Sejarah Rejang Tiang IV di Lebong

Kisah ini merupakan asal muasal terbentuknya jang pat petulai. Sebelum kedatangan tuan biku yang berempat yakni Tuan Biku Sepanjang Jiwo (Tubei), Tuan Biku Bermano (Bermani), Tuan Biku Bembo (Jurukalang) dan Tuan Biku Bejenggo (Selupuh) itu dari Mojopahit di Lebong, tanah ini masih bernama Renah Sekalawi dan telah diduduki oleh bangsa rejang empat petulai. Saat itu rajanya bergelar ajai. Diantara raja-raja tersebut nama dan tempatnya masih dikenali sampai saat ini adalah Ajai Ajai Bitang  di Dusun Pelabai (Pelabi) Lebong (Marga  Suku IX sekarang), Ajai Begeleng Mato di Kutai Belek Tebo Lebong (Marga Suku VIII sekarang), Ajai Siang di Dusun  Siang Lekat Lebong (Marga Jurukalang) dan raja Tiea Keteko di Dusun Bandar Agung Lebong  (Marga Suku IX sekarang). Lalu bagaimana  rejang tiang IV di Lebong terbentuk, berikut petikan hasil wawancara beberapa sumber dan referensi yang diperoleh mengenai rejang tiang IV di Lebong.

============***********============

Sewaktu dalam pemerintahan ajai-ajai tersebut, negeri Lebong telah memiliki adat istiadat  dan huruf sendiri. Saat itu aturan pemerintahan terlalu keras alias ketat, barang siapa yang melanggar adat maka pelakunya dibunuh.
Sekitar abad ke 12 atau 13 atau sekitar 600 dan 700 tahun lalu datanglah ke empat orang ini ke Renah  Sekalawi (Lebong) dari kerajaan Majapahit. Konon, keempat orang ini  merupakan putra-putra raja Majapahit. Keempat orang ini dikawal oleh para pengawal dan tujuan mereka datang ke Renah Sekalawi (Lebong) Pinang Belapis menurut riwayat adalah ingin mencari negeri dan akan dipimpin oleh masing-masing empat putra-putra raja majapahit.
Pada masa itu Kerajaan Majapahit sedang terjadi huru-hara perebutan kekuasaan diantara diantara putra-putra raja. Karena keempat putra raja ini tidak mendapatkan apa yang diinginkan, akhirnya mereka pergi keluar dari kerajaan. Mereka adalah Tuan Biku Sepanjang Jiwo, Tuan Biku Bermano, Tuan Biku Bembo dan Tuan Biku Bejenggo.
Dalam sejarahnya, dari kerajaan Majapahit dan  di dalam perjalanan mereka itu berpencar-pencar. Ada yang menyusur pantai pulau Sumatera sebelah Timur, masuk di Palembang, adapula yang mendarat di Lampung  adan juga ada yang menyisir pulau Perca sebelah Barat.
Yang menyusur Kuala Ketahun lalu memudiki sungai di Renah Sekalawi (Pinang Belapis). Dia  inilah yang di sebut dalam tembo-tembo  “Tuan Biku Sepanjang Jiwo”. Menurut penuturan Tokoh Masyarakat di Desa Sukasari Usman dikatakan menurut orang tua-tua dulu nama biku itu didapati  oleh anak-anak raja di Padang Gersik Bulan di  tanah Majapahit di bawah Beringin Cala Watus, ketika salah seorang dari mereka itu bertanya “Padang apakah ini?” maka menjawalah Pujuh Putih Inggih Gusti Tuanku Biku Bermano, “Inilah Padang Gersik Bulan”.
Sementara itu, Tuan Biku Sepanjang Jiwo, karena arif dan bijaksana dan sangat pengasih penyayang serta sakti, maka diangkatlah dirinya sebagai raja oleh bangsa Rejang untuk menjadi raja menggantikan Ajai Bintang yang berkedudukan di Pelabai (Pelabi). Kemudian datang pula Tuan Biku Bembo dan menjadi raja di Ulu Sungai Ketahun menggantikan Ajai Siang yang berkedudukan di Sukanegeri dekat Tapus dan Biku Bermano  yang juga datang dan kemudian menjadi ketua atau raja  Bangmego Pitulai Bermani di Kota Rukam dekat Dusun Tes. Kemudian datang pula Tuan Biku  Bejenggo yang memudiki biduk menyusuri  Sungai Musi sampai  ke Ulu Sungai Musi, akhirnya di sanalah dia diangkat menjadi raja  Bangsa Rejang di Batu Lebar dekat Dusun Agung Rejang.
Ketika Tuan Biku Sepanjang Jiwo berpisah dengan saudara-saudaranya di Majapahit, dirinya sempat memberikan amanat,  bila ingin mencari dirinya, hendaklah terlebih dahulu ditimbang Air Tujuh Kuala Sungai. Manakala  kedapatan suatu sungai yang lebih berat  dari yang lain, hendaklah sungai itu dimudiki niscaya akan bertemu dengan dirinya.
Saat itu Tuan Biku Bermano bermaksud untuk mencari saudaranya  Biku Sepanjang Jiwo. Setelah menimbang air kuala tujuh buah, maka didapatlah olehnya air kuala sungai Ketahun lebih berat dari air kuala sungai yang lainnya. Akhirnya Tuan Biku Bermano pun menyusuri Sungai Ketahun dengan menaiki sebuah biduk, akhirnya bertemulah Tuan Biku Bermano dengan saudaranya Biku Sepanjang Jiwo.
Saat bertemu dengan saudaranya,  Tuan Biku Bermano mengatakan “Disini kiranya saudara-saudara telebong (Telebong artinya terkumpul). Akhirnya Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong. Sedangkan negeri tempat pertemuan itu di sebut Pelabai yang artinya tempat.
Setelah keempat tuan-tuan biku menetap dan menjadi raja bangsa rejang, maka petulai-petulai  yang diperintahnya  itu pun di sebut dengan sebutan Bang Mego atau Marga. Bang Mego atau Marga Tuan Biku Sepanjang Jiwo  bernama Bang Mego  atau marga Tebuij atau Tubai yang berkedudukan di Dusun Pelabai (Pelabi), kemudian di Dusun  Kutai Belau Saten (Kota Baru santan) adalah untuk marga Suku IX.
Bang Mego atau Marga  Tuan Biku Bembo bernama Jurukalang  dan berkedudukan di Dusun Sukanegeri (Marga Bermani Jurukalang). Bang Mego Biku Bejenggo bernama Selupu Ea atau Selupu dan berkedudukan di Batu  Lebar (Marga Selupu Rejang).
Berdasarkan naskah tembo Rejang Empat Petulai, asal-usul tentang memberi nama  Bang Mego atau Marga ini diceritakan  seperti berikut:
Pada suatu masa datanglah musim kedukaan  dalam kerajaan Rejang Empat Petulai yakni Tuan Biku Sepanjang Jiwo, Tuan Biku Bermano, Tuan Biku Bembo dan Tuan Biku Bejenggo, rakyat banyak yang sakit dan mati, padi ternak pun tiada yang jadi. Setelah melakukan berbagai upaya untuk menolak balak (bahaya dan musibah) yang juga tiada hasil, maka keempat raja ini mufakat  untuk memanggil dan menyuruh ahli nujum melihat dalam ramalannya terhadap kejadian yang dialami oleh keempat kerajaan tersebut. Menurut perkataan ahli nujum, yang menyebabkan kedatangan marabahaya negeri semacam itu  adalah seekor siamang (Beruk) putih yang tinggal di atas pohon Benuang Sakti. Apabila siamang putih ini mengeluarkan suara ke arah yang ditujunya, maka negeri-negeri sebagian yang dihadapinya itu  mendapat marabahaya seperti yang telah diderita  oleh mereka pada masa itu.
Atas kesepakatan keempat raja tersebut, dicarilah batang Benuang Sakti tempat kediaman Siamang Putih untuk ditebang. Ke empat raja ini akhirnya berpencar mencari batang Benuang Sakti yang dimaksud. Akhirnya batang Benuang Sakti yang dimaksud itu ditemukan  oleh Tuan Biku Bermano. Ditebangnya batang Benuang Sakti, anehnya saat batang itu ditebang  oleh Tuan  Biku Bermano tidak juga kunjung roboh, bahkan lebih anehnya lagi segempal potongan  kayu runtuh akibat ditebang dua gempal pula kayu itu kian membesar batangnya.
Masih menebang pohon sakti itu, datanglah anak buah petulai Tuan Biku Sepanjang Jiwo dan berkata, “Bie Pues beubuie-ubuie mesoa, uyo mako betemeu” (artinya: telah puas kami berduyun-duyun bersama kemari mencari, sekarang bertemu). Akhirnya secara bersama-sama mereka merobohkan pohon Benuang Sakti. Namun setelah bertambah jumlah personil untuk merobohkan kayu tidak juga bisa dirobohkan bahkan kayu itu tamah berdiri kokoh.
 Tidak lama kemudian anak buah petulai Tuan Biku Bejenggo pun datang dan membantu rombongan yang sudah lebih dulu menebang pohon Benuang Sakti. Kedatangan rombongan yang baru pun ternyata tidak membuahkan hasil. Setiap kali kena tebasan pohon itu justeru semakin membesar. Akhirnya, melihat keanehan itu, anak buah Petulai Tuan Biku Bermano  berkata “Keme yo kerjo cigai ade  manai ne igai, anak buah Tuan Biku  Sepanjang Jiwo berubuie-ubuie kulo, anak buea Tuan Biku  Bejenggo  bie gupeak kulo kerjo  tetapi ati keno kijeu yo lok ubeak berang kalaie Tuan Biku Bembo alang neigai mako  silok ubeak kejeu yo” (artinya:  kami bekerja hingga tak berdaya lagi, anak buah Tuan Biku Sepanjang Jiwo telah bersama-sama pula bekerja dan anak buah Tuan Biku Bejenggo telah bertumpuk-tumpuk pula, bekerja tetapi pohon ini tidak juga roboh. Barangkali saja anak buah Tuan Biku Bembo yang menjadi halangannya).
Saat mengatakan demikian, datanglah anak buah tuan Biku Bembo  dan Tuan Biku Bermano mengulang kembali pembicaraan dan menceritakan keanehan batang Benuang Sakti yang saat ditebang tidak mau roboh dan justeru batangnya bertambah besar.
Akhirnya keempat raja ini kembali  melakukan mufakat untuk bertarak (bertapa) supaya pohon itu bisa ditebang dan roboh. Adapun hasil dari pertapaan itu isinya adalah: “Kalau hendak menyuruh roboh pohon Benuang Sakti itu, hendaklah menguburkan  anak gadis  dibawah pohon itu”
Kononnya pula, Siamang Putih itu bersuara dari atas pohon Benuang Sakti, dikatakannya “Benuang Sakti ini akan rebah kalau di bawahnya  akan dikalang oleh tujuh gadis muda remaja”. Akhirnya keempat raja ini kembali bermufakat akan mengadakan anak gadis yang diinginkan oleh Siamang Putih. Mengingat anak buah petulai Biku Bembo datangnya kemudian dan belum membantu bekerja menebang pohon, maka diperintahkan untuk mencari gadis yang dikehendaki itu. Sungguh pun demikian, anak buah Tuan Biku  tersebut mencari  juga akal agar anak gadis yang akan dikuburkan  itu tidak mati. Setelah ke tujuh gadis remaja didapati dan segeralah dilakukan penggalian  lobang sedalam sembilan hasta dan lebar sembilan hasta pula. Pekerjaan untuk itupun akhirnya dilakukan dan masing-masing anak buah diberikan tugas yang berbeda-beda, ada yang menggali lubang, membuat penghadang atau kalang, ada pul yang mencari penutup. Sementara anak buah Biku Bermano  memberi makanan beram manis kepada pekerja.
Tidak lama kemudian, setelah pekerjaan usai dan dikuburkan hidup-hidup  ketujuh gadis remaja itu, barulah  pohon benuang sakti ditebang  dan akhirnya roboh di atas tempat ke tujuh anak gadis itu di kuburkan. Ke tujuh anak gadis itu pun selamat dan siamang putih pun raib.
Akhirnya setelah kayu sakti itu roboh dan siamang putih pun raib, keempat kelompok itu mendapatkan julukan masing-masing menurut kelakuan dan pekerjaan  waktu menebang pohon Benuang sakti yaitu Tubaij (Tubai) asal katanya dari berubuie-ubuie atau berduyun-duyun. Bermanai (Bermani) asal katanya  dari Manai (Tiada daya lagi), kemudian Selupuea (Selupu) berasal dari kata berupuea-upuea (Bertumpuk-tumpuk) Jurukalang yang mengadakan galang  atau yang menjadi alangan.
Semasa tuan-tuan biku tersebut menjadi raja bangsa Rejang , maka rakyatnya akhirnya diajarkan untuk bercocok tanam oleh masing-masing raja. Saat itu mereka bercocok tanam padi  di sawah dan ladang (sebelumnya bangsa rejang saat itu belum mengenal padi dan masih makan jagung dan talas).
Tentang adat istiadat Rejang tiada dirubah, melainkan yang tidak  baik dibuangnya dan yang kurang baik ditambah seperti gawal tiada lagi dibunuh melainkan membangun, artinya kesalahan  itu boleh dibayar dengan emas atau uang dan bukan dibayar dengan jiwa.
Yang menjadi pokok adat bangsa rejang yang masih  dipakai hingga kini adalah:
1. Membunuh, membangun, artinya sipembunuh dihukum dengan membayar bangun  kepada keluar atau famili yang dibunuhnya berupa emas atau perak,
2. Salah berhutang, maksudnya tiap-tiap  kesalahan ditanggung oleh yang berbuat salah,
3. Gawal mati, artinya tiap-tiap seseorang melakukan kejahatan yang maha besar atau yang dilarang keras oleh adat maka seseorang tersebut dihukum mati,
4. Melukai menepung, maksudnya memberikan emas atau perak kepada orang yang dilukai,
5. Selang, berpulang, maksudnya tiap barang yang dipinjam harus dikembalikan,
6. Suarang berbagi, maksudnya harta yang diperoleh  bersama-sama harus dibagi sama banyak,
7. Buruk Puar Aling Jilupung, patah tumbuh hilang berganti, artinya tiap-tiap yang hilang mesti dicari gantinya, mati suami saudara suami akan menjadi gantinya, mati siteri saudara isterinya pula yang menjadi gantinya (mengganti tikar)
8. Kalah adat karena janji
9. Sumbing bertitip patah berkipal seperti buruk puar aling jilupung, patah tumbuh hilang berganti.
10. Diberi  habis saja, suka sama suka
11. digelung jangan diurak, direba jangan dipanjek.
Tuan biku Sepanjang Jiwo tidak lama menjadi raja di Marga Tubai dan segera kembali ke majapahit tanpa meninggalkan keturunan di Lebong. Sebagai penggantinya adalah Sultan Rajo Megat atau Tuan rajo Jonggor anak raja dari Pagar Ruyung. (Menurut cerita dalam naskah tembo,  Mibang Dusun Muara  Ketaju Marga  suku IX, bahwa Tuan Biku Sepanjang Jiwo  adalah anak raja dari Pagar ruyung  dan menantu dari Ratu Majapahit. Dia inilah yang sering disebut banyak orang sebagai sebagai datuk Imbang Jayo. Dia juga akhirnya dipanggil untuk kembali ke Pagar Ruyung untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi. Dan sebagai penggantinya Datuk Imbang jayo menyuruh mamak (paman)-nya Tuan Sultan rajo Megat yang di tuduh  bersalah membuat sumbang  di Pagar Ruyung. Dia menikahi Putri Gilang adik Rajo Bilang di Dusun Pelabai.
Beberapa lama kemudian, dari empat marga tersebut dan bangsa rejang  telah bertambah (berkembang) serta banyak pula pecahan keturunannya, maka dibuatlah peraturan baru agar negeri yang didiami menjadi aman sentosa, penjagaan musuh harus diatur sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu pada suatu masa dibuat pemufakatan  besar oleh bangsa Rejang Tubai, Bermani, Jurukalang dan Selupu serta mengadakan bimbang besar untuk menetapkan aturan pemerintahan negeri dan adat sitiadat dalam negeri  serta akan mengangkat seorang dari pasirah yang empat untuk menjadi raja pasirah  yaitu yang  tertua lagi bijaksana. Saat itulah akhirnya marga Tubai dipecah menjadi dua yaitu suku VIII dan Suku IX. Begitu juga dalam pemufakatan turunan marga Tubai  yakni marga Tubai, Jurukalang, Bermani dan Selupu diundang untuk menghadirinya. Merka yang datang adalah empat depati  Sindang Empat lawang, lima depati Sindang Beliti, tiga pasirah Ulu Musi (Selupu Rejang, Bermani Ulu dan Merigi), 11 proatin Renah Pasisir, tujuh proatin Renah Ketahun.
Sejak saat itulah berdiri di Lebong lima marga dengan lima pasirah yang seorang dari pasirah itu diangkat menjadi ketuanya dan disebut pasirah – Tiang IV lima dengan rajanya dan adat rejang yang dinamai adat Rejang Tiang IV. Berikut nama pasirah  di Lebong  waktu diadakan pemufakatan besar, Marga Tubai (Suku IX) pasirahnya  Tuan rajo di Bandar Agung. Marga Tubai (Suku VIII) Pasirahnya Tuan Setio Muaro Depati saudara tua dari Tuan rajo di Dusun Karang Anyar. Marga bermani pasirahnya  Tuan Tachta Tunggal tinggal di Kota Rukam. Marga jurukalang pasirahnya Tuan Ria Setanggai Panjang di Tapus, dan Marga Selupu Lebong pasirahnya Adjai malang di Dusun Atas Tebing

