang, daerang Lebong sekarang.
4. AJAI TIEA KETEKO memimpin dan menetap di BANDAR AGUNG, yang berada di MArga Suku IX yang sekarang.Pada masa pimpina AJAI inilah dating ke Renah Sekalawi empat orang abang beradik dari majapahit, putra dari Ratu Kencana Unggut yang melarikan diri ke Palembang dan terus ke Renah Sekalawi, mereka adalah : Biku SEPANJANG JIWO, Biku BEMBO, Biku BEJENGGO dan Biku BERMANO, dalam kisah perjalanan mereka disebutkan bahwa keempat Biku itu adalah menteri utusan kerajaan bahagian Mojopahit(Melayu), Yang diperkuat dengan sebutan nama yang menggunakan BIKU terang sekali yang berasal dari kata BIKSU yang berarti Pendeta atau paderi Budhha.Yang tujuan mereka bukanlah untuk mencari emas atau hendak menjadi raja, tetapi hanya untuk memperkenalkan kerajaan Mojopahit yang agung itu……….(bersambung). Diambil dari Buku Hukum Adat Rejang Kerangan Prof. Dr. H. Abdullah Siddik.

Perjalanan Biku ke RENAH SEKALAWI (DAERAH LEBONG)……..Saat ke empat biku sampai di Renah Sekalawi (Daerah Lebong), masyarakat pimpinan para Ajai itu telah bertebaran dan mulai menjadi besar, sehingga tidak dapat diberi bantuan yang sama kepada semua anggotanya, yang mana anggotanya bukan saja tersebar ke Ulu sungai ketahun, juga telah meluaskan sampai ke ulu sungai musi di daerah rejang yang sekarang, ke empat Ajai itu meminta nasehat kepada keempat biku dalam melaksanakan tugas mereka sebagai pimpinan.Atas musyawarah seluruh masyakarat, maka tak lama kemudian para Biku dipilih oleh keempat petulai yang ada disitu sebagai pimpinan mereka.Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang di Pelabai, Biku Bembo menggantikan Ajai Siang di Sukanegeri dekat TAPUS (Ulu Sungai Ketahun), Biku Bejenggo berkedudukan di Batu Lebar dekat ANGGUNG Rejang di Kesambe dan Biku Bermano berkedudukan di Kuteui Rukam dekat TES sekarang.Dibawah kepemimpinan ke empat Biku tersebut secara berangsur-angsur masyarakatnya mulai bercocok tanam, berladang dan bersawah dan mempunyai kebudayaan dan tulisan sendiri. Dimana tulisan bahasa Rejang ini dikenal dengan sebutan TULISAN RENCONG.Dalam pimpinan keempat biku ini adat istiadat diperbaiki, seperti adat gawah mati, yaitu tiap-tiap orang yang melakukan kejahatan yang dilarang keras oleh adapt dihukum mati, diperlunak, hokum mati bagi orang yangmembunuh orang diperlunak dengan diwajibkan sipembunuh membayar bangun kepada keluarga si mati sebagai pengganti nyawa yang disebut GENTI NYAWO.ASAL USUL BAYAR BANGUN
BATARA GURU Tuo Sakti mempunyai tujuh orang anak, salah satu seorang dari mereka bernama SINATUNG NATAK. Tersiarlah berita pada waktu itu, bahwa didusun Serik Seri Nato dekat dusun Sayak Mudo Belingai, kiri Bukit Kanan Laut, berdiam seorang putri yang sangat cantik molek bernama Putri Cerlik Cerilang Mato. Yang mana kecantikkan putri ini sampai kepada Bujang Sinatung Natak sehingga timbul hasratnya untuk bertemu dengan putri tersebut. Maka berangkatlah ia menuju dusun tempat putri itu, dan sesampai disana ia benar-benar melihat seorang gadis yang cantik molek berada dibalai dusun.Dengan tidak memikirkan bahaya yang mengancam dirinya dan terpesona oleh kecantikan putrid yang ia lihat, ia segera mendekatinya dan bercakap-cakap serta bersenda gurau dengan putri cantik itu.Hal ini disampaikan oleh orang kepada tunangan putri itu, bernama Sinatung Bakas, yang segera menuju balai dusun, dibalai didusun dia melihat seorang anak muda yang tampan sedang memainkan serulingnya di depan tunangannya.Dengan hati marah, anak muda itu dibunuhnya kemudian mayatnya dikuburkan dibawah balai dan di atasnya ditimbun dengan bangkai-bangkai binatang.Pembunuhan tersebut diketahui oleh Batara Guru, karena saktinya, maka berangkatlah beliau beserta beberapa anaknya menuju tempat kejadian guna menuntut balas, sampai disana rakyat dan rajanya mengingkari tuduhan pembunuhan yang diceritakan oleh Batara Guru.Mendengar hal ini maka salah seorang anak Batara Guru menyumpit dan sumpitnya itu jatuh ke tanah di bawah balai tempat kuburan saudaranya itu berada. Kuburan itu segera digali dan mayat Sinatung Natak ditemui masih dalam keadaan utuh yang dalam bahasa daerahnya dengan kata : rupo idak berubah, panau-panau masih ado.Setelah ada bukti maka rakyat dan raja mengakui kesalahan mereka dan bersedia mengganti kerugian berapa saja yang diminta, setelah mereka menceritakan dudukperkara yang sebenarnya mengapa sampai terjadi peristiwa pembunuhan tersebut.Batara Guru sebagai orang yang arif dan bijaksana dapat menerima peristiwa itu, belaiu tidak menuntut balas ganti nyawa, tetapi menetapkan ganti rugi sesuai dengan permintaan si pembunuh. Maka ditetapkan tiap-tiap panau yang ada ditubuh mendiang anaknya itu dengan satu mata uang yang diletakkan ditalam.Dengan kehendak Yang Maha Kuasa, panau habis diselidiki, simayat hidup kembali dan sesaat sesudah itu mati lagi. Uang yang ditalam dihitung ternyata berjumlah delapan puluh real.Dengan adanya peristiwa tersebut maka adat bayar bangun bagi si pembunuh sebagai pengganti adat Gawah Mati atau dengan perkataan lain, nyawa dibayar nyawa tidak ada lagi, tetapi cukup dengan pengganti delapan puluh Real.Bahwa adapt bayar bangun ini masih merupaknan hokum Adat pada masyarakat suku bangsa rejang dalam abad ke 18, dewasa ini adapt bayar bangun tidak dipakai lagi.Di bawah pimpinan keempat biku itu juga, orang-orang yang berada dalam lingkungan pimpinan masing-masing disatukan. Semua rakyat dibawah pimpinan biku Sepanjang Jiwo dimana saja berada disatukan dibawah kesatuan TUBAI atau TUBEUI dan berpusat di PELABAI.Rakyat di bahwa pimpinan Biku Bembo di mana saa meraka berada, disatukan di bawah kesatuan JURUKALANG dan berpusat di SUKANEGERI.Rakyat dibawah pimpinan Biku Bejenggo dimana saja mereka berada, disatukan dibawah kepemimpinan kesatuan SELUPU dan berpusat di BATU LEBAR dekat Anggung Kesambe wilayah rejang sekarang.Rakyat dibawah pimpinan biku Bermani di mana saja berada, disatukan bi bawah pimpinan kesatuan BERMANI dan berpusat di KUTEUI RUKAM.Asal mulanya nama-nama kesatuan tersebut di atas menurut riwayat orang-orang tua sukubangsa rejang, adalah sebagai berikut :

