asal mula keramat beringin kuning

Dahulu kala ada tujuh bersaudara yaitu, Rio Selik, Rio Pijar, Rio Getting, Rio Bass, Rio Mamboa, Rio Ulung, dan Rio Sende. Mereka pergi ke Palembang utuk mengadu ayam dengan kerajaan seberang. Sesampainya di Palembang, mereka diterima dengan baik dengan para Sutan disana. Ketika mulai bertanding maka malamnya ayam ketujuh bersaudara ini menang dalam pertandingan. Atas kemenangan mereka, mereka dijanjikan mendapat hadiah oleh Sutan, tetapi sutan minta tempo/waktu karena ayamnya kalah terus. Ke tujuh bersaudara ini menyanggupi, dan sambil menunggu janji yang dijanjikan oleh Sunan maka diantara ketujuh bersaudara itu yaitu Rio Sende minta suatu senjata dengan Sunan berupa pedang, Sunan pun bertanya dengan Rio Sende, “Untuk apa senjata ini?” Rio Sende menjawab, “ Senjata ini untuk aku bawa ke pantai panjang (tebing penyamun)”. Dengan pikiran buruk Sunan memberi senjata itu kerena dia berharap kalau Rio Sende itu nanti mati di tebing Penyamun, maka hutang atau janji hadiah yang dijanjikan itu tidak ada yang bayar. Sudahnya  ke tujuh bersaudara ini minta lagi kepada Sutan untuk membawa anak buah sunan atau hulubalang, sunan pun menyanggupi semuanya apa yang diminta ketujuh bersaudara ini dan langsung berangkat menuju tebing penyamun atau pantai panjang. Sesampainya di pantai panjang tidak lama lewatlah seorang manusia membawa butea dan celurit. Melihat ini ketujuh bersaudara ini langsung menebas pedang ke orang yang lewat tadi. Tak ayal lagi maka semua isi perutnya berserakan di rumput lalang. Hati mereka merasa puas, maka diulangnya kembali menebas pedang keorang yang tadi, tetapi orangnya melompat ke tengah laut, maka selamatlah ia. Sesudah kejadian itu mereka pulang ke tempat Sunan. Sesampainya terdengar hulubalang cerita dengan Sunan bahwa orang Lebong itu kuat. Sunan pun balik bertanya, mengapa kamu bisa berkata seperti itu. Hulubalang menjawab orang keramat saja dibunuhnya.
sumber : http://ratihadelesari.blogspot.com/2012/11/asal-mula-keramat-beringin-kuning.html

Situs/Benda Cagar Budaya Di Kabupaten Lebong

Nama Benda Cagar Budaya Lokasi Keterangan
Keramat Tebo Lai Semelako Kecamatan Lebong Tengah Rajo Megat
Keramat Tebo Sam Atas Tebing Kec. Lebong Atas Rajo Mawang
Keramat Ulau Dues Tunggang Kec. Lebong Utara Ki Karang Nio
Keramat Lebong Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pandan
Keramat Beringin Kuning Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pati
Keramat Topos Kec Topos Rio Setanggei Panjang
Situs Tepok Reginang Toposs Kec. Topos Dayang Reginang
Situs Tanah Majapahit Topos Kec. Topos Biku Bembo
Batu Balimo Desa Tik Sirong Kec Topos


Situs Malim Janggut Tl. Ratu kec.Rimbo Pengadang Malim Janggut
Keramat Tik Ukem Tes kec. Lebong Selatan Biku Bermano
Keramat Tubei Pelabi Kec. Lebong Atas Samang Alo
Keramat Daneu Daneu Kec. Lebong Atas Ajai Malang

Bujang-Gadis Topos Pantang Bertunangan

Menurut cerita nenek moyang yang turun temurun ada suatu tempat yang dianggap Keramat oleh para leluhur yaitu terletak dihulu Sungai Ketahun. Tempat itu bernama “Keramat Serdang Kuning atau keramat Monok Micor”,tidak jauh sebelum lokasi itu terdapat Batu Bembo (lihat dalam buku karangan M.A. Jaspan)….

Menurut cerita para tetua di Topos, Monok Micor memiliki nama yang sebenarnya adalah : Muhammad Mansyur dan versi lain mengatakan dia bernama Kono Micor, dilokasi keramat tersebut sering terdengar kokok ayam seolah-olah ada desa disana (masih terjadi sampai sekarang).

Waktu itu Bengkulu masih bernama Kerajaan Sungai Serut dan Sriwijaya (Palembang) masih bernama Demang Lebar Daun,Aceh masih bernama Aceh Tinggi (Aceh Besar).Pada jaman itu terjadi perselisihan antara Kerajaan Sungai Serut dengan Aceh Tinggi,sehingga terjadi pertempuran sengit di daerah pesisir Sungai Serut (Bengkulu).Sungai Serut banjir darah,karena kekutan senjata Aceh Tinggi tidak sebanding dengan senjata kerajaan Sungai Serut , pada saat itu terciptalah sebuah pulau yang bernama Pulau Tikus, itu terjadi akibat kekuatan senjata Aceh Tinggi yang menggunakan Meriam Sakti dengan pelurunya Sekubik Batu (sekali letusan),sehingga Gunung Bungkuk putus olehnya dan terbanting ketengah Laut dan membentuk sebuah Pulau yaitu Pulau Tikus.

Disaat pertempuran tersebut kerajaan Sungai Serut hampir putus asa karena pasukan tak dapat membendung serangan pasukan Aceh Tinggi,akhirnya para sesepuh kerajaan mengambil inisiatif untuk meminta bala bantuan dari segala penjuru kerajaan Sungai Serut, pada saat itu Monok Micor diminta hadir di alun-alun Kerajaan Sungai Serut, dan pada saat itu juga dia berjumpa dengan seorang gadis (Putri Raja Sungai Serut), Monok Micor merasa tertarik dan jatuh cinta dengan putri raja.