Ritual Adat “Ngundang Binieak”

Ritual Adat “Ngundang Binieak”

Pelaksanaan turun tanam segera dilakukan oleh petani. Namun sebelum pelaksanaan turun tanam, agar hasil padi yang ditanam tidak dimakan hama dan penyakit, warga masyarakat sebelumnya melaksanakan ritual adat yang diberi nama “Ngundang Binieak atau mengundang bibit. Artinya, semua masyarakat saat akan memulai turun tanam serempak masyarakat mengumpulkan padi seadanya untuk dijadikan satu dan diberikan syarat agar padi yang akan di tanam tidak diserang hama penyakit. Lalu bagaimana acara ritual “Ngundang Binieak” itu?

============*********===========
Masyarakat di Kabupaten Lebong biasanya sebelum melaksanakan turun tanam serentak, mereka melakukan ritual adat yang diberi nama “Ngundang Binieak” atau ngundang bibit. “Ngundang Binieak” ini merupakan hari waktu pencanangan memulai untuk turun tanam dengan secepatnya. Paling lama sepuluh hari.
Bibit padi yang akan diberikan syarat tersebut merupakan hasil kumpulan warga yang berasal dari segala penjuru di Kabupaten Lebong. Padi tersebut dikumpulkan untuk kemudian dicampur dengan berbagai jenis tumbuhan lainnya. Dengan tujuan agar hasil padi yang mereka tanam dapat melimpah dan tidak diserang hama tikus ataupun lainnya. Setelah padi tersebut dikumpulkan dan usai di berikan syarat padi tersebut dikembalikan kepada warga. Namun anehnya pada saat padi tersebut dikembalikan justeru padi tersebut berlebih. Mungkin inilah yang dinamakan dengan rezeki. Bila panen tiba hasil padi yang mereka peroleh akan melimpah.
Pantauan RPP saat ritual adat tersebut, padi yang sudah dikumpulkan diampur dengan berbagai jenis tumbuhan diantaranya jeruk nipis satu buah, cekrau sebanyak 2 kilogram, kupei dua kilogram, daun linggo dua genggam, rebung bambu gading satu kilogram, buah pinang dua puluh buah. Kemudian gundur, upei, jerangau, stokot. Masing-masing satu buah. Berbagai jenis campuran tersebut dipotong lembut dan dijadikan satu (diaduk) dengan padi, kemudian padi ditutup dengan selembar kain putih. Sementara buah kelapa muda dan daun sedingin setawar dipisahkan dari padi.
Masing-masing jenis tumbuhan yang dicampurkan dengan padi tersebut, menurut pawang Ujang Sarifudin, memiliki arti tersendiri. Dikatakannya, cekrau dan kupei yang masing-masing dibutuhkan sebanyak dua kilogram mengandung makna agar padi yang ditanam cepat berkembang. Kemudian, daun linggo, rebung bambu gading, buah pinang, gundur memiliki arti bahwa saat padi ditanam tidak diserang hama seperti tikus, babi dan lain sebagainya serta terhindar dari penyakit yang menyebabkan padi tersebut layu atau bahkan mati. “Ritual semacam ini dilakukan setiap tahun turun temurun sejak dari nenek moyang kami dan itu harus dilakukan karena itu merupakan rangkaian yang harus kami lakukan sebelum turun tanam,” kata Ujang Syarifudin.
Pengamatan RPP, usai mencampurkan dan menyiapkan segala sesuatunya, maka ritual “Ngundang Binieak” pun dilakukan. Pada saat ritual dilaksanakan, sambil membakar kemenyan pawang membacakan mantra-mantra agar padi yang akan ditanam tumbuh dengan baik dan terhindar dari serangan dan hama yang biasa mengganggu padi. usai membacakan mantra-mantra  dan sedinginsetawar dimasukkan dalam buah kelapa muda untuk dicelupkan ke dalam air untuk kemudian dipercikkan pada padi yang sudah diberikan syarat tersebut.
Dalam mantranya, pawang sempat menangis dan mengeluarkan  air mata, sangat berharap sekali pada turun tanam kali ini padi petani tidak diserang hama tikus dan babi serta terhindar dari hama penyakit padi lainnya. Dengan demikian pertumbuhan padi akan cepat berkembang dan menghasilkan jumlah padi yang banyak. Artinya pada panen mendatang hasil padi mereka melimpah.
Usai membacakan mantra sekitar 15 menit ini, padi yang sudah diberikan syarat dan sudah dimantra tersebut diaduk kembali secara bergiliran. Kemudian dimasukkan dalam kantong plastik  masingt-masing sebanyak dua sendok.
Ujang Syarifudin yang merupakan mantan kades Dusun Muara Aman ini mengatakan, saat membacakan mantra-mantra, dirinya meminta izin kepada leluhur mereka untuk turun tanam dan meminta agar semua hama yang ada dikembalikan ke hutan. Leluhur yang dimaksud adalah raja-raja Rejang pada “tempo doeloe” salah satunya adalah Rajo megat.
Tidak lupa juga mengundang Rindu Hati yang berada di Kawasan Taba Penanjung, karena menurut sejarah nenek moyang mereka, bangsa Rejang yang ada di Taba Penanjung pada saat turun tanam tidak pernah berhasil. Sementara bangsa Rejang Lebong saat turun tanam dan panen selalu menghasilkan. Untuk itu, menurut cerita Ujang, ada usulan bahwa bibit disiapkan oleh rindu hati yang berasal dari taba penanjung untuk di tanam di Lebong. Kemudian hasilnya dibagi dua dengan bangsa Rejang yang ada di Taba Penanjung. “Rejang di Rindu Hati tidak bisa panen padi,” kata Ujang.
Ujang pun menjelaskan bahwa bibit padi yang telah diberi syarat tersebut saat akan dibagikan lagi kemasyarakat tidak pernah berkurang. “Selalu berlebih,” katanya. Mungkin inilah pertanda bahwa yang akan ditanam akan berlimpah hasilnya. Di samping itu juga ada beberapa hal yang tidak boleh dilanggar oleh petani dalam hal turun tanam (tidak mesti padi), diantaranya tidak dibenarkan turun tanam pada bulan Afit, Syuro dan Shafar begitu pula halnya dengan hari sabtu, karena konon sejarahnya hari sabtu merupakan hari pembagian hasil padi pada binatang seperti tikus. Para petani harus memulainya sejak dan setiap tanggal satu rabi’ul awal untuk tandur (turun tanam).
Dikatakan demikian, menurut Ujang, pada masa nenek moyang terdahulu telah ada perjanjian bahwa hasil tanam harus dibagi dengan binatang, bila tidak maka hasil panen padi masa mendatang tidak melimpah dan bahkan rusak dimakan hama. Dari itu perjanjian yang telah ada tidak boleh dilanggar. Maka, setiap usai panen ada pembagian untuk tikus yang diberi nama “Batet” (batang padi yang bakal tumbuh tunas baru). Petani tidak boleh memotong yang kedua kalinya karena itu merupakan bagian tikus sesuai perjanjian sebelumnya
sumber : http://rusmiadilebong.blogspot.com/2011/10/ritual-adat-ngundang-binieak.html

Kisah Putri Serindang Bulan


Sebuah kisah yang mengangkat liku-liku kehidupan putri serindang bulan, kiranya patut menjadi pelajaran bagi kita semua. Karena didalamnya terdapat gambaran kebijaksanaan, kepedulian, rasa asah, asih dan asuh terhadap sesama. Putri Serindang Bulan adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara anak dari Rajo Mawang. Ketujuh anak Rajo Mawang tersebut ialah ki. Geto, Ki. Tago, Ki. Ain, Ki. Jenain, Ki. Nio, Ki. Karang nio (bergelar Sultan Abdullah) dan Putri serindang bulan (atau disebut Sebei Lebong). Bagaimana sebenarnya kisah Putri Serindng Bulan dan dari manakah asal Putri Serindang Bulan tersebut, berikut kisahnya berdasarkan penuturan  Ketua BMA Kabupaten Lebong Hermansyah Syofian, S.Ag