Pada suatu masa dalam permerintahan Empat Biku terjadilah suatu bencana, suatu malapetaka yang hebat. Rakyat mereka banyak yang jatuh sakit dan meninggal. Segala ikhtiar telah dijalankan untuk menangkis malapetaka itu, tetapi semuanya tidak berhasil. Maka dimintalah ramalan ahli nukum.


Menurut ramalan ahli nujum, yang menyebabkan kedatangan mara bahaya itu adalah seekor beruk putih yang berdiam di atas sebuah pohon yang besar, yang bernama benuang Sakti. Apabila beruk itu berbunyi, kemana arahnya menghadap, maka negeri-negeri bagian yang dihadapinya itu mendapat malapetaka seperti yang telah meraka alami dan derita pada masa itu.

Maka atas permufakatan keempat petulai sukubangsa Rejang, batang Beuang Sakti tempat kediaman beruk putih itu harus dicara sampai dapat ditebang. Maka tiap-tiap petulai berpencar untuk mencarinya dan menemukan pohon Benuang Sakti yang diramalkan irtu, jadi ada yang menuju aarah, timur, barat selatan ada pula yang ke utara. Hasilnya, yang pertama menemukan pohon yang dicari adalah anak buah pimpinan Biku Bernamo. Mereka segera mulai menebang pohon itu, tetapi bagaimanapun kuatnya mereka berusaha menebang batang pohon tersebut, pohon itu tidak juga roboh, dalam kata riwayat : segumpal runuth kubalnya, dua gumpal bertambah. Demikian pohon itu semakin dikapak semakin bertambah besar.