Ketika pertempuran mulai reda dan pasukan Aceh Tinggi dapat diredam oleh bala bantuan termasuk Monok Micor ikut bertempur disaat itu, maka Monok Micor melamar (meminang) putri Raja Sungai Serut, tapi Raja Sungai Serut menolaknya secara halus karena Monok Micor telah berjasa membantu pertempuran. Oleh karena itu Raja Sugai Serut meminta (Pitek-Kinoi/Rj) berupa : 1. Sabuk sepanjang Banyu. 2. Keris Pinde Pujud. 3. Kembang Cinde Karang Wangi.

Setelah mendengar permintaan Raja Sungai Serut tersebut, Monok Micor kembali ke Keramat Serdang Kuning. Tidak lama kemudian Monok Micor pergi mencari permintaan Raja Sungai Serut dengan menelusuri sungai Ketahun dengan menggunakan lanting sebatang pohon “Selasih Hitam”,dan terus ke laut.Setelah sampai ditengah laut dia bertemu Raja Jin Laut dan dia meminta senjata sakti Bernama Sabuk Sepanjang Banyu,tapi permintaannya ditolak oleh Raja Jin Laut. Saat itu terjadilah perkelahian antara Raja Jin Laut dengan Monok Micor selama tujuh hari tujuh malam dan akhirnya Raja Jin Laut dapat dikalahkan, kemudian Sabuk Sepanjang Banyu dapat diambil oleh Monok Micor.

Setelah memiliki Sabuk Sepanjang Banyu, Monok Micor pergi ke Kerajaan Demang Lebar Daun (Palembang),sesampainya disana dia menemui kesulitan untuk masuk ke dalam Istana Raja karena penjagaan sangat ketat dan Monok Micor tidak mau bikin keributan.Akhirnya dia mendapat akal untuk masuk kedalam istana karena menurut petunjuk yang dia dapati bahwa di Istana Demang Lebar Daun terdapat senjata Sakti bernama Keris Pinde Pujud.pada saat itu juga Raja(Sultan) Demang Lebar Daun memrintah para Prajurit Istana untuk mencari “kayu bertuah” karena Raja mau membangunan sebuah tempat ibadah (mungkin Masjid), dan saat itu juga Monok Micor masuk kedalam sebatang kayu besar dengan merubah wujudnya menjadi seorang bayi yang baru lahir.

Ketika Prajurit Kerajaan Demang Lebar Daun melewati dekat pohom kayu tersebut Monok Micor menangis sekuat mungkin (suara tangisan bayi) sehingga para prajurit terhenti disana dan menganggap kayu itu adalah kayu bertuah yang mereka cari. Tak lama kemudian para Prajurit melaporkan kejadian tersebut kepada Raja,dan Raja langsung memerintahkan para Prajuritnya untuk mengambil kayu tersebut.

Setelah kayu tersebut ditebang dan dibelah maka ditemukanlah seorang bayi dan diserahkan kepada Raja Demang Lebar daun (mungkin pada saat itu Monok Micor mendapat nama Muhammad Mansyur).

Pendek cerita dia dibesarkan disana,dan Raja sampai heran karena bayi tersebut sebelum waktu besar dia sudah besar,sebelum waktunya dewasa dia sudah dewasa,tanpa belajar dia sudah sakti mandra guna,dan akhirnya dia dipercaya disana.

Pada suatu ketika Monok Micor mencari akal bagaimana caranya untuk mengetahui dimana Keris Pinde Pujud disimpan,saat itu juga dia merubah wujudnya menjadi seekor Buaya. Pada saat putri raja mandi disungai Musi dengan dikawal Para Prajurit maka saat itu juga Monok Micor membawa putri Raja tersebut kedalam Sungai Musi. Setelah dicari kemana-mana disekeliling sungai Musi tapi tidak ditemukan juga. Pada saat itu juga Monok Micor meminta agar semua senjata pusaka kerajaan diturunkan karena dia menyanggupi mencari putri Raja dengan syarat ada senjata pusaka yang bernama Keris Pinde Pujud,kemudian Raja memerintahkan agar senjata diturunkan kecuali satu keris sakti, setelah senjata2 pusaka diturunkan Monok micor ambil beberapa genggam padi dan ditebarkan kesekitar senjata2 tersebut, lalu dilepaskan beberapa ekor ayam,tapi tak satupun tanda-tandanya.kemudian Monok Micor mengatakan dengan Raja bahwa belum ada senjata yang dia inginkan,lalu dikeluarkanlah satu keris terakhir dan Monok Micor menaburkan padi diatasnya dan ketika beberapa ekor ayam melangkahnya langsung mati.

Singkat cerita Keris tersebut langsung dibawa oleh Monok Micor dan dia langsung menyelam sungai Musi dan membawa putri Raja dengan selamat, dan dia melapor dengan Raja bahwa dia telah berkelahi dengan Buaya sakti akan tetapi keris Pinde Pujud hilang didalam sungai (padahal keris itu telah disembunyikan dibawah air sungai Musi).Tidak berapa lama kemudian Raja berniat untuk menikahkan putrinya kepada Monok Micor sebagai penghargaan atas jasanya tapi dalam hati Monok Micor menolaknya karena dia sudah meminang Putri Raja Sungai Serut.Tawaran itu ditolaknya secara halus dengan mengatakan bahwa dia harus kebali dulu kehulu ketahun maka saat itu ketahuanlah dia adalah bernama Monok Micor orang yang sakti mandra guna. Sebelum pulang dia mengambil sebilah keris yang dia sembunyikan dibawah air sungai Musi.

Permintaan ketiga adalah Kembang Cinde Karang Wangi, yang sudah dicari kemana-mana dan sudah ditanya keseluruh pelosok negeri tidak seorangpun yang tahu.Sementara itu perselisihan antara Sungai Serut dengan Aceh Tinggi masih terus berlanjut dan pertempuran juga tetap terjadi,saat itu juga Monok Micor kembali dari Kerajaan Demang Lebar Daun dan langsung ikut bertempur dengan sengit. Setelah pertempuran selesai dan Kerajaan Sungai Serut dapat dipertahankan Monok Micor melemparkan tongkatnya dari alun-alun istana kehulu sungai Ketahun dan kemudian tongkat tersebut berubah wujud menjadi sebatang pohon bernama Serdang Kuning (sejenis palem berwarna kuning),maka tempat itu bernama keramat Serdang Kuning.