=======**********=======
Ketujuh anak Rajo Mawang tersebut di atas memasuki istana kerajaan Rena Seklawi yang dipimpin oleh kakak mereka yang tertua yaitu KI GETO, sekaligus sebagai Raja memimpin Kerajaan Rena Seklawi rakyatnya aman, damai dan sejahtera.
Seiring dengan waktu seperti layaknya manusia biasa, Putri Serindang Bulan tumbuh dan berkembang sehingga memasuki usia remaja, dengan paras yang cantik dan menawan karena kecantikan dan kepribadiannya yang baik itu Putri Serindang Bulan menarik perhatian para pemuda bahkan raja yang ingin mempersuntingnya.
Pada suatu ketika datanglah Raja Hilir Sungai (HS) yang melamarnya. Setelah lamaran itu diterima Putri Serindang Bulan jatuh sakit yang menjijikan yaitu penyakit Kusta dan Lepra. Karena penyakitnya itu akhirnya pelamar membatalkan lamarannya. Anehnya takkala lamaran dibatalkan kondisi Putri Serindang Bulan kembali seperti semula. Demikian kejadian terjadi berulang-ulang terjadi menimpa nasibnya.
Akibat kejadian ini kakak-kakak Putri Serindang Bulan kecuali Ki Karang Nio, dianggap sebagai aib keluarga yang dapat mencoreng nama keluarga. Akhirnya suatu hari diadakanlah rapat tertutup keluarga yang dipimpin oleh Ki Geto dengan keputusan bahwa daripada memalukan keluarga maka Putri Serindang Bulan harus dibunuh. Karena kebijaksanaan dan keluwesan Ki Karang Nio, dia mengajukan usulan agar niat kakak-kakaknya itu dibatalkan. Atas usulan Ki Karang Nio tersebut membuat marah kakak-kakaknya, dengan perkataan “jika kamu tidak mau ikut keputusan ini maka kamupun harus dibunuh bersama Putri Serindang Bulan. Seandainya kamu setuju, maka untuk melakukannya diserahkan kepada kamu”. Berkatalah Ki Karang Nio “kalau memang keputusan kakak-kakak tidak dapat diubah baiklah sebagai adik saya dengan berat hati terpaksa melakukannya”.
Pada suatu ketika perintah pembunuhan segera dilaksanakan Ki Karang Nio menyiapkan sebuah pedang yang tajam. Kemudian mengajak adiknya Putri Serindang Bulan ke suatu tempat di tepi sungai Ketahun. Yang sebelumnya Ki Karang Nio telah menyiapkan sebuah rakit yang cukup besar yang tidak mudah tenggelam. Sesampai di tepi sungai bertanyalah Putri Serindang Bulan kepada kakaknya Ki karang Nio dengan nada lemah lambat, kagum dan heran dengan pertanyaan :
“Wahai kandaku dimana tempat ini ?” Ki Karang Nio menjawab dengan nada berat dan kesal dengan kata “aku tidak tahu”. Tanya lagi, “air apa ini kanda?” dengan nada yang sama dijawab “Air Ketahun”. Karena jawaban dan perkataan Ki Karang Nio tidak menyejukkan hati Putri Serindang Bulan balik bertanya kepada Ki Karang Nio, “wahai Kakandaku ada apa gerangan yang terjadi aku tahu sifat dan pribadimu yang lemah lembut, tetapi sekarang aneh menjadi kaku dan kasar, agar kiranya kakak sudi menyampaikan kepada Adinda”.
Dengan hati luluh dan linangan air mata Ki Karang Nio terpaksa menceritakan kepada adiknya Putri Serindang Bulan mendengar keterangan Ki Karang Nio tersebut, dengan perasaan yang sedih pula Putri Serindang Bulan menjawab : kalaulah itu keputusan keluarga dan menganggap aku adalah aib dalam keluarga akupun rela, lakukanlah keputusan kesepakatan itu.
Ki Karang Nio dengan sifatnya yang sangat bijaksana itu, lalu menjawab, “tidak, tidak mungkin hal itu aku lakukan wahai adikku, selon coa nam beceei ngen daging ( artinya: kuku tidak mungkin terpisah dengan daging. Engkau adalah satu-satunya adik kami yang perempuan, aku punya cara yang lain lihatlah olehmu itu telah kusiapkan sebuah rakit. Engkau naiklah rakit itu engkau ikutilah kamana rakit itu membawamu, nanti kalau ada nasib dan umur panjang kita pasti akan bertemu”. Digoreskanlah sedikit dibelakang telinga adiknya sebagai tanda darahnya dioleskan pada pedang sebagai jaminan sumpah bahwa darah di pedang itu adalah darah adiknya walau hanya setetes.Dengan linangan air mata sambil mengikuti arus air Putri Serindang Bulan melambaikan tangan sebagai lambang selamat berpisah kepada kakaknya yang tercinta dan yang paling dekat dihatinya. Ki Karang Nio pun demikian melambaikan tangan namun tidak kuasa memandang wajah adikya Putri Serindang Bulan tersebut, akhirnya berpisahlah mereka.
Untuk meyakinkan kelima kakaknya, Ki Karang Nio menebas leher seekor anjing hitam lalu darahnya dimasukkan ke dalam tabung dari ruas bambu dan sebahagian dilumurkan ke pedangnya. Setelah itu pulanglah Ki Karang Nio menemui kelima saudaranya itu untuk melaporkan terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Sesampainya di rumah kakak-kakaknya pun bertanya bagaimana Ki Karang Nio tugasmu? Terlah engkau laksanakan dengan nada curiga terhadap Ki Karang Nio. Ki Karang Nio menjawab titah kakak-kakak telah aku laksanakan. Sahut kakaknya, apa buktinya, dengan gaya yang meyakinkan kakak-kakaknya Ki Karang Nio mencabut pedangnya yang telah dilumuri darah anjing, berkatalah kakak-kakaknya : “Bagus, engkau telah melaksanakan tugasmu dengan baik. Berakhirlah malapetaka dan aib dalam keluarga yang mencoreng muka kita itu”.
Selanjutnya Putri Serindang Bulan yang dihanyutkan dengan rakit tersebut sampailah dengan selamat di sebuah pulau di Muara Sungai Ketahun yang disebut pulau pagai.
Pada suatu hari hulubalang Raja Indrapura sedang berburu, tiba-tiba mereka melihat seberkas cahaya yang indah dan kemilau, sehingga mereka heran dan saling bertanya cahaya apakah itu, mereka semakin penasaran akhirnya mereka memutuskan untuk mendekatinya untuk mengetahui hal itu. Setelah mendekati tempat itu mereka bertanya, Wahai Cahaya apa ini, jika manusia tampakkanlah wujudmu, akhirnya cahaya itu adalah wujud wanita berparas cantik rupawan. Para hulubalang kerajaan kagum dan heran melihat wanita yang cantik rupawan itu. Lalu bergegas pulang menceritakan kejadian tadi kepada Raja. Setelah mendengar cerita itu Raja memerintakan kepada para hulubalangnya kembali menemui wanita tadi dan mengajaknya ke Istana Kerajaan dan wanita cantik tersebut mau mengikuti keinginan Raja yang disampaikan oleh hulubalang itu untuk masuk ke Istana Kerajaan. Sesampainya di Istana, hulubalang melapor kepada Raja bahwa wanita dimaksud telah sampai di Istana. Sang Raja dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan turun dari singgasana menemui sang Putri, setelah menyaksikan keanggunan, paras yang cantik rupawan yang ada pada diri Putri Serindang Bulan membuat Raja tertarik dan jatuh hati dan ingin mempersunting Putri Serindang Bulan, sebagai Raja tentu tidak tergesa-gesa, Raja tentu ingin tahu asal usul Putri tersebut, Raja pun mulai melontarkan pertanyaan kepada Putri : Wahai sang Putri aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya siapa namamu, dari mana asalmu, dan kenapa engkau ada disini. Dengan keluguannya Putri menjawab : namaku Putri Serindang Bulan, anak dari Rajo Mawang, dan kami 7 (Tujuh) bersaudara, berasal dari Kutai Belau Saten Kerajaan Rena Sekalawi / Pinang Blapis. Kejadian yang menimpa Putri Serindang Bulan di Muara Sungai Ketahun itu dicertakanlah oleh Putri Serindang Bulan kronologisnya seperti cerita di atas. Setelah mendengarkan cerita tersebut semakin membuat Raja yakin bahwa Putri Serindang Bulan bukan orang sembarangan. Selanjutnya Raja menikahi Putri Serindang Bulan menjadi istrinya yang ke 7 (tujuh).
Sebagaimana adat istiadat yang berlaku di Rena Sekalawi setiap wanita yang menikah dan punya saudara laki-laki, maka pengantin laki-laki membayar leket masing-masing berupa emas satu ruas bambu telang dan uang selengan Baju. Untuk memenuhi adat istiadat tersebut Raja Indrapura mengutus Hulubalang Kerajaan untuk berangkat ke Kerajaan Rena Sekalawi / Pinang Blapis untuk menemui kakak-kakak Putri Serindang Bulan untuk menyampaikan apa yang terjadi terhadap diri Serindang Bulan. Atas berita itu sadara-saudara Putri Serindang Bulan terkejut dan heran serta bahagia karena Putri Serindang Bulan masih hidup. Akhirnya berangkat kakak-kakak Putri Serindang Bulan untuk menemui adiknya Putri Serindang Bulan di Kerajaan Indrapura. Sesampainya disana rombongan disabut dengan meriah sebagaimana adat menyambut tamu agung. Untuk menguji keabsahan keterangan Putri Serindang Bulan itu Raja Indrapura / Setio Barat menampilkan keenam istrinya yang lain bersama Putri Serindang Bulan dan Raja mempersilahkan kepada saudara-saudara Putri Serindang Bulan menunjuk mana Putri Serindang Bulan diantara istri-istrinya itu, hal itu dimulai oleh kakak Putri Serindang Bulan yang tertua yaitu Ki Geto dan seterusnya, sampai kepada Ki Nio, keenamnya itu tidak mampu menunjukkan dan kebingungan mana Putri Serindang Bulan diantara ketujuhnya itu. Akhirnya tiba pada giliran Ki Karang Nio karena keakraban mereka berdua sejak dari kecil dan pada saat perpisahan mereka ketika Ki Karang Nio menghanyutkan dengan rakit, Ki Karang Nio memberikan sedikit tanda dengan menyayat telinga Putri Serindang Bulan disebelah kanan. Saat Ki Karang Nio diminta menunjukkan Karang Nio sedikit menyanbei agar Putri Serindang Bulan memperlihatkan tanda bekas sayatan itu, akhirnya dinampakkanlah tanda tersebut, maka Ki Karang Nio memegang Putri Serindang Bulan sambil Berkata Wahai Raja inilah adik Kami Putri Serindang Bulan sambil menganggukkan kepala Raja Indrapura menjawab, benar inilah Putri Serindang Bulan. Karana kebenaran itu Raja memerintah untuk mengambil leket tersebut untuk dipersembahkan kepada kakak-kakak Putri Serindang Bulan.
Selang beberapa waktu saudara-saudara Putri Serindang Bulan berpamitan untuk pulang ke Rena Sekalawi/ Pinang Blapis. Dalam perjalanan mereka mendapat musibah datangnya angin badai akhirnya perahu mereka karam. Semua emas dan uang leket mereka habis tenggelam kecuali kepunyaan Ki Karang Nio karena kepunyaan mereka habis, mereka merasa iri hati timbullah rencana ingin membunuh Karang Nio untuk merampas milik Karang Nio. Karena kebijaksanaan dan kearifannya sebelum hal itu dilakukan Ki Karang Nio berkata : “Wahai kakak-kakakku emas kalian telah hilang kepunyaan saya masih ada tidak usah khawatir harta saya harta kamu, harta kalian harta saya oleh kerena kepunyaan saya kita bagikan sama rata dan dibagilah oleh Ki Karang Nio seperti diucapkan olehnya. Setelah menerima pembagian itu mereka bersumpah semuanya berjanji setia dan berucap di tempat itu dengan nama Teluk Saok (bercerai) hai adik kami Karang Nio kembalilah ke Kutai Blau Santan Rena Sekelawi memimpin Kutai di sana dan keme alu migai belek artinya kami pergi tidak akan kembali lagi. Mulia saat itulah mereka bercerai Ki Karang Nio Kembali ke Kutai Blau Santan memimpin di Lebong sedangkan mereka/kakak-kakaknya berpencar kemana-mana mendirikan marga-marga di wilayah Rejang di luar Lebong.

Butau Gesea Mitos Rakyat Rejang Di Lebong

Danau Tes dan sekitarnya serta masyarakat di Kota Donok, Lebong mempunyai cerita yang cukup banyak. Mulai dari legenda, mitologi, misteri dan peninggalan zaman purbakala, baik berupa megalitik maupun sisa-sisa sejarah masyarakat Rejang tempoe doeloe yang masih terbengkalai. Tapi, sangat diketahui oleh masyarakatnya. Salah satu adalah Butau Gesea (batu hampir atau nyaris, red). Kenapa dinamakan Butau Gesea?


Karena posisi batu yang permukaannya sekira lebar dan panjang satu meter kali dua meter itu sangat aneh. Batu yang besarnya (secara ukuran umum) mencapai sebesar mobil kijang kapsul lebih sedikit itu, kelihatannya hanya menempel sekian sentimeter saja bagiannya yang tertanam di tanah. Padahal, batu itu berada di lereng bukit yang terletak di Teluk Lem Danau Tes. Letak Butau Gesea berada beberapa meter di atas Srawung Dung Ulau Tujuak (gua ular kepala tujuh) yang terkenal itu. Letak persisnya bila di horizontalkan dari seberang Teluk Lem (Teluk Dalam) berada di seberang Pondok Lucuk (Rumah Runcing) tempat wisata di Kota Donok Kecamatan Lebong Selatan. Walaupun ukuran permukaan Butau Gesea itu tidak lebar dan normalnya hanya bisa muat sekitar maksimal enam orang duduk bersila. Tapi, kenyataannya permukaan batu itu mampu memuat lebih dari 20 orang di atasnya, tanpa berdesak-desakan. Itulah keanehan kalau tidak boleh kita menyebutkan suatu keajaiban. Biasanya, banyak orang berziarah ke Butau Gesea itu, terutama dari kalangan orang rejang yang tinggal di luar Lebong dan masyarakat dari etnis Tionghoa.

Cerita persisnya memang tidak ada. Tapi, semua masyarakat di sekitar Danau Tes, baik di Kota Donok, Talang Ratu, Tapus, Talang Baru, Tanjung, Taba Anyar, Turan Tiging, Mubai, Turan Lalang dan lainnya sangat mengenal cerita Butau Gesea. Masyarakat di Kota Donok mempercayai kalau Butau Gesea itu bukan batu sembarangan dan mempunyai nilai magisnya, apalagi di bawahnya di Teluk Lem di Danau Tes itu terdapat gua ular kepala tujuh yang cerita mitos maupun legendanya sangat tersohor ke berbagai pelosok. Selain itu, ada cerita lain di Teluk Lem itu, yaitu sering munculnya ikan mas besar berukuran sekitar lebar dan panjang tikea purun (tikar, red). Menurut ceritanya, jika ikan itu muncul dan terlihat oleh seseorang atau beberapa orang, dipercayai alamatnya adalah Danau Tes minta korban atau ada orang yang akan meninggal dalam waktu dekat di sekitar danau itu. Bahkan, sering berubah wujud menjadi sebatang kayu besar tanpa ujung ( sangat panjang ), ada pula yang mempercayainya sebagai perubahan wujud dari ular kepala tujuh itu sendiri. Jika Butau gesea itu dikelola oleh pemerintah dan dijadikan salah satu objek wisata, akan mendatangkan pendapatan daerah yang cukup besar, terutama mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sekitarnya. Sampai saat ini, belum ada yang berani mengambil foto Butau Gesea itu. Sehingga dokumen fotonya masih kosong. Butau gesea itu nyata keberadaannya, bisa dilihat dengan mata dan bisa diraba. Di lokasi lain, di Tempat Taukem (Keramat Rukam) dulunya diyakini sebagai pusat salah satu kerajaan di Lebong terdapat pula benda purbakala berupa meriam besi dan peluru besinya berbentuk bundar sebesar kelapa. Masyarakat di Lebong sangat percaya kalau anak hasil zina yang datang ke sana dan mencoba mengangkat peluru besi itu. Pasti tidak akan bisa mengangkatnya. Tapi, kalau orang biasa (bukan anak hasil zina,red), besi peluru itu dengan gampang bisa diangkat. Peninggalan itu, saat ini masih ada dan berada di bukit sebelah kiri jalan menuju tes dari Kota Donok yang sekarang sudah ditumbuhi hutan pinus yang lebat. Bioa Tebet di dalam kamus lisan masyarakat Rejang, nama Danau Tes jarang dipergunakan, bahkan masih asing di telinga warga masyarakat khususnya masyarakat di Topos, Talang Baru, Tanjung, Rimbo Pengadang, Air Dingin, Talang Rratu, Kota Donok, Tes, Taba Anyar, Turun Tiging, Mubai dan Turun Lalang.

Masyarakat Rejang di Lebong dan masyarakat Rejang di daerah lain hanya mengenal akrab nama Bioa Tebet. Nama Bioa Tebet (Bioa berarti air, sungai, kali dan tebet berarti dibendung, dam atau aliran sungai yang sengaja ditutup dengan maksud air aliran airnya bisa tergenang, kolam). Oleh karenanya, dalam bahasa Rejang mengenai ‘tebet’ ada tingkatannya. Misalnya tebet titik (bendungan atau kolam kecil), tebet lai (bendungan atau kolam besar). Tentang nama Bioa Tebet untuk Danau Tes dalam bahasa Indonesianya erat kaitannya cerita rakyat Rejang tentang Si Pahit Lidah (sering juga disebut dengan Si Lidah Pahit). Konon cerita, Bioa Tebet (Danau Tes) merupakan danau buatan secara sengaja dilakukan si Pahit Lidah dikarenakan kemarahannya atas tipu daya masyarakat Kota Donok terhadap dirinya. Sebenarnya masyarakat Kota Donok tidak menipu Si Pahit Lidah, melainkan untuk mencegah pekerjaan Si Pahit Lidah mencangkul kawasan di seberang Dusun Tes (dusun berarti desa dalam pemahaman orang Rejang). Kawasan yang dicangkul Si Pahit Lidah itu mulai dari Ujung Semapak pelabuhan perahu masyarakat Kota Donok dan kawasan wisata di Desa Kota Donok sampai Baten Daet seberang Tes, Taba Anyar dan Turun Tiging. Karena kekhawatiran masyarakat Kota Donok akan pekerjaan Si Pahit Lidah yang nantinya akan menenggelamkan desa mereka. Maka sepakatlah para anggota masyarakat dalam komunitas pengurus Kutei (Kutai, Desa) untuk bagaimana mencegah pekerjaan Si Pahit Lidah itu. Kalau dicegah dengan kasar, masyarakat takut akibatnya. Dicarilah solusi, sehingga Si Pahit Lidah mau menghentikan pekerjaannya itu. Solusi itu adalah dengan mengabarkan bahwa anak Si Pahit Lidah meninggal dunia.