Saat itu muncullah anak buah pimpinan Biku Sepanjang Jiwo, sambil berkata dalam bahasa rejang : bie pu-eis keme beubeui-ubei mesoa, uyo maka betemau yang artinya adalah :”Aduhai, telah puas kami berduyun-duyun bersama mencari, sekaranglah baru menemukannya. Kemudian muncul laah anak buah biku Bejenggo dan mereka pun segera turut membantu menebang pohon, tetapi pohon itu tidak roboh, bahkan semakin besar.

Maka berkatalah anak buah pimpinan Biku Bernamo dalam bahasa Rejang :

Keme yo kerjo cigai mania neigai, anak bua Bikau Sepanjang Jiwo bi beubei-ubei kulo, anak bua Bikau Bejenggo bigupeak kulo kerjo tapi ati kune kiyeu yo lok uboak, berang kalaei anak bua Bikau Bmbo alang neigai mako si lok uboik kiyeu yo, yang artinya sebagai berikut :

“ Kami telah bekeja hingga tiada berdaya lagi, anak buah Biku Sepanjang Jiwo telah bersama-sama pula bekerja dan anak buah Biku Bejenggo pun turut bersama-sama bekerja, tetapi pohon ini tiada juga hendak rebah, barangkalai anak buah Biku Bembo yang menjadi penghalangnya”.

Kebetulan pada waktu itu muncullah anak buah pimpinan Biku Bembo dan kareka kegirangan mereka meneukan bukan saja pohon yang dicari, tetap juga orang-orang dari ketiga petulai yang telah berkumpul di situ, maka terlontarlah kata-kata dalam bahas Rejang : “Pio ba kumu telebong, yang berarti : “di sini kiranya saudara-saudara berkumpul. Dan sejak peristiwa yang bersejarah ino, berkatalah riwayat. Wilayah Renah Sekalawai bertukar nama menjadi LEBONG.

Maka bercerita lah mereka tentang usaha untuk menebang pohon itu tidak berhasil, maka dari hasil musyawarah maka mereka sepati untuk betarak (bertapa), meminta petunjuk dari Sang Hiang, bagaimana cara menebang pohon itu. Dari hasil betarak tersebut dari Sang Hiang pohon itu baru dapat rebah kalau dibawahnya digalang 7 orang gadis muda remaja.

Maka untuk memenuhi syaratnya tersebut ditugaskanlah anak buah Biku Bembo untuk mencari 7 orang gadis yang dikehendaki sebagai penggalang. Setelah ke 7 orang gadis itu dapat maka mereka bermusyawarah lagi, agar supaya ke 7 orang gadis sebagai penggalang tidak menjadi korban atau tertimpa oleh pohon besar yang akan dirobohkan. Maka disepepati lah untuk membuat parit yang besar muat untuk ke 7 orang gadis tersebut, sedangkan bagian atas parit itu digalang pula dengan pelupuh.

Setelah pekerjaan membuat parit itu selesai dan para gadis sudah dijadikan penggalang, maka mulailah menebang pohon Benuang Sakti itu ditebang dan sesungguhnya pohon besar itu roboh di atas tempat ke 7 gadis itu berlindung. Dengan adanya parit tersebut, maka terhindarlah ke 7 gdis penggalang itu dari maut dan beruk putih yang berdiam diphon itu menghilang.

Menurut riwayat semenjak peristiwa bersejarah di atas, maka mulailah petulai-petulai mereka diberi nama menurut pekeraan anak buah pimpinan masing-masing, dalam usaha bersama-sama menebang pohon Benuang Sakti itu.

Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama TUBEUI. Asal kata ini dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.

Petulai biku Bermano diberi nama BERMANI. Asal kata ini dari bahasa rejang “Beram Manis” yang berarti tapai manis.

Petulai Biku Bembo diberi nama JURUKALANG. Asal kata ini dari bahasa rejang “Kalang” yang berarti galang.

Petulai Biku Bejenggo diberi nama SELUPUEI. Asal kata ini bahas rejang “berupeui-upeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk .

Maka sejak saat itu pula renahSekalawai bernama LEBONG dan tercipta REJANG EMPAT PETULAI yang menadji intisari sukubangsa Rejang

Baik dilihat dari asal mula adapt bayar bangun maupun dari riwayat asal mula nama Lebong dan Rejang Empat Petulai, nyata terlihat pengaruh kebudayaan HINDU dalam perkembangan adapt yang berlaku pada zaman itu. Seterusnya menurut riwayat, Biku Sepanjang Jiwo tidak menetap di Lebong, karena beliau kembali ke Mojopahit-sebenarnya ke Pagar Ruyung dengan tiada meninggalkan turunannya, sebagai pengganti beliau adalah RAJO MEGAT yang dikirm dari Pagar Ruyung.