Akhirnya dengan pikiran yang galau dan dengan hati yang kecewa karena gagal mendapatkan Kembang Cinde Karang wangi yang sampai hari ini belum diketahui bagaimana bentuknya,maka Monok Micor Membawa lari Putri Raja dan dalam proses pertunangan dari dulu sampai sekarang dan dikatakan bahwa Monok Micor Bertunang seumur hidup, dan oleh karena itu Bujang-Gadis Topos Pantang Bertunangan.beberapa puluh tahun yang lalu ada yang mau coba-coba tapi terbukti perkawinan tidak terjadi, Boleh percaya dan boleh juga coba untuk tidak percaya…
cay0 te e

Rejang Selayang Pandang (Asal Mula Suku Rejang di Bengkulu)

Sahdan pada zaman kerajaan raja-raja dari daerah pulau Jawa masih dalam masa kajayaannya. Semasa Palembang masih bernama Selebar Daun, Bengkulu masih bernama Sungai Serut, Rejang masih bernama Renah Sekelawi (sebelumnya bernama Pinang Belapis). Pada zaman itu raja adalah orang yang mempunyai turunan raja pula. Raja bukan sembarang raja, raja sakti, arif lagi bijaksana.

Karena di Pulau Jawa telah banyak kerajaan yang rajanya telah ada, maka sebagian turunan raja-raja itu merasa dirinya terhina bila tidak dapat jadi raja. Beberapa orang turunan raja itupun mencoba keluar dari pulau Jawa, dengan maksud mencari daerah yang akan diperintahnya. Mereka merejang kepulau Perca (Pulau Sumatra) untuk mencari daerah baru.

Bertahun tahun meraka merejang di daerah Pulau Perca, dan mereka telah tiba di daerah Tapus sekarang. Di sana Bitsu Bembo sebagai pelacak pertama menyatakan bahwa di sini suko dijadikan negerai (suka negeri ). Untuk menetapkan atau memberi apa nama negeri tersebut, maka dibuatlah satu pertapaan yang diberi kelambu. Setelah beberapa hari, kelambu itu dibuka, ternyata didalamnya tumbuh sebatang kayu yang namanya kayu Tapus, nah karena itu negeri atau tempat itu dinamakan TAPUS.

Bitsu Bembo berpesan pada saudara-saudaranya apabila ingin menyusulnya, telusurilah muara sungai yang paling deras muaranya. Bertahun lamanya mereka menyusuri sebuah sungai, barulah mereka bertemu dengan bitsu Bembo. Justru karena itu, maka sungai yang mereka susuri itu dinamakan sungai Ketahun (asal kata menaun).

Adalah mereka yang menyusul itu adalah Bitsu Bermano, bitsu Bejenggo, dan bitsu Sepanjang Jiwo. Bitsu-bitsu itu terpencar kebeberapa daerah, seperti bitsu Bermano di daerah Kutai Ukem (Kota Rukam) yang terletak di daerah Darmaga Tauris Danau Tes sekarang. Perlu kami nyatakan bahwa Danau Tes itu nama sebenarnya adalah BIYOA KETEBET (air ketebat). Tebat adalah kolam kata kita sekarang. karena air itu adalah kolam Si PAHIT LIDAH (MANTAKUN), dan temannya Si MATO EMPAT (ALI JENANG TIGAS).

Adapun tiga orang bitsu yang menyusul itu telah mempunyai daerah masing-masing, seperti bitsu Bermano mempunyai daerah Kutai Ukem. Bitsu Bejenggo mempunyai daerah Tubei atas tebing. Di daerah sebelah atas dari (pasar Muara Aman sekarang). Sedangkan bitsu Sepanjang Jiwo mempunyai daerah Batu Lebar Seguring, daerah Curup sekarang. peduduk pada masa itu belum Lancar berbahasa, dan lidahnya agak kaku, bitsu itu disebutnya BIKAU. Bukan bikoa, ada pula yang menyebutnya Rejang Bikoa, itu salah yang betulnya adalah Rejang turunan Bikau. Bikau adalah asal katanya dari bitsu. Bitsu adalah kiyai agama budha.

Pada waktu itu mereka sibuk mengurus daerah mereka masing-masaing, sehingga saling terpecahlah kesatuan mereka. Pada waktu itulah pada sebatang Benuang Sakti ditunggui oleh SIAMANG PUTIH. Anehnya Siamang Putih ini kemana ia menghadap di sana ditimpa bencana. Baik itu bencana penyakit, kebakaran dan sebagainya.

Mereka berusaha untuk mencegah hal ini, mereka mengadakan sidang musyawarah di tempat balik hati (baik atei) di daerah Lebong Simpang sekarang. tempat ini ditunggu oleh : 5 orang malim : 1. malim serubuk, 2. Malim Sedina, 3. Malim Sedu Royeak, 4. Malim Sumar Galung dan 5. Malim Lemo. Dan juga di sana ada pula 4 orang dayang, yaitu: 1. Dayang Tarok, 2. Dayang Turing, 3. Dayang Kecitang Tanuk Karo dan 4. Dayang Itam. Di samping dayang-dayang ada pula Rebiak 3 orang, yaitu : 1. Rebiak Mabuk, 2. Rebiak Merem, dan 3. Rebiak Guting Paras.

Hasil musyawarah mereka di sana ialah batang Benuang Sakti itu harus ditebang, Supaya Siamang Putih itu dapat dimusnahkan. Bikau Bembo selaku ketua mengurus penebangan itu, Dan penebangan pertama jatuh ke tangan bikau Bermano.