Tentu saja kabar itu tidak dipercayai oleh Si Pahit Lidah. Akan tetapi, karena keuletan utusan dari masyarakat Kota Donok menyampaikan pesan kepada Si Pahit Lidah, akhirnya terucaplah kata dari mulutnya, “Anakku mati ya!”. Tentu saja, ucapan itu menjadi kenyataan dan sadar akan ucapannya yang pahit itu, Si Pahit Lidah marah kepada masyarakatnya. Kemarahannya itu ia lampiaskan dengan mengayunkan cangkulnya, lalu tanah yang ia cangkul dilemparkan ke aliran Bioa Tawen (Air Ketahun) di dekat Desa Tes. Tentu saja aliran sungai itu tertutup dan airnya tergenang. Itulah singkat cerita terjadinya Bioa Tebet (Danau Tes) yang merupakan danau terbesar di provinsi Bengkulu. Kawasan- Kawasan di Danau Tes Di Bioa Tebet itu, terdiri dari beberapa kawasan yang sangat dikenal oleh masyarakat Rejang. Kawasan- kawasan itu sebagai berikut: Pertama, Kawasan Teluk Lem Kawasan Teluk Lem oleh masyarakat dipercayai mempunyai cerita misteri yang angker. Karena, di situ ada gua yang konon dijadikan rumah Ular Kepala Tujuh. Letaknya berada di seberang areal wisata Pondok Lucuk. Di Teluk Lem, juga ada batu yang penuh keajaiban yang disebut dengan Butau Gesea (Batu hampir jatuh)

kedua, Jungut Benei Jungut Benei atau Tanjung Pasir merupakan pulau kecil dengan permukaannya hanya pasir. Pulau kecil itu tidak begitu besar dan letaknya berada di muara aliran Air Ketahun dengan Danau Tes (Bioa Tebet). Untuk mencapai Jungut Benei bisa dilakukan dengan naik perahu atau jalan kaki dari Tlang Macang terus ke Tanjung dan sampailah di Jungut Benei. Di Jungut Benei biasanya dimanfaatkan oleh satwa burung, seperti Blibis, dan burung sawah lainnya dan bagi masyarakat yang suka mencari ikan, Jungut Benei sering dijadikan tempat istirahat. Begitu pula bagi anak-anak atau remaja, dimanfaatkan untuk mencari ikan dan menjerat burung atau tempat bermain yang mengasyikkan. Apalagi di musim kemarau. Jungut Benei dikelilingi Bioa Tebet, Tawen Blau, dan Bioa Ketawen. Di daratannya ditumbuhi rumput selet (sejenis rumput yang tajam dan biasanya untuk makanan kerbau), pun dak (pohon dadak), peak (bambu air), bakung (enceng gondok) dan pun sagau (pohon rumbia). Dari Jungut Benei kita bisa memandang lepas ke arah Danau Tes sejauh mata memandang, dapat melihat bagaimana komposisi rumah- rumah penduduk di Desa Kota Donok dan Sukasari. Termasuk alam pegunungan di sekitarnya. Mengasyikkan sekali.

Ketiga, Bioa Tamang merupakan kawasan di muara Bioa Tamang yang berada di paling ujung rumah penduduk Desa Kota Donok (bukan ujung wilayah desa). Di kawasan ini, selain tempat masyarakat mencari ikan, ada jalan raya ke arah Tes yang mendaki. Seperti pendakian Tarahan di Lampung Selatan, Lampung. Daerah pendakian Bioa Tamang dulu terkenal angker, beberapa kejadian mobil yang terjun ke Danau Tes. Sekarang, nampaknya keangkeran daerah itu sudah jarang dibicarakan, karena, masyarakat di desa Kota Donok masih mempercayai bahwa kalau berada di sekitar Danau Tes jangan bicara Takabur. Keempat, Muara Bioa Putiak kawasan ini berada di wilayah Desa Tes yang terdiri dari hutan Peak (bambu air) dan rawa. Di daerah ini, juga sangat subur untuk lahan pertanian padi sawah. Jika melintasi kawasan ini, dapat dilihat areal persawahan penduduk Kotadonok dan Tes. Di muara Bioa Putiak itulah konon cerita adanya Siamang Bioa yang suka menganggu penduduk naik perahu di kawasan muara sungai tersebut.

Kelima, Jungut Mutung kawasan Jungut Mutung itu berada di seberang pulau pasit atau dikenal dengan Jungut Benei. Daerah itu masih menyatu dengan kawasan Teluk Buluak yang dianggap masih angker karena beberapa satwa liar yang berada di kawasan tersebut. Jungut Mutung merupakan pinggir Danau Tes yang sedikit menjorok ke tengah dan tanahnya terlihat merah. Pinggiran Jungut Mutung itu sering dimanfaatkan penduduk untuk mencari ikan, terutama di malam hari. Keenam, Tawen Blau Tawen Blau merupakan anak Danau Tes yang berada di kaki Desa Kotadonok. Air Tawen Blau selalu berwarna kuning, sekelilingnya dipenuhi tumbuhan rawa atau air seperti pohon peak, rumbia dan di Tawen Blau itu tempat bermuaranya beberapa anak sungai atau setidak-tidaknya empat anak Sungai, di antaranya Bioa Pacua Telai, Bioa Ujung Semapak dan lainnya (belum diketahui namanya, hanya orang menyebut bioa tik (air atau sungai kecil). Konon cerita di kawasan Tawen Blau ada seekor binatang yang menunggu, yaitu Buai Kotong (buaya yang ekornya putus). Buaya itu dipercayai bersarang di bawah pepohonan peak yang berada di kawasan kuburan umum desa Kotadonok. Ketujuh, Ujung Semapak Ujung Semapak boleh jadi sebagai kawasan pelabuhan (untuk perahu) masyarakat Kota Donok yang memanfaatkan potensi Danau Tes. Rumah-rumah penduduknya sebagian berada di atas permukaan air Danau Tes yang ada di pinggiran. Berupa rumah- rumah bertiang tinggi. Di Ujung Semapak itu setiap pagi atau sore dapat dilihat puluhan bahkan lebih perahu yang ditambatkan, juga jaring-jaring yang dijemur atau peralatan penagkapan ikan lainnya milik warga dijemur di pinggir air Danau Tes

sumber : 
http://rusmiadilebong.blogspot.com/2011/10/butau-gesea-mitos-rakyat-rejang-di.html

Danau Dendam Tak Sudah (Cerita Rakyat Bengkulu)

Alkisah pada jaman dahulu kala disebuah kampung hiduplah seorang gadis yang cantik jelita, namanya Esi Marliani. Dia menjalin kasih dengan seorang pria yang tampan nan gagah perkasa kira-kira bernama Buyung. Mereka memadu kasih begitu indahnya. Sekali waktu mereka bernyanyi sambil menari dibawah pohon cempedak. Mereka saling kejar-kejaran mengelilingi pohon cempedak dan kadang mereka berguling-guling direrumputan atau mereka berayun diantara akar-akar pohon beringin. Sampai-sampai rusa, tupai dan biawak iri melihat kemesraan mereka berdua . ohhh, dunia serasa milik mereka berdua saja...
Tapi sayang cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pemuda karena sang pemuda sudah dijodohkan dengan gadis dari kampung tetangga anak gadis kepala suku, si upik Leha, yang memiliki kecantikan yang luar biasa. Betapa kecewanya hati si gadis Esi karena ternyata si buyung juga mencintai anak gadis pak lurah dari desa tetangga itu.
Pada waktu musim kawin, Si buyung dan anak gadis pak lurah dari desa tetangga melangsungkan pernikahannya. Pada hari itu mereka diarak keliling kampung-kampung. Sementara si Esi begitu terluka hatinya. Dia menangis tiadalah hentinya (w00aaa...woaaa..waaaaaa...hiks..hiks..woaaaaaa...).
Burung, kucing dan bebek angsapun turut menangis karenanya. Dan dia begitu dendam dengan si buyung.
Ketika kedua mempelai di arak melewati kampungnya terjadilah keanehan yang diluar akal sehat manusia, linangan air mata Esi begitu derasnya hingga perlahan membanjiri kampungnya dan menenggelamkan iring-iringan arakan mempelai sehingga semua penghuni kampung dan arak-arakan mempelai tenggelam oleh linangan air mata Esi yang akhirnya menjadilah sebuah danau yang kita kenal sekarang sebagai "Danau Dendam Tak Sudah". Esipun ikut tenggelam oleh derai linangan air matanya sendiri.
Alkisah kedua mempelai kemudian berubah jadi sepasang ular tikar. mereka terkadang menampakan diri dari kejauhan danau sementara Esipun berdiri diatas kedua ular tikar tersebut, kakinya yang kiri menginjak ular yang cewek kaki yang kanan menginjak ular yang cowok.
Begitulah kisah dongeng yang sebenarnya tentang "Danau Dendam Tak Sudah". Sekian
Dan inilah potensi pariwisata di "DANAU DENDAM TAK SUDAH"
Di Bengkulu Sumatera ada objek Wisata Danau Dendam Tak Sudah yang tidak kalah indah dan esotik dengan Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumatera Barat.
Danau Dendam Tak Sudah. Namanya memang unik dan tidak begitu lazim untuk nama sebuah danau pada umumnya. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, mengapa danau yang terletak di Bengkulu Utara ini bisa diberi nama seperti itu.
Nama “Dendam Tak Sudah” bermula pada masa Belanda menduduki Indonesia. Saat itu, Belanda memutuskan membuat dan di danau ini agar airnya tidak mudah meluap dan proses pembuatan jalan pada waktu itu menjadi lebih mudah. Dan Konon asal-usul nama danau Dendam Tak Sudah berasal dari legenda dua orang kekasih yang tidak direstui lalu menceburkan diri ke dalam danau tersebut.
Luas danau tersebut sekitar 577 hektar, dan menjadi bagian dari beberapa kecamatan di kawasan Bengkulu Utara.Danau Dendam tak sudah berjarak sekitar 6 km dari pusat Kota Bengkulu
Akses menuju ke lokasi wisata terseebut pun tak sulit. Banyak angkutan umum yang rutenya melewati daerah itu. Atau jika Anda membawa kendaraan sendiri, jarak danau Dendam Tak Sudah dari kota Bengkulu hanya sekitar 30 menit perjalanan saja.
Selain namanya, yang istimewa dari Danau Dendam Tak Sudah adalah keberadaan anggrek pensil (vanda hookeriana). Anggrek pensil merupakan tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di kawasan danau ini. Di samping itu, ada juga beragam flora seperti anggrek matahari, pulai, ambacang rawa, bakung, nipah, terentang, sikeduduk, plawi, gelam, brosong, dan pakis. Atraksi alami hewan langka seperti utung dan kera ekor panjang juga menarik. Hewan-hewan tersebut sering tampak bergelantungan di pepohonan sekitar danau.
Di pagi hari, pengunjung bisa menikmati matahari terbit dan pemandangan cantik permukaan danau yang berwarna kemerahan tertimpa cahaya sang surya . Di lokasi ini Pengunjung bisa memancing dan berkeliling ke seleluruh penjuru danau dengan rakit atau perahu juga asyik. Danau Dendam Tak Sudah dikelilingi bukit-bukit serta hutan rimbun. Udaranya juga sejuk, Keasrian danau serta lingkungan cagar alam yang luas merupakan potensi bagi wisatawan minat khusus untuk melakukan pendidikan dan penelitian.
Anda yang menyukai wisata kuliner, di beberapa bagian tepi danau dapat Anda jumpai warung makan atau pondok-pondok yang menjajakan beberapa jenis makanan seperti jagung bakar, kelapa muda serta hidangan yang merupakan ikan khas Danau Dendam Tak Sudah seperti perut punai, lempuk dan kue tat juga bisa dibeli di sekitar lokasi.
DOKUMENTASI .... !!
keindahan danau dendam tak sudah di sore hari