Ditinjau dari sudut sejarah ,peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1377 dan 1389, yaitu sesudah hancurnya kerajaan Sriwijaya dan sebelum wafatnya Raja Hayam Wuruk.

asal mula keramat beringin kuning

Dahulu kala ada tujuh bersaudara yaitu, Rio Selik, Rio Pijar, Rio Getting, Rio Bass, Rio Mamboa, Rio Ulung, dan Rio Sende. Mereka pergi ke Palembang utuk mengadu ayam dengan kerajaan seberang. Sesampainya di Palembang, mereka diterima dengan baik dengan para Sutan disana. Ketika mulai bertanding maka malamnya ayam ketujuh bersaudara ini menang dalam pertandingan. Atas kemenangan mereka, mereka dijanjikan mendapat hadiah oleh Sutan, tetapi sutan minta tempo/waktu karena ayamnya kalah terus. Ke tujuh bersaudara ini menyanggupi, dan sambil menunggu janji yang dijanjikan oleh Sunan maka diantara ketujuh bersaudara itu yaitu Rio Sende minta suatu senjata dengan Sunan berupa pedang, Sunan pun bertanya dengan Rio Sende, “Untuk apa senjata ini?” Rio Sende menjawab, “ Senjata ini untuk aku bawa ke pantai panjang (tebing penyamun)”. Dengan pikiran buruk Sunan memberi senjata itu kerena dia berharap kalau Rio Sende itu nanti mati di tebing Penyamun, maka hutang atau janji hadiah yang dijanjikan itu tidak ada yang bayar. Sudahnya  ke tujuh bersaudara ini minta lagi kepada Sutan untuk membawa anak buah sunan atau hulubalang, sunan pun menyanggupi semuanya apa yang diminta ketujuh bersaudara ini dan langsung berangkat menuju tebing penyamun atau pantai panjang. Sesampainya di pantai panjang tidak lama lewatlah seorang manusia membawa butea dan celurit. Melihat ini ketujuh bersaudara ini langsung menebas pedang ke orang yang lewat tadi. Tak ayal lagi maka semua isi perutnya berserakan di rumput lalang. Hati mereka merasa puas, maka diulangnya kembali menebas pedang keorang yang tadi, tetapi orangnya melompat ke tengah laut, maka selamatlah ia. Sesudah kejadian itu mereka pulang ke tempat Sunan. Sesampainya terdengar hulubalang cerita dengan Sunan bahwa orang Lebong itu kuat. Sunan pun balik bertanya, mengapa kamu bisa berkata seperti itu. Hulubalang menjawab orang keramat saja dibunuhnya.
sumber : http://ratihadelesari.blogspot.com/2012/11/asal-mula-keramat-beringin-kuning.html

Situs/Benda Cagar Budaya Di Kabupaten Lebong

Nama Benda Cagar Budaya Lokasi Keterangan
Keramat Tebo Lai Semelako Kecamatan Lebong Tengah Rajo Megat
Keramat Tebo Sam Atas Tebing Kec. Lebong Atas Rajo Mawang
Keramat Ulau Dues Tunggang Kec. Lebong Utara Ki Karang Nio
Keramat Lebong Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pandan
Keramat Beringin Kuning Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pati
Keramat Topos Kec Topos Rio Setanggei Panjang
Situs Tepok Reginang Toposs Kec. Topos Dayang Reginang
Situs Tanah Majapahit Topos Kec. Topos Biku Bembo
Batu Balimo Desa Tik Sirong Kec Topos


Situs Malim Janggut Tl. Ratu kec.Rimbo Pengadang Malim Janggut
Keramat Tik Ukem Tes kec. Lebong Selatan Biku Bermano
Keramat Tubei Pelabi Kec. Lebong Atas Samang Alo
Keramat Daneu Daneu Kec. Lebong Atas Ajai Malang

Bujang-Gadis Topos Pantang Bertunangan

Menurut cerita nenek moyang yang turun temurun ada suatu tempat yang dianggap Keramat oleh para leluhur yaitu terletak dihulu Sungai Ketahun. Tempat itu bernama “Keramat Serdang Kuning atau keramat Monok Micor”,tidak jauh sebelum lokasi itu terdapat Batu Bembo (lihat dalam buku karangan M.A. Jaspan)….

Menurut cerita para tetua di Topos, Monok Micor memiliki nama yang sebenarnya adalah : Muhammad Mansyur dan versi lain mengatakan dia bernama Kono Micor, dilokasi keramat tersebut sering terdengar kokok ayam seolah-olah ada desa disana (masih terjadi sampai sekarang).