1. Bikau Bermano mengarahkan anak buahnya megapak kayu benuang itu. Seluruh anak buahnya turun tangan turut menebang kayu itu. Sehingga CIGAI MANAI (dalam arti telah penuh dengan kapaan) namun kesaktiannya kayu Benuang itu jangankan roboh, malah bertambah kokoh tegaknya. Bikau Bermano dan anak buahnya menyerah/ mengaku tidak dapat menebang kayu Benuang itu. Dengan kata-kata cigai manai daerahnya dinamakan Margo Manai (bermani). Yang berkedudukan di Kutai Ukem (Kota Rukam). Penduduknya berciri khas Sekoa Rucing.
2. Giliran kedua jatuh pula ke tangan bikau Bejenggo. Bikau Bejenggo berduyun-duyun mengajak anak buahnya untuk menebangnya. istilah berUBEI-UBEI (bergotong royong), namun hasilnya masih sama dengan hasil bikau Bermano tadi. Dari kata ubei maka marganya dikataksn Margo Tubei. Penduduknya berciri khas KOOT ULAU KETOT.
3. Tiba pula giliran yang ketiga yaitu bikau Sepanjang Jiwo. Namun mereka ini secara UPUAK-UPUAK artinya berpayah payah mengerahkan segala tenaga yang ada untuk menebang Benuang itu. Namun hasilnya sama pula dengan hasil dua bikau sebelumnya.dengan istilah upuak upuak marganya dinamakan Margo Seluak (MARGA SELUPUH) sekarang yang berkedudukan di Batu Lebar Seguring di daerah Curup. Ciri khas penduduknya bermaneu ubep ubep (seolah olah ada yang akan di terkam). Ketiga bikau yang terdahulu semuanya mengaku tidak tertebang Benuang Sakti itu. Kini tiba gilirannya pada orang yang mengatur, harus pandai berbuat apa yang ia aturi. Jangan bisa mengatur saja. Ia harus bisa melaksanakan apa yang ia aturkan itu.

Bikau bembo kebingungan dibuatnya. bagaimana akan menumbangkan pohon Benuang Sakti yang selalu mendatangkan malapetaka itu. Andai hal ini tidak teratasi, kemungkinan seluruh wilayah akan menerima giliran musibah. Dalam keadaan termenung bikau Bembo seolah olah ada orang yang berbisik, semoga bikau Bembo membakar kemenyan, dan bersemendi (bertapa). Beliau melaksanakan pertapaan, memohon pada yang maha sakti dan pada yang maha agung, yang menguasai seluru alam jagat ini.

Dalam PERTAPAAN beliau mendapat bisikan, bahwa pohon benuang ini mau roboh, bila digalang oleh PUTRI SEDARAH PUTIH adalah Putri Raja Perambanan. Perambanan adalah suatu kerajaan yang terletak di daerah Jawa Tengah.

Dengan harapan yang sedikit sekali akan berhasil, maka bikau Bembo berangkat ke Jawa Tengah menuju kerajaan Prambanan. Bermohon agar Raja Prambanan mengizinkan putrinya jadi penggalang.

Raja kerajaan Prambanan adalah raja yang arip lagi bijaksana, memperkenakan putrinya menjadi penggalang, Tetapi harus memenuhi beberapa syarat persyaratan itu antara lain :

1. Putri Sedarah Putih tidak boleh cacat, misalnya jasmani ataupun rohaninya.

2. Setelah menjadi penggalang harus dikembalikan kepangkuan ayahnya di kerajaan Prambanan.

3. Andai kata Putri Sedarah Putih cacat bikau Bembo harus menanggung resikonya.

Putri Sedarah Putih dibondong ke pulau Sumatera, ke daerah mereka. Setelah di daerah itu, mereka menggali lubang di sekitar pohon Benuang Sakti itu, tempat putri Sedarah Putih digulingkan. adapun lubang itu, dalamnya 7 hasta, lebarnyapun 7 hasta.

Setelah sesuatu yang harus dikerjakan telah beres atau selesai, maka bikau Bembo memulai menebang. Pohon Benuang Sakti itu memang betul roboh, tapi Siamang Putih itu raib entah kemana perginya. Putri Sedarah Putih segera dikeluarkan dari lubang itu. Mereka semua merasa gembira karena pohon benuang yang bermala petaka itu telah tiada. Telah musnah dan roboh. yang bisa dijadikan kayu yang berkeping.

Tapi anehnya putri Sedarah Putih itu hamil. Dengan rasa lesu bikau Bembo berangkat ke Prambanan mengembalikan putri Sedarah Putih. Di sana beliau mendapat caci maki yang bertubi-tubi. dan harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Maka bikau bembo harus kawin dengan putri Sedarah Putih.

Bikau Bembo adalah orang mencari penggalangan Benuang Sakti, dengan asal kata tukang galang maka daerahnya dinamakan Juru Kalang. Penduduknya berciri khas telunjuk miring. Banyak orang berpendapat bahwa turunan orang Juru Kalang tidak dimakan buaya. Sekarang antara Bermani dan Juru Kalang telah bersatu menjadi BERMANI JURU KALANG, yang terletak di Kecamatan Lebong Selatan Tes.