Danau dendam tak sudah



sumber :
http://potensidaerah.ugm.ac.id/?op=berita_baca&id=264

Putri Gading Cempaka Cerita Rakyat Bengkulu

Ilustrasi Putri Gading Cempaka
Tersebutlah dalam sebuah kisah, pada mulanya yang memerintah di negeri Sungai Serut ini ialah seorang raja yang berasal dari Majapahit, namanya Ratu Agung. Sebagai cikal-bakal dari kerajaan Sungai Serut, konon ceritanya, Ratu Agung adalah jelmaan bangsa dewa dari Gunung Bungkuk yang mendapat tugas untuk mengatur bangsa manusia di bumi.
Adapun rakyat yang diperintahkan oleh Ratu Agung ialah rakyat Rejang Sawah. Rakyatnya berperawakan tinggi, tegap, dan besar melebihi ukuran manusia pada umumnya. Disamping itu, dibagian tulang sulbinya agak sedikit menonjol yang panjangnya sekitar satu jari. Oleh sebab itulah, rakyat Ratu Agung ini juga disebut oleh orang sebagai Rejang Berekor. Sebagai jelmaan dewa dari Gunung Bungkuk, Ratu Agung tidak saja mampu memerintah dengan adil, bijak, dan penuh wibawa, tetapi juga telah berhasil membangun negeri Sungai Serut hingga menjadi negeri yang kaya dan makmur. Sebuah istana yang sangat megah juga telah didirikan di mudik kuala Sungai Serut.
Di singgasana yang amat megah inilah yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat kediaman sang Ratu Agung bersama kerabat kerajaan dan ketujuh putra-putrinya, yang terdiri atas enam laki-laki dan seorang perempuan. Anak yang pertama bernama Kelamba Api, yang juga dikenal dengan nama Raden Cili. Yang kedua bernama Manuk Mincur, dan yang ketiga bernama Lemang Batu. Yang keempat bernama Tajuk Rompong, yang kelima bernama Rindang Papan, yang keenam bernama Anak Dalam, dan yang ketujuh atau bungsu bernama Putri Gading Cempaka.
Si Bungsu nan Jelita
Selanjutnya dikisahkan, bahwa negeri Sungai Serut kian lama kian Masyhur. Bahkan nama negeri Sungai Serut pun semakin harum di negeri-negeri atau kerajaan-kerajaan manca lainnya. Terlebih lagi, keharuman nama negeri Sungai Serut ini disebabkan oleh putri bungsu yang bernama Putri Gading Cempaka yang kian hari kian tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja putri nan cantik jelita.
Meskipun belum menginjak usia dewasa, tetapi keelokan paras Putri Gading Cempaka ini sudah terlihat dengan jelas pada usia yang masih remaja.
Kecantikannya sungguh tiada taranya, bagai bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya yang sungguh tiada bandingnya, maka banyak putra dari kaum bangsawan yang berniat untuk mempersunting sebagai pemdamping hidupnya. Akan tetapi karena saat itu si bungsu masih belum menginjak usia dewasa, maka semua pinangan yang datang menghadap Ratu Agung pun selalu ditolaknya dengan cara yang bijaksana.
Wasiat Sang Raja
Bulan telah berjalan silih berganti, tahun pun terus berlari, dan juga usia manusia semakin berkurang jatahnya. Yang semula masih kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, meningkat dewasa dan kemudian menjadi tua. Begitulah hukum alam dari Sang Pencipta yang berlaku bagi makhluk ciptaan-Nya, tanpa kecuali bangsa manusia. Demikian pula dengan sang Ratu Agung yang kian menua usianya.
Pada suatu hari, Ratu Agung pun jatuh sakit karena dimakan usia yang memang sudah tua. Kian hari, sakit yang dideritanya pun tiada kunjung sembuh, bahkan kian bertambah parah saja. Sebagai raja jelmaan dari dewa yang telah menjadi manusia, nalurinya masih kuat, bahwa ajalnya tak lama lagi akan tiba. Oleh sebab itu, sebelum ajalnya tiba, sang Ratu Agung nan bijaksana itu segera memanggil ketujuh putra-putrinya.
Setelah ketujuh putra–putrinya itu berkumpul sujud di sekeliling ayahandanya, syahdan bersabdalah ayahanda dengan suara pelan penuh wibawa :”Duhai anakandaku semua, kini rasanya ayahanda tiadalah kuasa hidup berlama-lama. Sebelum Ayahanda meregang jasad melepas nyawa meninggalkan dunia nan fana, maka Ayahanda hendak menitipkan dua buah wasiat kerajaan ini kepada anakandaku semua.”
Mendengar sabda ayahanda sang Baginda Ratu Agung yang hendak sekarat itu, raut muka dari ketujuh putra-putrinya itu langsung lesu, memucat. Terlebih si bungsu Putri Gading Cempaka yang tak kuasa menahan gejolak emosi dalam batinnya. Dan perlahan-lahan berderailah air matanya mengucur membasahi kedua pipinya, meskipun belum tampak suara rintihan isak tangis yang keluar dari mulut mungilnya. Ayahanda Baginda Ratu Agung pun lalu melanjutkan sabdanya.
“Demi menjunjung tinggi rasa keadilan, kedamaian, dan ketentraman di dalam negeri ini, maka Ayahanda berwasiat tahta kerajaan Sungai Serut ini kepada anakandaku Anak Dalam. Namun demikian Ayahanda berpesan hendaknya kalian semua tetap bersatu dalam suka maupun duka, dalam bahagia maupun derita. Adapun wasiat yang kedua adalah, apabila terjadi sesuatu hal yang menimpa negeri Sungai Serut ini, dan negeri ini sudah tidak dapat lagi dipertaruhkan, maka hendaklah kalian semua menyingkir ke Gunung Bungkuk.
Di Gunung Bungkuk itulah nanti datang seorang raja yang akan menjadi jodoh anakandaku Putri Gading Cempaka.” Wasiat tahta Sungai Serut itupun kemudian diterima oleh Anak Dalam tanpa menimbulkan rasa iri hati pada saudara-saudaranya yang lebih tua. Bahkan semua saudara tuanya telah sepakat mendukung kedua wasiat ayahandanya, meskipun diliputi dengan suasana yang amat mengharukan serta menegangkan.
Kabut Duka Sungai Serut
Untung tak dapat diraih, nasib pun tak dapat ditolak. Begitulah kalau ajal manusia hendak sirna kembali ke pangkuan Illahi. Setelah ayahanda Putri Gading Cempaka memberikan wasiat kerajaannya kepada Anak Dalam, maka tak seberapa lama, wafatlah sang Baginda Ratu Agung, pendiri dinasti kerajaan Sungai Serut. Melihat Sang Ayahanda Baginda Ratu Agung membisu membujur kaku, serta menutup mata, maka gemuruhlah isak tangis ketujuh putra-putrinya, yang membuat gempar seisi istana. Maka si bungsu Putri Gading Cempaka pun meratap sejadi-jadinya. Seakan si bungsu nan cantik jelita ini tak rela mengantar kepergian Ayahandanya Baginda Ratu Agung untuk selama-lamanya.
“Ya ayahku ratu jujungan, Tajuk mahkota lepas di tangan, Malang sangat anak gerangan, Seumur hidup mabuk kenangan, Ayuhai ayahku ayuhai paduka ratu, Tempat bergantung anakanda satu, Sekarang anakanda tujuh piatu, Tentu bercinta setiap waktu, Ya ayahku raja bestari, Anakanda piatu di dalam negeri, Duduk bercinta setiap hari, Pilu dan sedih menyerang diri. Ya Ayahku yang amat kucinta, Tempat bergantung ayah semata, Sekarang patah sudahlah nyata, Karam dunia pemandangan beta. Aduhai ayahku aduhai gusti, Meninggalkan anak sampailah hati, Jadi sesalan tiada terhenti, Kenang-kenangku sebelum mati. Nyata anakmu berhati rindu, Ayah tiada tempat mengadu, Nasi dimakan rasa empedu, Air serasa getah mengkudu.
Isak tangis yang tiada terperi itu meriuhkan seisi istana. Kemudian menggema dan menggetarkan seluruh rakyat di negeri Sungai Serut. Kini seluruh anak negeri telah dirundung kabut duka nestapa yang amat dalam, karena Baginda Ratu Agung nan amat dicintai oleh seluruh rakyatnya telah tiada lagi di dunia. Gegap gempitalah segenap pejabat serta kerabat kerajaan, para sanak famili handai taulan, Bilal, Katib, Kadi, serta hamba kerajaan pun berdatangan serta menghatur sembah dihadapan ketujuh putra-putri kerajaan. Sementara tuan Putri Gading Cempaka terlihat masih meratapi jasad Ayahandanya yang telah terbujur kaku.
Maka berkatalah salah seorang hamba kerajaan, “Ampun diperbanyak ampun, tuan Putri hari sudah tinggi, Ayah tuan harus dimandikan. Anak Dalam lalu bertitahlah kepada salah seorang mamandanya: “Mandikanlah dengan segera Mamanda, supaya jasad ayahanda dapat segera kita makamkan.“ Maka segeralah jasad ayahanda Ratu Agung itupun dimandikan melalui upacara dengan penuh khitmad sebagaimana adat istiadat bagi raja-raja yang wafat pada zaman itu.
Pangeran Muda Aceh Terpikat
Konon berita tentang keelokan Putri Gading Cempaka yang tiada bandingnya itu telah tersebar di seluruh penjuru wilayah kerajaan manca, tanpa kecuali kerajaan Aceh. Tak pelak lagi, putra mahkota kerajaan Aceh pun sangat terpikat oleh kecantikan Putri Gading Cempaka. Timbulah dalam pikiran Pangeran Muda Aceh hendak pergi ke negeri Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka. Ketika pikiran itu telah mengganggu dalam tidurnya, maka Pangeran Muda Aceh itupun segera memutuskan untuk segera menghadap ayahanda Baginda Sultan, memohon kebawah cerpu baginda hendak berangkat ke negeri Sungai Serut.
Tatkala Ayahanda Baginda Sultan melihat dari dekat guratan wajah anakanda Pangeran Muda yang penuh maksud dan asa itu, maka bertitahlah sang baginda : “Hai anakku, biji mata ayahanda, apa sebabnya maka anakanda datang dengan bermuram durja ini ? Adakah seorang dayang telah bersalah dalam melayani anakanda. Dayang dan inang pengasuh yang mana kali yang kurang melayani anakanda?” Maka segeralah Pangeran Muda itu berlutut di hadapan Baginda, seraya bersembah diri. “Ya ayahanda baginda, tiadalah kiranya kekurangan suatu apa pada anakanda, dan tiadalah seorang jua pengiring anakanda yang salah melayani anakanda,” jawab Pangeran Muda.
“Kalau demikian adanya, giranglah sangat ayahanda mendengarkan perkataan biji mata ayahanda. Akan tetapi terangkanlah, hai anakku, agar ayahanda mengetahui apakah hajat anakanda datang bersembah dihadapanku ini?”
Ketika didesak perkataannya oleh baginda, maka berteranglah Pangeran Muda Aceh itu kepada ayahandanya. “Ya Baginda ayahanda, adapun anakanda datang kehadapan ayahanda, tiadalah lain hendak memohon restu dari Ayahanda, agar ayahanda memberikan izin kepada anakanda yang hendak pergi berlayar ke negeri Sungai Serut. Untuk meminang Putri Gading Cempaka yang telah menjadi tambatan hati hamba.
Selain daripada itu, anakanda juga ingin mengetahui adat lembaga dari negeri lain, agar kelak anakanda dalam menggantikan ayahanda telah banyak menimba pengetahuan tentang segala suatu adat negeri lain.” Setelah mendengar permintaan yang sungguh-sunguh dari Pangeran Muda itu, dengan sukacita Baginda memberikan izin kepadanya. Baginda segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan perbekalan dan segera menurunkan perahu yang terkalang dan beberapa perahu lain yang disertai dengan anak-anak muda secukupnya untuk mengiringnya.
Pada keesokan harinya, bersamaan dengan terbitnya sang mentari dari ufuk timur, serta merta diiringi oleh kicauan burung yang terbang bebas menyongsong pagi nan cerah, maka berpamitanlah anak raja Aceh kepada Ayah-bundanya. Pangeran Muda Aceh pun segera berangkat ke negeri Sungai Serut hendak meminang Putri Gading Cempaka, agar kelak dikemudian hari dapat menjadi permaisuri sebagai pendamping Pangeran Muda. Dengan disertai do’a restu dari ayah-bunda, maka Pangeran Raja Muda Aceh bersama segenap hulubalang pengiringnya naik kedalam perahu, dan siaplah berlayar meninggalkan daratan tanah rencong.
Berdirinya Kerajaan Sungai Lemau
Tak seberapa kemudian sampailah utusan Baginda  bersama dengan Putri Gading Cempaka dan keenam saudara-saudaranya di negeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti segera menyambut para tamunya dengan rasa sukacita. Maka segera dipersiapkan pesta besar-besaran untuk melangsungkan acara perkawinan antara Baginda Maharaja Sakti dengan Putri Gading Cempaka. Pada kesempatan yang sama juga dilangsungkan upacara penobatan sang Baginda Maharaja Sakti menjadi raja di negeri Bangkahulu, sedangkan tuan Putri Gading Cempaka duduk disampingnya menjadi permaisurinya.
Tak seberapa lama kemudian, dibangunkannya sebuah istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan serta kediaman Baginda dan permaisuri Putri Gading Cempaka. Adapun letak istana kerajaannya di kuala Sungai Lemau. Oleh sebab itu, maka nama kerajaan dari Baginda Maharaja Sakti itu kemudian disebut kerajaan Sungai Lemau. Dibawah pemerintahan Baginda Maharaja Sakti yang didampingi oleh tuanku Putri Gading Cempaka, negeri Sungai Lemau kian lama kian masyhur namanya. Kehidupan rakyatnya semakin bertambah makmur, negerinya amat subur. Padipun mudah menjadi, beras amatlah murah, anak-buahpun semakin berkembang banyak. Adat dengan lembaga berdiri kokoh. Adat yang dipakai , lembaga yang dituang, bak air mengarus hilir, adat mengarus mudik. Mengarut cupak dengan gantang, mengatur ukuran dengan timbangan.
Lahirnya Sang Putra Mahkota
Beberapa bulan kemudian, tuan Putri Gading Cempaka itupun sudah mulai menujukkan tanda-tanda kehamilan. Maka tidak lama lagi Baginda dan permaisuri akan segera mendapatkan karunia seorang anak. Setelah bulan berjalan sembilan lebih sepuluh hari, Putri Gading Cempak kemudian melahirkan seorang putra laki-laki. Bukan kepalang girangnya Baginda Maharaja Sakti serta Putri Gading Cempaka setelah mendapatkan putra laki-laki yang mungil dan lucu itu. Maka pada hari yang baik segeralah Baginda Maharaja Sakti mengumpulkan segenap kerabat kerajaan, anak-buah serta para dayang untuk mengadakan upacara selamatan menyambut kelahiran putra mahkota negeri Sungai Lemau itu. Kemudian Baginda Maharaja Sakti memberinya nama : Aria Bago. Demikianlah cerita Putri Gading Cempaka yang menurunkan raja-raja di negeri Sungai Lemau.
(Kisah ini dikutip dari beberapa sumber, terima kasih kontribusinya)