Waktu itu Bengkulu masih bernama Kerajaan Sungai Serut dan Sriwijaya (Palembang) masih bernama Demang Lebar Daun,Aceh masih bernama Aceh Tinggi (Aceh Besar).Pada jaman itu terjadi perselisihan antara Kerajaan Sungai Serut dengan Aceh Tinggi,sehingga terjadi pertempuran sengit di daerah pesisir Sungai Serut (Bengkulu).Sungai Serut banjir darah,karena kekutan senjata Aceh Tinggi tidak sebanding dengan senjata kerajaan Sungai Serut , pada saat itu terciptalah sebuah pulau yang bernama Pulau Tikus, itu terjadi akibat kekuatan senjata Aceh Tinggi yang menggunakan Meriam Sakti dengan pelurunya Sekubik Batu (sekali letusan),sehingga Gunung Bungkuk putus olehnya dan terbanting ketengah Laut dan membentuk sebuah Pulau yaitu Pulau Tikus.

Disaat pertempuran tersebut kerajaan Sungai Serut hampir putus asa karena pasukan tak dapat membendung serangan pasukan Aceh Tinggi,akhirnya para sesepuh kerajaan mengambil inisiatif untuk meminta bala bantuan dari segala penjuru kerajaan Sungai Serut, pada saat itu Monok Micor diminta hadir di alun-alun Kerajaan Sungai Serut, dan pada saat itu juga dia berjumpa dengan seorang gadis (Putri Raja Sungai Serut), Monok Micor merasa tertarik dan jatuh cinta dengan putri raja.

Ketika pertempuran mulai reda dan pasukan Aceh Tinggi dapat diredam oleh bala bantuan termasuk Monok Micor ikut bertempur disaat itu, maka Monok Micor melamar (meminang) putri Raja Sungai Serut, tapi Raja Sungai Serut menolaknya secara halus karena Monok Micor telah berjasa membantu pertempuran. Oleh karena itu Raja Sugai Serut meminta (Pitek-Kinoi/Rj) berupa : 1. Sabuk sepanjang Banyu. 2. Keris Pinde Pujud. 3. Kembang Cinde Karang Wangi.

Setelah mendengar permintaan Raja Sungai Serut tersebut, Monok Micor kembali ke Keramat Serdang Kuning. Tidak lama kemudian Monok Micor pergi mencari permintaan Raja Sungai Serut dengan menelusuri sungai Ketahun dengan menggunakan lanting sebatang pohon “Selasih Hitam”,dan terus ke laut.Setelah sampai ditengah laut dia bertemu Raja Jin Laut dan dia meminta senjata sakti Bernama Sabuk Sepanjang Banyu,tapi permintaannya ditolak oleh Raja Jin Laut. Saat itu terjadilah perkelahian antara Raja Jin Laut dengan Monok Micor selama tujuh hari tujuh malam dan akhirnya Raja Jin Laut dapat dikalahkan, kemudian Sabuk Sepanjang Banyu dapat diambil oleh Monok Micor.

Setelah memiliki Sabuk Sepanjang Banyu, Monok Micor pergi ke Kerajaan Demang Lebar Daun (Palembang),sesampainya disana dia menemui kesulitan untuk masuk ke dalam Istana Raja karena penjagaan sangat ketat dan Monok Micor tidak mau bikin keributan.Akhirnya dia mendapat akal untuk masuk kedalam istana karena menurut petunjuk yang dia dapati bahwa di Istana Demang Lebar Daun terdapat senjata Sakti bernama Keris Pinde Pujud.pada saat itu juga Raja(Sultan) Demang Lebar Daun memrintah para Prajurit Istana untuk mencari “kayu bertuah” karena Raja mau membangunan sebuah tempat ibadah (mungkin Masjid), dan saat itu juga Monok Micor masuk kedalam sebatang kayu besar dengan merubah wujudnya menjadi seorang bayi yang baru lahir.

Ketika Prajurit Kerajaan Demang Lebar Daun melewati dekat pohom kayu tersebut Monok Micor menangis sekuat mungkin (suara tangisan bayi) sehingga para prajurit terhenti disana dan menganggap kayu itu adalah kayu bertuah yang mereka cari. Tak lama kemudian para Prajurit melaporkan kejadian tersebut kepada Raja,dan Raja langsung memerintahkan para Prajuritnya untuk mengambil kayu tersebut.

Setelah kayu tersebut ditebang dan dibelah maka ditemukanlah seorang bayi dan diserahkan kepada Raja Demang Lebar daun (mungkin pada saat itu Monok Micor mendapat nama Muhammad Mansyur).

Pendek cerita dia dibesarkan disana,dan Raja sampai heran karena bayi tersebut sebelum waktu besar dia sudah besar,sebelum waktunya dewasa dia sudah dewasa,tanpa belajar dia sudah sakti mandra guna,dan akhirnya dia dipercaya disana.