***

SUMBER : TABLOID YANG DITERBITKAN OLEH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI BENGKULU TAHUN 1994

Legenda Ular Kepala Tujuh

Di sebuah daerah di Bengkulu, Indonesia, berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Raja Bikau Bermano mempunyai delapan orang putra. Pada suatu waktu, Raja Bikau Bermano melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jinggai. Mulanya, pelaksanaan upacara tersebut berjalan lancar. Namun, ketika Gajah Meram bersama calon istrinya sedang melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat pemandian Aket yang berada di tepi Danau Tes, tiba-tiba keduanya menghilang. Tidak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya pasangan itu. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano dan permaisurinya mulai cemas, karena Gajah Meram dan calon istrinya belum juga kembali ke istana. Oleh karena khawatir terjadi sesuatu terhadap putra dan calon menantunya, sang Raja segera mengutus beberapa orang hulubalang untuk menyusul mereka. Alangkah terkejutnya para hulubalang ketika sampai di tepi danau itu tidak mendapati Gajah Meram dan calon istrinya. Setelah mencari di sekitar danau dan tidak juga menemukan mereka berdua, para hulubalang pun kembali ke istana. “Ampun, Baginda! Kami tidak menemukan putra mahkota dan Putri Jinggai,” lapor seorang hulubalang. “Apa katamu?” tanya sang Raja panik. “Benar, Baginda! Kami sudah berusaha mencari di sekitar danau, tapi kami tidak menemukan mereka,” tambah seorang hulubalang lainnya sambil memberi hormat. “Ke mana perginya mereka?” tanya sang Raja tambah panik. “Ampun, Baginda! Kami juga tidak tahu,” jawab para utusan hulubalang serentak. Mendengar jawaban itu, Raja Bikau Bermano terdiam. Ia tampak gelisah dan cemas terhadap keadaan putra dan calon menantunya. Ia pun berdiri, lalu berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih. “Bendahara! Kumpulkan seluruh hulubalang dan keluarga istana sekarang juga!” titah sang Raja kepada bendahara. “Baik, Baginda!” jawab bendahara sambil memberi hormat. Beberapa saat kemudian, seluruh hulubalang dan keluarga istana berkumpul di ruang sidang istana. “Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang mengetahui keberadaan putra dan calon menantuku?” tanya Raja Bikau Bermano. Tidak seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Suasana sidang menjadi hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang tun tuai (orang tua) kerabat Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri yang juga hadir angkat bicara. “Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.” “Apakah itu, Tun Tuai! Apakah kamu mengetahui keberadaan putraku dan Putri Jinggai?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, putra mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular yang bertahta di bawah Danau Tes,” jawab tun tuai itu sambil memberi hormat. “Raja Ular itu sangat sakti, tapi licik, kejam dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes,” tambahnya. “Benarkah yang kamu katakan itu, Tun Tuai?” tanya sang Raja. “Benar, Baginda!” jawab tun tuai itu. “Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,” ujar sang Raja. “Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang. Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes. “Ampun, Ayahanda!” sahut Gajah Merik, putra bungsu raja. “Ada apa, Putraku!” jawab sang Raja sambil melayangkan pandangannya ke arah putranya. “Izinkanlah Ananda pergi membebaskan abang dan istrinya!” pinta Gaja Merik kepada ayahandanya. Semua peserta sidang terkejut, terutama sang Raja. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putranya yang baru berumur 13 tahun itu memiliki keberanian yang cukup besar. “Apakah Ananda sanggup melawan Raja Ular itu?” tanya sang Raja. “Sanggup, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Apa yang akan kamu lakukan, Putraku? Abangmu saja yang sudah dewasa tidak mampu melawan Raja Ular itu,” ujar sang Raja meragukan kemampuan putra bungsunya. “Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10 tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik. Mendengar cerita Gajah Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Tapi, benarkah yang kamu katakan itu, Putraku?” tanya sang Raja. “Benar, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Baiklah! Besok kamu boleh pergi membebaskan abangmu dan istrinya. Tapi, dengan syarat, kamu harus pergi bertapa di Tepat Topes untuk memperoleh senjata pusaka,” ujar sang Raja. “Baik, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. Keesokan harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Tepat Topes yang terletak di antara ibu kota Kerajaan Suka Negeri dan sebuah kampung baru untuk bertapa. Selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang. Setelah itu, Gajah Merik kembali ke istana dengan membawa kedua pusaka itu. Namun, ketika sampai di kampung Telang Macang, ia melihat beberapa prajurit istana sedang menjaga perbatasan Kerajaan Kutei Rukam dan Suka Negeri. Oleh karena tidak mau terlihat oleh prajurit, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Ia heran karena seakan-seakan berjalan di daratan dan sedikit pun tidak tersentuh air. Semula Gajah Merik berniat kembali ke istana, namun ketika sampai di Danau Tes, ia berubah pikiran untuk segera mencari si Raja Ular. Gajah Merik pun menyelam hingga ke dasar danau. Tidak berapa lama, ia pun menemukan tempat persembunyian Raja Ular itu. Ia melihat sebuah gapura di depan mulut gua yang paling besar. Tanpa berpikir panjang, ia menuju ke mulut gua itu. Namun, baru akan memasuki mulut gua, tiba-tiba ia dihadang oleh dua ekor ular besar. “Hai, manusia! Kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu. “Saya adalah Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gaja Merik dengan nada menantang. “Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu. Oleh karena Gajah Merik tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak dapat dihindari. Pada awalnya, kedua ular itu mampu melakukan perlawanan, namun beberapa saat kemudian mereka dapat dikalahkan oleh Gajah Merik. Setelah itu, Gajah Merik terus menyusuri lorong gua hingga masuk ke dalam. Setiap melewati pintu, ia selalu dihadang oleh dua ekor ular besar. Namun, Gajah Merik selalu menang dalam perkelahian. Ketika akan melewati pintu ketujuh, tiba-tiba Gajah Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak. “Ha... ha... ha..., anak manusia, anak manusia!” “Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik sambil mundur beberapa langkah. Merasa ditantang, sang Raja Ular pun mendesis. Desisannya mengeluarkan kepulan asap. Beberapa saat kemudian, kepulan asap itu menjelma menjadi seekor ular raksasa. “Hebat sekali kau anak kecil! Tidak seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu. “Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik. “Lepaskan abangku dan istrinya, atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam. “Ha... ha.... ha...., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus penuhi syaratku,” ujar Raja Ular. “Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik. “Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak. “Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang. Dengan kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular terkejut melihat kesaktian anak kecil itu. “Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular. “Tapi, kamu tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha... ha... ha....!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak. “Tunjukkanlah kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik. Tanpa berpikir panjang, Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing. Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang. Sudah lima hari lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan. Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kelelahan dan hampir kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Merik. Ia terus menyerang hingga akhirnya Raja Ular itu terdesak. Pada saat yang tepat, Gajah Merik segera menusukkan selendangnya yang telah menjelma menjadi pedang ke arah perut Raja Ular. “Aduuuhh... sakiiit!” jerit Raja Ular menahan rasa sakit. Melihat Raja Ular sudah tidak berdaya, Gajah Merik mundur beberapa langkah untuk berjaga-jaga siapa tahu raja ular itu tiba-tiba kembali menyerangnya. “Kamu memang hebat, anak kecil! Saya mengaku kalah,” kata Raja Ular. Mendengar pengakuan itu, Gajah Merik pun segera membebaskan abangnya dan Putri Jinggai yang dikurung dalam sebuah ruangan. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik belum juga kembali dari pertapaannya. Oleh karena itu, sang Raja memerintahkan beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Tepat Topes. Namun, sebelum para hulubalang itu berangkat, tiba-tiba salah seorang hulubalang yang ditugaskan menjaga tempat pemandian di tepi Danau Tes datang dengan tergesa-gesa. “Ampun, Baginda! Gajah Merik telah kembali bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai,” lapor hulubalang. “Ah, bagaimana mungkin? Bukankah Gajah Merik sedang bertapa di Tepat Topes?” tanya baginda heran. “Ampun, Baginda! Kami yang sedang berjaga-jaga di danau itu juga terkejut, tiba-tiba Gajah Merik muncul dari dalam danau bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai. Rupanya, seusai bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik langsung menuju ke istana Raja Ular dan berhasil membebaskan Gajah Meram dan Putri Jinggai,” jelas hulubalang itu. “Ooo, begitu!” jawab sang Raja sambil tersenyum. Tidak berapa lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan dikawal oleh beberapa hulubalang yang bertugas menjaga tempat pemandian itu. Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga istana. Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak penyerahan kekuasaan itu. “Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini, dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah Meram. “Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja, Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik. “Ampun, Ayahanda! Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab Gajah Merik memberi syarat. “Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja penasaran. “Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik. Permintaan Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam. Kisah petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak berani berkata sembrono. * * * Demikian cerita Ular Kepala Tujuh dari Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita rakyat di atas termasuk kategori cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat rendah hati dan tahu diri. Pertama, sifat rendah hati. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Merik. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah pamer dan menyombongkan diri. Sifat ini dapat memupuk ikatan tali persaudaraan. Sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini: wahai ananda kekasih bunda, janganlah engkau besar kepala rendahkan hati kepada manusia supaya kekal tali saudara Kedua, sifat tahu diri. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Meram. Semestinya dialah yang berhak dinobatkan menjadi raja, namun karena menyadari bahwa adiknya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada dirinya, maka ia pun menyerahkan tampuk kekuasaan Kerajaan Kutei Rukam kepada adiknya, Gajah Merik. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa dengan memahami kekurangan dan kelebihan dirinya, seseorang akan tahu menempatkan diri dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam ungkapan Melayu: apa tanda tahu dirinya: hamba tahu akan Tuhannya anak tahukan orang tuanya raja tahukan daulatnya alim tahukan kitabnya hulubalang tahukan kuatnya cerdik tahukan bijaknya guru tahukan ilmunya tua tahukan amanahnya muda tahukan kurangnya lebih tahukan kurangnya