Sejarah Serunting sakti atau Sipahit lidah versi pasemah

SERUNTING SAKTI ALIAS SI PAHIT LIDAH

Sejarah Puyang Serunting Sakti
Serunting, itu nama aslinya., ada juga yg menyebutnya serunting sakti.
Cerita kesaktiannya telah dibicarakan sejak dulu di daerah sumatera bagian selatan., tak hanya provinsi sumsel, daerah kekuasaannya sampai jambi, bengkulu dan lampung., menurut legendanya dia pendekar yg baik hati dan bijaksana.,
Berbagai versi asal muasal puyang serunting Sakti.
1. Versi dari Suku Serawai ( Semidang Alas Bengkulu Selatan )
Berdasarkan cerira tutur, Suku Serawai berasal dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap. Sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab yang datang ke Bengkulu melalui Kerajaan Majapahit.
Asal-usul suku Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya. Asal-usul suku Serawai hanya diperoleh dari uraian atau cerita dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga sulit untuk membedakan dengan yang bernilai sejarah. Ada satu tulisan yang ditemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun yang terletak di Maras, Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan huruf yang menyerupai huruf Arab kuno. Namun sayang sekali sampai saat ini belum ada di antara para ahli yang dapat membacanya.
Berdasarkan cerita para orang tua, suku bangsa Serawai berasal dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit. Di Majapahit, Serunting Sakti meminta sebuah daerah untuk didiaminya, dan oleh Raja Majapahit dia diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan. Ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti berasal dari langit, ia turun ke bumi tanpa melalui rahim seorang ibu. Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Puyang Kepala Jurai dengan Puteri Tenggang.
Di dalam Tembo Lebong terdapat cerita singkat mengenai seorang puteri yang bernama Puteri Senggang. Puteri Senggang adalah anak dari Rajo Megat, yang memiliki dua orang anak yakni Rajo Mawang dan Puteri Senggang. Dalam tembo tersebut kisah mengenai Rajo Mawang terus berlanjut, sedangkan kisah Puteri Senggang terputus begitu saja. Hanya saja ada disebutkan bahwa Puteri Senggang terbuang dari keluarga Rajo Mawang.
Apabila kita simak cerita tentang kelahiran Serunting Sakti, diduga ada hubungannya dengan kisah Puteri Senggang ini dan ada kemungkinan bahwa Puteri Senggang inilah yang disebut oleh orang Serawai dengan nama Puteri Tenggang. Dikisahkan bahwa Puyang Kepala Jurai yang sangat sakti jatuh cinta kepada Puteri Tenggang, tapi cintanya ditolak. Namun berkat kesaktiannya, Puyang Kepala Jurai dapat melakukan hubungan seksual dengan puteri Tenggang, tanpa disadari oleh puteri itu sendiri. Akibat dari perbuatan ini Puteri Tenggang menjadi hamil. Setelah Puteri Tenggang melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Tolak Merindu barulah terjadi pernikahan antara Putri Tenggang dengan Puyang Kepala Jurai, itupun dilakukan setelah Puteri Tolak Merindu dapat berjalan dan bertutur kata.
Setelah pernikahan tersebut, keluarga Puyang Kepala Jurai belum lagi memperoleh anak untuk jangka waktu yang lama. Kemudian Puyang Kepala Jurai mengangkat tujuh orang anak, yaitu: Semidang Tungau, Semidang Merigo, Semidang Resam, Semidang Pangi, Semidang Babat, Semidang Gumay, dan Semidang Semitul. Setelah itu barulah Puyang Kepala Jurai memperoleh seorang putera yang diberi nama Serunting. Serunting inilah yang kemudian menjadi Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Serunting Sakti berputera tujuh orang, yaitu :
Serampu Sakti, yang menetap di Rantau Panjang (sekarang termasuk marga Semidang Alas), Bengkulu Selatan;
Gumatan, yang menetap di Pasemah Padang Langgar, Lahat;
Serampu Raye, yang menetap di Tanjung Karang Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT);
Sati Betimpang, yang menetap di Ulak Mengkudu, Ogan;
Si Betulah, yang menetap di Saleman Lintang, Lahat;
Si Betulai, yang menetap di Niur Lintang, Lahat;
Bujang Gunung, yang menetap di Ulak Mengkudu Lintang, Lahat.
Putera Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai 13 orang putera yang tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan anak-anaknya ini dianggap sebagai cikal-bakal suku Serawai. Putera ke 13 Serampu Sakti yang bernama Rio Icin bergelar Puyang Kelura mempunyai keturunan sampai ke Lematang Ulu dan Lintang.
2. Versi Suku Gumay Besemah.
Diantara beragam versi tentang Legenda Puyang Si Pahit Lidah, maka kami ber inisiatif untuk membuka sedikit wacana ini menurut catatan / tambo sejarah yang ada pada silsilah keluarga kami.
Maka Beliau yang namanya kami ambil sebagai Nickname di KWA ini ( Pangeran Sukemilung ) menurut tambo / sejarah GUMAY adalah keturunan dari seseorang yang bernama DIWE GUMAY.Kisah itu sebagai berikut….
Bahwa GUMAY adalah nama seorang DIWE yang turun kedunia dan mulai betapak di Padang Selase ( Bukit Siguntang ) di palembang. Ngawak Diwe mule-mule :
Diwe Gumay beristrikan anak Ratu Bengkulu. Waktu tersebut hampir bersamaan dengan terjadinya perang antara Bengkulu dan Aceh.Menurut ceritanya, Diwe Gumaylah yang dipanggil oleh bakal istrinya untuk menyudahi perang tersebut. Sehingga membuat perang tersebut berakhir dengan istilah : Atjeh kalah-Bengkulu Silah.
Dari pernikahan itu, Diwe Gumay mempunyai dua anak :
Ratu Iskandar Alam
Ratu Selibar Alam.
( Ratu Selibar Alam pergi ke Pagaruyung-Minangkabau dan keturunannya ada dipagaruyung )
Ratu Iskandar Alam, berputra :
Ratu Djemenang Sakti, berputra :
Ratu Gandjaran, berputra :
Ratu Menggale ( Semenggale ), berputra :
Ratu Semenggali, berputra :
Ratu Berdjunjang Sakti, berputra :
Ratu Radje Kuase ( Meradje Mengkuse ), berputra :
Ratu Radje Mude ( Ratu Kebuyutan ), yaitu Ratu terakhir.
Ke sembilan Ratu ini disebut “ RATU SEMBILAN DJUNDJANG “ ( Gilir ). Dari keturunan yang kesembilan ini, Ratu Radje Mude ( Ratu Kebuyutan ) mempunyai dua orang anak.
Raden Simbang Gumay ( Pangeran Sukemilung ) disebut juga Puyang Sukemilung
Putri Renik Debung. Beliau menjadi istri Puyang Saing Nage didalam laut.
Pangeran Sukemilung sendiri mempunyai 9 orang anak dari 2 istri. Anak-anak beliau ini disebut PUYANG SEMBILAN BERADEK. Nama anak-anak beliau adalah :
Puyang Remandjang Sakti, napak BALAI BUNTAR-Lubuk sepang, Lahat.
Puyang Intan permata Djagat,ngadekan ds.Prabu menang. Puntang Suku Merapi.
Puyang Pandjang,di Panda Enim.
Puyang Endang, di Lintang Kanan.
Puyang Remindang, ditangga Rase ( Manna )
Puyang Limpak, di Air Balui ( Musi Ulu )
Puyang Limparan, di Lubuk – Kayu Are
Puyang Untu, di Niru / Rambang Prabumulih
Puyang Remuntu, di Tjinte Mandi ( Redjang Bengkulu )
Dan keturunan selanjutnya sampai sekarang adalah anak cucu dari Puyang Remandjang Sakti. Kembali pada Kisah Puyang Si Pahit Lidah ( Pangeran Sukemilung ), beliau mempunyai nama dan gelar yang banyak. Masyarakat Palembang dan sekitarnya mengenal beliau dengan nama-nama- antara lain dibawah ini :
Diwe Sekilung / Sukemilung / Semidang : Nama Saat Sedang Musafir
Diwe Serunting : Nama Asli
Diwe Rakuan : Nama Saat Berperang
Diwe Lenggang Pati : Nama Keramat Bisa Mendatangkan Ribuan Angin Berdengung
Diwe Lian Pati : Nama Budi Pekerti Lemah Lembut Dan Shabar
Diwe Malin Pati : Nama Kebesaran Pemimpin
Ini sekilas sejarah dan silsila dari Serunting Sakti dari berbagai versi daerah.
Artikel ini hanya sekedar sharing saja, bukan untuk di perdebatkan. Jika ada pembaca yang lebih paham tentang Legenda ini, kami persilahkan untuk mengkoreksinya dan meluruskan. Sepanjang hal itu dapat menambah nilai-nilai kebersamaan, serumpun dan seketurunan guna menjaga nasab dari pelaku sejarah yang menjadi Legenda Sumatera Selatan ini.
Jika merujuk dari kisah-kisah yang dituturkan masyarakat, menggambarkan bahwa si Serunting Sakti ini memiliki jiwa satria dan ilmu yang sangat sakti mandraguna.
Jejak – Jejak Si Serunting Sakti / Si Lidah Pahit.
Berikut beberapa tempat yang menjadi lokasi yang diduga pernah disinggahi oleh Serunting Sakti alias silidah pahit.
1. Gua Putri dan Batu Putri
Bila Anda sudah mencapai Baturaja, sempatkanlah untuk mengunjungi Wisata Goa Putri yang terkenal dengan cerita mengenai seorang putri dengan perangkat istananya yang sudah menjadi stalagtit dan stalagmit ini. Goa Putri terletak di Desa Padang Bindu, Kecamatan Pengandonan, sekitar 35 km dari kota Baturaja.
 
Goa Putri
Konon menurut legenda, Dahulu disini pernah hidup seorang putri bernama Puteri Dayang Merindu bersama keluarganya. Pada suatu hari Sang Puteri sedang mandi di muara sungai Semuhun, sungai OKU.  Jaraknya kurang lebih 1 km dari Gua ini.  Lewatlah seorang pengembara ditempat itu. Tatkala melihat Sang Puteri timbul perasaan ingin menyapa, namun saat itu tidak mendapat perhatian sama sekali sehingga dia merasa gusar. “Sombong sekali puteri ini, diam seperti batu” ujarnya. Tiba-tiba saja tubuh Puteri Dayang Merindu berubah menjadi batu.
 
Inilah Batu yang disebut –sebut sebagai Batu Putri
“Pada saat banjir melanda daerah ini tahun 1982, jembatan penghubung desa ke seberang hancur dihantam air. Air sudah sangat tinggi, tapi anehnya Batu Putri ini tidak tenggelam ataupun roboh. Percaya atau tidak, kalau batu putri sampai tenggelam atau roboh maka dunia kiamat”.
Itu hanya sedikit dari banyak komentar masyarakat pribumi tentang batu putri yang dinilai mengandung hal yang mistis bagi penduduk sekitarnya.
Batu ini berdiri anggun ditengah air, bagian atasnya diselimuti oleh tumbuh-tumbuhan dan rumput. Dipercaya sebagai penjelmaan Putri Dayang Merindu, Puyang terdahulu bagi masyarakat ogan ulu yang menurut legenda dikutuk oleh Pendekar Serunting Sakti (Puyang Pahit Lidah) menjadi batu saat tengah mandi.
Kemudian Sang Pengembara memasuki desa, ketika tampak desa yang sepi karena penduduk sedang bekerja disawah dia kembali berkata “Katanya desa tetapi sepi seperti goa batu”. Dan seperti tadi desa tersebut berubah menjadi goa batu. Ternyata Pengembara tersebut adalah Si Serunting Sakti yang dijuluki Si Pahit Lidah, yang bila menyumpah semua yang terkena akan menjadi batu. Ternyata si Pahit Lidah tidak hanya menyumpah sang Putri saja. Ia juga mendatangi Gua kediaman sang Putri beserta keluarganya. Konon kabarnya semua yang berada di dalam Gua ikut disumpahnya menjadi batu. Dan kini beberapa bentuk batu gua yang ada didalam bisa diceritakan oleh Guide.
Dayang Merindu yang dikutuk Serunting Sakti atau Sipahit Lidah, diyakini warga sekitar berasal dari Sunda. Keyakinan mereka berdasarkan penerawangan dari sejumlah paranormal yang pernah melakukan penerawangan di gua Putri, di Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji Kabupaten OKU. Keyakinan bahwa Putri Dayang Merindu berasal dari pulau Jawa dikuatkan dengan pernah datangnya salah seorang keturunan sunan yang mengaku, bahwa sang putri masih memiliki keturunan dengan salah satu sunan. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, mereka memperkirakan bahwa Putri Dayang Merindu merupakan istri dari salah satu raja yang ada di pulau Jawa pada saat itu.
Saat anda akan memasuki Goa Putri anda akan menemukan sebuah suguhan menarik yang dapat membuat anda meresapi nilai Historis Goa Putri. Didalam Gua terdapat ruang tamu, pemandian putri, pembaringan putri, pendapuran ( dapur ), balai pertemuan, lumbung padi, singgasana sang Raja dan dua ekor sang penjaga Gua yaitu patung Harimau. Nah, biar gak makin penasaran, ayo mulai menelusuri Gua yang terlihat dari luar sangat besar dan indah. Untuk memasuki Gua, Kita harus naiki puluhan anak tangga yang diapit oleh dua batu besar. Mendekati Gua terdapat Stalaktit ukuran sedang menjulang dari atas sampai pinggang orang dewasa di tengah jalan setapak yang dilewati.
Saat melewati stalaktit itu pak Jafri  ( Guide ) memukul satu kali batu itu.  kenapa harus memukul batu yang menghasilkan suara berdengung. Menurutnya, itu adalah salah satu tanda sebagai salam untuk masuk ke dalam gua. Kita pun mengikuti memukul batu itu sebagai salam untuk masuk ke dalam gua. Sesampainya di mulut Gua, pemandangan sangatlah menakjubkan. Beberapa batu ukuran raksasa menyambut kedatangan kita. Memasuki dalam Gua, suasana sejuk tapi lembab mulai terasa dengan aroma tanah khas sebuah Gua pada umumnya.
Gua  ini memiliki panjang kurang lebih 180 meter yang bisa ditelusuri. Tapi menurut sang Guide masih panjang lagi namun belum terbuka untuk umum. Lokasi ini juga sudah ada jalan setapak yang terbuat dari semen yang di cor dan pagar sebagai pengaman. Untuk penerangan Gua telah dipasangi lampu di beberapa titik oleh pengelola, jadi buat para pengunjung tidak usah khawatir gelap-gelapan.
Setelah memasuki Gua, pada bagian tengah terdapat kumpulan stalaktit yang patah didasar Gua. Konon batu ini adalah Kembang dadar hiasan sebagai pintu masuk rumah sang Putri. Masuk kedalam lagi terdapat ruang tamu yang cukup luas berada diatas batu ukuran raksasa yang sangat lebar. Disamping ruangan itu terdapat  kolam nya sang putri. Kolam ini berfungsi sebagai taman air yang kalau ini seperti kolam ikan. Nah tepat di tengah kolam itu terdapat pendapuran ( dapur ) yang pada ujung dalamnya terdapat bak penampungan air dari batu alami yang berbentuk cekungan dan airnya tidak pernah kering.
Dari tempat ini  menuruni anak tangga dan menemukan balai pertemuan yang terbuat dari batu lempengan ukuran raksasa juga. Menurut cerita, dahulu kala berfungsi sebagai panggung atau balai pertemuan. Dari tempat ini ada juga anak tangga yang menuju ke lantai dua yang berfungsi sebagai ruangan istrihat. Namun sayang tangga untuk naiknya sudah keropos. Menuju lokasi lain, berikutnya adalah pembaringan sang Putri yang berada diatas batu yang lumayan agak tinggi.
Nah, dibawahnya terdapat kolam pemandian sang Putri yang terkenal menurut mitos masyarakat disini, jika mandi atau mencucui muka di pemandian ini maka akan terlihat awet muda.  Air yang melintasi gua ini adalah muara air dari perbukitan yang di sebut aliran air Sumuhun ( permohonan ). Ternyata airnya sangat dingin dan segar sekali sewaktu membasuh muka.