Pada suatu ketika Monok Micor mencari akal bagaimana caranya untuk mengetahui dimana Keris Pinde Pujud disimpan,saat itu juga dia merubah wujudnya menjadi seekor Buaya. Pada saat putri raja mandi disungai Musi dengan dikawal Para Prajurit maka saat itu juga Monok Micor membawa putri Raja tersebut kedalam Sungai Musi. Setelah dicari kemana-mana disekeliling sungai Musi tapi tidak ditemukan juga. Pada saat itu juga Monok Micor meminta agar semua senjata pusaka kerajaan diturunkan karena dia menyanggupi mencari putri Raja dengan syarat ada senjata pusaka yang bernama Keris Pinde Pujud,kemudian Raja memerintahkan agar senjata diturunkan kecuali satu keris sakti, setelah senjata2 pusaka diturunkan Monok micor ambil beberapa genggam padi dan ditebarkan kesekitar senjata2 tersebut, lalu dilepaskan beberapa ekor ayam,tapi tak satupun tanda-tandanya.kemudian Monok Micor mengatakan dengan Raja bahwa belum ada senjata yang dia inginkan,lalu dikeluarkanlah satu keris terakhir dan Monok Micor menaburkan padi diatasnya dan ketika beberapa ekor ayam melangkahnya langsung mati.

Singkat cerita Keris tersebut langsung dibawa oleh Monok Micor dan dia langsung menyelam sungai Musi dan membawa putri Raja dengan selamat, dan dia melapor dengan Raja bahwa dia telah berkelahi dengan Buaya sakti akan tetapi keris Pinde Pujud hilang didalam sungai (padahal keris itu telah disembunyikan dibawah air sungai Musi).Tidak berapa lama kemudian Raja berniat untuk menikahkan putrinya kepada Monok Micor sebagai penghargaan atas jasanya tapi dalam hati Monok Micor menolaknya karena dia sudah meminang Putri Raja Sungai Serut.Tawaran itu ditolaknya secara halus dengan mengatakan bahwa dia harus kebali dulu kehulu ketahun maka saat itu ketahuanlah dia adalah bernama Monok Micor orang yang sakti mandra guna. Sebelum pulang dia mengambil sebilah keris yang dia sembunyikan dibawah air sungai Musi.

Permintaan ketiga adalah Kembang Cinde Karang Wangi, yang sudah dicari kemana-mana dan sudah ditanya keseluruh pelosok negeri tidak seorangpun yang tahu.Sementara itu perselisihan antara Sungai Serut dengan Aceh Tinggi masih terus berlanjut dan pertempuran juga tetap terjadi,saat itu juga Monok Micor kembali dari Kerajaan Demang Lebar Daun dan langsung ikut bertempur dengan sengit. Setelah pertempuran selesai dan Kerajaan Sungai Serut dapat dipertahankan Monok Micor melemparkan tongkatnya dari alun-alun istana kehulu sungai Ketahun dan kemudian tongkat tersebut berubah wujud menjadi sebatang pohon bernama Serdang Kuning (sejenis palem berwarna kuning),maka tempat itu bernama keramat Serdang Kuning.

Akhirnya dengan pikiran yang galau dan dengan hati yang kecewa karena gagal mendapatkan Kembang Cinde Karang wangi yang sampai hari ini belum diketahui bagaimana bentuknya,maka Monok Micor Membawa lari Putri Raja dan dalam proses pertunangan dari dulu sampai sekarang dan dikatakan bahwa Monok Micor Bertunang seumur hidup, dan oleh karena itu Bujang-Gadis Topos Pantang Bertunangan.beberapa puluh tahun yang lalu ada yang mau coba-coba tapi terbukti perkawinan tidak terjadi, Boleh percaya dan boleh juga coba untuk tidak percaya…
cay0 te e

Rejang Selayang Pandang (Asal Mula Suku Rejang di Bengkulu)

Sahdan pada zaman kerajaan raja-raja dari daerah pulau Jawa masih dalam masa kajayaannya. Semasa Palembang masih bernama Selebar Daun, Bengkulu masih bernama Sungai Serut, Rejang masih bernama Renah Sekelawi (sebelumnya bernama Pinang Belapis). Pada zaman itu raja adalah orang yang mempunyai turunan raja pula. Raja bukan sembarang raja, raja sakti, arif lagi bijaksana.

Karena di Pulau Jawa telah banyak kerajaan yang rajanya telah ada, maka sebagian turunan raja-raja itu merasa dirinya terhina bila tidak dapat jadi raja. Beberapa orang turunan raja itupun mencoba keluar dari pulau Jawa, dengan maksud mencari daerah yang akan diperintahnya. Mereka merejang kepulau Perca (Pulau Sumatra) untuk mencari daerah baru.