Sukau Jang

Jang cu’up, Jang Lebong ngen Jang Payang mena’o puset pemeriteak ne ade neak Tebo Lai, temuan ako “pat”, misalne “pat Ajai” ngen “jang pat petulai”. Amen ite kemeliak dio ade ba tando ite tun jang nyo bsebea neak lem Propinsi Kulau.

Sukau jang nyo sukau paling lai neak propinsi kulau. ayok sebut gen ne kabupaten, dau kulo sebut luyen, awei Renah Sekelawi, Pinang Belapis ngen Kutai Belek Tebo. Ayok ade ne pemeriteak awei ca’o uyo mena’o sukau jang matur hubungan antaro sesamo ade ca’o ne dewek amen lem tembo sebutne “Meduro Kelam.

Ca’o-ca’o tun jang muloi ba’es sesudo ade ne “Ajai”. Ajai o ade ba tun do nego nak sukau jang, ajai-ajai o nano tentep kunei basen kutai untuk matur sukau jang maso o.

Lem tembo sukau jang ade pat ajai, tobo o ade ba: AJAI BITANG mipin nak pinang belapis, AJAI SIANG mipin neak siang lekat, AJAI BAGELAN MATO mipin neak kutai belek tebo, AJAI MALANG mipin neak das tebing. Laher ne gen “lebong” ade ba kunei tato ca’o gen ne “Jang Pat Petulai”.

Jang Pat Petulai yo timoa neak maso nipin ajai – ajai pat o nano, sudo o teko ba pat bikau kundei jawai. Amen ite temurut Cerito ne bikau yo nano neluak rajo majopahit, karno asal ne kundei majo pahit mako tenulok tun jang karno saben meak neak taneak jang nyo nea ne ijai jajahan majopahit sudo’o tenameak kulo semetor upeti, tenameak igai saben tun jang meak nekuak ne temerap baso jawai.

Kerno pat bikau yo nano tun ne pacok mako coa si demulai ige awei cao tun jang yo nano, malahan cao ne ngen tun jang baik, reneak dirai do kulo coa ombong. Pat bikau yo nano sebea ne pat akea tun jang de ade maso o. kerno sipet ne baik mako pat bikau yo nano berasea mok atei tun jang malahan pat bikau yo naket tun jang neluak mipin neak penan tun jang sado de besebea neak pat akea o nano. Moloi kundei o ba mako paham jang pat petulai yo timoa.

Petulai yo kulo ade ba ca’o kekerabatan sukau jang, ngen sebut luyen petulai yo ade ba tiang sukau jang. Jang pat petulai pacok te mtai ijai pat tiang do smatu sukau jang do tesebea nak kakae luyen.

Tun jang uyo tesebea nak kulau, muloi kunei lebong, merigi, dan cuup ngen kakea luyen. Nak kabupaten Rejang Lebong o ade kulo sukau jang nak kota padang, padang ulak tanding ngen sindang kelingi.

Tun jang kulo basea menea kerajaan titik do biaso sebut ne kerajaan sungai lebong. Kerajaan yo ade kekiro abad 14, aper sepok ngen kerajaan majapahit nak jawai. Puset ne nak cuup.

Cuup yo sepet tenem sewaktau Rejang Lebong nlei blando status afdeling ngen tmunjuk kepahiang ijai ibu kota ne.