Banyak juga para wisatawan yang datang untuk mandi di lokasi ini setiap harinya. Airnya yang jernih dengan dasar batu kali kecil yang dangkal seukuran betis orang dewasa menjadikan tempat ini sangat diminati orang-orang. Masih menurut pak Jafri, pada tahun 1825 sampai 1835, Gua ini juga pernah menjadi persembuyian masyarakat desa dari penjajahan Belanda. Dan Gua ini juga dikenal dengan Shoman Dusun yang berarti Gua Desa.

Penelusuran kelokasi berikutnya. Untuk melihat patung sang Harimau ternyata kita harus menaiki tangga menuju tempat yang cukup luas dengan bebatuan besar dibagian belakangnya. Patung dua Harimau penjaga itu terdapat di mulut lubang yang tidak terlalu besar di seberang berjarak kurang lebih 40 meter, sekilas memang dua batu di mulut lubang itu seperti Harimau yang sedang duduk berjaga-jaga.  Dari tempat kita berdiri ternyata masih bisa menuju ke dalam Gua lebih dalam. Namun saat ini akses kedalam masih gelap dan tertutup batu besar. Asiknya, diatas batu besar itu terdapat juga lobang besar menuju ke atas bukit. Lubang ini juga menjadi salah satu penerangan Gua yang besar ini.
Usai melihat dua patung Harimau, kita bisa menuju pintu keluar yang dinamakan pintu Ajaib. Diberi nama Pintu Ajaib dikarenakan sebesar apapun orang yang akan keluar dari Gua ini pasti bisa melewati pintu ini. Padahal, celah batu sempit yang dinamakan pintu Ajaib ini tergolong lumayan kecil. Oh ya, untuk melewati pintu ini ternyata ada caranya. Saat melewati, bahu kiri harus berada di depan. Usai keluar dari pintu ajaib, terdapatkan pemandangan teras luar gua sangat luas. Di bagian ini juga terdapat lumbung padi dan singasana sang raja.
Berdampingan dengan Goa Putri terdapat Goa Harimau, tempat ditemukannya situs kerangka manusia yang berumur ± 3.000 tahun yang lalu oleh Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Goa ini terletak di desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji yang berjarak ± 500 meter dari Goa Putri. Dari hasil penelitian Tim Arkeologi, di Goa ini ditemukan dua kerangka manusia yang masih utuh dan beberapa kerangka yang tidak utuh lagi, serta serpihan-serpihan bebatuan yang diduga sebagai peralatan yang digunakan mereka. Selain itu pada dinding Goa Harimau terdapat beberapa gambar lukisan yang sampai sekarang masih diteliti.
2. Danau Ranau, OKU.
Danau Ranau berjarak kira2 342 km dari kota palembang, 130 km dari kota Baturaja
Keindahan Danau Ranau tak terbantahkan lagi. Namun, letaknya yang jauh dari pusat kota, Palembang, membuat objek wisata ini ibarat “misteri”. Keindahannya tersaput kabut. Oleh karena itu, meskipun indah, wisatawan yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari. Sama seperti awal terbentuknya danau itu yang dilingkungi misteri. Kendati secara ilmiah terbentuk melalui sebuah proses alam, masyarakat setempat percaya ada misteri yang melatarbelakangi terciptanya danau ini.
Mencapai lokasi ini, selain dari Palembang, juga bisa dijangkau dari Provinsi Lampung. Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 kilometer (km) dari Kota Palembang, 130 km dari Kota Baturaja, dan 50 km dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar tujuh jam dari Kota Palembang. Sementara itu, dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa.
Konon kabarnya hidup seorang yang sangat sakti yaitu Si Pahit Lidah, karena saking lidahnya pahit dapat mengkutuk orang, binatang, atau benda apapun menjadi batu. Hal ini dipercaya karena adanya situs peninggalan zaman dahulu kala yaitu BATU KEBAYAN (candi sepasang pengantin) yang puing-puingnya masih tersisa di dekat Desa Jepara, kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan. Dan konon dipercaya banyaknya situs (arca atau patung) di daerah Ranau seperti: Batu Lesung, di Subik dan sebagainya adalah akibat sumpah dari Si Pahit Lidah.
 Batu Kebayan ( Batu sepasang Pengantin ).
konon kabarnya pula, ada seorang yang sangat sakti dari daerah lain yaitu Si Mata Empat, yang ingin menguji kesaktian Si Pahit Lidah.
Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.
Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Dia mengetahui kelemahan dari si Serunting yaitu tidak kebal dengan batang Bambu Kuning yang telah jadi jemuran ( dalam bahasa daerah setempat disebut ” BembanAur Kuning” ). Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu.
Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.
Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Didalam tandan buah enau telah di pasangi bambu runcing dari batang Bambu Kuning ( Bemban Aur Kuning ) yang merupakan kelemahan dari ilmu kebalnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.
Lalu dengan sistem undian yang telah mereka sepakati si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.
Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.
Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.
Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.
Dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.
Mata Empat dengan sombongnya mempersilahkan Si Lidah Pahit untuk melakukan sekali lagi. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang ketiga. Tapi dengan kemempuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.
Dengan perasaan kecewa Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sudah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.
Mata empat pun dengan alat yang telah di siapkannya memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.
Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.
Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat serta bambu runcing dari Bemban Aur Kuning tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.
Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.
Namun rasa ingin tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dijilatnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.
Ternyata, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar empedu.
Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT.
Lokasi yang diyakini makam dari Si Lidah Pahit dan Si Mata Empat
Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup diyakini sebagai makam Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makam Si Mata Empat.
Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.
 Makam Puyang Serunting
 Batu Lesung Bintang
merupakan peninggalan sejarah dari Marga Bindung Langit Lawang Kulon sebagai asal mula Baturaja. Ada beberapa peninggalan sejarah sebagai bagian dari BatuLesung Bintang ini, antara lain batu berukir (berbentuk sandi & peta wilayah) dan batu berbentuk tapak kaki.
3. Batu Macan.
 Batu Macan
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sepertinya pribahasa ini cocok digunakan sebagai ungkapan bahwa di mana pun kita berada harus menaati peraturan-peraturan yang telah diterapkan masyarakat sekitar tempat kita tinggal. Begitu juga dengan Batu Macan. Objek wisata yang tak hanya bernilai seni tapi juga sarat makna dan pesan.
Batu Macan di Lahat yang konon katanya berasal dari kutukan Si Pahit Lidah.
Batu Macan tepatnya adalah simbol yang diyakini masyarakat sebagai wujud nyata paraturan adat (perdat) yang harus dipatuhi. Diperkirakan, Batu Macan yang terdapat di Desa Pagar Alam Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat ini, sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad 14 lalu. Sebagai simbol, Batu Macan ini merupakan bentuk penjagaan atau pagar terhadap perzinahan dan pertumpahan darah dari empat daerah, yakni Pagar Gunung, Gumay Ulu, Gumay Lembah, dan daerah Gumay Talang.
Ketika koran ini mengunjungi peninggalan bersejarah tersebut, diperoleh keterangan dari Jurai Tue Adat (Sesepuh. red) Idrus (62). Dituturkan Idrus, kisah adanya Batu Macan erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah yang beredar di masyarakat. Kisah berawal dari adanya seekor macan yang kerap kali mengganggu masyarakat desa di empat wilayah tersebut.
Keganasan macan yang semakin merajalela kepada penduduk, membuat Si Pahit Lidah memperingati macan untuk tidak meneruskan kelakuannya, namun sampai tiga kali teguran tidak pernah dipatuhinya dan macan terus saja mengganggu penduduk.
Ketika Si Pahit Lidah sedang bersantai dan berjemur di batu penarakan sumur tinggi, dari jauh dilihatnya seorang wanita sedang menjemur padi sambil menggendong anaknya, dan pada saat yang sama datang seekor macan dari arah belakang wanita secara mengendap-endap untuk menerkam wanita bersama anak yang ada di gendongannya.
Melihat itu, kembali Si Pahit Lidah memperingati macan, namun sayangnya teguran itu tidak juga membatalkan niatnya untuk menerkam wanita tersebut, sampai akhirnya Si Pahit Lidah berucap “Aii, dasar batu kau nii!” dan tiba-tiba macan tersebut berubah menjadi batu.
Anehnya, bukan hanya macan yang menerima kutukkan dari Si Pahit Lidah, wanita berserta anak yang sedang digendongnya turut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata wanita tersebut adalah wanita pezinah dan anak yang sedang digendongnya adalah anak hasil perzinahan.
Dari kisah itu, lanjut Idrus, apabila seseorang diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si pelaku yakni menyembelih kambing sebagai basoh rumeh (pembersih rumah. red), dan apabila si wanita mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau sebagai basoh marge (pembersih lingkungan. red). Hanya saja, sebelum kedua hewan tersebut disembelih maka pelaku harus dikucilkan dan tidak boleh bergaul seperti diungsikan di daerah lain atau di pegunungan, dan akan dapat diterima di masyarakat kembali setelah memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut.
4. Tari Kebagh.
Konon katanya, sejarah tarian ini berkaitan dengan Puyang Serunting Sakti.
Dikisahkan bahwa Serunting Sakti atau Si Lidah Pahit alias Puyang Semidang sedang melewati hutan lebat, dia mendengar suara ramai di suatu sungai yang ada air terjunnya. Ternyata ada ternyata ada tujuh orang perempuan cantik sedang mandi smbil bersenda-gurau. Dia yakin ini bukan perempuan biasa, karena tidak mungkin manusia berani mandi di tengah hutan yang lebat. Sebagai laki-laki ia jatuh cinta pada para perempuan itu, seperti kisah jaka tarub, dicurilah salah satu selendang para gadis itu.
benar dugaannya, selesai mandi para gadis tersebut mengambil selendang lalu terbang menghilang ke angkasa.
Sambil menyembunyikan selendang tsb, dia menghampiri gadis yg sedang menangis karena ditinggalkan teman-temannya.
Singkat cerita, sang gadi diajak kekampungnya, dan dipersuntingnya. Sementara itu selendang sang gadis ia sembunyikan di atas lumbung padi.
Setelah menikah, mereka dikaruniahi seorang putra yang di beri nama Dirut.
Pada suatu hari dikampung diadakan acara pesta panen yang sangat meriah dan turut dihardiri oleh Serunting Sakti dan istrinya.
Diadakanlah acara tari-tarian oleh muda-mudi kampung tersebut.
Istri Puyang Serunting Sakti yang konon adalah seorang bidadari ( Betari ) , diminta ikut turun menari. Permintaan ini disetujui istrinya dengan syarat hanya bisa menari bila menggunakan selendang miliknya. Dia tahu selendang tersebut  disembunyikan oleh Puyang Serunting Sakti.  Atas permintaan dari warga kampung agar selendang tersebut dikembalikan pada istrinya untuk dipakai menari.
Karena terus didesak banyak orang, akhirnya dengan berat hati, Puyang Serunting Sakti mengizinkan istrinya menari dengan selendang yang diambilnya dari atas lumbung padi. Selendang tersebut disembunyikan di dalam ruas bambu yang lazim disebut tepang.
Dengan beralaskan dampar (nampan) kayu maka menarilah istri Puyang Serunting Saksti dengan lemah gemulai. Kecantikan dan kemahirannya menari membuat semua mata terpana.Hingga tanpa disadari oleh semua orang, istri Puyang Serunting Sakti tak lagi menginjak bumi, melayang-layang, semakin tinggi. Tersadar istrinya mau terbang ke kayangan, Serunting Sakti mengejarnya, namun istrinya sudah terbang setinggi kepalanya, merasa tidak bisa menangkapp istrinya , Serunting mencabut golok dan membacok lutut istrinya.
Sambil menjerit kesakitan,  istrinya mendarat di pelepah pohon kelapa gading.
Sambil menangis sedih bercampur marah sang istri meneriakan kutukan :
- Bila ada anak cucuku yang makan nyiur ini tidak akan selamat hidupnya.
- Bila ada anak cucuku kencantikan dan rambutnya panjangnya melebihi aku akan celaka.
Serunting Sakti menyesali tindakanya, namun nasi sudah jadi bubur, sang istri menghilang kembali kekayangan.
untuk mengenang sang bidadari maka setiap acara diadakan tarian Kebagh yang berarti tarian terbang.
5. Batu Gajah
  Batu gajah yang di duga di sumpah Si Lidah Pahit
Si Pahit Lidah sungguh sakti kata-katanya. Setiap serapah sumpah yang keluar dari mulutnya yang berlidah pahit kontan akan membuat benda yang dikutuk menjadi batu. Begitu kira-kira dongeng lisan masyarakat Pasemah di kawasan Lahat dan Pagar Alam di Sumatera Selatan.
Lokasi situs megalitik itu letaknya di alam bumi Pasemah Lahat dan Pagar Alam, sekitar 500-an kilometer dari Palembang, di dataran tinggi antara 750 meter-1.000 meter di kaki Gunung Dempo dari Pegunungan Bukit Barisan dan daerah aliran hulu Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Batu ini berada di aliran sungai pengabuan tepatnya di wilayah Dusun Mudo, konon katanya batu tersebut berubah berbentuk seperti gajah karena di sumpah Pahit Lida. Batu itu di sumpah karena saat si Pahit Lidah mencuci beras tiba tiba air yang mengalir menjadi keruh yang sebabkan gajah menyebrangi sunagai pengabuan di hulunya.

6. Batu Jung.
Picture
Pantai Wayhawang yang terletak di kecamatan Maje kabupaten Kaur sudah lama dijadikan tempat pariwisata. Wisata pantai Wayhawang yang terletak di desa Wayhawang, setiap tahunnya di saat hari-hari tertentu ramai dikunjungi orang untuk berlibur dan bersantai bersama keluarga, maupun orang terdekat di hati. Keindahan pantai ini sudah lama tersohor di Bengkulu, dengan keindahan alam yang dimilikinya. Berbagai cerita sejarah terdapat di pantai Wayhawang, di antaranya cerita Si Pahit Lidah. Keindahan Batu Jung, seperti halnya tanah lot di Bali, Batu Jung memiliki secarah tersendiri. Konon cerita asal mula terbentuknya Batu Jung dari sebuah kapal yang disumpah oleh si Pahit Lidah menjadi batu.Selain batu jung, ada lagi cerita menarik lainnya, sehingga pantai Wayhawang memiliki kenangan tersendiri di masa lampau. Namun, keindahan alam di Pantai Wayhawang sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya. Semoga pantai yang dahulu menjadi tujuan utama pariwisaata di kaur dapat kembali menjadi tujuan wisata di Bengkulu, khususnya di Kaur.