Bertahun tahun meraka merejang di daerah Pulau Perca, dan mereka telah tiba di daerah Tapus sekarang. Di sana Bitsu Bembo sebagai pelacak pertama menyatakan bahwa di sini suko dijadikan negerai (suka negeri ). Untuk menetapkan atau memberi apa nama negeri tersebut, maka dibuatlah satu pertapaan yang diberi kelambu. Setelah beberapa hari, kelambu itu dibuka, ternyata didalamnya tumbuh sebatang kayu yang namanya kayu Tapus, nah karena itu negeri atau tempat itu dinamakan TAPUS.

Bitsu Bembo berpesan pada saudara-saudaranya apabila ingin menyusulnya, telusurilah muara sungai yang paling deras muaranya. Bertahun lamanya mereka menyusuri sebuah sungai, barulah mereka bertemu dengan bitsu Bembo. Justru karena itu, maka sungai yang mereka susuri itu dinamakan sungai Ketahun (asal kata menaun).

Adalah mereka yang menyusul itu adalah Bitsu Bermano, bitsu Bejenggo, dan bitsu Sepanjang Jiwo. Bitsu-bitsu itu terpencar kebeberapa daerah, seperti bitsu Bermano di daerah Kutai Ukem (Kota Rukam) yang terletak di daerah Darmaga Tauris Danau Tes sekarang. Perlu kami nyatakan bahwa Danau Tes itu nama sebenarnya adalah BIYOA KETEBET (air ketebat). Tebat adalah kolam kata kita sekarang. karena air itu adalah kolam Si PAHIT LIDAH (MANTAKUN), dan temannya Si MATO EMPAT (ALI JENANG TIGAS).

Adapun tiga orang bitsu yang menyusul itu telah mempunyai daerah masing-masing, seperti bitsu Bermano mempunyai daerah Kutai Ukem. Bitsu Bejenggo mempunyai daerah Tubei atas tebing. Di daerah sebelah atas dari (pasar Muara Aman sekarang). Sedangkan bitsu Sepanjang Jiwo mempunyai daerah Batu Lebar Seguring, daerah Curup sekarang. peduduk pada masa itu belum Lancar berbahasa, dan lidahnya agak kaku, bitsu itu disebutnya BIKAU. Bukan bikoa, ada pula yang menyebutnya Rejang Bikoa, itu salah yang betulnya adalah Rejang turunan Bikau. Bikau adalah asal katanya dari bitsu. Bitsu adalah kiyai agama budha.

Pada waktu itu mereka sibuk mengurus daerah mereka masing-masaing, sehingga saling terpecahlah kesatuan mereka. Pada waktu itulah pada sebatang Benuang Sakti ditunggui oleh SIAMANG PUTIH. Anehnya Siamang Putih ini kemana ia menghadap di sana ditimpa bencana. Baik itu bencana penyakit, kebakaran dan sebagainya.

Mereka berusaha untuk mencegah hal ini, mereka mengadakan sidang musyawarah di tempat balik hati (baik atei) di daerah Lebong Simpang sekarang. tempat ini ditunggu oleh : 5 orang malim : 1. malim serubuk, 2. Malim Sedina, 3. Malim Sedu Royeak, 4. Malim Sumar Galung dan 5. Malim Lemo. Dan juga di sana ada pula 4 orang dayang, yaitu: 1. Dayang Tarok, 2. Dayang Turing, 3. Dayang Kecitang Tanuk Karo dan 4. Dayang Itam. Di samping dayang-dayang ada pula Rebiak 3 orang, yaitu : 1. Rebiak Mabuk, 2. Rebiak Merem, dan 3. Rebiak Guting Paras.

Hasil musyawarah mereka di sana ialah batang Benuang Sakti itu harus ditebang, Supaya Siamang Putih itu dapat dimusnahkan. Bikau Bembo selaku ketua mengurus penebangan itu, Dan penebangan pertama jatuh ke tangan bikau Bermano.