Cerita Rakyat Rejang, Asal Usul Batang Enau/Aren

Cerita rakyat : Suku Rejang

(Bengkulu, Sumatera bagian Selatan)

Cerita ini berasal dari Suku Rejang. Dahulu di sebuah desa terpencil hidup tujuh orang bersaudara.Nasib mereka sungguh malang,mereka sudah menjadi yatim piatu semenjak si bungsu lahir.Tujuh saudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan.Si bungsu itulah yang perempuan.Namanya putri sedoro putih.Tujuh orang bersaudara itu hidup sebagai petani dengan menggarap sebidang tanah di tepi hutan.Si bungsu sangat disayangi keenam saudaranya itu.Mereka selalu memberikan perlindungan bagi keselamatan si bungsu dari segala macam marabahaya.Segala kebutuhan si bungsu mereka usahakan terpenuhi dengan sekuat tenaga.

Pada suatu malam,ketika putri sedoro putih tidur,ia bermimpi aneh.Ia didatangi seorang laki-laki tua."Putri Sedoro Putih,kau ini sesungguhnya nenek dari keenam saudaramu itu.Ajalmu sudah dekat,karena itu bersiaplah engkau menghadapinya".
"Saya segera mati?" tanya Putri Sedoro Putih dengan penuh penasaran.
"Benar,dan dari pusaran kuburanmu, nanti akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada massa ini.Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia." Setelah memberi pesan demikian lelaki tua itu , lenyap begitu saja. Sementara Putri Sedaro Putih langsung terbangun dari tidurnya.Ia duduk termangu memikirkan arti mimpinya.

Putri sedaro putih sangat terkesan akan mimpinya itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum terlupakan olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedoro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati seperti itu. Apakah ada penyakit yang di idapnya sehingga perlu segera di obati ? Jangan sampai terlambat diobati sebab akibatnya menjadi parah .

Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedoro Putih menceritakan semua mimpi yang dialamainya beberapa waktu yang lalu.
Kata sedaro putih,"Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu."
"Tidak adiku, jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang ?", kata si sulung menghibur adiknya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan. Putri Sedoro Putih telah kembali seperti sempula, seorang gadis periang yang senang bekerja di huma. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.

Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya, keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka.

Seperti telah diceritakan oleh Putri Sedoro Putih. Di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum permah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih.

Disamping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tingginya dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung .

Lima tahun kemudian. Pohon Sedaro Putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dari dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah Sedaro Putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan. Sel-sel yang mempermudah air pohon Sedaro Putih mengalir ke arah buah.

Pada suatu hari, seorang saudara Sedaro Putih berziarah ke kuburan itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon Sedaro Putih ketika angin berhembus. Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon Sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari tangkainya. Dari tangkai buah yang terlepas itu, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilati tupai sepuas -puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu.

Saudara sedaro putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetes dari dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri ia pulang menemui saudara-saudaranya. Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya untuk dipelajari. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka.

Lalu mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. Tangkai buah pohon itu dipotong dan airnya yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah sutu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak ketika berziarah ke kubur putri sedaro putih.

Tikoa tabung yang di buat dari seruas bambu

Urutanya sebagai berikut. Pertama, menggoyang goyang kan tangkai buah pohon Sedaro Putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung seperti yang terjadi ketika kayu kapung dihembus angin. Akhirnya, mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Tabung bambu pun digantungkan disana.

Buah Sedaro Putih yang di kenal sebagai beluluk di tanah rejang

Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. Perolehan mereka semakin hari semakin banyak karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon Sedaro Putih sudah mendatangkan hasil.

Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka, karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna kekuningan.

Semenjak itu, pohon Sedaro Putih dijadikan sumber air sadapan yang manis. Pohon itu kini dikenal sebagai pohon enau atau pohon aren. Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku disebut gula merah.

*****

Keterangan :
Pohon enau atau pohon aren termasuk pohon yang banyak jasanya bagi manusia. Oleh karena itu, untuk memuliakannya banyak versi lain kisah legenda yang berkembang di nusantara tentang asal mula pohon enau ini, salah satunya Putri Sedaro Putih yang berasal dari cerita rakyat suku Rejang. Daerah kediaman suku Rejang saat ini mayoritas wilayahnya masuk propinsi Bengkulu meskipun beberapa daerahnya yang lain masuk Propinsi Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi.

Manfaat pohon enau atau pohon aren antara lain sebagai berikut :
1. Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak.
2. Ijuk di buat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah.
3. Tulang daunnya dibuat sapu lidi dan se
nik (tempat meletakkan kuali atau periuk)

Sugon,muning paling jayo sadei Topos

Dio ade cerito ninik puyang te mena'o pnan terjijai ne neak sadei
topos..Lem crito ne o,ade tun idup ne saro..si tingea neak dumai,kemliak ules keadaan idup agok spit,usaho kulo kuang lok brasea..Ite samo-samo namen,amen keadaan peset awei o,areak pasuak o agok kuang lok paok..maklum bae jano de ade ngen si,coa gen ne..cuma ade sekedar ponok ngen kbun titik neak dumai...Tun yo btegen Sugon.

Kiro-kiro skitar malem telau puluak bitang sbanyok,lenget teang...Sugon dong teklep tidua,miko yo mipai..ade tun tuai,kracok ne serbo putiak magea si..tun tuai yo madeak,amen si lok usaho padek nam gacang brasea serto ijai tun kayo...Alau ba mlilia bioa tawen,amen temau gelmem tumuk arus,sudo o igai ade pun buluak kemanyen conong moi bioa..mako nea ba neak di usaho..

Tjagai kunei mipai o sugo yo peker,jano nien ne petunyuk lem mipai o jano sekedar mipai biaso..an miko mnung meker ne. Smudo ne siket crito cnubo ne mlilia bioa tawen,makei eket..An-an temau si gelmem tumuk arus o ano,ade kulo buliak kmanyen cunung moi bioa o...lajau ba si mbiding nea di o...Si kemliak daerah skitar ne,taneak neak di agok datea..cebcea kulo,neker ne amen menea kbun agok coa mukin kareno taneak ne cebceak...Smudo ne si cmubo menea saweak neak di o..si menea saweak alakadar ne. Muloi ba tembas imo o,nbersih ne kute...lajau ba menea pondok,min alat areak koon segalo mecem ne,lajau ba sugo yo menetep neak saweak belau ne o..usaho ne kannyo bi tningea ne..