Menurut mitos batu ini berasal dari sebuah kapal, mengapa terjadinya kutukan si pahit lidah karena pada saat itu di sekitar kapal ada seseorang yang sedang mencari ikan, lalu datanglah seorang bapak-bapak( si pahit lidah ) yang sedang berjalan disekitar tepi pantai.
Dia meminta api pada sang pemilik kapal itu dia memanggil-mangil tapi seperti sama kali tak dihiraukan, sebenarnya bukan karena tak dihiraukan tetapi jarak kapal itu cukup jauh dari tepi pantai sehingga tidak terdengar oleh pemilik kapal itu. Sipahit lidah murka dan dikutuknya lah kapal itu menjadi batu, maka berubahlah kapal itu menjadi batu.
Pantai_Way_Hawang2
Kalau dilihat bentuk batu itu mirip sekali dengan sebuah kapal/perahu. Sangat pas buat berlibur bersama keluarga di akhir pekan sambil menghilangi penat setelah satu minggu menjalani aktifitas.
7. Batu Titian.
http://lh3.ggpht.com/7wpRkX15Xp7nc_qrzEQR9gGX_kRCC_YK81Ht_evYLMmqW1UOLLtlh3I_SwjhzKlWlrkDxdq04DPf952r6E43FNqV5A
Mendengar nama Sipahit Lidah, pikiran kita secara tidak langsung tertuju ke daerah Sumatera Selatan. Siapa sangka, legenda Sipahit Lidah juga ada di wilayah Merangin Propinsi Jambi. Salah satu daerah Merangin yang menurut cerita juga menjadi tempat petualangan Sipahit lidah adalah daerah Tabir Ulu. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, di Tabir Ulu Sipahit lidah mempunyai musuh bebuyutan seorang Raja yang bernama Rajo Banting. Salah satu bukti permusuhan tersebut ditandai dengan adanya sebuah batu titian Rajo Banting yang berasal dari kayu sungkai yang kini telah menjadi batu disumpah oleh Sipahit Lidah.. Batu titian tersebut saat ini berada di anjungan rumah adat Sarko di Taman Rimba Kota Jambi.
Jadi jangan salah, legenda Sipahit lidah tidak hanya ada di daerah Sumatera Selatan, tetapi juga berkembang di Merangin Propinsi Jambi. Di Jambi, legenda Sipahit lidah tersebar di beberapa daerah Kabupaten antara lain Kabupaten Merangin, Muara Bungo dan Kabupaten Sarolangun..
8. Asal mula danau Tes.
Alkisah, di Dusun Kutei Donok, Tanah Ranah Sekalawi (atau daerah Lebong sekarang ini), hidup seorang sakti bersama seorang anak laki-lakinya. Oleh masyarakat Kutei Donok, orang sakti itu dipanggil si Lidah Pahit. Ia dipanggil demikian, karena lidahnya memiliki kesaktian luar biasa. Apapun yang dikatakannya selalu menjadi kenyataan. Meski demikian, ia tidak asal mengucapkan sesuatu jika tidak ada alasan yang mendasarinya.
Pada suatu hari, si Lidah Pahit berniat untuk membuka lahan persawahan baru di daerah Baten Kawuk, yang terletak kurang lebih lima kilometer dari dusun tempat tinggalnya. Setelah menyampaikan niatnya kepada para tetangganya dan mendapat izin dari Tuai Adat Kutei Donok, ia pun segera menyiapkan segala peralatan yang akan dipergunakan untuk membuka lahan persawahan baru.“Anakku, kamu di rumah saja! Ayah hendak pergi ke daerah Baten Kawuk untuk membuka lahan persawahan baru,” ujar si Lidah Pahit kepada anaknya. “Baik, Ayah!” jawab anaknya.
Setelah berpamitan kepada anaknya, si Lidah Pahit pun berangkat dengan membawa kapak, parang, dan cangkul. Sesampainya di daerah Baten Kawuk, ia pun mulai menggarap sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari Sungai Air Ketahun. Si Lidah Pahit memulai pekerjaannya dengan menebangi pohon-pohon besar dengan kapak dan membabat semak belukar dengan parang. Setelah itu, ia pun segera mencangkul lahan kosong itu. Tanah-tanah cangkulannya ia buang ke Sungai Air Ketahun.
Setelah dua hari bekerja, si Lidah Pahit telah membuka lahan persawahan seluas kurang lebih setengah hektar. Bagi masyarakat Kutei Donok waktu itu, termasuk si Lidah Pahit, untuk membuka lahan persawahan seluas satu hektar dapat diselesaikan dalam waktu paling lama satu minggu, karena rata-rata mereka berbadan besar dan berotot. Alangkah senang hati si Lidah Pahit melihat hasil pekerjaannya itu.
Pada hari ketiga, si Lidah Pahit kembali ke Baten Kawuk untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan segera menanam padi di lahan persawahannya yang baru itu.Namun, tanpa disadari oleh si Lidah Pahit, para ketua adat dan pemuka masyarakat di kampungnya sedang membicarakan dirinya. Mereka membicarakan tentang pekerjaannya yang selalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun, sehingga menyebabkan aliran air sungai itu tidak lancar. Kekhawatiran masyarakat Kutei Donok yang paling besar adalah jika si Lidah Pahit terus membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun akan menyumbat air sungai dan mengakibatkan air meluap, sehingga desa Kutei Donok akan tenggelam.
Melihat kondisi itu, ketua adat bersama tokoh-tokoh masyarakat Kutei Donok lainnya segera bermusyawarah untuk mencari alasan agar pekerjaan si Lidah Pahit dapat dihentikan. Setelah beberapa jam bermusyawarah, mereka pun menemukan sebuah alasan yang dapat menghentikan pekerjaan si Lidah Pahit. Maka diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan alasan itu kepada si Lidah Pahit. Sesampainya di tempat si Lidah Pahit bekerja, mereka pun segera menghampiri si Lidah Pahit yang sedang asyik mencangkul.
“Maaf, Lidah Pahit! Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan berita duka,” kata seorang utusan. “Berita duka apa yang kalian bawa untukku?” tanya si Lidah Pahit. “Pulanglah, Lidah Pahit! Anakmu meninggal dunia. Kepalanya pecah terbentur di batu saat ia terjatuh dari atas pohon,” jelas seorang utusan lainnya. “Ah, saya tidak percaya. Tidak mungkin anakku mati,” jawab si Lidah Pahit dengan penuh keyakinan.
Beberapa kali para utusan tersebut berusaha untuk meyakinkannya, namun si Lidah Pahit tetap saja tidak percaya. Akhirnya, mereka pun kembali ke Dusun Kutei Donok tanpa membawa hasil. “Maaf, Tuan! Kami tidak berhasil membujuk si Lidah Pahit untuk kembali ke kampung ini,” lapor seorang utusan kepada ketua adat. “Iya, Tuan! Ia sama sekali tidak percaya dengan laporan kami,” tambah seorang utusan lainnya.
Mendengar keterangan itu, ketua adat segera menunjuk tokoh masyarakat lainnya untuk menyampaikan berita duka itu kepada si Lidah Pahit. Namun, lagi-lagi si Lidah Pahit tidak percaya jika anaknya telah mati. Ia terus saja mencangkul dan membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.Melihat keadaan itu, akhirnya ketua adat bersama beberapa pemuka adat lainnya memutuskan untuk menyampaikan langsung alasan itu kepada si Lidah Pahit. Maka berangkatlah mereka untuk menemui si Lidah Pahit di tempat kerjanya.
“Wahai si Lidah Pahit! Percayalah kepada kami! Anakmu benar-benar telah meninggal dunia,” kata ketua adat kepada si Lidah Pahit. Oleh karena sangat menghormati ketua adat dan pemuka adat lainnya, si Lidah Pahit pun percaya kepada mereka. “Baiklah! Karena Tuan-Tuan terhormat yang datang menyampaikan berita ini, maka saya sekarang percaya kalau anak saya telah meninggal dunia,” kata si Lidah Pahit dengan suara pelan.
“Kalau begitu, berhentilah bekerja dan kembalilah ke kampung melihat anakmu!” ujar ketua adat. “Iya, Tuan! Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal beberapa cangkul ini,” jawab si Lidah Pahit.
Mendengar jawaban itu, ketua adat beserta rombongannya berpamitan untuk kembali ke Dusun Kutei Donok. Setelah rombongan itu pergi, si Lidah Pahit baru menyadari akan ucapannya tadi. Dalam hati, ia yakin betul bahwa anaknya yang sebenarnya tidak meninggal kemudian menjadi meninggal akibat ucapannya sendiri. Maka dengan ucapan saktinya itu, anaknya pun benar-benar telah meninggal dunia.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan si Lidah Pahit tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dengan perasaan kesal, ia pun melampiaskan kemarahannya pada tanah garapannya. Berkali-kali ia menghentakkan cangkulnya ke tanah, lalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun. Setelah itu, ia pun bergegas kembali ke Dusun Kutei Donok hendak melihat anaknya yang telah meninggal dunia. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.
Konon, tanah-tanah yang dibuang si Lidah Pahit itu membendung aliran Sungai Air Ketahun dan akhirnya membentuk sebuah danau besar yang diberi nama Danau Tes.
9. Batu Badak.
Batu yang menyerupai Badak hasil kutukan Si Lidah Pahit
Dari kisah legenda cerita rakyat sumatra bagian selatan, inilah salah satu jejak kisah si Si pahit Lidah di tanah rejang. Jejak lain kisah ini ada di desa batu belarik, bagian tanah rejang di kabupaten kepahiang.
Bisa di capai dengan mudah dari jalan raya, situs megalith ini berada di pinggir jalan, di desa Lawang agung, kecamatan Sindang Beliti Ulu. Lokasinya dinamakan tebing batu badak. Batu batu ini berada tepat di samping rumah penduduk.
Batu batu dekat batu badak yang di percaya orang rejang lembak sebagai anak anak badak yang di kutuk oleh Si Pahit Lidah.
Dikisahkan bahwa si pahit lidah melewati kawasan ini dan bertemu dengan segerombolan badak sumatra, beserta anak anaknya. Si pahit lidah bertanya arah jalan ke gerombolan badak yang menghalanginya. Karena tidak di jawab oleh Badak, Si pahit lidah marah dan berkata, “Jadilah kalian semuanya batu”. Karena kesaktianya, badak badak sumatra itu berikut anak anaknya menjadi batu.
10. Batu Jantan.
Di Kabupaten Tebo Propinsi Jambi, tepatnya Desa Sungai Landai. Ceritanya sedikit sekali, biasanya orang kampung menyebut “Batu Jantan” dan batu lainnya adalah perempuan “Batu Betino” Batu Betino tidak dapat di photo karena jaraknya jauh (1km ke utara). Menurut masyarakat setempat ini terkait dengan kisah Si Lidah Pahit.
11. Batu Berputar.
Wisata batu berputar ini terletak diarel perkebunan karet rakyat tepatnya di daerah Desa Batu Raja Bungin Kec. Bunga Mayang 11 KM dari Martapura, menurut cerita rakyat setempat batu ini jatuh dari langit dan sewaktu – waktu memancarkan cahaya seperti percikan api yang disebabkan oleh perputaran dua buah batu yang berlawanan arah. Sedangkan Tala Batu yang terletak di Kec.Buay Madang Timur 40KM dari Martapura. Menurut cerita masyarakat setempat merupakan sumpahan sipahit lidah, karena pada saat itu masyarakat setempat mengadakan pesta menyambut musim tanam padi dengan membawa alat – alat kesenian, karena penduduk lagi bepesta dan kurang perhatian dengan si pahit lidah maka dia murka dan disumpahnya menjadi batu.
Masih banyak lagi peninggalan yang dianggap bekas atau singgahi oleh serunting Sakti atau Si Lidah Pahit, semua berdasarkan kisah yang dihimpun dari berbagai versi daerah masing-masing.
Menurut legenda Kesaktian beliau ada di lidahnya. Diantara berbagai macam keramatnya adalah beliau mempunyai Ucapan ( Kalimat Sakti ) yang bisa membuat apapun yang disumpahnya menjadi seperti yang di ucapkannya. Keluarga keturunanya mengenal kalimat itu dengan nama “ UCAP GUMAI .“ Sejauh yang di ketahui, ilmu ini menjadi semacam tradisi yang terus menyambung sampai ke anak cucu. Tanpa harus dipelajari pun, beberapa orang dikeluarga keturunanya mempunyai kemampuan Ucap Gumai tersebut. Apalagi jika terdesak kedalam suatu persoalan yang membahayakan, terkadang tanpa sengaja keluar ucapan sumpah tersebut. Saking berbahayanya ilmu itu, para Tetua  menyembunyikan ilmu itu rapat-rapat sampai sekarang. Yang masih menyimpannya kemungkinan besar hanyalah Para Jurai Kebale’an ( Tetua Adat suku Gumai, Keturunan dari Puyang Tuan Radje ). Kami mendapatkan sebuah SERAPAH / KALIMAT yang sumbernya disebutkan berasal dari Puyang Si Pahit Lidah. Kalimat ini di tulis oleh KH. Bahri bin Pandak, Tanjung Atap-Komering Ilir Palembang didalam kitabnya yang berjudul Aurodul Hakiim. Dan beliau menyebutkan, mendapatkan Kalimat ini dari Ujo’ Agus, Air Pedaro. Redaksi Kalimat itu begini :
Bismillahir rahmaanir rahiim…
Assalamu’alaikum kang malih jati
Wa’alaikum salam warohmatullahi wa barakaatuh
Ingkang pangeran akulah pangeran pati
Biso tedong biso si pahit lidah
Biso dibisakan kau oleh Allah ta’alaa
Aku dikuasakan aku waliyullah
Berkat laa ilaha ilallah muhammadur rasulullah…( sebut hajat kita )
Disebutkan bahwa kalimat itu berguna sebagai sambatan / wasilah tawasul atas sesuatu keperluan yang kita butuhkan. Selama kita meyakini dan tulus dalam ucapan, kalimat sederhanapun bisa menjadi mantra mujarab untuk jalan keluar yang kita butuhkan. Terlebih disaat kepepet.
Demikianlah Sepenggal kisah dari Serunting Sakti alias Si Pahit Lidah Alias Puyang Semidang, bila ada kekurangan harap di maklum karena penyusunan kisah ini di ambil dari berbagai sumber yang berbeda sesuai dari versi daerah yang bersangkutan.
Namun satu hal yang pasti, legenda Si Serunting atau Si Lidah Pahit menjadi salah satu legenda yang termasyur di belahan Sumatera bagian selatan, terutama di Bumi Besemah Libagh.