1. Bikau Bermano mengarahkan anak buahnya megapak kayu benuang itu. Seluruh anak buahnya turun tangan turut menebang kayu itu. Sehingga CIGAI MANAI (dalam arti telah penuh dengan kapaan) namun kesaktiannya kayu Benuang itu jangankan roboh, malah bertambah kokoh tegaknya. Bikau Bermano dan anak buahnya menyerah/ mengaku tidak dapat menebang kayu Benuang itu. Dengan kata-kata cigai manai daerahnya dinamakan Margo Manai (bermani). Yang berkedudukan di Kutai Ukem (Kota Rukam). Penduduknya berciri khas Sekoa Rucing.
2. Giliran kedua jatuh pula ke tangan bikau Bejenggo. Bikau Bejenggo berduyun-duyun mengajak anak buahnya untuk menebangnya. istilah berUBEI-UBEI (bergotong royong), namun hasilnya masih sama dengan hasil bikau Bermano tadi. Dari kata ubei maka marganya dikataksn Margo Tubei. Penduduknya berciri khas KOOT ULAU KETOT.
3. Tiba pula giliran yang ketiga yaitu bikau Sepanjang Jiwo. Namun mereka ini secara UPUAK-UPUAK artinya berpayah payah mengerahkan segala tenaga yang ada untuk menebang Benuang itu. Namun hasilnya sama pula dengan hasil dua bikau sebelumnya.dengan istilah upuak upuak marganya dinamakan Margo Seluak (MARGA SELUPUH) sekarang yang berkedudukan di Batu Lebar Seguring di daerah Curup. Ciri khas penduduknya bermaneu ubep ubep (seolah olah ada yang akan di terkam). Ketiga bikau yang terdahulu semuanya mengaku tidak tertebang Benuang Sakti itu. Kini tiba gilirannya pada orang yang mengatur, harus pandai berbuat apa yang ia aturi. Jangan bisa mengatur saja. Ia harus bisa melaksanakan apa yang ia aturkan itu.

Bikau bembo kebingungan dibuatnya. bagaimana akan menumbangkan pohon Benuang Sakti yang selalu mendatangkan malapetaka itu. Andai hal ini tidak teratasi, kemungkinan seluruh wilayah akan menerima giliran musibah. Dalam keadaan termenung bikau Bembo seolah olah ada orang yang berbisik, semoga bikau Bembo membakar kemenyan, dan bersemendi (bertapa). Beliau melaksanakan pertapaan, memohon pada yang maha sakti dan pada yang maha agung, yang menguasai seluru alam jagat ini.

Dalam PERTAPAAN beliau mendapat bisikan, bahwa pohon benuang ini mau roboh, bila digalang oleh PUTRI SEDARAH PUTIH adalah Putri Raja Perambanan. Perambanan adalah suatu kerajaan yang terletak di daerah Jawa Tengah.

Dengan harapan yang sedikit sekali akan berhasil, maka bikau Bembo berangkat ke Jawa Tengah menuju kerajaan Prambanan. Bermohon agar Raja Prambanan mengizinkan putrinya jadi penggalang.

Raja kerajaan Prambanan adalah raja yang arip lagi bijaksana, memperkenakan putrinya menjadi penggalang, Tetapi harus memenuhi beberapa syarat persyaratan itu antara lain :

1. Putri Sedarah Putih tidak boleh cacat, misalnya jasmani ataupun rohaninya.

2. Setelah menjadi penggalang harus dikembalikan kepangkuan ayahnya di kerajaan Prambanan.

3. Andai kata Putri Sedarah Putih cacat bikau Bembo harus menanggung resikonya.

Putri Sedarah Putih dibondong ke pulau Sumatera, ke daerah mereka. Setelah di daerah itu, mereka menggali lubang di sekitar pohon Benuang Sakti itu, tempat putri Sedarah Putih digulingkan. adapun lubang itu, dalamnya 7 hasta, lebarnyapun 7 hasta.

Setelah sesuatu yang harus dikerjakan telah beres atau selesai, maka bikau Bembo memulai menebang. Pohon Benuang Sakti itu memang betul roboh, tapi Siamang Putih itu raib entah kemana perginya. Putri Sedarah Putih segera dikeluarkan dari lubang itu. Mereka semua merasa gembira karena pohon benuang yang bermala petaka itu telah tiada. Telah musnah dan roboh. yang bisa dijadikan kayu yang berkeping.

Tapi anehnya putri Sedarah Putih itu hamil. Dengan rasa lesu bikau Bembo berangkat ke Prambanan mengembalikan putri Sedarah Putih. Di sana beliau mendapat caci maki yang bertubi-tubi. dan harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Maka bikau bembo harus kawin dengan putri Sedarah Putih.

Bikau Bembo adalah orang mencari penggalangan Benuang Sakti, dengan asal kata tukang galang maka daerahnya dinamakan Juru Kalang. Penduduknya berciri khas telunjuk miring. Banyak orang berpendapat bahwa turunan orang Juru Kalang tidak dimakan buaya. Sekarang antara Bermani dan Juru Kalang telah bersatu menjadi BERMANI JURU KALANG, yang terletak di Kecamatan Lebong Selatan Tes.

***

SUMBER : TABLOID YANG DITERBITKAN OLEH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI BENGKULU TAHUN 1994