Saweak bi aper jijai,si muloi mesoa biniak..lok tmanem poi nea saweak ne o...

Ite mok siket ne bae,sudo miko yo batanem...si demnong saweak ne yo,neker ne..ami sesio kerjo ne menea saweak neak pnan o,sbab si kemliak kliling saweak ne o imo kute..neker ne bi paset dau mange saweak ne o,dau ba peker miko yo samo denong...

Bilai bi paok maghrib,ujen me'on kulo wktau o...Si gegutek mtang areak tikea,midup lapu lok istrht...bilai bi kelmen,niuk ne ade saei aneh beak pondok ne..saei kekek ne,tapi lek saei o..Neker ne jano gen ba beak pondok ne o...si gegutek midup obor lok smulau saei beak pondok ne o..Si tuun kunei pondok kemliiak ade bnatang,awei olok ne,tapi lai sktr klai pun peing,awok ne bsinea teang...goyo saben sugon yo kemliak ne..neker ne jano gen bnatang yo...

Smudo ne lem keadan panik awei o,si cmubo mok kain ne,si meker ami dio ba tai mipai ne wktau o..Lajau ba si maok bnatang o,samo mbaco pateak-pateak didik..nlatok ne mukus bnatang o,sudo si mukus..nyep bnatang bsinea yo ano,si kemliak lem kain utuk mukus yo ano ade cicin,muloi si heran...an si kemliak cicin o,lok si makei agok ragau asai ne..Si belek mdasei igai,smamung istrht ne..cicin o npek ne iding awok..Coa an si tidua mipai igai si tun tuai makei bajau putiak awei neak mipai ne pertamo o,tun tuai o madeak cicin o naik bebaik,amen bi menea umeak npek das bubung,syarat ne igai..amen bi jayo jibeak nien omong....

Semjak o usaho sugon yo brasea trus,amen mngetem asea ne dau nien..Lajau nam jemuoa belas,tmukua areak ternok,tmukua taneak sgalo mecem ne..siket crito lem wktau siket sugon yo ijai tun paling kayo baik neak topos awei o kulo neak lebong...Mas ne dau,taneak,saweak serto tuoa poi dau kulo...pokok ne idup sugon yo ijai tun paling jayo...



Idup sugon bubeak nien,dau hok idup senang..si kulo bi ade ngenyan,bi ade anok kulo...An-an anok2 ne bi lai,lok moi pnek,lok btunok...Bi ade kulo stamang sugon,coa traso si bi muloi tuai...Areak saweak,kbun snayo ne anok-anok ne mliaro,si lok idup tenang maso tuai..

Pado suatu bilai,sugon yo lok majok pihak bisan ne bdu'o neak umeak ne..dau ba tamu-tamu kunei daerah luyen nundang sugon utuk moi acara nea ne o...Dau ba areak kbeu nunuak untuk semiap hidangan tamu-tamu kunei daerah uak...

Pado bilai acara o terjijai ba peristiwa paling sugon coa kemlok slamo idup ne,jibeak nien kecek omong...Waktau midang tamu mukmei,kecek stamang sugon agok mnyingung didik...Stamang ne madeak ngen tamu-tamu hadir o

" Maro ba ite mukmei sanok spasuak kute ne,coa de gen lapen te die..cuma ade daging kebeu nunuak neak gaang ano.." doo nadeak stamang ne, tamu-tamu yo tun pemuko sukau taneak jang kute..lajau ba tamu yo jmawab " Maaf bae sanok,iso keme coa lok mukmei,tapi gelang emas anok-anok slawei keme sapei skoa,coa nam akuak mnyuep,coa si baik asai ne keme bae mukmei..terimokasiak sudo munuak kbeu neak gaang utuk keme,keme coa an igai mukin lok pamit belek "

Waktau miuk kecek o sugon cigai nam madeak jano-jano igai,kembiak mengiak ne si ngen stamang ne o..lok si munuak asai ne..si bi an madeak kannyo ngen klrgo ne,jibeak omong..bilai o sedih,selek,bcapua kute prasaan sugon..

Kelmen be ne,samo guling-guling nak umeak ne,kenliak sugon kunei palai umeak ne ade bioa tettik...si kemliak moi palai,rupo ne cicin naik ne mena'o bi ijai bioa...Namen sugon langsung bahwa si yo bakea idup peset igai...kareno keluargo ne ade kemluea kecek omong.

Muloi wktau o,areak hok sugon muloi bkuang,asea panen saweak ne cigai dau igai..awei o kulo areak ternok,dau matei..An-an tekbeak sugon,kareno kecek omong stamang ne yo ano...

Lem crito ne,sugon mningea..hok ne muloi abis kute,areak saweak tejuoa..mako berakhir jayo sugon.

Uyo kubua sugon yo gi ade neak topos,kubua paling lai suang..pningea saweak ne gi ade,saweak neak sadei tlang belau mnurut crito ne sugon kute temuan...

Dio ba crito sugon,crito tun kayo sadei topos..Sugon min sipet dermawan,coa omong,ramah tamah ngen tun..sugon coa min sipet tmangen,coa maik sipet lekat atei,si kulo perneak mding idup saro ayok si ijai jayo.. Tapi sayang,kareno kecek stamang ne omong,hok sugon awei dawen nmuk olok ne..abis kute lem wktau siket.

Plajaran magea ite hok ade ba pinyem magea ite,amen jayo jibeak nien min sipet omong,jibeak min sipet kisit..Ramah tamah,dermawan awei sipet muning sugon o perlu ninget amen nasib baik min ite kute ijai tun jayo..

Minoi maaf magea spasuak kute ne keturunan muning sugon neak sadei topos amen ade dalen crito ne agok kuang tepat...Dio sekedar lok minget crito muning te bae...Supayo masiak idup gais keturunan coa nyep,juei coa putus.

Smugo bermanfaat.


sumber : https://www.facebook.com/pages/Topos-Jurukalang/263210663717999